
Pagi itu, setelah melakukan hubungan suami-istri, Raya berangkat ke lokasi syuting video musik. Tentu diantar oleh Karan. Laki-laki itu tidak pernah sekali pun menyia-nyiakan kesempatan untuk mengantar istrinya. Ia selalu mencari celah dan seribu alasan agar Raya ikut dengannya. Agar ia bisa menunjukkan kepada semua orang, kepada Reagan khususnya bahwa Raya Drisana bukanlah wanita sembarangan. Wanita itu adalah istri dari Karan Reviano, pengusaha kaya yang bisa melakukan segala hal untuk istrinya. Karan yang begitu cinta mati pada Raya.
Selama di perjalanan, tidak banyak percakapan yang tercipta. Karan sibuk pada pekerjaannya yang tertunda akibat menyusul Raya ke pantai. Ian memang sudah menyusun ulang semua agendanya, tapi pekerjaan yang ia tinggal kemarin menghantuinya. Maklum demi Raya, Karan harus keluar dari kantor jam tiga sore, saat jam pulang kantor masih tersisa tiga jam lagi. Karena ia juga butuh mengganti pakaiannya dan membelikan baju sang istri. Itulah sebabnya Karan masih sempat pergi ke butik terkenal untuk membeli pakaian. Yang sudah pasti harganya bernilai sangat tinggi karena Karan ingin yang terbaik untuk sang istri.
Jangan tanya bagaimana Karan bisa tahu ukuran tubuh Raya. Bahkan jika istrinya itu mengalami kenaikan berat badan, Karan akan langsung mengetahuinya. Pertama, tentu dari Anna. Wanita paruh baya itu menginformasikan padanya berapa berat badan Raya setiap kali sang istri menimbang beratnya. Raya punya kebiasaan itu, ketakutan terhadap berat badannya. Sebab selama ini bibinya mengatur Raya dengan ketat dan memberikan aturan berapa berat badan ideal Raya yang diinginkannya.
Berbeda dengan Karan yang sedang mengurusi bisnis layaknya seorang CEO, Raya justru fokus memikirkan apa yang terjadi beberapa saat lalu. Bukan pada hubungan badan yang tentu saja ... eum, membuatnya panas, tapi lebih kepada apa yang mereka bicarakan di atas ranjang. Tentang anak. Karan menginginkan bayi hadir dan tumbuh di rahim Raya. Pernahkan Raya memikirkan itu sebelumnya? Sama sekali tidak.
Ia bukan wanita yang terlalu mengejar karier hingga tidak ingin memiliki anak sampai batas waktu tertentu. Atau wanita konservatif yang mengikuti segala keinginan suami. Jika suami menginginkan anak, ia harus rela melakukan hubungan suami-istri sampai mereka mendapatkannya. Atau jika sang suami mengharamkan kehadiran buah hati di antara mereka, ia akan mati-matian mengonsumsi suplemen pencegah kehamilan.
Raya hanya ingin berdiskusi dengan Karan. Kehamilan tidaklah mudah. Butuh kesepakatan antar kedua belah pihak. Itulah sebabnya Raya bertanya pada Karan agar mereka bisa menentukannya. Memang orang yang mengandung selama 9 bulan adalah Raya, tapi tetap saja Karan juga merupakan orang tua bayi tersebut. Karan adalah ayahnya, dan anak itu tanggung jawab sang suami.
“Raya ...” Sayup-sayup terdengar suara yang mengisi kepala Raya, seperti ada seseorang yang tengah memanggilnya. “Raya, kita sudah sampai. Kau tidak bangun? Atau kau tidak mau syuting hari ini? Aku akan menyuruh Ian membatalkan syuting untukmu.”
Mendengar kata membatalkan membuat Raya tersentak. Apa yang mau dibatalkan? Begitulah benaknya berpikir. Setelah kedua netranya sudah terbuka dengan sempurna, barulah Raya sadar di mana ia berada sekarang. Di sebuah gedung apartemen. Kening Raya seketika mengernyit. Untuk apa mereka ke gedung apartemen sekarang? Bukankah syuting di sini akan dilakukan besok?
“Kenapa kita ke sini? Apa kau ada keperluan di sini?” tanya Raya yang kebingungan.
Karan menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan aku, tapi kau, Sayang. Syuting video musik itu dilakukan di sini.”
“Tidak, kami akan syuting di taman bunga hari ini. Besok baru di sini.”
Karan menyentuh kepala Raya. “Percayalah padaku. Coba lihat ke sana, bukankah itu sutradara video musik hari ini?”
