Lies

Lies
Berjarak Beberapa Meter



Karan keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya. Hari ini cukup melelahkan bagi pria itu karena aktivitasnya cukup padat. Ia baru saja tiba di Milan dan langsung mengadakan pertemuan dengan kliennya. Kemudian, ia harus menemani Luca membeli es krim. Memang menemani seorang bocah kecil tidak akan membuat Karan merasa lelah secara difisik karena mereka tidak bergerak ke tempat lain, hanya di toko es krim saja. Namun, Karan merasa lelah secara batin. Ia selalu merasa tertohok saat berhadapan dengan bocah itu.


Karan mendekati koper miliknya dan mengambil sepasang pakaian kasual dari sana. Pakaian Karan tidak banyak berbeda dari lima tahun lalu. Ia membiarkan semuanya secara sengaja karena tidak ingin menghilangkan jejak-jejak Raya dari sana. Raya pernah menyentuh pakaiannya dan juga sempat memakainya saat wanita itu ingin. Katanya kaos-kaos miliknya lebih nyaman untuk digunakan sehingga Raya tidak akan segan-segan memakai beberapa di antaranya. Karan tidak pernah merasa keberatan dengan hal itu. Ia malah senang karena Raya tampak menyukai pakaiannya.


Itulah sebabnya Karan tidak pernah mengganti pakaiannya. Susunannya di lemari pun masih sama seperti susunan yang terakhir Raya tinggalkan sebelum pertengkaran hebat mereka saat itu. Jika tidak tertinggal di suatu tempat atau rusak secara tidak sengaja, Karan tidak akan membeli pakaian baru. Ukuran tubuhnya saja bisa ia pertahankan sekuat tenaga apalagi hanya sebatas pakaian. Perlu diingat sebelum menjadi anak keluarg Reviano, Karan hanyalah seorang pemuda miskin sebuah kampung kumuh. Harga satu baju yang ia pakai sekarang bisa seharga biaya makan ia dahulu selama satu bulan.


Jangankan untuk membeli pakaian, Karan saat masih menjadi Farraz sama sekali tidak punya apa-apa untuk sekadar membeli makanan yang sehat dan lengkap. Hanya bisa makan hari itu saja sudah sangat berharga bagi Karan. Dan itu pun ia dapatkan dengan cara yang sulit pula. Karan sudah sangat beruntung dapat hidup dalam kondisi seperti ini. Selain untuk menghargai apa saja yang sudah ia miliki dengan menjaganya secara baik, Karan juga belajar untuk menghemat uang. Lagi pula, semua harta benda dan aset yang beli atas nama Karan Reviano bukan berarti milik Karan sepenuhnya, tetapi milik orang tuanya.


Pria itu memakai kemeja denim berwarna biru tua. Awalnya Karan tidak ingin memasukkan baju-baju kasual di dalam kopernya karena ia mengira akan pulang dalam waktu dekat. Namu pada akhirnya baju itu pun Karan masukkan tanpa alasan ke dalam kopernya. Ia baru merasa beruntung sekarang saat mengetahui bahwa ia akan menunda waktu kepulangannya. Berkat keputusan itu akhirnya Karan bisa menggunakan pakaian kasual ke restoran untuk makan malam. Walaupun tidak masalah seandainya Karan tetap menggunakan stelan jasnya ke sana, tetapi memakai pakaian kasual akan terlihat lebih nyaman baginya.


Usai memakai pakaiannya dan berkaca di depan cermin besar yang ada di kamar hotelnya, Karan tersenyum tipis. Ia tidak terlihat tua sama sekali kendati usianya di kartu identitas sudah menginjak 35 tahun, usia yang diambil dari tanggal lahir Karan Reviano yang asli. Jika diambil dari tanggal lahirnya yang asli sebagai seorang Farraz, maka usianya sekitar 33 tahun. Ia dan sang pemuda yang memiliki namanya itu berbeda dua tahun di mana Karan Reviano yang asli lebih tua darinya.


