Lies

Lies
Sesuatu yang Menjijikan



“Iya, kau sekarang sedang di kurung di dalam kamarmu.” Secara spesifik Reagan menyebutkan tempat Raya ditahan saat ini oleh Karan. Di dalam kamar. Tentu ini mengejutkan. Bagaimana mungkin hal yang seharusnya tidak diketahui orang luar justru diketahui oleh Reagan? Dari mana pria itu tahu? Dan bagaimana caranya? Apakah ada salah satu dari anak buah Karan yang berkhianat? Mungkin saja salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ini. Tapi dipikirkan bagaimana pun rasanya tidak mungkin. Mereka terkenal sangat patuh pada perintah Karan. Kemungkinan yang bisa Raya pikirkan hanya tukang kebun yang sering mengurusi taman di depan rumah. Pasalnya laki-laki itu baru dipekerjakan Karan tiga bulan sebelum menikah dengan Raya. Terbilang sangat singkat untuk diuji kesetiaannya.


“Tidak. Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan ini?” Raya berdalih dengan menipu Reagan. Ia ingin menyembunyikan sendiri masalahnya. Reagan atau siapa pun orang tidak perlu tahu apa yang terjadi padanya. Ia tidak mau dikasihani oleh siapa pun, termasuk oleh Reagan. “Bagaimana kau bisa mendapatkan nomor telepon rumahku?” seru Raya lagi merasa marah. Siapa pun yang memberikan nomor telepon rumahnya sudah sangat keterlaluan. Di rumah itu tidak hanya ada Raya saja, Karan dan semua kaki tangan sang suami ada di sana. Bagaimana jika Karan salah sangka dan menganggap Raya berselingkuh?


“Itu tidak masalah Raya. Aku bisa dapat nomor teleponmu dari siapa pun, bahkan dari orang terdekatmu. Tapi yang harus kau ketahui hanya satu. Aku ingin membantumu keluar dari rumah itu. Aku akan membebaskanmu dari cengkraman Karan.”


Ucapan Reagan terdengar begitu percaya diri, seolah-olah pria itu tahu apa pun tentang Savita, termasuk tentang bagaimana Savita berada di tempat itu dan dalam keadaan mengenaskan. Tidak. Savita tidak mengalami hal buruk seperti penyiksaan fisik. Karan tidak pernah mengalaminya, tentu saja kalau hubungan badan di atas ranjang tidak ikut dalam hitungan. Karena bagi Raya, hubungan ranjang mereka bisa dikompromikan. Karan memang sering bersikap kasar dan cenderung dominan, namun Karan bukan laki-laki ekstrem yang melakukan penyiksaan fisik pada istrinya sendiri.


“Kau sedang membicarakan apa, Reagan? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan.”


Bukannya berhenti, Reagan berbicara lagi, mencoba untuk terus menyakinkan Raya. “Aku tidak mempermasalahkan kepura-puraanmu sekarang, Raya. Tapi jika kau butuh bantuan, aku selalu akan membantumu. Memang aku tidak terlalu kaya dibandingkan suamimu. Tapi aku punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh suamimu, yaitu kekuasaan. Kau tahu itu ‘kan?”


Apa hebatnya dengan memiliki kekuasaan? Lagi pula, kekuasaan itu tidak ada korelasinya dengan kebebasan Raya. Sekuat apa pun posisi Reagan, kendati laki-laki itu adalah seorang presiden, ia tidak akan bisa mencampuri urusan masalah rumah tangga Raya. Itu sudah tertuang dalam undang-undang pernikahan yang berlaku di Indonesia. Raya hanya bisa bertindak setelah Karan melakukan tindakan yang melanggar hukum, misalkan melakukan kekerasan dan berselingkuh di belakang Raya. Tapi pada kenyataannya, selain mengurungnya di dalam kamar, Karan masih memperlakukannya dengan baik. Raya makan dengan teratur dan pola makannya justru terjaga karena Anna rutin memberikannya makanan.


“Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku rasa aku tidak membutuhkannya,” jawab Raya.