Raya menoleh dan mendapati apa yang dikatakan Karan. Sutradara video musiknya kebetulan sedang ada di depan gedung sambil membawa beberapa perlengkapan syuting, membantu para pekerja lainnya agar lebih cepat. Tapi pertanyaannya, bagaimana mungkin Karan tahu tentang perubahan tempat ini sementara Raya sendiri tidak tahu?
“Bagaimana kau tahu tempat syutingnya berganti?”
Karan sedikit terbelalak, namun ia segera menanggapi. “Ya, karena aku selalu mengikuti kegiatanmu, Sayang. Sudah cepat turun. Nanti kau jadi orang terakhir yang bergabung di sana. Kau tidak ingin terlambat, kan?”
Meskipun masih penasaran dari mana Karan mengetahui tentang jadwalnya, namun Raya tetap menuruti Karan. Ia mengangguk untuk mengiyakan sang suami. “Ya sudah, aku turun. Hati-hati di jalan,” ucapnya berpamitan sambil mengambil barang-barangnya.
Tepat sebelum Raya turun, Karan menarik tangan istrinya ke arahnya, lalu mencium bibir wanita itu dengan singkat. “Aku akan menjemputmu nanti,” ungkapnya. Saat dilihat Raya ingin memprotesnya, Karan menyambung ucapannya. “Jangan membantahku, Sayang. Aku hanya ingin menjemput istriku. Aku janji tidak akan mengganggu syutingmu sama sekali. Bagaimana?”
Ya, begitulah Karan. Sangat punya kekuatan dan pemaksa. Sikap posesif pria itu terkadang berlebihan terhadap Raya. Bahkan, rasa cemburunya sempat membuat Raya ketakutan. “Baiklah, aku pergi dulu,” sahut Raya tidak membantah.
Setelah mobil Karan pergi dari depan gedung, Raya bergerak masuk. Ia disambut oleh Reagan yang terlihat menunggunya. Kemudian, pria itu menyerahkan selembar kertas pada Raya. “Ini jadwal syuting hari ini,” katanya. Kening Raya mengerut yang membuat Reagan menambah ucapannya. “Aku tahu kau sudah membacanya, tapi aku hanya ingin memastikan lagi apa kau sudah membacanya dengan teliti. Lagi pula, semua orang juga sudah dibagikan lembar itu.”
“Tunggu dulu!” cegat Raya. “Membaca apa?” tanyanya bingung.
“Semalam aku mengirimkan pesan ke ponselmu tentang perubahan jadwal hari ini. Kau sudah membacanya ‘kan? Itulah kenapa kau ada di sini, bukan di kebun bunga.”
“Benar, suamimu yang membalas pesanku semalam. Aku pikir dia sudah memberi tahumu.”
Raya yang awalnya merasa bingung, pelan-pelan mengerti. Ah, begitu rupanya. Pantas saja Karan tahu perubahan jadwal dan lokasi syuting yang Raya saja tidak tahu. Rupanya laki-laki itu memeriksa ponselnya. Tapi, benarkah Karan melakukan itu? Untuk memastikannya, Raya merogoh tasnya dan mengambil sebuah ponsel mewah dari dalam sana. Ia membuka aplikasi pesan singkat dan memeriksa pesan yang dikirimkan Reagan. Ternyata benar. Karanlah yang membalas pesan itu. Tetapi, mengapa Karan tidak memberi tahunya?
“Hey!” celetuk Reagan yang menyadarkan Raya. “Apa ada yang salah? Apa suamimu tidak memberi tahu jadwal itu padamu?”
Cepat-cepat Raya menggeleng. Tidak mungkin ia menceritakan permasalahan rumah tangganya kepada orang lain yang tidak ada kaitannya sama sekali. Raya akan memilih tutup mulut, dan itu juga ia lakukan sebagai usaha menjaga citra Karan, citra rumah tangganya dan tentu saja yang berimbas pada citranya sendiri. Pasti ada kesalahpahaman yang terjadi antara ia dan Karan. Mungkin sang suami tidak sempat untuk menjelaskannya.
“Ah, iya, Karan sempat mengatakannya sewaktu aku mandi. Tapi aku tidak dengar. Rupanya dia berbicara tentang pesan yang kau kirimkan,” kata Raya berbohong.
Orang lain mungkin tertipu oleh ucapan Raya atau menganggapnya mengatakan kebenaran. Tapi tidak untuk Reagan. Sudah bertahun-tahun Reagan mengenal Raya. Ia tahu kapan wanita itu berbohong dan kapan ia mengatakan kebenarannya. Semua tampak jelas di wajah Raya. Namun, Reagan tidak mau memperkeruh suasana. Ia tidak mau menyudutkan Raya lagi tentang Karan. Wanita itu tidak salah, jadi tidak ada alasan baginya untuk merasa tertekan selama proses syuting hari ini. Sebagai seorang rekan kerja, Reagan akan memastikan lawan mainnya dalam keadaan baik.
