
Bulan madu. Dua kata yang selalu menjadi keinginan banyak orang untuk dilakukan, apalagi pada pasangan yang baru saja menikah. Biasanya saat-saat inilah terjadi hal-hal yang di luar dugaan, tentu saja yang dimaksudkan adalah dalam konteks positif. Misalnya, melalui perjalanan bulan madu, pasangan akan tahu seberapa romantisnya istri atau suami yang mereka nikahi. Rata-rata berbicara mengenai keromantisan di atas ranjang, meskipun tidak menutup kemungkinan merembet pada hal lain di kehidupan sehari-hari.
Seharusnya itulah yang Raya rasakan saat ini. Apalagi tujuan mereka adalah Milan. Kendati bukan ibu kota Italia, tetapi kota Milan tidak kalah indah dari Roma. Memang Milan tidak terkenal akan keromantisannya seperti kota Paris yang sering menjadi tujuan wisata pasangan muda. Setidaknya Milan menawarkan sebuah kedamaian. Dari bentuk bangunannya yang artistik khas orang Italia, makanannya, musiknya, panoramanya dan semua hingar bingar yang didapatkan dari pusat ekonomi negara asal pizza tersebut.
Raya tidak mendapatkan itu semua. Awal dari rencana bulan madu ini sudah tidak baik. Semuanya terbilang terburu-buru. Karan memaksanya untuk ikut seolah-olah bulan madu adalah hal yang begitu penting untuk dilakukan. Ya, itu memang penting. Bulan madu bisa mengeratkan hubungan mereka. Raya pun bisa memanfaatkan waktu berbulan madu untuk berisirahat bersama suaminya. Kapan Raya pernah pergi ke Italia tanpa embel-embel pekerjaan? Rasanya tidak pernah. Ini waktu yang tepat bagi Raya untuk menikmati masa-masa liburannya sebaik mungkin.
Tetapi menurutnya, ini terbilang begitu cepat dan tanpa perencanaan sama sekali. Mungkin Karan merupakan tipe pria pragmatis yang menggampangkan segala sesuatu. Laki-laki itu punya uang. Dalam waktu sekejap saja ia bisa mengatur segalanya karena ia mempunyai anak buah yang cakap memenuhi perintahnya. Sementara Raya tidak begitu. Ia tidak kekurangan uang, namun tetap saja semuanya butuh perencanaan. Tidak mungkin bulan madu mereka berjalan dengan lancar tanpa direncanakan sama sekali. Itulah yang Raya percayai. Sayangnya, ia tetap harus menuruti permintaan Karan untuk tetap ikut. Dan hasilnya pun tampak sekarang. Semua angan-angan bulan madu yang luar biasa indah dan romantis, hancur dalam sekejap.
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, Raya? Apa yang kau sembunyikan dariku? Apa kau masih mau menyembunyikannya sampai sekarang? Kau tidak mau membongkarnya?” tekan Karan. Laki-laki itu menggulung lengan kemeja cokelatnya seolah-olah sedang menyiapkan sesuatu.
Sedangkan Raya terkejut bukan main. Mengapa Karan tiba-tiba marah seperti ini? Apa yang membuat amarah pria itu meledak begitu saja? Baru saja Karan menyinggung tentang menyembunyikan sesuatu. Memangnya apa yang sedang ia sembunyikan? Wanita itu pun tersentak saat kepalanya teringat tentang kejadian semalam. Kejadian di mana Ika, sang manajer datang menemuinya sambil membawa data-data tentang jalan Asoka. Apakah itu yang sedang dibicarakan oleh Karan? Pria itu marah hanya karena ia mencari tahu mengenai lingkungan di jalan tersebut? Memangnya apa yang istimewa dari jalan itu sampai suaminya itu tidak mau Raya mengetahuinya? Apa yang disembunyikannya?
Raya berusaha untuk tetap bersabar kendati ia sudah terpancing emosi. Ia bergerak dari ranjang dan memosisikan dirinya untuk duduk. Baru saja ia hendak memejamkan mata, malah mendapatkan amukan tak berdasar dari suaminya. “Membongkar apa yang kau maksud, Karan? Aku tidak mengerti sama sekali.”
“Sudahlah, berhenti berkelit. Aku tahu apa yang kau lakukan sebenarnya. Di mana ponselmu, hm?” tukasnya bertanya. Karena Karanlah yang membawa Raya ke dalam ruangan itu, maka Karan tahu di mana Raya menyimpan ponselnya. Benda itu pasti masih berada di ruangan penumpang. Tanpa pikir panjang lagi Karan bergegas ke sana. Ia mengambil gawai milik istrinya dan menghidupkannya. Ada kata sandi pengaman yang Raya gunakan untuk melindungi ponselnya, tapi itu tidak berguna untuk Karan. Dengan mudah laki-laki itu bisa membobol pertahanan canggih ponsel tersebut.
