
Alasan itu tidak pernah diketahui Karan sampai waktu yang sangat lama. Hingga pada suatu saat, ia akhirnya tahu apa alasan Raya memutuskan hubungan mereka. Berawal dari cerita yang disampaikan oleh teman Karan yang kebetulan pada saat itu bertugas piket untuk mengantarkan soal ulangan para siswa. Kebetulan pula tempatnya mengumpulkan tugas itu adalah meja yang dekat dengan ruangan kepala sekolah sehingga ia bisa mendengar dengan jelas perbincangan yang terjadi antar kepala sekolah mereka dengan Raya. Karena Karan sering membantunya mengerjakan tugas, ia berinisiatif menceritakan hal itu kepada Karan meskipun terbilang sudah sangat terlambat.
Karan sama sekali tidak masalah dengan pilihan Raya. Gadis itu berhak menentukan pilihannya sekalipun itu menyakitkan bagi Karan. Terlebih tawaran yang disebutkan oleh kepala sekolah itu sangat menggiurkan. Jaminan uang sekolah dan pemberian uang saku. Dengan kedua hal itu membuat Raya tidak perlu lagi banting tulang bekerja di restoran di desa sebelah. Gadis itu bisa fokus belajar dan mengejar ketertinggalan mata pelajarannya selama ini. Karan pun tidak akan khawatir dengan keselamatan Raya karena ia tahu gadis itu akan berada di rumah setiap akhir pekan. Dengan begitu Karan juga bisa fokus mengikuti latihan olimpiade yang diselenggarakan oleh sekolah.
Masalah pupusnya hubungan tidak membuat Karan cemas. Sebab Karan tahu betapa besar perasaan Raya padanya meskipun gadis itu tidak menunjukkannya sesering apa yang Karan lakukan selama ini. Namun, Karan bisa merasakannya. Itulah sebabnya ia yakin Raya akan kembali padanya. Mungkin tidak dalam waktu dekat. Mungkin butuh waktu yang cukup lama. Karan harus menyelesaikan olimpiadenya terlebih dahulu dan memastikan ia bisa meraih posisi pertama. Setelah mendapatkan hadiahnya, ia akan kembali menemui Raya dan merajut lagi hubungan mereka. Pada saat itu tidak ada lagi alasan yang akan memisahkan mereka berdua. Karan sudah menuntaskan tugasnya sebagai perwakilan sekolah dan sudah saatnya pihak sekolah yang mengikuti keinginannya.
Karena kalau tidak, Karan bisa mengancam untuk tidak akan mengikuti perlombaan apa pun baik secara akademik maupun non akademik. Ia tidak mau mewakili sekolah mereka dalam ajang apa pun dan menyatakan mogok. Dengan begitu pihak sekolah akan luluh padanya. Sebab sampai saat ini, tidak ada satu siswa pun yang bisa mengalahkan perolehan medali yang Karan dapatkan. Selama ini, dari awal masuk sekolah, Karan sudah memberikan tiga medali dalam dunia olahraga dan sepuluh medali dalam dunia akademik. Nama SMA Negeri Asoka pun menjadi tersohor karenanya. Yang tentu saja membuat dinas pendidikan mengucurkan banyak dana ke sekolah mereka. Dana yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan pembenahan fasilitas sekolah, tetapi ujung-ujungnya dana itu menghilang entah ke mana dan sekolah mereka pun tidak mengalami perubahan apa pun.
Itu pemikiran dan keinginan sedeharna Karan meskipun realisasinya sangat berat. Hanya tidak melihat Raya sehari saja sudah membuat Karan merasa gundah. Terlebih saat ia tidak bisa menemukan Raya saat jam sekolah karena gadis itu melarikan diri darinya. Emosi Karan pun meningkat. Ia sudah menerima alasan Raya dan mencoba memahami kesulitan gadis itu. Tapi setidaknya Raya harus menampilkan diri di depannya. Mungkin tidak sebagai pasangan. Tapi Karan hanya ingin melihat wajah Raya meskipun hanya sekilas saja.