“Oke kalau begitu. Ayo, kita harus latihan sekarang. Ada beberapa adegan yang berbeda dari naskah awalnya,” ujar Reagan mengalihkan pembicaraan.
Mereka pun berjalan ke arah lift sambil berlatih. Dalam adegan kali ini, ada banyak adegan mesra yang akan mereka lakukan. Karena adegan ini menceritakan di mana sang wanita belum tewas meninggalkan kekasihnya. Sehingga mereka masih sering berinteraksi di dalam apartemen. Pelukan santai, obrolan riang di meja makan dan menghabiskan waktu di depan televisi. Itulah sederet adegan yang harus mereka perankan hari ini.
Raya sudah lama mengenal Reagan, begitu pun sebaliknya. Kedekatan itulah yang membuat ikatan mereka begitu kuat di depan kamera. Mereka hanya dua kali latihan dan langsung melakukan perekaman gambar. Malah ada beberapa adegan yang langsung mereka perankan tanpa latihan sama sekali, terutama adegan yang menunjukkan pasangan yang sedang mengobrol asyik atau menonton tv bersama. Dulu, sewaktu Raya tinggal di apartemen perusahaan selama beberapa bulan, Reagan sempat beberapa kali berkunjung. Pria itu membawa banyak hal untuk Raya, mulai dari makanan hingga permainan. Alhasil, adegan dalam video musik itu dapat terlihat sangat alami.
Sutradara dan penulis pun sangat puas dengan kemampuan akting Reagan dan Raya. Reagan memang tidak perlu dibantah lagi kemampuannya karena pria itu sudah terjun ke dunia akting sejak masih sangat kecil. Yang membuat sutradara takjub adalah kemampuan akting Raya. Meskipun Raya adalah seorang super model, tidak mudah untuk berakting di depan kamera dan mengikuti naskah yang telah ditetapkan.
“Bagus sekali Raya! Kemampuan aktingmu sangat luar biasa!” puji sang sutradara begitu syuting hari ini berjalan dengan sangat lancar. “Apa kau mau bekerja sama dengan saya lagi di kemudian hari?”
Raya tersenyum senang. “Saya benar-benar merasa tersanjung, Pak. Terima kasih. Saya harap kita punya kesempatan lagi untuk bekerja sama. Tentu kalau Bapak benar-benar menyukai akting saya.”
“Tentu saja suka. Bagaimana mungkin saya tidak suka tapi terus membiarkan kamera menyala? Kalau saya tidak suka, saya pasti sudah menyuruhmu mengulang banyak adegan.”
Senyuman kembali merekah di bibir Raya. “Terima kasih Pak. Saya tidak bisa seperti ini tanpa bantuan Reagan. Dia banyak memberikan saya pengarahan,” ungkap Raya jujur karena pada dasarnya Reagan memang membantunya. Malah bisa dibilang, hampir semua yang Raya lakukan adalah berkat bantuan Reagan. Jika tidak ada arahan darinya bagaimana caranya berakting natural, sudah pasti wajah yang terlihat di layar monitor selama dua hari ini adalah wajah kaku yang begitu amatir.
“Ya, Reagan memang aktor yang hebat.” Sang sutradara juga memuji Reagan. “Kalian sangat cocok. Saya malah menyangka kalian adalah pasangan dulu.”
DEG!
Jantung Raya berdebar. Ini tidak baik. Memuji Reagan memang baik, tapi ia hanya ingin itu hanya sebatas pujian. Raya tidak mau merembet sampai hal-hal pribadi terutama masalah asmara. Ia sudah punya suami dan ia tidak mau membuat suaminya yang super posesif itu mengamuk lagi karena merasa cemburu.
“Bapak terlalu berlebihan. Kami hanya sebatas teman dan rekan kerja, Pak. Suami saya juga sempat berkomunikasi dengan Reagan beberapa kali.” Raya mengalihkan pembicaraan dengan menyebutkan kata ‘suami’ dengan jelas. Ia juga sampai berbohong bahwa Reagan dan Karan mempunyai hubungan yang baik. Padahal pada kenyataannya, Karanlah yang menghancurkan karier Reagan.
Merasa tidak enak, sang sutradara itu pun tersenyum kikuk. “Ah, begitu. Syukurlah kalau kalian akrab,” katanya sekenannya karena ia bingung harus bagaimana menanggapi ucapan yang terdengar seperti sindiran yang Raya lontarkan.