Lies

Lies
Penyakit Raya



Karan begitu terkejut melihat apa yang dilakukan istrinya. Bersujud di depannya adalah hal yang tidak terduga Karan kapan pun. Tidak ada pula niatan Karan untuk membuat Raya melakukan hal itu. Juga Karan sudah memutuskan untuk melupakan dendamnya pada Raya kendati rasa sakit di hati dan tubuhnya tidak akan bisa hilang dengan cara apa pun. Rasa itu hanya berangsur-angsur tertutupi oleh perasaan suka Karan pada Raya. Perasaan ingin menghabiskan waktu bersama wanita itu sebagai pasangan suami istri yang romantis. Sang CEO rela menyembunyikan masa lalu mereka seandainya itu memang bermasalah dengan kesehatan mental Raya.


“Sayang, jangan melalakukan ini. Bangunlah,” ucap Karan. Percuma saja karena sekarang Raya malah semakin menurunkan kepalanya hingga bisa menyentuh sepatu Karan. Perbuatan itu membuat Karan tidak bisa diam saja. Ia segera memegang bahu Raya dan membantu wanita itu untuk berdiri. Sayangnya Raya tetap enggan. Ia pun memaksa mengangkat tubuh Raya dan membawanya ke ranjang. Karan berusaha menahan pukulan akibat pemberontakan yang dilakukan Raya, kemudian pria itu mendudukkan sang istri di tepi ranjang. Melihat Raya yang hentak turun dari ranjang, Karan mencium Raya, membantu wanita itu mengalihkan pikirannya.


Setelah cukup tenang, Karan pun melepaskan Raya. Ia mengelus puncak kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang hingga wanita itu tertidur lelap. Sambil memperhatikan Raya, otak Karan bergerak cepat, memikirkan apa yang terjadi hingga istrinya bertingkah seperti ini. Tak lama berselang, Karan pun mendapatkan jawabannya. Mike, anak bungsu dari koleganya itu adalah pemicunya. Pemuda itu mendapatkan penganiayaan dari keluarganya. Dan saat melakukan kesalahan, ia akan mendapatkan hukuman berat. Mungkin itulah pemantiknya karena Raya juga pernah mengalami hal yang sama. Ia pernah dipukuli hingga tubuhnya babak belur. Karan sudah melihat sendiri luka-luka lebab bahkan luka segar yang masih mengeluarkan darah dari tubuh Raya.


“Tidurlah Sayang, jangan pikirkan apa pun karena aku tidak akan membiarkan orang lain melukaimu,” janji Karan yang ia bisikkan di samping telinga Raya. Kedua netra Karan menatap kelopak mata Raya yang tertutup. Napas Raya sudah mulai teratur, artinya wanita itu sudah tidak lagi merasa tertekan dan mulai tenang sekarang. Mimpi buruk akibat ingatan yang bangkit barusan sepertinya tidak berpengaruh lagi pada Raya. Karan pun bernapas lega mengetahuinya.


Karan meninggalkan Raya di atas ranjang. Pria itu beranjak ke sisi lain dari kamar agar tidak menimbulkan keributan yang membuat Raya terbangun. Ada hal yang perlu Karan selidiki tentang Raya, salah satunya identitas wanita itu. Karan ingin tahu apa yang terjadi padanya 12 tahun lalu, ketika Raya meninggalkannya. Memang sebelumnya Karan sudah menyelidiki latar belakang Raya. Ia memerintahkan Ian mengumpulkan apa saja yang dilakukan Raya selama 12 tahun. Karena terlalu banyak, Karan hanya membaca inti-intinya saja. Ia terlalu gelap mata karena kebencian yang ia rasakan pada wanita itu. Karan begitu benci pada Raya.


Kali ini situasinya berbeda. Kebencian pada wanita itu masih bisa ia atasi dengan baik. Terlebih saat mengetahui bahwa bukan hanya ia satu-satu orang menderita pasca kejadian mengertikan tersebut. Raya juga merasakannya. Hanya saja wanita itu terlalu pintar menyembunyikannya hingga tidak terendus siapa pun, termasuk para wartawan dan masyarakat. Seperti yang Karan lakukan selama ini. Berpura-pura baik-baik saja hanya demi melanjutkan hidupnya.


Setelah membawa tas kerjanya ke sofa, Karan mulai menghidupkan laptop hitam miliknya. Bukan hanya data-data perusahaan ada di sana, data-data tentang Raya pun masih tersimpan dengan rapi disalah satu folder di laptop itu. Bahkan, Karan menamai laptop itu dengan ‘istriku’ kendati Karan membuat folder itu lima tahun lalu, waktu ia dan Raya belum pernah bertemu lagi. Sebesar itu memang rasa percaya diri Karan terhadap rencananya, bahwa kelak ia akan menikahi Raya. Dan rencana itu bukan angan-angan biasa karena Karan berhasil mewujudkannya.


Dengan ponsel itulah Karan bisa memotret Raya yang sedang tersenyum padanya dengan memakai pakaian olahraga. Saat itu Raya sedang berlatih basket bersama Karan, tapi kali ini Raya sudah cukup mahir memainkan bola basket. Berbeda dari pertama kali Karan bertemu dengan gadis itu. Karan pun tersenyum melihat foto itu, merasakan kehangatan yang sama seperti di masa lalu. Perasaan bangga karena berhasil mengajari kekasihnya dengan sangat baik.


Sampailah pada data-data Raya saat ia masih SMA. Selepas kejadian itu, Raya pindah bersama bibinya ke pusat ibu kota. Ia memilih tinggal di lingkungan yang jauh lebih baik dari lingkungan di jalan Asoka. Meskipun tidak terlalu kaya, sang bibi masih sanggup menyekolahkan Raya dia sekolah elit. Ditambah gadis itu pun merupakan siswi yang pintar sehingga ia mendapatkan beasiswa walaupun bibinya masih sanggup membiayai uang sekolahnya.


Tidak ada yang aneh dengan kepindahan itu, tetapi yang berbeda adalah kepribadian Raya. Keriangan gadis itu hilang begitu saja di sekolah barunya. Entah karena pengaruh sang bibi atau memang karena pengaruh kejadian itu. Raya bertindak seperti bukan dirinya sendiri. Mulai dari menyukai matematika padahal sebelumnya gadis itu sangat membencinya, hingga tidak bisa olahraga sama sekali padahal ia cukup mahir bermain basket. Yang paling berbeda adalah di mana Raya tidak ingat sama sekali dengan apa yang terjadi sebelumnya di hidupnya. Ia tidak ingat siapa orang tuanya, di mana tempat tinggalnya dulu, mengapa ia pindah sekolah dan semua masa lalunya. Sang bibilah yang bekerja keras untuk membantu Raya. Ia bekerja sama dengan para guru agar membuat para siswa berhenti mengorek-ngorek masa lalu Raya.


Karan mengambil ponselnya. Ia mencoba untuk menghubungi salah satu kenalannya. Seorang psikiater yang mampu menangani masalah kejiwaannya selama ini. Karena perbedaan waktu yang cukup jauh, Karan yakin sang dokter sedang tidak sibuk sekarang di Jakarta. Karan pun menghubungi laki-laki itu. Saat Karan menjelaskan gejala-gejala yang dialami oleh istrinya, sang dokter mulai menganalisis secara saksama. Meskipun tidak bertemu langsung, dokter itu punya kesimpulan dasar.


“Sepertinya istri Anda mengalami dissociative fugue,” seru sang dokter yang membuat Karan begitu terkejut.