“Berengsek!” umpat Karan kasar saat matanya melihat riwayat penelusuran Raya di internet. Ternyata benar, Raya memang membaca berita tentang Reagan saat mereka berada di dalam mobil. Dan senyuman itu ... istrinya itu memang tersenyum untuk Reagan, laki-laki yang pernah menjadi rekan kerja Raya. Karan membanting ponsel itu ke bawah lantai. Beruntung hanya pelindung kacanya saja yang retak dan lantai pesawat itu pun tidak rusak sama sekali.
“Apa yang kau lakukan, Karan?” seru Raya yang mengikuti langkah Karan ke ruang penumpang. Mereka memang berada berdua saja di sana, tetapi Raya khawatir apa yang dilakukan Karan menimbulkan keributan di dalam pesawat. Perlu diingat masih ada penumpang lain di dalam pesawat itu meskipun tidak berada dalam ruangan yang sama. Tidak seharusnya Karan meluapkan kemarahan kepada ponselnya, terlebih pria itu tidak menjelaskan sama sekali alasan dari kemarahannya itu. “Bisakah kau berhenti membanting barang ketika sedang marah?” protes Raya sembari memungut ponsel malangnya tersebut dari atas lantai.
“Aku tidak bisa, sekalipun aku harus memecahkan ponselmu, aku tetap tidak puas,” ujar laki-laki itu.
“Tapi apa masalahmu? Kenapa kau tiba-tiba marah tanpa alasan? Baru saja beberapa detik yang lalu kau menggodaku, tapi sekarang kau sudah marah-marah padaku. Aku benar-benar tidak memahamimu sama sekali.” Wajar saja Raya bingung melihat perubahan emosi yang begitu drastis yang Karan tunjukan padanya. Siapa yang bisa memahami perubahan yang begitu cepat itu?
“Tanpa alasan katamu? Bukankah kau dekat dengan Reagan?” tanya Karan dengan nada suara yang curiga. Kedua matanya pun menyorot tajam ke arah Raya, meminta wanita itu agar segera menjawab pertanyaannya.
Ucapan Karan begitu menyentakkan. Reagan? Mengapa napa laki-laki itu mendadak muncul di tengah pertengkarang mereka? Jadi, semua ini tentang Reagan? Raya tidak paham sama sekali. Rasanya tidak ada satu pun percakapan mereka yang membahas tentang Reagan. Sebelumnya Raya hanya menyinggung masalah kekayaan Karan. Mengapa sekarang malah melebar ke orang lain yang bahkan fisiknya tidak ada di sini?
Raya menanggapi dengan heran. “Kenapa Reagan? Apa maksudmu?” Wanita itu terlihat kebingungan karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya ini.
“Kau dekat dengannya. Kalian sering berkomunikasi, bukan? Buktinya kau sampai tersenyum melihat berita tentangnya saat kita berada di mobil tadi. Benar bukan? Kau membaca berita tentang Reagan dan tidak menjelaskannya padaku?”
“Lalu, kenapa dia berada di rumah kita? Saat aku menghukummu untuk tidak boleh keluar dari rumah, bukankah dia berada di depan rumah? Dia bahkan sempat menelepon nomor rumah kita.”
Sial, umpat Raya di dalam hatinya. Ternyata Karan mengetahui segalanya. Tetapi itu bukan salahnya. Raya saja tidak tahu mengapa Reagan bisa ada di sana. Ia juga tidak tahu dari mana laki-laki itu mendapatkan nomor telepon rumah mereka. Andai Raya mendapatkan kesempatan, ia pasti bertanya langsung kepada Reagan. Sayangnya ia tidak punya kesempatan. Terakhir kali mereka bertemu hanya di acara amal yang diadakan oleh bibi Karan. Itu pun mereka tidak sempat berbicara sama sekali. Walaupun ada kesempatan berbicara, Raya pasti tidak akan bisa melakukannya mengingat betapa besarnya rasa cemburu Karan.
“Karan dengar, aku tahu kau pasti tidak percaya denganku, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak tahu kenapa dia ada di sana dan bagaimana dia bisa mendapatkan nomor rumah kita. Aku hanya mengangkatnya sebentar dan mematikannya. Tidak lebih dari itu.”
Karan tampak tidak percaya sama sekali. Ia masih marah karena Raya tidak menceritakan hal itu kepadanya. Padahal Karan ingin Raya terbuka dengannya dan menceritakan apa saja yang ia alami selama seharian penuh. “Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”
“Apakah itu harus aku ceritakan? Oh ayolah Karan. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku ceritakan dan tidak ceritakan padamu. Bukankah kau selalu mengawasiku? Kenapa tidak kau tanyakan saja kepada anak buahmu?”
Memang seharusnya begitu, tetapi Karan lengah. Ia pikir Raya sudah mulai menyadari kesalahannya saat ia mendapatkan hukuman. Tampaknya ia salah besar. “Mereka mulai membelamu. Padahal aku yang menggaji mereka tetapi mereka malah tidak mau menceritakan tentangmu padaku.”