Sudah berbohong dengan menyembunyikan alasan perpisahan mereka, sekarang Raya malah melarikan diri. Karan dibuat jengah oleh tindakan gadis itu. Ia pun mencari cara agar bisa menemui Raya. Tentu tidak di jam sekolah atau di sekitar gedung sekolah. Karan tidak mau kepala sekolah melihat interaksi mereka dan menyulitkan gadis itu lagi. Karan akhirnya memutuskan untuk mengikuti Raya. Ia sengaja meminta bantuan dari temannya untuk memantau aktivitas Raya sehari-hari. Akhirnya Karan tahu apa yang dilakukan gadis itu selama mereka tidak bersama.
Karan pun tercengang mendapati laporan dari temannya itu. Ia pikir setelah putus darinya dan mendapatkan beberapa kemudahan dari sekolah akan membuat Raya berada di rumahnya. Setidaknya untuk belajar dan bermain. Memang Raya sudah mengundurkan diri dari restoran di desa sebelah, tetapi itu bukan berarti Raya sama sekali berhenti mencari uang. Gadis itu melakukan pekerjaan lain. Bukan sebagai pelayan restoran atau kasir minimarket yang jelas akan ketahuan oleh pihak sekolah, Raya bekerja dengan membantu tetangganya berjualan kue keliling.
Karena ditemani oleh orang dewasa, kendati pihak sekolah tahu pekerjaan Raya, mereka tidak bisa menghukum gadis itu. Karena tidak ada kontrak yang terikat antara Raya dan tetangganya itu. Dan Raya pun tidak bekerja dalam jangka waktu yang rutin. Istilah kasarnya Raya hanya dibayar sesuai dengan hasil dagangan mereka hari itu. Seandainya kue-kue itu habis terjual, Raya akan mendapatkan uang yang lumayan banyak. Tetapi jika tidak terjual banyak, maka Raya hanya akan dibayar pas-pasan. Mungkin hanya cukup untuk membeli satu porsi makan siang.
Ini sama sekali di luar dugaan Karan. Mengapa Raya masih tetap bekerja? Apa yang salah dengan gadis itu? Seingatnya, Raya bukanlah perempuan mata duitan yang begitu hobi mengumpulkan uang. Ia cukup sederhana dan hanya bekerja demi sekolahnya saja. Raya bahkan tidak pernah jajan di sekolah. Uang yang ia dapatkan dari hasil bekerjanya dulu lebih suka ia belikan bahan makanan dan ia olah sendiri di rumah. Memang tidak selengkap dan seenak apa yang dijual di kantin sekolah, tetapi dengan membawa bekal makan siang setiap hari, Raya bisa menghemat banyak sekali pengeluaran.
Karan tetap tidak bisa menerima hal ini. Dipikirkan dari segi apa pun rasanya tidak masuk akal. Padahal mereka sampai harus mengakhiri hubungan mereka karena ini. Karan juga sudah mengorbankan hatinya demi Raya, agar gadis itu bisa melanjutkan pendidikan tanpa meresahkan biaya apa pun. Tetapi kalau yang terjadi masih seperti ini, di mana Raya malah masih bekerja dan tidak fokus pada pendidikannya, Karan pun menjadi marah. Ia akan menemui Raya apa pun yang terjadi. Laki-laki itu harus mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Karan mendapatkan kesempatan untuk mendekati Raya. Kebetulan gadis itu hanya berjalan sendirian dengan membawa sebuah toples yang sudah kosong. Mau tahu bagaimana Raya bisa membuat kue-kue itu laris manis? Gadis itu menggunakan otak dan koneksinya. Alih-alih membawa toples itu berkeliling satu-satu menemui penduduk kampung, Raya memilih untuk membagi kue-kue itu ke dalam beberapa bungkusan lalu menitipkannya ke warung-warung sekitar. Hasilnya menakjubkan. Raya bisa menghemat tenaga tiga kali lipat. Yang gadis itu lakukan hanyalah menunggu sampai sore hari, lalu mengambil uang dari dagangan yang ia titipkan.
