
Raya baru tahu kalau suaminya begitu populer di antara keluarga. Ya, Raya pernah tahu bahwa Karan cukup disukai oleh keluarganya, baik dari keluarga sang ayah ataupun sang ibu. Juga para sepupunya yang suka menempel padanya. Tapi Raya tidak mengira Karan benar-benar populer. Bahkan, lebih populer dari Raya sendiri. Ketika Raya masuk, ia memang disambut oleh orang-orang di sana. Namun tidak seheboh sambutan yang Karan terima. Alih-alih menyambut kedatangan seorang kerabat, mereka malah seperti menyambut seorang artis.
Ya, itu tidak masalah. Raya malah merasa sangat senang karena Karan tampak bisa dekat dengan keluarga besarnya. Hal itu berbanding terbalik dengan Raya. Selain bibinya yang sekarang menjadi ibunya di depan kamera, Raya tidak punya siapa-siapa lagi. Hidup Raya begitu kesepian. Hingar bingar dunia hiburan tidak sanggup menghibur dirinya sendiri. Raya begitu fokus mencari popularitas, meniti karier setinggi mungkin hingga ia lupa apa tujuan dari kariernya. Ia lupa dengan kebahagiaan dan lupa bagaimana menyenangkan dirinya sendiri.
Yang paling mengejutkan dari kedatangan Karan bukan hanya sambutan keluarga terhadap pria itu, tetapi orang yang berada di belakangnya. Sekar, sang aktris mendadak muncul di sana. Raya hampir saja menyemburkan teh yang ada di mulutnya saat melihatt sosok wanita itu ada di sana. Paling parahnya lagi Karan membawa Sekar menemui ayah dan ibunya. Pria itu dengan ramah memperkenalkan sang aktris kepada kedua orang itu.
“Itu siapa?” ujar bibi Karan bertanya-tanya. Ia mengalihkan pandangannya ke Raya dan melontarkan pertanyaan yang hampir sama. “Siapa wanita itu, Raya? Apa kau mengenalnya?”
Disebut mengenal, tentu saja tidak. Raya tidak pernah melakukan komunikasi secara pribadi dengan Sekar. Masalahnya, mereka memang pernah bertemu dalam posisi yang berbeda. Sekar sebagai tunangan Karan, sedangkan Raya sebagai tunangan Varen. Mereka pernah melakukan kencan ganda dan makan malam bersama. Jika pertemuan sekali itu disebut mengenal, haruskah Raya menganggukkan kepalanya?
“Aku pernah bertemu dengannya, Tante,” aku Raya. Ia harusnya belajar agar pandai berbohong kepada orang lain seperti yang saat ini ditunjukkan sang suami. Karan tampak alami menunjukkan wajah ramah dan baik hatinya kepada setiap orang yang ada di sana. Bahkan, Karan tampak seperti orang yang paling peduli dengan keadaan sekitar. Pria itu tidak segan-segan menggendong seorang anak yang mengajaknya bermain. Benar-benar pria dengan sejuta wajah yang sulit ditebak.
“Siapa? Sepertinya aku pernah melihat wajahnya.”
“Pasti Tante pernah melihatnya. Namanya Sekar, seorang aktris papan atas yang sangat terkenal belakangan ini.” Setiap orang yang mempunyai televisi atau setidaknya aktif di media sosial pasti pernah melihat wajah Sekar. Setidaknya sekali, karena wajah itu berkali-kali muncul di permukaan. Baik sebagai bintang film dan sinetron maupun bintang iklan. Meskipun Raya pernah sangat populer dan tetap populer sampai sekarang, namun Raya tidak pernah mendapatkan sorotan media semasif Sekar.
“Kenapa dia di sini?” tambah sang bibi, tidak mengerti arti dari kedatang Sekar atau apalah nama wanita itu.
Itu juga yang menjadi pertanyaan Raya. Mengapa Sekar ada di sini? Apalagi Karanlah yang mengajaknya. Apakah ini murni hanya sebatas pembicaraan bisnis? Mungkinkah pembicaraan bisnis dilakukan di tengah-tengah acara keluarga. Argh! Raya merasa begitu pusing memikirkannya. Saking pusingnya tanpa sadar Raya menumpahkan tehnya ke atas dresnya sendiri.
Melihat istri keponakannya itu bertingkah gugup, cepat-cepat sang bibi mengambil tisu dan membantu Raya membersihkan sisa-sisa teh yang menempel di sana. “Kau tenang saja, Raya. Pasti mereka sedang membicarakan tentang pekerjaan. Jadi jangan terlalu dipikirkan.”
Apakah terlihat sekali bahwa Raya sedang memikirkannya? Sial! Raya mengembuskan napasnya dengan kasar. “Sepertinya aku harus berganti baju.”
“Apa kau bawa baju ganti?” tanya sang bibi lagi.
