Lies

Lies
Apakah Aku Pantas?



Kenyataan itu begitu menyedihkan untuk Raya. Hatinya terasa sangat sakit mengetahui apa yang dialami sang mantan suami. Pria itu sudah banyak berkorban untuk orang lain hingga ia lupa bagaimana caranya untuk melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri. Semuanya demi Raya, juga demi keluarga yang sudah mengadopsinya. Karan rela masa lalunya tidak terungkit. Ia rela mengalami penderitaan itu sendirian karena tidak ingin membebani orang lain meskipun ia sangat tersiksa dengan semuanya itu.


Raya tidak tahu sama sekali persoalan ini. Seandainya ia tahu, ia tidak akan pernah bercerai dengan Karan. Mungkin Raya akan meminta waktu pada pria itu, setidaknya sampai mereka mengintrospeksi diri masing-masing. Menemukan kesalahan dan memperbaikinya. Sebab benar yang dikatakan oleh sang bibi, mereka tidak akan bisa hidup berdampingan dalam rasa benci satu sama lain. Tapi jika mereka berpisah sejenak, mungkin mereka bisa kembali menjadi pasangan yang utuh.


Namun nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlambat. Hakim sudah mengetuk palu perpisahan kepada mereka. Surat perceraian dari pengadilan juga sudah ditandatangani. Status mereka sudah bukan suami istri lagi. Apalagi Karan sudah sepenuhnya melupakannya. Buktinya pria itu sudah menikah dengan wanita lain. Ini menunjukkan Raya tidak diperlukan lagi. Meskipun sekarang Raya kembali menemui Karan, tidak akan ada yang berubah.


Ia memang bukan istri yang baik karena tidak mengerti penderitaan suaminya dulu. Ia juga bukan ibu yang sempurna bagi Luca karena sudah menjauhkan anak itu dari ayah kandungnya. Akan tetapi, Raya bukanlah wanita yang tidak punya hati hingga merebut suami dari seorang istri. Ia pernah menjadi istri, ia tahu bagaimana sakitnya jika ada orang ketiga dalam rumah tangganya meskipun itu tidak terjadi selama ia menikah dengan Karan. Pria itu setia sama seperti dirinya yang setia kepada pria itu. Raya bersyukur perceraian mereka bukanlah karena sebuah perselingkuhan, hanya sebuah kesalahpahaman dan untuk membuat mereka berhenti menyakiti satu sama lain. Karena seandainya sampai ada orang ketiga, mungkin Raya tidak akan pernah lagi mau melihat wajah Karan untuk selamanya.


Ya, itu harus disyukuri kendati sekarang pun tidak ada gunanya. Menerima kenyataan Karan telah memiliki tambatan hati lain membuat Raya merasa marah. Ia kesal dan kecewa. Padahal tidak seharusnya Raya bersikap seperti ini. Ia tidak punya hak untuk mengatur Karan. Pria itu punya keinginan dan tujuan hidupnya sendiri tidak seperti dirinya yang hanya punya satu tujuan, yaitu membesarkan Luca dengan baik meskipun hanya seorang diri. Tidak sepatutnya Raya menginginkan Karan untuk tetap sendiri sepertinya.


“Aku ingin membantunya. Aku benar-benar ingin membantu Karan. Tapi aku tidak bisa,” celetuk Raya. Ini pilihan berat yang tidak pernah ditempuh olehnya. Saat ada kesempatan untuk membantu sang mantan suami, ia malah tidak bisa melakukan apa-apa.


“Mengapa Anda tidak bisa, Bu? Hanya Anda yang bisa membantu Pak Karan untuk sembuh dari rasa sakitnya. Itulah tujuan saya datang ke sini,” tukas Ian pada Raya. Hanya wanita itu yang bisa membantu Karan. Ia yakin itu dengan pasti. Bukan hanya setahun dua tahun Ian mendampingi Karan, ia sudah mendampingi pria itu lebih dari satu dekade. Setiap Karan mengalami masa sulit karena traumanya, sang CEO akan memandangi gambar seorang gadis yang memakai pakaian SMA yang selalu ada di kamar dan meja kerjanya.


“Karan sudah menikah. Apa kau sudah dengan itu? Seharusnya kau panggil istrinya ke sini bukan malah mendatangiku.”


“Apa?” Ian terkejut mendengarnya. Ia kemudian tersadar apa yang baru saja diucapkan oleh Raya. Wanita itu merujuk pada kebohongan yang Karan ucapkan selama ini. Tentang sang CEO yang sudah menikah lagi demi melindungi dirinya dari para wanita yang ingin mengganggunya. “Bu, ini tidak seperti yang Anda pikirkan. Begini, pertama, Pak Karan belum pernah menikah lagi setelah bercerai dari Anda. Kedua, pengumuman pernikahan itu hanya kamuflase Pak Karan dari wanita-wanita yang ingin mendekatinya.”


Kedua bola mata Raya terbelalak. Tentu saja ia terkejut mendengarnya. Selama ini ia mengira Karan sudah menikah, bahkan sampai beberapa saat yang lalu. Kenyataan Karan tidak menikah membuatnya salah sangka. “Kau tidak berbohong ‘kan?”