Meskipun berada di usia kepala tiga tetap saja Karan tidak tampak menua. Ia mampu mempertahankan wajahnya selayaknya pria berusia di awal 20an. Ini berkat seringnya Karan mengadakan wawancara dengan para wartawan sehingga sekretarisnya di kantor sering memberikan masukan padanya agar merawat wajahnya sebelum tampil di depan media. Karan pun mendengarkan nasihat sang sekretaris. Beberapa kali ia melakukan perawatan pada kulit wajahnya, setidaknya sebatas perawatan agar kulit matinya dapat terlepas dari wajah. Ini juga berguna jika Karan bertemu dengan Raya suatu hari nanti. Raya yang seorang super model akan tampil selalu cantik di mana pun ia berada, dan Karan tidak boleh kalah dari wanita itu.


Setelah dirasa sempurna, Karan pun berjalan ke luar kamar hotel menuju sebuah restoran yang ada di gedung itu. Hari ini cukup membahagiakan bagi Karan. Pasalnya ia berhasil melihat Raya lagi walaupun hanya melalui sebuah majalah. Terlebih tak lama lagi Karan akan melihat Raya secara langsung saat wanita itu melakukan jumpa penggemar. Karan pastikan ia akan datang lebih awal agar bisa melihat sang mantan istri lebih lama. Mungkin mereka tidak bisa berbicara tatap muka, tapi setidaknya Karan bisa melihat paras cantik sang super model.


Karan tiba di restoran dan berjalan ke meja yang telah dipesan Ian sebelumnya. Tidak, Karan tidak makan bersama sang asisten, ia makan sendirian di sana. Karena merupakan tempat yang elit jadi Karan tidak perlu khawatir tentang adanya orang-orang yang akan mengganggu privasinya. Lagi pula, Karan punya senjata ampuh untuk mengusir para pengganggu, khususnya para wanita yang mencoba untuk mendekatinya. Karan selalu menggunakan cincin kawinnya. Satu-satunya bukti bahwa Karan sudah membatasi diri dari para wanita sebab pria itu secara frontal menunjukkan bahwa ia sudah memiliki seorang wanita yang menjadi tambatan hatinya.


Sayangnya apa yang Karan harapkan berbeda dengan kenyataannya karena tepat setelah ia selesai menyantap makan malamnya, sebuah kekacauan terjadi.


“Paman!” teriak seseorang dengan suara nyaring ke arah Karan. “Paman Karan!” Suara itu kembali terdengar yang membuat Karan mau tidak mau harus menoleh ke belakang. Ternyata bukan seorang wanita yang mengganggunya, melainkan seorang bocah laki-laki yang seharian ini sudah mengusiknya, Luca. Entah mengapa ia bisa berada di restoran ini. Dan lagi-lagi tanpa orang dewasa di sekitarnya. Apa mungkin ia melarikan diri lagi?


“Luca?” seru Karan sambil mengernyit tak percaya. Saat bocah itu menghampirinya dan meminta untuk digendong, Karan menggangkat tubuhnya dan mendudukkannya di pangkuannya. “Kenapa kau bisa ada di sini? Dan ... apa kau sendirian?” Karan menoleh ke sekelilingnya, mencoba mencari sosok orang dewasa yang terlihat sedang mencari Luca. Namun hasilnya nihil. Luca benar-benar berjalan sendirian di sana karena tidak ada satu pun pengunjung di sana yang meninggalkan kursi mereka.


“Aku tidak sendirian. Aku bersama Daddy, tapi Daddy pergi bersama tamunya. Tadi aku lihat Paman masuk ke sini, jadi aku mengikuti Paman,” kata Luca dengan mudahnya menjelaskan kronologinya hingga sampai ke restoran.


Ucapan Luca terdengar benar namun tidak lengkap. Mungkin Edgar sibuk dengan rekan bisnisnya, tapi tidak mungkin pria itu akan membiarkan Luca sendirian. Pasti ada sesuatu di sini. Apalagi Luca terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Bocah itu selalu mengalihkan pandangannya saat tidak jujur pada Karan. Hal yang Karan sadari setelah tiga kali bertemu secara tidak sengaja dengannya.


“Jadi kau ke sini sendiri? Kau tidak bersama Nanny?”


“Aku pergi bersama Nanny, tapi ...” Luca mengalungkan kedua tangannya ke leher Karan, memeluk pria itu dengan erat. “ .... tapi aku tidak mau bersama Nanny. Aku mau bersama Paman saja di sini.”


