
“Hm ...” Raya tidak bisa menjawabnya secara cepat. Wanita itu tampak berpikir sejenak sebelum mengutarakan isi pikirannya. “Karena aku pikir kau akan kesulitan jika tidak membawa kartu identitasmu. Mereka sudah mencoba menghubungi kantormu, tapi tidak ada yang mengangkatnya sehingga aku memberikannya. Maafkan aku sudah menyebarkan nomor pribadimu tanpa izin.”
Raya hanya mengkhawatirkannya. Karan tahu itu dengan pasti. Meski yang berikan Raya adalah nomor pribadinya, tapi untuk bertemu dengan berbincang santai dengan wanita itu, Karan tidak keberatan nomornya diberikan kepada orang lain. Terlebih yang memberikannya adalah sang mantan istri. Bagaimana mungkin Karan bisa marah?
“Tidak, jangan meminta maaf seperti itu. Tidak apa-apa,” ucap Karan berusaha menghentikan untuk meminta maaf padanya.
“Kau tenang saja, aku sudah meminta mereka untuk menghapus nomormu jadi aku pastikan mereka tidak akan mengganggu privasimu.”
Ada rasa nyeri saat Raya menyebut kata ‘privasi’, mengingatkan Karan pada perilakunya dulu yang sering melanggar privasi Raya padahal Raya begitu menghormatinya. “Terima kasih,” ungkap Karan lagi. Pria itu mengalihkan perasaan tertohok dalam hatinya dengan meneguk kopi dari gelasnya.
Ketika Karan mengangkat gelas kaca itu, terlihat jelas sebuah cincin melingkar di jari manis kanan pria itu. Raya tidak yakin, tapi cincin itu tampak seperti cincin pernikahan. Bentuknya familiar di kepala Raya. Sayangnya ia tidak ingat. Dulu Karan memang beberapa kali memakai cincin pernikahan mereka khususnya dalam acara-acara tertentu. Karena Karan jarang berada di rumah, Raya tidak mengenali cincin pernikahan milik Karan. Mungkin saja Raya hanya teringat masa lalu sehingga ia merasa pernah melihat cincin itu.
“Apa kau datang sendiri ke sini? Kau tidak membawa orang lain bersamamu?” tanya Raya usai meneguk cokelat panasnya untuk menghilangkan bayangannya tentang masa lalu.
“Memangnya siapa yang harus aku bawa?”
“Ya, siapa saja. Pacar, kekasih, atau mungkin istrimu?”
“Istriku?” Karan terperangah, lalu kemudian ia terkekeh pelan. “Ya kau benar, seharusnya aku membawa istriku ke sini.”
Suasana kembali sunyi. Raya terdiam meskipun ia yang pertama melontarkan pertanyaan seberani itu. Tidak ada kata-kata yang bisa Raya sampaikan pada Karan. Wanita itu hanya sibuk meneguk minumannya hingga tandas. Kemudian, ia memperhatikan sekelilingnya, menatap dedaunan yang berguguran dari pohon seolah-olah itu adalah pemandangan terindah yang pernah ia saksikan di dalam hidupnya. Raya bingung harus bagaimana menanggapinya. Karan berbicara begitu serius padahal ia hanya sedikit bercanda. Walaupun Karan mengawali ucapannya dengan sebuah kekehan ringan, namun pria itu jelas mengutarakan apa yang ada di hatinya dengan bersungguh-sungguh.
Sementara Karan berpikiran lain. Ia pikir Raya hanya bermaksud untuk menggodanya. Namun setelah melihat respons yang ditunjukkan wanita itu, Karan menjadi ragu. Sepertinya Raya benar-benar serius menanyakan hal tersebut. Wanita itu memang berpikiran bahwa ia sudah menikah. Karan tidak masalah jika pemikiran itu ada pada orang lain, tapi ia tidak mau Raya memikirkan hal yang sama. Karan tidak mau Raya sampai salah sangka padanya.
“Aku—”
“Kau—”
Kedua orang itu berbicara di waktu yang bersamaan, kemudian berhenti berbicara setelah mendengar suara satu dengan yang lain. Karan tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ia pun membiarkan Raya berbicara terlebih dulu. “Tidak apa-apa, katakan saja yang ingin kau katakan terlebih dulu,” serunya mengalah.
“Ah, tidak. Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Karena kau tidak mengundangku, jadi aku tidak bisa memberikan hadiah pernikahan padamu dan istrimu.”
Karan menatap Raya dalam kebingungan. Raya tampak begitu tenang ketika bibirnya mengutarakan ucapan selamatnya itu. Seolah-olah itu adalah ucapan paling tulus yang bisa wanita itu ucapkan. Entah mengapa Karan justru merasa sakit hati mengetahuinya. Ia tidak menginginkan hal ini, ia tidak mau Raya merasa tenang ketika ia mengatakan ada wanita lain yang berada di sisinya. Karan ingin Raya merasa cemburu. Ini memang keinginan egoisnya. Tapi memang seperti itulah Karan. Pria egois yang hanya mengutamakan keinginannya hingga ia kehilangan wanita di depannya itu.
