Lies

Lies
Tidak Untuk Menggantikan



Karan tersentak. Ini memang bukan hal yang mudah bagi Luca, tapi ia tidak menduga Luca akan menganggapnya sebagai pengganti. Ini menyakitkan bagi Karan. Jujur ia merasa terluka mendengarnya. Namun, apa yang bisa Karan lalukan? Luca memang merasa seperti itu. Ini ucapan murni dari seorang anak yang harus dihargai oleh Karan. Artinya Luca memang jujur mengenai identitasnya. Kini ia sudah tahu siapa Karan sebenarnya. Setidaknya Karan bisa senang dengan hal kecil itu.


“Apa kau sangat menyukai Daddy?” tanya Karan lagi. Ia mengambil salah satu foto dari meja Luca. Foto antara Luca dan Edgar yang sedang berfoto di sebuah taman. Sepertinya itu taman yang berada di sekolah Luca. Karena sudah beberapa kali mengantarkan dan menjemput Luca dari sekolah, Karan pun akhirnya mengenali dengan baik situasi di sekolah putranya itu.


Luca mengangguk cepat. “Iya! Aku suka dengan Daddy. Daddy adalah yang terbaik!” aku anak itu.


Karan tersenyum. Kali ini ia tidak lagi menyembunyikan senyuman dari bibirnya. “Paman tahu rasanya. Kau tahu, Paman juga seperti Luca. Paman punya orang tua, tapi bukan orang tua kandung Paman.” Karan mulai terbuka menceritakan masa lalunya. Inilah cara yang ingin ia gunakan untuk berbicara dengan sang putra, yaitu dengan menunjukkan sisinya yang serupa dengan Luca. “Orang tua Paman yang sesungguhnya sudah meninggal sewaktu Paman kecil, jadi Paman tidak punya ayah dan ibu. Tapi beberapa tahun kemudian, Paman bertemu dengan orang tua Paman yang sekarang. Mereka merawat Paman dengan sangat baik.”


Luca tampak tertarik mendengar cerita Karan. Sepertinya bocah itu memang sangat menyukai cerita-cerita dongeng. Itu yang Karan dapatkan dari berbicara panjang bersama Edgar. Karena Luca, Karan menjadi akrab dengan Edgar. Hubungan yang awalnya berawal hanya sebatas rekan kerja, berubah menjadi hubungan persahabatan. Raya juga pernah mengatakan bahwa Karan dan Edgar terlihat seperti para ayah yang sedang menceritakan keluh kesah mereka tentang anak mereka yang nakal. Itu terlihat sangat menarik bagi Raya.


Luca suka mendengarkan dongeng sebelum tidur. Edgar pun sering tinggal lebih lama di apartemen Raya hanya demi menemani Luca bercerita meskipun pada akhirnya ia harus pulang tengah malam. Bukannya Raya melarang Edgar untuk menginap. Wanita itu malah sering menyuruhnya tidur bersama Luca saat hari sudah terlalu larut. Hanya saja Edgar punya pekerjaan penting keesokan paginya sehingga ia harus segera kembali ke rumahnya. Belum lagi ia ingin menjauh dari Raya agar perasaannya tidak semakin bertumbuh kepada wanita itu.


Karan melanjutkan ceritanya usai mengambil mangkuk es krim yang sudah habis dari tangan Luca dan meletakkannya di atas meja belajar. Ia juga menyeka sisa es krim dari sekitar mulut Luca yang belepotan. “Sama seperti Luca, Paman juga menyayangi Papa dan Mama Paman. Mereka orang yang penyayang, persis seperti Daddy kepada Luca.” Meskipun pada kenyataannya posisi Karan benar-benar sebagai pengganti anak mereka yang sudah meninggal dunia, namun perasaan sayang mereka benar-benar dirasakan dengan jelas oleh Karan. Mereka sangat menyayangi Karan karena menganggap Karan sebagai putra kandung mereka. Semuanya memang terkesan palsu, kendati demikan Karan tetap bahagia mendapatkan rasa sayang dari mereka.


“Apa Paman juga sayang pada mereka?” tanya Luca penasaran. Bocah itu benar-benar menunjukkan ketertarikannya dengan jelas. Menurut pengamatan Edgar, sepertinya kelak Luca bisa bekerja sebagai seorang jurnalis karena selain kemampuan menyimaknya yang luar biasa, Luca juga pandai menceritakan apa yang baru saja terjadi di kesehariannya dengan baik dan runtut. Walaupun masih terlalu dini menceritakan tentang masa depan pada Luca yang baru berusia empat tahun, tapi Ini sesuai dengan apa yang Raya inginkan di mana suami dan anaknya memiliki pekerjaan yang berbeda dengannya. Saat mereka berkumpul lagi di masa depan, perkumpulan keluarga mereka akan sangat menyenangkan karena obrolan yang akan mereka lalukan sangat berwarna.


“Iya. Paman sangat menyayangi mereka,” ungkap Karan jujur. “Orang tua Paman sudah meninggal, jadi Paman tidak tahu bagaimana kasih sayang orang tua. Tapi orang tua angkat Paman datang dan merawat Paman. Tentu saja Paman sayang pada mereka.”