“Untuk apa saya berbohong kepada Anda? Selama ini saya yang mengurus semua keperluan Pak Karan. Saya tahu dengan pasti beliau tidak punya istri atau pasangan. Bahkan, tidak ada satu pun wanita yang beliau dekati sekarang. Beliau hanya fokus bekerja, dan tentu saja alasan lainnya karena beliau tidak bisa melupakan Anda. Bu, masa lalu Pak Karan memang membuat beliau takut, tapi ketakutan terbesar beliau adalah kehilangan Anda.”


Raya benar-benar tidak yakin dengan ucapan Ian sebelum ia melihatnya sendiri dengan matanya. Dengan segala pertimbangan akhirnya Raya pun setuju untuk ikut Ian. Ia sudah meminta izin pada Edgar. Seperti biasa pria itu membantunya. Ia bahkan berjanji akan menjaga Luca selagi Raya pergi menemui Karan.


Saat Raya tiba di dalam kamar hotel, ia tersentak melihat keadaan Karan. Pria itu basah karena keringat yang membanjiri tubuhnya. Wajahnya pucat dan kedua tangannya mengepal kencang. Karan tidur dengan gelisah. Ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, mencari tempat ternyaman. Namun justru semakin membuatnya tidak bisa tidur sama sekali. Secara fisik Karan memang berada di bawah kendali obat tidur, sayangnya batinnya tidak. Pria itu berada di alam mimpi yang sangat mengerikan hingga ia begitu gelisah.


“Raya! Raya jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku!” ujar Karan dalam mimpinya. Hampir setiap menit pria itu menggumamkan nama Raya. Benar yang Ian katakan. Ketakutan terbesar Karan adalah kehilangan dirinya. Pria itu sangat mencintainya hingga ia bisa mengorbankan apa saja untuk dirinya. Dicintai sebesar itu membuat Raya begitu terharu. Bagaimana mungkin ia tidak membalas rasa cinta Karan? Karena pada dasarnya, perasaan Raya terhadap Karan pun sama. Ia juga mencintai Karan hingga ia tidak bisa membuka hatinya untuk pria lain.


“Karan, tenanglah. Aku ada di sini. Aku tidak akan pergi lagi darimu,” ucap Raya sambil menggenggam tangan Karan. Sambil terus menenangkan pria itu, Raya mengganti pakaian Karan yang basah. Terjawab sudah dari mana asal luka-luka goresan lama yang memenuhi tubuh Karan. Ternyata luka-luka itu didapatkan dari penjara tempat Karan ditahan selama dua tahun. Karan sudah melewati hari-hari beratnya di sana, luka fisik hingga pelecehan sudah ia alami. Ini waktunya Karan bahagia. Dan Raya ingin menjadi bagian dari kebahagiaan Karan.


*****


“Kau tidak bodoh, Karan. Tidak. Ini terjadi karena kesalahpahaman kita yang tidak mau mengklarifikasi kenyataan dan malah memilih memercayainya mentah-mentah.” Raya menolak saat Karan menyebut dirinya bodoh. Mereka tidak bodoh, tapi naif. Tapi bukan berarti ini tidak bisa diperbaiki. Tidak ada penghalang lagi sekarang. Kesalahpahaman itu sudah terselesaikan. Yang terpenting untuk memikirkan apa yang terjadi pada mereka di masa depan. Jangan lupa mereka tidak hanya berdua. Ada Luca juga di tengah-tengah mereka. Keputusan apa pun yang akan mereka ambil seharusnya itu berdasarkan kebahagian bocah itu juga.


“Ya kau benar. Ini hanya salah paham. Salah paham yang besar dan menyedihkan,” sahut Karan.


“Tapi rasa sedih itu harusnya sudah tidak ada lagi sekarang. Kau lihat di sana!” Raya menangkat jari telunjuknya yang mengalah ke seorang bocah yang baru saja keluar dari kelas. Anak itu sangat pintar mengidentifikasi di mana keberadaan orang tuanya. Sebab tidak butuh waktu lama, usai melihat Raya dan Karan tidak ada di dekat pintu, Luca langsung mengedarkan pandangannya ke taman. Benar saja, ia melihat ayah dan ibunya ada di sana. Dengan langkah cepat Luca berjalan ke arah tempat Raya dan Karan sedang duduk.


Karan mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang mantan istri. “Kita punya Luca. Ya, itu seharusnya bukan hal yang menyedihkan,” kata Karan mengakui. Jujur Karan merasa sedih dan kecewa karena tidak bisa melihat perkembangan anaknya dari dalam kandungan hingga berusia empat tahun. Akan tetapi melihat Luca tumbuh dengan sangat sehat seperti sekarang, Karan merasa sangat bahagia, dan itu sudah cukup untuk mengobati kekecewaannya. “Tapi Raya, apakah aku bisa melakukannya?”


Raya mengernyit. “Melakukan apa maksudmu?”


Karan menatap Luca sebentar, lalu beralih menatap wanita yang ada di sampingnya itu, “Apakah aku pantas menjadi ayah bagi Luca?”