“Raya, begini, sebenarnya aku—”
“Tunggu sebentar!” potong Raya. Ponsel wanita itu berbunyi hingga ia pun mau tidak mau memotong ucapan Karan. “Ada panggilan penting. Boleh aku mengangkatnya?” tanyanya pada Karan sebagai tanda sopan santun. Itu adalah etika yang biasa digunakan oleh orang-orang kelas atas saat ingin menginterupsi percakapan mereka dengan sesuatu mereka harus meminta izin dari lawan bicara mereka terlebih dahulu.
Karan menganggukkan kepalanya. “Ya silakan.” Ia memberikan izin kepada sang mantan istri.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Raya mengangkat panggilan itu. Semua terlihat normal pada awalnya. Raya menyapa orang yang berbicara dengannya melalui telepon itu dengan menggunakan bahasa Italia. Namun semuanya berubah ketika Raya menyebut orang itu dengan panggilan ‘Bee’, lalu ‘Honey’. Jika hanya kata-kata itu saja Karan tidak akan curiga. Sayangnya Raya menunjukkan gelagat aneh. Wanita itu tampak begitu bahagia ketika berbicara dengan orang itu. Bahkan, Raya juga sempat beberapa kali berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia untuk meminta maaf. Tentu dilengkapi dengan senyuman yang tidak pernah pudar sejak pertama kali Raya mengangkat panggilan teleponnya.
Ada sesuatu yang sepertinya baru saja meledak dari dalam diri Karan. Sesuatu yang membuat luka hatinya semakin sakit. Rasanya seperti menyiram cuka di atas sebuah luka yang belum kering. Perih yang membuat air matanya nyaris menetes. Sambil meremas tangannya satu sama lain, pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, persis seperti yang Raya lakukan beberapa saat lalu. Menatap daun-daun yang berjatuhan ke atas lantai untuk mengendalikan dirinya.
Karan lupa hal ini. Hal yang sangat penting. Raya dengan sejuta pesonanya pasti sudah memiliki seseorang yang akan melindunginya. Seseorang yang pastinya lebih baik dari seorang Karan Reviano. Padahal ia sempat menyangka Raya mungkin akan seperti dirinya, tetap sendirian. Namun, wanita itu rupanya memilih jalan yang lain. Di satu sisi Karan merasa bersyukur karena setidaknya Raya tidak mengalami apa yang ia alami selama ini. Penderitaan dalam kesendirian. Penderitaan karena rasa penyesalan yang begitu dalam. Raya bisa menemukan pria yang bisa ia andalkan sebagai tambatan hati dan penopang hidup. Itu adalah kabar yang baik untuk wanita itu. Setidaknya Karan tahu bahwa Raya akan baik-baik saja meskipun tidak ada dirinya.
Sementara di sisi lain, Karan merasa begitu menderita dan sakit hati. Ia tidak bisa menampik api cemburu yang membakar hatinya. Harapannya begitu tinggi saat bertemu Raya. Ia harap dengan pertemuannya kali ini maka semua kesalahpahaman mereka akan terselesaikan. Setelah selesai, mungkin ada kesempatan bagi mereka untuk berbaikan lagi. Sungguh, Karan benar-benar ingin kembali bersama Raya, dan memperbaiki kehidupan rumah tangga mereka yang sempat rusak. Sayangnya kesempatan itu sepertinya tidak akan pernah ada untuk Karan.
“Maafkan aku, panggilan ini benar-benar tidak bisa dibiarkan.” Raya membuka suaranya usai berbicara dengan si penelepon. Usai memasukkan ponselnya ke dalam tas, Raya menyambung kalimatnya. “Sampai mana kita tadi? Oh ya, istrimu. Aku yakin kau akan bahagia bersama dengan istri barumu. Sekali lagi, aku ucapkan selamat padamu.”
Karan mengalihkan pandangannya dari pohon ke arah Raya. Dengan mata nanar yang nyaris berair itu Karan berbicara kepada sang mantan istri, “Ya, aku yakin akan bahagia dengannya. Dia begitu cantik dan baik. Aku benar-benar bersyukur mendapatkannya.” Meskipun ia juga menyesal karena sudah melepaskannya. Karan ingin mengatakan hal itu, tetapi ia tidak bisa. Mulutnya tidak bisa lagi terbuka untuk menyampaikan perasaannya itu.
Raya sedikit terpaku melihat bola mata Karan yang menatapnya dengan intens. Ada sesuatu yang sulit Raya jelaskan dari kedua mata itu. Apakah itu sebuah kesedihan? Tidak mungkin. Karan sudah menikah dengan wanita lain. Tidak ada alasan bagi pria itu untuk bersedih lagi. “Ya, kau memang pria yang seperti itu.”
“Pria seperti apa maksudmu?”
“Pria yang mampu membuat wanita mudah jatuh cinta.”
Kalimat Raya memang sudah meluncur dari bibirnya, namun indra pendengaran Karan tersita oleh sesuatu yang ada di belakangnya. Suara keras seorang bocah yang begitu akrab di telinganya. Suara Luca.
Sontak Karan menoleh tepat saat anak berusia empat tahun itu berteriak sambil berlari ke arahnya. Salah. Bukan lari ke arahnya, melainkan ke arah Raya. Bocah itu tidak hanya berlari ke hadapan Raya, tapi juga memeluk wanita itu sambil bibir kecilnya mengucapkan sebuah panggilan yang menyentakkan Karan.
“Mommy!”