Karan tidak bisa melepaskan tangan Luca dari tubuhnya karena bocah itu memeluknya dengan erat. Selain itu, Karan merasa tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Luca seolah-olah ia sudah terbiasa dengan keberadaan bocah itu. “Baiklah, tapi bisakah kau lepaskan tanganmu dari Paman? Kau harus duduk dengan benar agar bisa bersama Paman.”


“Kau mau ini ‘kan? Makanlah,” tukas Karan. Pria itu tersenyum saat melihat mata Luca yang berbinar-binar.


“Terima kasih Paman. Selamat makan,” timpan Luca. Kendati anak yang nakal dan sering menyulitkan orang tuanya karena sering berkeliaran tanpa pengawasan, Luca tetaplah anak yang sopan. Ia tidak lupa berterima kasih atas apa yang ia dapatkan. Sepertinya didikan kedua orang tuanya sangat baik meskipun pengawasan mereka terhadap Luca sangat buruk.


Melihat wajah Luca yang berantakan karena telah menghabiskan satu potong kue cokelat miliknya, Karan spontan mengambil tisu dan mengelap remahan kue di sekitar mulut Luca. “Bagaimana rasanya? Apa enak?”


Luca menganggukkan kepalanya. “Iya, aku sangat suka kue!”


Karan yang merasa gemas pun akhirnya mengacak-acak puncak kepala Luca. “Baguslah. Kapan-kapan kalau kita bertemu lagi, Paman akan membelikanmu kue dan es krim.”


Bocah itu terlihat antusias. Ia dengan cepat menyodorkan jari kelingking tangan kanannya ke hadapan Karan. “Paman janji?”


Karan tidak tahu kapan ia akan bertemu dengan Luca lagi, tapi ia benar-benar ingin membelikan anak itu lebih banyak makanan manis sehingga ia pun menyambut jari kelingking Luca dengan menautkannya dengan jari kelingking miliknya. “Ya, Paman janji,” ucap pria itu. “Tapi sekarang bisa kita pergi mencari Daddy? Paman yakin Daddy akan khawatir mencarimu.”


Luca mengangguk cepat. Usai mengeguk segelas air mineral, ia turun dari kursinya menuju kursi Karan. “Ayo Paman! Aku yakin Daddy sekarang ada di lobi hotel ini,” katanya sembari memegang tangan sang CEO.


“Oke, tapi sebentar, Paman tidak bisa membiarkanmu berkeliaran lagi,” ungkap Karan sembari menggendong Luca. Ia tidak bisa membiarkan Luca terlepas dari pandangannya karena akan sangat menyulitkan kalau ia kehilangan bocah tersebut.


Setelah membayar tagihan, Karan pun membawa Luca ke tempat yang diduga bocah itu sebagai tempat keberadaan ayahnya. Ketika di dalam lift, Karan bertanya lagi pada Luca. “Kenapa kau mengikuti Paman ke restoran?”


Tanpa ragu-ragu Luca menjawab, “Karena aku suka dengan Paman.”


Karan sudah sering mendapatkan pengakuan cinta dari banyak pihak sejak ia masih remaja. Di SMA saja ada banyak gadis yang menyukainya dan secara terang-terangan mengutarakan perasaannya pada Karan. Akan tetapi, selain mendengar perasaan Raya, hati Karan sama sekali tidak tergoyahkan. Ia sama sekali tidak tertarik pada mereka.


Akan tetapi hari ini, Karan merasa berbeda dengan hatinya. Ia mendadak merasa senang hanya mendengar sebuah pengakuan suka yang Luca sampaikan. Bukan seorang wanita, melainkan seorang bocah laki-laki berusia empat tahun yang mampu menggetarkan hati Karan lagi. Pria itu merasa senang dan terharu. Setelah banyaknya hal kejam yang ia lakukan pada Raya dan anak mereka yang telah meninggal, ia tidak menyangka akan ada orang yang menyukai dirinya. Tentu saja Karan tidak akan pernah melupakan momen berharga hari ini.


“Terima kasih Luca, Paman juga menyukaimu,” aku Karan.


Usai menyampaikan hal itu, pintu lift terbuka yang mengantarkan mereka ke lobi hotel. Baru saja Karan melangkahkan kakinya dari lift, matanya terbelalak melihat sesosok wanita cantik yang berjarak hanya beberapa belas meter dari tempatnya berdiri sekarang. Sosok yang begitu Karan rindukan selama lima tahun ini.


“Raya?” gumam Karan tanpa sadar.