Lies

Lies
Hamil



Raya menghampiri benda-benda itu dan menatap nanar sesuatu yang ada di tengah-tengahnya. Semua benda yang ada di atas nakas menunjukkan hal yang sama. Dua garis berwarna merah. Ya, Raya melakukan tes kehamilan menggunakan alat-alat sederhana itu. Awalnya Raya tidak ingin menduga apa-apa. Ia memang menginginka kehadiran seorang anak, tapi tidak sekarang. Saatnya tidak tepat. Kepercayaan yang terbangun antara Raya dan Karan sangatlah minim. Entah apa yang akan terjadi jika seandainya Karan tahu mereka punya anak. Raya tidak bisa menduganya sama sekali. Bisa saja pria itu tidak akan terima. Melihat gelagatnya seperti itu, Raya menjadi enggan menceritakan perihal kehamilannya itu. Ia takut sang suami malah memintanya melakukan sesuatu yang mencelaikai anak mereka.


Lagi pula, kehamilan ini bisa saja salah. Ya, tertulis lebih dari 90 persen. Tetapi tetap saja masih tersisa sekitar 10 persen kesalahan. Apa pun bisa terjadi, hasil tes mandiri yang Raya lakukan bisa keliru. Jadi, Raya harus memastikannya sendiri dengan mendatangi rumah sakit. Masalahnya, ia sedang dikurung. Karan tengah menghukumnya karena menjalin komunikasi secara intens dengan Varen. Walaupun hanya sekali saja dan itu pun tidak berlangsung lama. Karan tetap tidak peduli. Sebentar atau lama, Raya sudah melanggar ketentuannya, yakni berdekatan dengan pria lain. Padahal Karan sendiri juga melakukan hal yang sama. Ia menjalin komunikasi dengan seorang wanita. Kendati 10 tahun lebih tua dari mereka dan merupakan seorang polisi, tetap saja orang itu adalah wanita.


Hingga menjelang malam pada hari itu, Raya terkunci di dalam kamar. Ah, ralat. Maksudnya mengunci diri. Dan sejak dua jam menutup diri, sudah ada beberapa pelayan yang mendatangi kamar Raya. Mereka mengantarkan makanan untuk Raya, menanyakan apa yang dibutuhkan oleh wanita itu dan menanyakan keadaannya. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang menyinggung tentang Karan. Saat ditanya, mereka menjawab bahwa Karan telah pergi dari rumah. Anehnya, pria itu tidak memberikan perintah apa-apa kepada mereka untuk memperlakukan Raya dengan cara khusus.


Raya baru keluar dari kamar keesokan harinya. Ia memberanikan diri membuka kunci kamarnya dan melangkah ke lantai bawah. Ia harus menyelesaikan syutingnya dan juga harus pergi ke rumah sakit. Persetan dengan apa yang akan dikatakan oleh Karan, Raya harus tetap keluar dari rumah. Entah ia harus mendapatkan hukuman lagi atau harus bertengkar hebat dengan sang suami. Apa pun yang terjadi nanti, Raya sudah mempersiapkan mental dan fisiknya.


“Di mana suamiku? Apa Bibi melihatnya?” tanya Raya pada Anna yang sedang menyiapkan sarapan di ruang makan. Raya memang sempat melewati kamar Karan, tetapi tidak terlihat adanya kegiatan di dalam kamar itu. Begitu pun di ruang kerjanya. Raya pikir Karan masih berada di dalam rumah, dan ketika ia berada di lantai bawah, pria itu tidak tampak juga.


“Sejak semalam Pak Karan tidak pulang, Bu,” jawab Anna sambil meletakkan alat-alat makan di depan Raya.


“Apa dia tidak memberi tahu ke mana dia pergi?”


Anna menggeleng. “Tidak, saya tidak dapat informasi apa pun dari Bapak.”


“Ian di mana?” Raya kembali bertanya, kini tentang asisten pribadi Karan.


“Semalam Ian datang ke rumah untuk mengambil pakaian Bapak. Tapi setelah itu, dia langsung pergi, Bu. Saya tidak sempat bertanya-tanya karena Ian terlihat sangat buru-buru.”


“Oke, kalau Karan pulang, tolong beri tahu aku ya Bi. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan suamiku,” pesan Raya.


