Lies

Lies
Hanya Demi Dirimu



Itu adalah janji yang diucapkan di usia yang masih muda. Janji yang bisa diabaikan begitu saja karena sangat sulit diwujudkan. Mereka bahkan baru usia belasan tahun, belum cukup umur untuk membicarakan masa depan. Bekerja saja masih paruh waktu sehingga mereka tidak tahu bagaimana sulitnya menempuh kehidupan kendati mereka juga tahu betapa sulitnya mendapatkan sejumlah uang karena kehidupan mereka yang miskin. Hanya saja, Karan merasa yakin bisa hidup dengan Raya. Di masa depan, entah bagaimana caranya, ia berani mengatakan bahwa kelak ia akan menikahi gadis itu. Mungkin karena perasaan sukanya terhadap Raya begitu besar saat ini atau karena ia sangat naif melihat kehidupan. Yang pasti Karan ingin mewujudkan keinginan itu.


Sementara di sisi lainnya, Raya terlihat termenung mendengar penuturan Karan. Ia ingat akan ucapannya itu atau yang Karan katakan sebagai janji. Benar, ia pernah mengutarakan hal itu, tetapi ia tidak sepenuhnya bermaksud seperti itu. Ia hanya mengatakannya untuk menyenangkan Karan. Untuk saat ini, Raya begitu menyukai Karan, namun memikirkan mereka melangkah ke jenjang pernikahan, Raya masih belum sanggup. Mungkin bagi Karan itu tidak masalah. Pria itu pandai, ia juga cakap dalam bekerja. Raya rasa apa pun yang Karan kerjakan di masa depan tidak akan masalah. Pria itu pasti akan sukses.


Namun itu berbeda dengan Raya. Ia tidak cukup pandai seperti Karan. Untuk membiayai sekolahnya saja sangat sulit. Raya bahkan harus bekerja paruh waktu di salah satu restoran di pinggir kota setiap hari sabtu dan minggu. Ia butuh uang yang banyak untuk menghidupi dirinya sendiri sehingga kelak tidak bergantung pada orang lain. Dengan kesulitannya yang begitu besar, Raya pikir Karan tidak akan mau bersamanya dalam waktu lama. Raya tidak cukup pantas untuk Karan. Kelak pemuda itu pasti bisa mendapatkan wanita yang cocok menjadi pasangannya.


“Aku ingat. Aku tidak akan lupa tentang itu,” celetuk Raya mengiyakan ucapan Karan. Ia tidak lupa hanya saja ia ingin berpura-pura lupa sambil berharap Karan pun melupakan apa yang sudah ia ucapkan itu. Mereka berdua masih sangat muda. Terlalu dini mengikat janji seperti itu. “Tapi kita masih SMA. Kita perlu kuliah dan bekerja. Masih banyak hal yang harus dilakukan,” sambung Raya. Meskipun tidak pandai dalam urusan pelajaran, tetapi Raya masih bisa berpikir realistis. Ia tidak mau menghabiskan waktu dengan angan-angan yang belum tentu terwujud. Ya, benar, Raya menyukai Karan. Tetapi perasaan itu tidak cukup untuk menghadapi dunia yang kejam.


“Benar, tapi kau tenang saja, Raya. Aku akan bekerja keras agar nanti bisa menghidupimu. Jika aku sudah kaya, aku tidak akan membiarkan kau bekerja. Biar aku saja yang bekerja dan kau bersantai di rumah,” kata Karan dengan penuh percaya diri.


Raya tertawa pelan. “Hey, mana boleh seperti itu? Kalau kau bekerja, maka aku juga harus bekerja. Aku tahu kau akan sukses, tapi aku juga mau membantu. Jangan karena aku bodoh kau pikir aku tidak bisa mendapatkan pekerjaan ya. Kau ingat siapa yang duluan mendapatkan pekerjaan kemarin? Aku duluan. Kau baru mendapatkannya dua bulan lalu,” katanya menyombongkan diri. Sejak menginjakkan kaki di bangku SMA, Raya sudah mulai bekerja. Ia tahu tidak ada orang yang bisa menopang biaya pendidikannya selain dirinya sendiri. Itulah sebabnya ia bekerja di salah satu restoran milik guru SMPnya dulu.