Raya mengangguk. Sebenarnya itu bukan baju ganti yang layak dipakai untuk acara seperti ini. Baju itu adalah baju hadiah yang diberikan sponsor kepadanya beberapa saat lalu, ketika Raya selesai melakukan syuting. Rencananya Raya harus berpose dengan baju itu dan mengunggahnya ke akun media sosial pribadinya. Semacam bentuk iklan di media sosial, tapi bayarannya bukan uang, melainkan pakaian.
“Kalau begitu ayo, aku akan mengantarkanmu ke atas,” sambung sang bibi lagi. Wanita paruh baya itu membimbing Raya ke arah kamar yang ada di lantai atas. Masalahnya untuk mencapai ke sana, mereka harus menaiki tangga yang kebetulan ada di belakang Karan dan orang tua Karan. Jadi, mau tidak mau Raya harus melewati mereka.
Begitu melihat sang istri berada di dekatnya, Karan langsung bereaksi. Ia menghampiri Raya dan bertanya mengapa istrinya itu terlihat kesal. “Kenapa? Apa ada yang salah.”
Raya menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku hanya tidak sengaja menumpahkan teh ke dresku. Sekarang, aku mau ganti baju.”
“Kau bawa baju ganti?” Karan bertanya pertanyaan yang persis ditanyakan oleh bibinya tadi.
“Iya, ada,” jawabnya singkat.
“Oke, aku akan menemanimu.” Karan menoleh ke arah bibinya yang berada tepat di samping Raya. Pria itu pun berbicara, “Tante, biar Karan saja yang mengantar Raya ganti baju.”
Sebenarnya sang bibi dengan mudah menyetujuinya. Tapi Raya justru mengatakan hal yang sebaliknya. Ia menolak tawaran Karan. “Tidak perlu. Aku hanya berganti baju sebentar. Kau baru saja datang. Ada banyak keluarga yang mau mengajakmu mengobrol. Aku ditemani Tante saja.”
Kening Karan mengernyit. “Kau yakin?”
Sebenarnya Raya tidak benar-benar tidak ingin ditemani Karan. Namun ia merasa kesal. Atau mungkin cemburu. Karan membawa wanita lain ke pesta keluarga. Terlebih wanita itu adalah mantan tunangan pria itu. Setidaknya begitulah Karan sempat memperkenalkan Sekar kepadanya dan Varen dulu. Awalnya Karan menolak untuk datang. Pria itu juga terlihat gelisah saat diwajibkan oleh sang ibu hadir dalam acara ini. Sekarang dengan mudahnya Karan membawa wanita lain. Wanita yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan acara keluarga mereka. Sepenting apakah pembicaraan bisnis itu sampai Sekar harus benar-benar ikut Karan hari ini?
Jadi, untuk menyembunyikan kemarahan dan rasa cemburunya, Raya memilih untuk menghindari Karan. Semakin jauh maka semakin baik. Raya tidak mau bersikap kekanakan dengan menunjukkan rasa cemburunya yang besar terhadap Karan. Raya harus bersikap dewasa. Setidaknya saat ini.
“Sudah Tante, aku ganti baju sendiri saja. Tante bisa bergabung lagi ke pesta,” seru Raya ketika sang bibi sudah mengantarkannya ke dalam kamar. Ia benar-benar merasa tidak enak karena sudah menyusahkan wanita itu. Lebih baik sang bibi kembali saja bersama keluarga. Karena Raya juga sepertinya membutuhkan waktu lebih lama untuk bersiap kembali ke sana.
“Benar kau tidak mau aku temani?” tukas sang bibi memastikan.
“Iya, Tante. Aku bisa sendiri.”
“Baiklah. Cepat bergabung kalau kau sudah selesai berganti pakaian. Dan ingat Raya, kita boleh cemburu. Cemburu itu hal yang wajar. Tapi, kita tidak boleh menunjukkan kelemahan kita. Terutama di depan laki-laki. Kau mengerti?”
Raya mengangguk. “Aku mengerti, Tante. Terima kasih.”
Bibi bungsu Karan keluar dari kamar dan kembali bergabung dengan keluarganya. Di saat itulah Karan melihat sang bibi yang sudah kembali. Matanya mengedar, tapi ia tidak kunjung melihat keberadaan istrinya. Karan pun bertanya pada bibinya. “Tante, Raya di mana?”
“Di kamar. Masih mengganti baju. Sebaiknya kau tidak menyusul Raya ke sana. Wanita akan kesal jika diganggu waktunya kalau sedang berdandan.”
Ucapan sang bibi itu benar. Raya memang kesal setiap kegiatan merias wajahnya terganggu. Raya pernah mengomel seharian karena Karan tidak sengaja menyenggol tangannya yang sedang mengoleskan pelembab bibir. Akibatnya Karan harus meminta maaf sambil berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Jadi, Karan putuskan tidak menyusul Raya ke kamar kendati ia merasa cemas terhadap wanita itu.
