Lies

Lies
Tidak Normal



“Kau bersuara tinggi padaku?” tanya Karan, terdengar menggertak. Lalu, ia bergerak lebih dekat dan menatap Raya dengan lekat. “Baru aku tinggalkan beberapa hari dan kau sudah mulai berani padaku ya.”


Raya tersekat. Jantungnya bergemuruh tatkala wajah Karan yang tidak dilihatnya selama beberapa hari itu hanya terpaut beberapa sentimeter dari wajahnya. Dengan disinari sorot lampu, wajah siluet Karan tampak begitu tampan layaknya seorang super model. Inilah yang dua bulan lalu membuat Raya terkesima. Wajah rupawan pria di depannya ditambah sikapnya yang begitu lembut dan sopan, yang kemudian ia ketahui belakangan bahwa sikapnya itu hanyalah kepura-puraan belaka.


“A-apa yang mau kau lakukan?” Raya berbicara sembari menatap Karan ngeri. Terutama ketika manik matanya menangkap gelagat mencurigakan Karan, di mana pria itu sedang melepaskan dasi yang mengikat lehernya. Bukan dasi itu yang bermasalah, tetapi tatapan Karan. Caranya menatap Raya begitu mengerikan seperti ia menyimpan sebuah rencana yang berbahaya.


“Melakukan sesuatu yang menyenangkan. Kurasa kau juga akan menyukainya, Sayang,” kata pria itu penuh penekanan.


Seperti apa yang Raya pikirkan sebelumnya, Karan memang ingin melakukan sesuatu padanya. Pria itu menarik kedua tangan Raya dengan kasar ke belakang tubuh Raya, kemudian mengikatnya dengan menggunakan dasi itu. Karan mengikat simpul dasinya sangat erat hingga Raya sama sekali tidak bisa melepaskan diri. Bahkan jika Raya berontak, ia hanya akan mendapati tangannya yang terasa nyeri.


“Kenapa kau mengikatku, Karan?” tanya Raya sedikit takut. Bibirnya terbuka dan tiba-tiba ia merasa ingin menangis karena mendapatkan perlakuan seperti ini dari Karan. Selain memanfaatkan laki-laki untuk popularitas, Raya tidak pernah merugikan orang lain. Ia pun tidak pernah menyinggung Karan, bahkan mengenal pria itu saja baru beberapa bulan yang lalu. Lantas, mengapa Karan memperlakukannya seperti ini?


“Karena aku suka,” bisik Karan di telinga Raya sambil mengigit-gigit kecil daun telinga wanita itu. “Aku harus menghukummu, Sayang. Kau sudah melanggar aturan mainku dengan melibatkan orang tuaku ke dalam permainan kita.”


Napas Raya tersengal. Karan tahu telinga Raya begitu sensitif. Itulah sebabnya ia memberikan ransangan di tempat itu. “Aku sudah mengatakannya padamu. Bukan aku yang mengundang mereka. Mereka datang atas kemauan mereka sendiri.”


Karan menurunkan kepalanya ke leher Raya. Bibirnya menekuk culas. “Mereka tidak akan seperti itu jika kau berperan sebagai menantu yang baik.”


Ia mulai menciumi leher Raya sementara tangannya membelai-belai sekujur tubuh Raya. Karan menyapukan tangannya dengan penuh perhatian di sepanjang lengan Raya yang terikat. Mengelusnya pelan lalu cepat hingga Raya mengeluarkan suara-suara yang membuat inti milik Karan menegang.


“Sayang, jawab aku. Apa kau sudah berperan sebagai menantu yang baik?” Karan bertanya lagi sambil terus melancarkan aksinya di atas tubuh Raya.


“Aku tidak mengerti apa maksudmu. Bagaimana caranya menjadi menantu yang baik?”


Tangan Karan berpindah. Kini ia berada di paha Raya, menyingkap dres milik sang istri dan mulai bermain-main di sana. “Mudah sekali Sayang. Kau hanya tinggal menyenangkan suamimu. Itu cara terbaik menjadi menantu idaman mereka.”


Raya terkesiap saat Karan menyentuh intinya. Sekujur tubuhnya menegang dan ia hanya bisa berdiri kaku sambil mengerang. “Karan, tidak! Orang tuamu ada di bawah. Jangan lakukan ini sekarang.”


“Tidak sekarang, hm? Jadi, kau ingin melakukannya kapan?” Karan mengecupi leher Raya pelan-pelan dan bergerak turun. Dengan gerakan cepat Karan menurunkan dres Raya hingga pakaian itu menampilkan potongan dada yang sangat rendah. Karan berdecak kagum sembari menyeringai. “Mereka berisi sekarang. Aku menyukainya, Sayang. Kau membuat mereka terlihat semakin menggiurkan.”


Karan menjulurkan lidahnya dan mulai beraksi di tempat itu. Ia mencium, menjilat dengan ringan hingga membuat tubuh Raya gemetar. Pria itu tidak melepaskan seluruh pakaian Raya, tapi tetap membuat wanita itu seperti tidak menggunakan pakaian sama sekali. Sementara Karan tetap dengan pakaian lengkapnya. Hanya dasinya saja yang terlepas dari setelan itu.