Mempekerjakan anak di bawah umur memang dilarang oleh negara. Tetapi, aturan itu tidak berlaku di lingkungan miskin yang serba kekurangan seperti di kampungnya itu. Tidak hanya Raya, hampir seluruh anak di kampungnya sudah mulai bekerja walaupun usia mereka masih sangat kecil. Bahkan anak-anak yang masih duduk di bangku SD sudah bekerja di pabrik teh sebagai buruh. Mereka membantu orang tua mereka untuk memetik daun teh. Yang paling parahnya ada yang mengikuti preman-preman yang tinggal di sana ke kota. Mereka mencari uang dengan cara yang salah, yakni dengan mencopet barang-barang milik penumpang bus. Atau mungkin lebih nekatnya merampok penduduk kota. Itulah sebabnya tidak jarang polisi wara-wiri keluar-masuk kampung ini untuk menangkap mereka.


“Ya, kau benar. Kau memang paling ahli dalam bekerja, Raya. Kau pandai sekali mendapatkan pekerjaan. Aku mengaku kalah,” ungkap Karan jujur.


Sekali lagi Raya menunjukkan senyuman di bibir merah mudanya. “Setidaknya aku bisa mengalahkanmu sekarang,” katanya bercanda.


Raya tidak mau memupuskan keinginan dan angan-angan Karan untuk menikahinya. Biarlah begitu karena Raya yakin seiring berjalannya waktu, Karan akan lupa dengan sendirinya terhadap janji-janji konyol mereka. Lagi pula, Karan sudah begitu banyak berjuang untuk Raya. Tidak hanya membantu biaya sekolahnya dan mengajarinya berbagai mata pelajaran, alasan Karan mulai bekerja sekalipun ia tidak perlu bekerja adalah untuk melindunginya. Raya tahu Karan sengaja memilih bekerja di minimarket dekat restoran tempat Raya bekerja karena pemuda itu ingin menemaninya. Daerah mereka rawan sekali terjadi kejahatan, termasuk kejahatan terhadap perempuan. Karan yang begitu khawatir tidak mau membiarkan Raya pulang sendirian, tetapi ia juga tidak bisa begitu saja melarang Raya bekerja. Akhirnya Karan menemukan jalan keluarnya dengan ikut bekerja agar bisa mengawasi kekasihnya itu.


Tidak cukup sampai di sana, Karan pun menyisihkan banyak waktu untuk Raya, terutama untuk mengantarkan Raya pulang baik saat mereka pulang bekerja ataupun pulang sekolah. Padahal tempat tinggal mereka berlawanan arah, tetapi Karan bersikeras untuk mengantarkan Raya sampai di rumah dengan selamat. Seletih apa pun Karan, sesibuk apa pun pemuda itu, saat Raya hendak kembali ke rumah, Karan akan dengan semangat mengantarnya. Karan adalah tipe pria yang menyerahkan segalanya kepada perempuan yang dicintainya. Bukan hanya uang, tetapi waktu dan tenaga dikerahkannya hanya untuk memastikan Raya selalu dalam kondisi aman.


******


Karan pikir uang sekolah dan keselamatan saja yang menjadi masalah bagi Raya. Tetapi pada kenyataannya, ada banyak hal yang terjadi yang tidak bisa Karan lakukan sekarang. Waktu 24 jam dalam sehari benar-benar kurang bagi Karan padahal ia sudah mencari banyak cara untuk bisa menghasilkan banyak uang. Uang dari hasil pertandingan bola basket tidak cukup banyak karena tim yang ia bela tidak selalu menang. Meskipun Karan sudah mengeluarkan kemampuan dan tenaganya semaksimal mungkin, tetapi basket adalah pertandingan antar tim. Ia tidak bisa bekerja sendirian sementara rekannya yang lain tidak dalam performa yang bagus. Alhasil, mereka pun tidak harus gugur di semifinal pertandingan antar sekolah menengah atas. Padahal seandainya saja tim mereka masuk ke putaran final, kendati tidak juara, Karan akan mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak sebagai hadiah.