Ada suara embusan napas kasar yang keluar dari mulut Reagan. “Baiklah, terserah padamu. Tapi Raya, aku hanya ingin mengatakan ini sebelum kau menutup teleponku secara sepihak. Aku lebih suka kau memakai gaun berwarna biru ketimbang merah seperti itu.”


“Apa—”


TUUUT!


“Sial!” umpat Raya kesal. Dari mana Reagan tahu tentang warna pakaiannya? Dari mana pria itu tahu nomor teleponnya? Terlebih lagi, bagiamana Reagan bisa tahu bahwa Raya dikurung oleh suaminya sendiri? Kesal sekali rasanya saat Raya tidak bisa menemukan pelaku yang membocorkan kehidupan rumah tangganya ke pihak asing. Raya saja tidak menyampaikan keburukan Karan pada bibinya meskipun ia sempat menyesal karena tidak bisa menceritakan masalahnya pada orang lain.


*****


Hingga malam hari Raya dipenuhi rasa penasaran yang begitu besar. Tentang bagaimana Reagan mengetahui tentang polemik yang sedang Raya alami saat ini. Raya tidak bisa membiarkannya. Sebelum Reagan bertindak nekat karena ingin menyelamatkannya. Raya harus buru-buru berbicara dengan Karan. Ia tidak ingin semuanya menjadi runyam. Raya hanya mau hubungannya dengan sang suami harmonis kembali.


“Kau bilang ingin bertemu denganku? Katakan apa maumu?” tukas Karan dengan tanpa basa basi saat pria itu berada tepat di depan ranjang Raya, menatap istrinya dengan tatapan tajam yang menghujam. Bagaimana Karan bisa berubah sangat drastis padahal saat beberapa saat sebelum pertengkaran hebat mereka berlangsung, Karan bersikap sangat manis? Yang mana sebenarnya jati diri Karan. Apakah laki-laki itu benar-benar sempurna dengan kebaikannya? Atau malah jati dirinya yang sebenarnya adalah Karan yang seperti ini. Ketus dan kejam. Sungguh Raya sangat sulit membedakannya.


“Aku ingin bebas, Karan, tolonglah,” pinta Raya sambil memelas.


Karan geram mendengarnya. Pria itu mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. “Ini lagi? Aku sudah mengatakannya berkali-kali, Raya! Tidak ada izin untuk keluar dari kamar. Itu adalah hukumanmu!”


“Baiklah, aku menerima hukumanku. Tapi sampai kapan, Karan? Sampai kapan aku harus dihukum? Kau tahu aku tidak akan berselingkuh, jadi tolonglah hentikan ini.” Sebab ada orang lain yang mencoba memata-matai mereka. Orang itu bahkan tahu bagaimana masalah tindakan semena-mena Karan pada istrinya. Jika hal itu terungkap, tidak hanya citra Karan saja yang akan rusak, masa depan dan karier Raya pun akan hancur begitu saja. Sayangnya, Raya tidak bisa mengungkapkan isi hatinya secara keseluruhan pada Karan. Ia menyimpan sisanya untuk dirinya sendiri.


“Sampai aku merasa kau layak untuk dipercayai. Tapi sayangnya, kau sudah melanggar itu berkali-kali.” Karan tidak terlihat mau mendengarkan penjelasan Raya sama sekali. Bahkan, pria itu bermaksud untuk langsung meninggalkan kamar Raya karena tidak mau lagi mendengar omong kosong yang disampaikan istrinya.


Namun, saat pria itu berpaling dan berjalan ke arah pintu, langkah kaki Karan terhenti sejenak oleh sebuah gerakan. Matanya terbelalak dan tangannya sontak menegang. Raya sedang memeluknya dari belakang. Istrinya itu mendekapnya dari belakang dengan tangan yang diletakkan di atas perut.


Seketika Karan merasa merinding. Perutnya bergejolak oleh rasa jijik yang tidak tertahankan. Mendadak sesuatu hendak keluar dari mulutnya hingga Karan cepat-cepat menghempaskan tubuh Raya dengan keras dan membuat wanita itu terjatuh ke atas lantai.