Dengan patuh Anna mengangguk. “Baik Bu.”


Raya tidak tahu di mana Karan berada, tetapi ini merupakan sebuah keuntungan untuknya. Dengan begitu Raya bisa pergi ke mana pun, termasuk melanjutkan syuting dan memeriksakan kandungannya ke rumah sakit. Terlebih Karan tidak mengatakan apa-apa kepada Anna. Artinya Karan tidak memberikan larangan untuk Raya sehingga ia bisa beraktivitas dengan leluasa. Untung saja Raya sudah meminta manajernya untuk datang menjemputnya sehingga Ryaa bisa pergi dari rumah dengan sang manajer.


“Keadaan Mbak lebih baik sekarang,” tukas sang manajer ketika melihat Raya yang tampak sangat segar pagi ini. Tampilannya sangat berbeda dengan Raya kemarin di mana wajah wanita itu begitu pucat dan tidak terlihat baik.


Raya tersenyum Satu-satunya orang yang mengetahui kondisinya dan peduli padanya hanyalah sang manajer. Itulah sebabnya Raya selalu menyelipkan klausa tidak ada pergantian manajer di setiap kontraknya. Raya tidak terlalu suka menemui orang baru apalagi orang itu mengurus semua kebutuhannya. Ika dengan segala kekurangan dan kelebihannya adalah manajer terbaik untuk Raya.


“Ya, aku tidur dengan baik, Kak. Tapi, sepertinya hari ini kita tetap harus ke dokter. Aku harus memeriksa sesuatu.”


“Memeriksa sesuatu? Apa Mbak sakit lagi?” Ika terlihat khawatir pada Raya. Padahal kondisinya sudah cukup baik, tidak disangka ternyata wanita itu masih perlu memeriksakan diri ke dokter.


“Aku tidak sakit, Kak. Tapi aku sepertinya sedang hamil.”


“Itu belum pasti Kak, jadi aku masih mau mencari tahu tentang kebenarannya.”


Ini berita baru bagi Ika. Sebagai manajer, informasi tentang kehamilan Raya harus dijaga olehnya secara baik-baik. Terlebih ini belum resmi dan Karan sepertinya belum diberikan kabar oleh Raya. “Baiklah Mbak. Nanti saya akan pastikan Mbak bisa pergi ke rumah sakit,” janjinya.


Mulai sejak itu, Ika terlihat sangat protektif terhadap Raya. Apa pun yang hendak dilakukan oleh wanita itu harus melalui dirinya. Sang manajer menyeleksi setiap adegan yang hendak dilakukan Raya di lokasi syuting. Ketika ada bagian yang berbahaya, dengan cepat ia mengantisipasinya hingga Raya tidak mengalami hal-hal yang buruk. Kemudian, secepat mungkin proses syuting itu selesai. Dan Ika memastikan agar Raya tidak melakukan syuting lagi setelah ini.


Saat dibawa ke rumah sakit, Raya akhirnya mengetahui apa yang ditunggu-tunggu olehnya. Kabar bahwa ia tengah hamil. Memang tidak mengejutkan seperti di awal, tapi tetap saja Raya merasa aneh. Di dalam tubuh kurusnya ada sebuah janin yang akan menjadi anaknya. Apakah ini bukan hal yang membahagiakan? Tentu saja Raya senang. Dan mungkin ini adalah kegembiraan terbesar di dalam hidupnya seandainya hubungannya dengan sang suami berjalan mulus.


“Jadi, kapan Mbak mau memberi tahu Pak Karan?” tanya Ika sewaktu membawa Raya kembali ke dalam mobil. Dengan hati-hati ia memastikan sang majikan bisa duduk dengan nyaman.


“Aku tidak tahu. Mungkin hari ini kalau dia sudah pulang.” Dan tentu saja mau kembali pulang, karena Raya tidak tahu kapan Karan akan pulang ke rumah mereka. Pria itu seolah-olah menghindarinya seharian ini. Itu memang bagus karena tidak akan membangkitkan emosi Raya, tetapi tetap saja Raya harus memberi tahu suaminya perihal kehamilannya ini.