Dengan uang itu Raya tidak perlu lagi bekerja di restoran. Semua biaya sekolah gadis itu sudah bisa Karan tangani sampai mereka lulus SMA. Untuk biaya kuliah, barulah Karan mengumpulkan uang dari hasil kerja paruh waktunya selama ini. Memang masih jauh dari kata cukup, tetapi Karan bisa menambahkannya dari hasil kerja paruh waktunya nanti. Atau seandainya ia sudah menjadi mahasiswa, ia bisa bekerja secara penuh karena sudah dianggap sebagai orang dewasa.


Sayangnya harus ada yang Karan korbankan dari rencananya itu, yakni waktunya bersama Raya. Berbeda dengan perlombaan basket di mana Karan masih punya kelonggaran untuk bertemu kekasihnya, olimpiade bukan hal yang mudah. Karan harus benar-benar fokus belajar. Belum lagi guru-guru yang mempersiapkan olimpiade pun terbilang guru-guru yang sangat berkompeten yang mencurahkan tenaganya untuk mendidik Karan. Penyebabnya, Karan tidak hanya mewakili sekolah mereka, tetapi ia juga mewakili provinsi untuk bertarung dengan anak-anak dari provinsi lain. Waktu latihannya pun cukup lama. Bahkan sampai berbulan-bulan. Akibatnya, Karan semakin jarang bertemu dengan Raya meskipun ia tetap menemani kekasihnya itu setiap akhir pekan untuk bekerja.


Sampai suatu hari, Karan dikejutkan melihat Raya yang berada di depan kelasnya. Sudah pukul lima sore, waktu yang sangat terlambat untuk pulang sekolah. Lantas, mengapa Raya masih ada di sana? Karan pun menghampiri gadis itu. “Raya?” cetusnya memanggil nama sang kekasih.


Raya yang sedang duduk di atas lantai sambil membaca sebuah buku, mengangkat kepalanya untuk memandang Karan. “Kau sudah selesai berlatih?” tanyanya polos.


Karan mengangguk. “Ya, kenapa kau masih di sini?” ucapnya bingung. Pasalnya, Raya masih memakai seragam sekolahnya. Gadis itu pun masih membawa tas ransel beratnya yang berisi beberapa buku cetak dan buku tulis itu. Artinya Raya tidak pulang. “Apa kau ada remedial lagi?” tanya pemuda itu sambil duduk di samping Raya. Karena jarang bertemu Karan menjadi tidak tahu perkembangan pelajaran Raya. Saat mereka mau berangkat bekerja pun Raya jarang membicarakan tentang pelajaran. Katanya membosankan. Waktu pertemuan mereka sangat singkat dan sangat disayangkan jika dihabiskan dengan membicarakan tentang pelajaran.


Kepala Raya bergerak. Gadis itu menggeleng. “Tidak. Apa kau pikir aku sangat bodoh jadi aku selalu remedial setiap ujian?” katanya merasa tersinggung.


Karan tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Raya yang tampak begitu lucu saat sedang marah seperti itu. “Astaga, aku ‘kan hanya bercanda. Kenapa kau begitu serius, hm? Kau ini semakin sensitif ya. Apa kau sedang mens?”


PUK!


Raya memukul lengan Karan. Ia berbicara dengan nada yang begitu kesal. “Hey, tidak sopan menanyakan tentang menstruasi kepada seorang gadis! Kau ini benar-benar membuat jengkel!”


“Habisnya kau kelihatan aneh hari ini. Jadi, kenapa kau belum pulang?”


“Karena aku menunggumu.”


“Oho, apa kau kangen?” tukas Karan sambil tersenyum. Tak lupa pemuda itu menatap Raya dengan tatapan penuh harap yang membuat Raya tidak bisa berkutik sama sekali.