“Kenapa? Aku suka melihatmu seperti ini, Sayang. Kau yang tidak berdaya dalam pelukanku dan menangis memohon-mohon ingin dilepaskan. Apa kau tahu seberapa seksinya kau saat ini?” Kaki Karan bergerak maju. Ia menempelkan intinya yang mengeras di paha Raya. Kemudian, ia berbicara lagi dengan suara dalamnya yang serak, “kau membuat milikku berontak.”


Mata Raya mulai memanas. Ia memang seorang istri, tapi ia tidak suka diperlakukan seperti ini. Dilihat dari sudut mana pun Raya tampak bukan seperti istri bagi Karan, bahkan kekasih pun tidak. Karan hanya memperlakukannya tak ubah seperti seorang wanita penghibur yang dibayar laki-laki itu sebagai penyalur nafsu biologisnya saja. Tidak ada cinta maupun kasih sayang. Raya seperti dilecehkan oleh suaminya sendiri.


“Karan, aku mohon. Jangan seperti ini. Aku benar-benar tidak menyukainya!” Raya kembali memohon, berharap Karan bisa menunjukkan belas kasihnya pada Raya. Memang benar ia menyukai Karan terlebih saat mereka melakukan hubungan suami-istri. Tetapi tidak seperti ini. Apalagi sekarang ada orang tua Karan. Bagaimana Raya harus menghadapi mereka setelah ini?


Karan tidak peduli dengan ucapan Raya. Ia tetap melanjutkan kegiatannya dan menganggap perkataan Raya seolah-olah kicauan burung belaka. Baginya, pendapat Raya tidak dibutuhkan. Karan bisa melakukan apa pun yang diinginkannya terhadap Raya.


Bukankah ini cara yang dipakai Raya dulu? Karan hanya menerapkan apa yang ia pelajari dari Raya di mana sang istri meninggalkannya di tempat yang paling mengerikan setelah Karan menyerahkan segala kepada wanita itu. Menyerahkan hatinya, cintanya, kepercayaannya bahkan hidupnya hanya demi Raya. Tetapi apa yang Karan dapatkan pada waktu itu? Hanya sebuah pengkhianatan yang tidak akan pernah Karan lupakan sampai kapan pun.


“Karan ...” Raya mencoba lagi. Namun, ia mendapatkan hardikan keras dari Karan.


“Diam!” tukas Karan dengan suara membentak. Pria itu menggeram sambil mengumpat kesal. “Kenapa kau sangat berisik, Raya? Kau mengusik kesenanganku!”


Mata Karan yang menyalak tampak menyeramkan bagi Raya. Cepat-cepat wanita itu angkat suara untuk meredam emosi Karan. “Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin kita melakukannya dengan cara yang biasa. Cara yang normal.”


Alih-alih membuat Karan tenang, kalimat yang baru saja dilontarkan Raya seolah menyulut api emosi Karan. “Cara yang normal katamu? Jadi kau menganggapku tidak normal begitu?” ujarnya tidak terima.


Raya tersentak bukan main. Bukan seperti itu maksudnya. Raya hanya ingin mereka melakukan hubungan ini dengan cara yang sama dengan pasangan suami-istri lainnya. Hubungan yang penuh dengan kasih sayang dan keromantisan. Bukan sekadar hubungan yang dilingkupi gairah tanpa perasaan. Bahkan, tidak ada cinta.


Apa ini? Raya terkejut dengan pemikirannya. Memangnya apa yang pernah Raya harapkan dalam hubungan asmaranya dengan laki-laki? Raya hanya memanfaatkan mereka. Juga termasuk Karan. Menginginkan perasaan dalam pernikahan mereka hanya akan membuatnya patah hati. Itulah yang sering dikatakan oleh sang bibi kepadanya. Bahwa Raya harus memilih antara karier atau hatinya. Raya tidak akan pernah mendapatkan keduanya secara bersama-sama. Pasti ada salah satu yang harus ia korbankan.


“Aku tidak bermaksud seperti itu, Karan. Sungguh!” lontar Raya lagi.


“Tidak! Kau benar-benar mengatakannya begitu padaku, Raya. Tapi, mari kita lihat siapa yang tidak normal sekarang.” Karan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Raya dan membawa wanita itu berpindah tempat. Kini mereka berada di depan sebuah cermin besar yang melekat pada pintu lemari. Cermin yang biasanya Karan gunakan untuk memperhatikan penampilannya ketika hendak berangkat ke kantor.


“Kau lihat itu, Sayang! Kau lihat bagaimana tampilanmu sekarang? Wajahmu terlihat terlihat begitu puas. Tubuhmu juga selalu ikut bereaksi saat kusentuh. Kalau yang aku lakukan ini tidak normal, Sayang, artinya kau juga tidak normal sepertiku. Karena kau menyukai apa yang aku lakukan. Dan akan selalu menyukainya.”