Tepat setengah jam kemudian Raya kembali ke ruang utama. Dresnya yang awalnya berwarna biru, kini berubah menjadi merah menyala yang sontak saja mencuri perhatian semua orang. Memang tidak terlalu seksi untuk ukuran seorang super model seperti Raya. Dan cukup sopan untuk menghadiri acara keluarga. Namun di mata Karan, pakaian Raya terlihat sangat seksi, terlebih di bagian atasnya yang menampilkan pundak yang terbuka. Dres merah itu tidak memiliki lengan hingga leher Raya yang indah terekspos dengan begitu baik.
Karan menggeram. Ia tidak suka melihat istrinya memamerkan tubuh seperti itu. Pandangan yang aneh darinya mengingat Raya adalah seorang super model. Pakaian itu hanyalah segelintir dari pakaian yang pernah Raya gunakan sebelumnya, yang pastinya jauh lebih terbuka, seksi dan juga berani. Pernah Raya menggunakan dres yang sangat minim dalam melakukan pemotretan produk parfum. Parahnya lagi foto itu muncul di beberapa majalah di mana parfum itu sedang diiklankan.
“Mama bicara dulu dengan Sekar. Aku ingin menemui istriku dulu,” kata Karan kepada ibunya. Karena sang ibu bisa melihat kemarahan dalam netra anaknya, ia pun hanya bisa mengangguk sebagai tanda ia telah memberikan izin kepada Karan untuk pergi.
Sambil membuka jasnya, Karan mendekati Raya. Begitu ia berada di depan sang istri, ia menaruh jasnya di pundak wanita itu. “Kenapa kau berpakaian seperti ini?”
Raya cukup kaget mendengar pertanyaan Karan. “Memangnya kenapa? Apakah terlihat buruk?”
“Ya, sangat buruk,” sahut Karan berbohong. Istrinya itu terlihat begitu cantik dan memesona. Dengan gaun merah itu Raya tampak begitu anggun dan seksi. Aura yang memang seharusnya melekat pada seorang bintang terkenal. Masalahnya Karan tidak menyukainya. Ia keberatan jika mata para lelaki di sana tertuju pada Raya dengan tatapan lapar seolah ingin merobek dres itu dengan tangan mereka sendiri. Sama seperti yang Karan pikirkan sekarang. Karan merasakan tubuhnya yang langsung bereaksi saat melihat pundak Raya yang terbuka. Ingin rasanya Karan mendekap Raya dan menggigit pundak itu dengan penuh gairah.
Raya begitu kesal dengan apa yang Karan katakan. Padahal bagi Raya pakaian itu begitu cantik dan anggun. Tidak ada yang salah sama sekali. Alih-alih buruk, Raya yakin bajunya terlihat pas dan indah di tubuhnya. Hal itu tampak dari banyaknya mata yang memandang ke arahnya dengan takjub. Jadi, ada apa dengan pria itu? Mengapa Karan terlihat begitu benci dengan pakaian ini?
Lagi pula, dibandingkan pakaiannya, ada pakaian yang jauh lebih terbuka dan seksi, yaitu pakaian Sekar, wanita yang dibawa Karan. Namun Karan tampak tidak keberatan sama sekali dengan tampilan Sekar. Pria itu malah dengan mudahnya berkomunikasi dengan wanita itu tanpa rasa canggung seolah-olah itu adalah hal biasa yang sering ia saksikan setiap hari. Lantas, mengapa Karan malah memarahinya?
Raya tidak terima begitu saja pakaiannya dikritik. Ia menabuhkan gendering perlawanan dengan berbisik kepada sang suami. “Tapi menurutku pakaian ini sangat cantik. Sepertinya kau harus mulai membiasakan diri melihatku memakai pakaian seperti ini, Karan. Seperti kau yang terbiasa melihat pakaian seksi dari wanita lain,” lontarnya.
Kedua mata Karan terbelalak. “Apa? Apa yang kau bicarakan ini, Raya?”
Raya tidak menjawab. Ia hanya melenggang pergi meninggalkan Karan dengan seulas seringai menghias bibirnya. Ya, beginilah seharusnya yang terjadi. Ketimbang merasa marah dan kecewa, Raya sebaiknya melakukan perlawanan. Tentu dengan cara anggun dan berkelas yang membuat Karan tidak bisa berkutik. Pria itu mungkin saja marah dan kesal, tapi ia tidak mungkin menyeret Raya dari sana dan mengajaknya pulang secara tiba-tiba. Karan tidak akan mungkin menghancurkan acara yang dibuat oleh ibunya sendiri. Dengan begitu hari ini, Raya merasa menang atas diri Karan. Ia berhasil membuat sang suami tidak berkutik sama sekali.