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba saja Ika berseru dengan nyaring seusai ia membuka ponselnya. Raya pikir sang manajer ingin memberi tahu tentang pekerjaan atau proyek baru yang akan mereka ambil. Meskipun hamil muda yang usia kandungannya masih enam minggu, tetap saja Raya masih ingin bekerja. Berada di rumah saja tidak baik baginya. Itu bisa membuatnya merasa kesal dan bosan. Padahal sang dokter menasihati Raya agar tetap mengontrol emosi agar tidak terpengaruh pada bayinya.


“Ada apa Kak?” tukas Raya bingung. Ia yang baru saja memejamkan mata, sontak terbangun mendengar suara sang manajer. “Ada yang salah?”


Ika menggeleng. “Saya tidak tahu ini salah atau tidak, tetapi saya baru membaca sebuah artikel Mbak. Ini tentang Pak Karan.” Segera Ika memberikan ponselnya kepada Raya agar wanita itu bisa membacanya. Ika tidak tega membiarkan Raya membaca artikel itu. Rasanya itu akan menyakiti sang super model.


Dengan was-was Raya mengambil ponsel manajernya. Baru membaca judulnya saja, ia sudah terbelalak kaget. Rasanya mulutnya ingin sekali mengumpat kasar sekarang. Bagaimana tidak, artikel yang ditunjukkan Ika menjelaskan pengakuan mengejutkan Dona yang menyebut bahwa sang mantan polisi itu memiliki hubungan spesial dengan Karan. Itulah yang membuatnya pernah mengunjungi kantor Karan. Tidak hanya sekali, bahkan dua kali. Bukti CCTV perusahaan membeberkan itu. Karan juga kedapatan telah memberikan sejumlah uang kepada wanita itu dan nyaris membantunya melarikan diri ke luar negeri.


Yang lebih mengejutkan bagi Raya adalah kenyataan bahwa wanita itu adalah seorang yang masuk ke dalam daftar pencarian polisi. Ia melakukan beberapa kejahatan sewaktu menjadi polisi rumah tahanan di salah satu wilayah di Jakarta. Tidak hanya menyeludupkan beberapa obat-obatan terlarang, ia juga terbukti menganiaya dan melecehkan beberapa tahanan, khususnya tahanan di bawah umur. Atas kejahatannya itu, ia dipecat dari lembaga kepolisian. Saat hendak diinvestigasi lebih dalam, ia berhasil melarikan diri. Anehnya, tempat tujuan utamanya adalah Karan. Dan dengan santainya ia masuk ke gedung perusahaan jam tangan itu. Bahkan, dikabarkan sampai diantar ke ruangan CEO. Artinya, hubungan mereka memang terlihat dekat.


“Sialan!” celetuk Raya yang tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengumpat. Karan benar-benar keterlaluan. Apa yang membuatnya berpikir untuk menutupi hal ini? Karena wanita itu adalah mantan kekasihnya? Lalu, bagaimana mungkin Karan mengenal Dona? Apakah yang disebutkan dalam artikel ini benar, bahwa Karan adalah kaki tangan dari buronan polisi tersebut?


Semakin dipikirkan membuat kepala Raya semakin sakit. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini. Ketakutan pun mulai menjalar. Bagaimana jika Karan benar-benar seorang kriminal? Bagaimana jika suatu saat pria it akhiranya harus mendekam di balik jeruji besi untuk menebus perbuatannya? Raya tidak mau itu terjadi. Ia tidak sudi ayah dari anak yang dikandungnya itu harus menyandang status sebagai seorang narapidana. Sampai kapan pun Raya tidak akan mau hal itu terjadi.


Tepat saat itu, sebuah dering ponsel terdengar. Bukan dering dari ponsel sang manajer, melainkan dari ponsel Raya. Dengan cepat wanita itu membuka ponselnya dan ia melihat nama Karan tertera di sana. Pas sekali rupanya. Baru saja Raya memikirkannya, pria itu langsung menghubunginya. Meskipun tidak tahu apa tujuan Karan meneleponnya, Raya tetap mengangkat panggilan itu.


“Hallo!” kata wanita itu dengan ketus.


Dari ujung panggilan, Karan pun menjawab, “Kau ada di mana? Cepat pulang ke rumah!” Suara pria itu terdengar begitu otoriter. Bahkan tanpa penjelasan apa-apa, Karan mematikan sambungan panggilannya.