“Jadi itu yang membuat kau marah? Karena kau tidak bisa mendapatkan kepercayaan dari mereka? Karan, ingatlah ini. Kau tidak bisa membeli segala hal dengan uangmu, termasuk kepercayaan seseorang,” kata Raya menasihati suaminya.
Seringai mengerikan muncul di bibir Karan. Pria itu bahkan sampai terkekeh pelan usai mendengar pernyataan yang dilontarkan oleh istrinya itu. “Ya, tidak segalanya, tetapi setidaknya uangku bisa membuatmu menikahiku.”
Alangkah hancurnya perasaan Raya saat ini. Tidak pernah seumur hidupnya ia dipermalukan separah ini, terutama oleh suaminya sendiri, orang yang seharusnya ada di sisinya dan membelanya. Raya sakit hati dan ia meluapkan rasa sakit hatinya itu. “Baiklah, kau bisa membeli pernikahan ini dan juga tubuhku. Tapi kau tidak akan pernah bisa membeli perasaanku,” tekannya.
Tentu saja hal itu menimbulkan gejolak kemarahan dalam diri Karan. Wanita itu seolah baru saja menabuhkan gendering perang kepadanya. Seolah-olah sedang mengumumkan bahwa ia bisa saja berpaling darinya. Maksud istrinya itu adalah ia bisa mendapatkan Raya dan mengikat wanita itu ke dalam pernikahan yang sah, tetapi Karan tidak akan bisa mendapatkan hati dan perasaan Raya. Itu mengerikan. Dengan hati dan perasaan yang tidak bisa dimiliki Karan, Raya bisa berpaling darinya dan meninggalkannya lagi.
“Apa maksudmu? Apa kau baru saja mengumumkan perselingkuhanmu dengan laki-laki berengsek itu?” Karan menaikkan nada suaranya.
Kedua bola mata Raya berputar jengah. Ia sudah tidak tahan menghadapi Karan dengan segala kecemburuan pria itu yang membabi buta. Sudah cukup. Raya sudah tidak sanggup lagi. “Astaga! Kau benar-benar menyebalkan, Karan. Aku sudah muak denganmu. Aku muak dengan pernikahan ini. Aku sudah cukup sabar selama empat bulan ini menahan diri dengan menuruti kegilaanmu. Kau menjadikanku seperti tahanan, Karan. Kau menempatkan mata-mata yang mengikuti akivitasku dan menyuruh seluruh pelayan di rumah untuk mengawasiku selama 24 jam. Bahkan aku merasa lebih buruk dari pelaku kriminal di luaran sana. Kenapa kau melakukan ini padaku, ha? Kenapa kau tidak menceraikanku saja?”
“Raya diam!” hardik Karan. Tangannya mengepal keras, pertanda bahwa emosinya benar-benar sedang meninggi sekarang. “Aku tidak mau menyakitimu, Raya. Tapi kalau aku mendengar kata cerai itu keluar dari mulutmu lagi, aku tidak akan segan-segan menjahit mulutmu itu agar tetap diam.” Ancaman Karan terdengar serius. Kilatan kemarahan yang terpancar dari kedua bola mata Karan adalah saksinya. Pria itu tampak begitu mengerikan sekarang.
Raya mengusap-usap wajahnya. Ia memang tidak bermaksud melontarkan kata cerai itu dari mulutnya karena sampai sekarang tidak ada niatan baginya untuk bercerai dari Karan. Hanya saja, ia terpancing emosi apalagi saat berhadapan dengan Karan yang juga dilingkupi emosi. Ia sudah lelah dan ingin mendapatkan kehidupan lamanya. Baginya, meskipun saat itu ia mengalami banyak kesulitan, rasanya hidupnya jauh lebih menyenangkan ketimbang menyandang status sebagai seorang istri konglomerat. Raya sudah salah membuat keputusan. Salah besar. Karena seperti nasihat yang sempat ia berikan kepada suaminya tadi bahwa tidak semua hal bisa dibeli oleh uang, salah satunya kebahagiaan dan rasa tenang.
Kedua lutut Raya terasa lemas. Wanita itu pun terperenyak di atas lantai pesawat. “Aku lelah, Karan. Aku tidak tahu bagaimana cara menghadapimu. Menghadapi semua perintah gilamu, hukumanmu dan sikapmu yang sangat posesif itu. Aku kesulitan bernapas. Kau seperti mengikat leherku dengan tali yang sangat erat. Aku rasa semakin lama aku bersamamu, maka aku akan bisa kehilangan nyawaku,” ujar Raya frustrasi. Sorotan matanya memerah, tidak lagi memancarkan kemarahan tetapi kekosongan. Wanita itu seperti benar-benar sudah menyerah terhadap kehidupannya sendiri.