Raya tidak menunggu di rumahnya. Gadis itu memilih menunggu di sebuah taman kecil yang ada di samping sebuah panti asuhan. Karan tidak menyangka tujuan Raya adalah tempat itu, tempat yang menjadi rumah Karan selama ini. Mengapa gadis itu berada di sana?
“Aku ...” Raya terlihat ragu. Kening gadis itu mengernyit, seolah-olah sedang mencari alasan terbaik yang bisa hinggap di kepalanya. “Memangnya aku tidak boleh ada di sini?” ujarnya tidak kalah ketus.
Karan sedikit terkejut mendapatkan perlawanan dari Raya. Ia tidak menduga mendapatkan respons seperti ini dari gadis itu. “Tidak, kau boleh ada di sini.” Karan melangkah mendekati Raya dan duduk di samping gadis itu.
“Hey, kenapa kau duduk di sini?” protes Raya karena melihat Karan mendadak duduk di sebelahnya.
Karan pun membalikkan ucapan mantan kekasihnya itu. “Kenapa? Memangnya aku tidak boleh ada di sini?” katanya sambil menyeringai.
“Kau!” Raya menggeram kesal. Kemudian ia pun menggerutu saat mengalihkan pandangannya dari tatapan Karan. “Kenapa dia sudah pulang sih? Bukannya hari ini dia harusnya masih ada di kelas?”
Gumaman Raya meskipun diucapkan begitu kecil, tapi tetap bisa didengar Karan dengan baik. Sebagai seorang anak yang sering ikut lomba, ketajaman indra pendengarannya begitu dibutuhkan. Bahaya jika Karan mendapatkan gangguan pendengaran hingga ia salah mendengarkan soal yang diberikan panitia. Bukannya mengharumkan nama sekolah, bisa-bisa Karan malah mempermalukan sekolahnya.
Raya menggurutu, dan itu justru membuat Karan senang. Ah, rasanya menyegarkan sekali duduk di taman itu sore ini. Padahal seharian ini Karan merasa begitu penat karena harus mengerjakan tumpukan soal yang diberikan oleh para guru. Hanya dengan duduk sebentar di taman bersama Raya, rasa lelah itu seolah-olah sudah menghilang begitu saja. Ini ajaib. Raya adalah obat pelepas rasa lelah yang mujarab bagi Karan. Seharusnya Karan melakukan ini sejak lama. Jika tahu Raya akan sering berada di taman di samping panti asuhan, Karan akan mengerjakan soal-soal itu lebih cepat agar bisa segera pulang.
“Hari ini tidak terlalu banyak soal yang diberikan jadi aku sudah boleh pulang lebih cepat,” tukas Karan memberi informasi yang palsu. Pemuda itu berpura-pura tidak terjadi apa-apa padahal sudah jelas ini adalah rencananya. Ia bahkan sampai meminta tolong pada temannya untuk mengawasi aktivitas Raya. Ditambah hari ini ia sendiri mengikuti kegiatan Raya setelah pulang sekolah. Tapi tidak mungkin Karan mengungkapkan hal itu secara gamblang. Ia masih punya harga diri. Memangnya siapa laki-laki yang masih mengikuti mantan pacarnya secara diam-diam? Jika fakta ini diketahui teman-temannya di sekolah, Karan pasti sudah habis menjadi bulan-bulanan sesisi sekolahan.
Raya mengernyit, menatap Karan dengan tajam. “Memangnya siapa yang bertanya padamu? Aku tidak mengatakan apa-apa,” tukas Raya berdalih.
Suara kekehan kembali keluar dari mulut Karan. Benar-benar gadis yang menggemaskan. Karan tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak menyentuh Raya. “Kau tahu Raya, kau ini terlihat seperti anak kucing yang sedang marah. Wajahmu kelihatan sangat menggemaskan,” tutur laki-laki itu sambil menupuk lembut puncak kepala Karan. Hal yang sering ia lakukan saat masih menjalin tali kasih dengan gadis itu.