“Itu bagus.” Luca memberikan komentarnya.


Tangan Karan yang besar bergerak ke kepala Luca. Ia mengelus puncak kepala anaknya dengan lembut. “Jadi Luca, Paman hanya bilang kalau Paman bukanlah ingin menggantikan posisi Daddy. Paman tahu tidak ada yang bisa menggantikan Daddy bagimu. Tapi Luca, Paman juga ingin menjadi ayahmu. Bukannya mempunyai dua ayah itu lebih baik dari satu? Paman akan menjadi ayahmu dan Daddy juga akan tetap menjadi ayahmu. Bagaimana?”


Luca tidak langsung menjawabnya. Sepertinya anak itu masih punya hal yang dipikirkannya. Ia bahkan ragu-ragu saat ingin mengatakan sesuatu. Ketika sudah memikirkannya dalam waktu yang panjang, barulah Luca bisa mengutarakan keinginannya. “Apakah aku juga harus memanggil Paman dengan sebutan Daddy?”


“Tidak,” sahut Luca. Ia mendekati Karan dan menyentuh tangan pria itu. “Apakah Paman akan menikah dengan Mommy?”


Tidak disangka pertanyaan itu akan dilontarkan oleh Luca sekarang. Sepertinya bocah itu memang sangat pintar hingga ia bisa membaca situasi kedua orang tuanya dengan sangat baik. “Iya, Paman akan menikah lagi dengan Mommy. Apa kau tidak setuju dengan hal itu? Kalau kau tidak setuju, Paman tidak akan memaksa. Selama Luca belum bisa menerima Paman, Paman tidak akan menikah dengan Mommy. Karena bagi Paman dan Mommy yang terpenting sekarang adalah dirimu. Paman akan menunggu sampai kau bisa menerima Paman.”


“Tidak, aku bukannya tidak menerima, Paman. Tapi aku hanya tidak ingin pergi dari sini. Kata teman-temanku kalau Paman menikah dengan Mommy, Paman akan membawa kami ke Indonesia. Aku juga menyukai Indonesia karena itu tempat tinggal Mommy dan Nenek. Tapi aku tidak suka meninggalkan sekolah dan teman-temanku di sini. Aku janji akan mencoba bergaul dengan teman-temanku seperti yang diinginkan Daddy dan Mommy. Jadi Paman, bisakah aku dan Mommy tetap tinggal di sini?”


Karan benar-benar dihantam keterkejutan yang besar selama ia bersama dengan Luca. Padahal mereka baru berbicara selama beberapa menit, tapi rasanya Karan seperti baru saja menghadapi persidangan panjang perceraiannya bersama Raya dulu. Tapi setidaknya dari percakapan yang sulit itu Karan jadi tahu apa yang menjadi masalah utama Luca. Ternyata bocah itu tidak benar-benar menolak Karan sebagai ayah. Selain membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan status Karan, ia juga keberatan dengan pernikahan ini karena masalah tempat tinggal. Luca tidak suka tinggal di tempat baru, itulah sebabnya anak itu sampai meminta pada Karan agar ia dan ibunya bisa tetap tinggal di Milan.


Tentu saja ini Karan tidak bisa memutuskannya begitu saja. Keinginan terbesarnya memang ingin membawa Raya dan Luca kembali pulang ke negaranya. Namun, ia tidak bisa melakukannya seandainya Luca tidak menginginkannya. Karan tidak bisa begitu saja memboyong bocah itu ke Jakarta saat ia tidak mau karena itu akan berpengaruh pada pertumbuhan Luca. Sangat penting bagi anak itu untuk hidup dan berkembang di lingkungan yang mendukungnya. Dan mungkin Luca mengira Milan adalah tempat terbaik untuknya.


Karan mengangkat tubuh Luca dan membawanya ke pangkuannya. Ia mengatakan sesuatu kepada anak itu yang tentunya membuat sang bocah merasa senang. “Luca, untuk masalah tempat tinggal Paman tidak bisa menentukannya sendiri karena yang akan tinggal di rumah kita nanti bukan hanya ada kau dan Paman, tapi ada Mommy juga. Karena Paman sudah mendengar permintaanmu, Paman akan mendengarkan permintaan dari Mommy, lalu kita putuskan yang terbaik di mana kita tinggal. Tapi Luca, Paman harus bilang padamu kalau Paman juga suka kota ini. Paman tidak keberatan kalau kita tinggal di sini.”


Raut wajah Luca tampak begitu bersemangat. Ia tersenyum senang. “Benarkah Paman? Jadi kalau Mommy setuju kita tinggal di sini, kita tidak akan pindah?”


Karan mengaggukkan kepalany. “Ya.”


Luca memeluk Karan dengan erat. “Terima kasih Paman. Apa Paman mau dengar rahasia?”


Karan mengelus punggung Luca. “Rahasia apa?”


“Sebenarnya aku sudah tahu Paman adalah ayah kandungku. Aku sering melihat foto pernikahan Paman dan Mommy di ponsel Mommy. Dan aku juga sering mendengar Mommy mengatakan kalau aku sangat mirip dengan Paman saat Mommy menidurkanku. Karena itulah aku juga menyayangi Paman sama seperti Daddy.”