
Sekitar enam belas jam yang dibutuhkan Raya dan Karan untuk bisa sampai di Milan dari ibu kota Jakarta. Selama hampir seharian penuh itu pun tidak banyak hal yang terjadi. Karan dan Raya saling mengunci mulut, saling bergeming satu sama lain. Karan merasa Raya sangat keterlaluan padanya sampai mengucapkan kata cerai di tengah-tengah pertengkaran mereka. Kata yang tidak akan pernah ingin Karan wujudkan seumur hidupnya. Selain Raya, tidak akan ada satu pun wanita yang pantas menyandang status sebagai istri. Karan juga tidak ingin dikenal sebagai duda.
Begitu pula dengan Raya. Ada rasa bersalah yang besar di hatinya karena telah bertengkar dengan Karan. Tidak sampai di sana, ia pun sampai menyatakan perceraian mereka. Padahal bukan itu yang Raya inginkan. Sama seperti Karan, Raya juga tidak mau menyandang status sebagai janda. Raya sangat memperhatikan citranya di masyarakat, dan harus diakui, wanita yang bercerai punya pandangan yang tidak cukup baik, malah justru dipandang sangat negatif. Raya sebagai tokoh publik tentu tidak ingin citranya tercoreng hanya status pernikahannya.
Setelah acara diam-diaman yang tentu saja menimbulkan banyak tanya oleh para pengawal mereka, akhirnya Karan berbicara ketika melihat istrinya kesulitan turun dari tangga pesawat. Mereka tidak menggunakan jalur kedatangan seperti yang biasanya ditempuh oleh masyarakat di negara itu, tetapi mereka langsung disambut oleh kolega bisnis Karan. Di depan orang lain tidak mungkin Karan dan Raya akan menunjukkan pertengkaran mereka. Terlebih mereka baru saja menikah, dan usia pernikahan mereka tidak sampai satu tahun. Bagi kebanyakan orang dalam usia tersebut, pasangan suami-istri akan terlihat harmonis dan romantis. Untuk itulah Karan dan Raya akan berpura-pura.
“Ayo Sayang, hati-hati,” ucap Karan sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Raya. Di wajah tampannya itu berhias seulas senyuman indah, tidak tampak sama sekali wajah seorang pria yang baru saja bertengkar dengan istrinya. Wajah pria yang begitu marah dan cemburu karena mengetahui sang istri berinteraksi dengan pria lain. Karan tampak layaknya seorang suami yang sedang melakukan bulan madu dengan istrinya. Suami yang sedang dimabuk kepayang karena bara cinta mereka.
Raya tidak mau kalah. Jika Karan bisa dengan mudahnya berakting secara natural di depan banyak orang, lalu mengapa ia tidak bisa? Raya sudah biasa berakting di depan kamera sekalipun ia bukan seorang aktris. Meskipun tidak sebagus akting Karan, setidaknya ia masih bisa memerankan tokoh sebagai seorang istri dengan sangat baik. “Terima kasih, Sayang,” ungkapnya seraya menyambut uluran tangan Karan. Ia juga melukis bibirnya dengan seulas senyum manis, balasan atas senyum yang dilemparkan oleh sang suami.
Karan malah tersentak mendengar ucapan Raya. Wanita itu memanggilnya dengan sebutan ‘Sayang’, sesuatu yang belum pernah didengar oleh Karan sebelumnya. Ah, mungkin ia pernah mendengarnya beberapa kali, namun tidak sering. Itulah yang membuatnya cukup terkejut. “Hati-hati, jangan sampai terjatuh.” Karan memperingati Raya lagi. Sambil memastikan langkah istrinya sempurna hingga menyentuh aspal bandara, Karan memandangi koleganya. Ia membawa sang istri dan memperkenalkan wanita itu kepada sang kolega. Rekan bisnis Karan itu merupakan pengusaha yang cukup terpandang di kota Milan. Ia adalah anak dari pengusaha makanan dan minuman yang begitu ternama di Italia. Bahkan, beberapa produknya digunakan oleh banyak masyarakat di seluruh dunia.
Uniknya, ternyata rekan bisnis Karan itu juga mengenal Raya. Ada satu produk minuman beralkohol yang Raya iklankan tiga tahun yang lalu. Itu hanya sebuah kebetulan yang tidak disengaja karena baik Karan maupun Raya sama sekali tidak tahu. Hanya rekan bisnis Karan saja yang tahu kenyataan tersebut. Karena mengenal kedua orang itu dengan baik, akhirnya ia mengajak mereka untuk tinggal di rumahnya untuk semalam saja. Sementara ia akan berdiskusi dengan Karan tentang bisnis, Raya bisa mengobrol dengan istrinya yang juga asli orang Asia.
“Istri saya sangat menyukai Anda, Nyonya Reviano. Dia sudah menunggu Anda sejak lama. Dan dia juga sudah memasak makanan yang paling istimewa. Anda tidak akan membuatnya kecewa, bukan?” cetus laki-laki berusia 55 tahun itu pada Raya. Dengan sedikit memasang wajah iba, ia mencoba untuk memengaruhi Raya supaya wanita itu mau menginap di rumahnya. Karena ia tahu, menawarkan hal itu pada Karan tidak cukup manjur. Jadi, ada baiknya ia langsung memintanya pada Raya.
Dengan menggunakan bahasa yang sama, yaitu bahasa Italia, Raya pun menjawab, “Saya tidak bisa menentukannya sendiri, Tuan. Saya butuh izin dari suami saya.”
“Ah, itu tidak perlu, Nyonya. Suami Anda pasti akan mendengar apa saja yang Anda inginkan. Saya yakin itu.”
Raya tidak tahu harus berbuat apa dan akhirnya ia menoleh, memandangi wajah Karan untuk mencari jawaban. Pria itu pun mengangguk sebagai tanda persetujuan. Raya menanggapi, “Baiklah Tuan, kami bisa mengunjungi rumah Anda.”
Komentar itu tidak membanggakan bagi Raya, tapi tetap saja ada yang membuat wanita itu heran. Bagaimana semua orang tahu tentang dirinya? Bagaimana Karan sebenarnya memperkenalkan seorang Raya Drisana ke orang lain? Pasalnya tidak hanya sekali Raya mendengar bahwa Karan tampak begitu mencintainya. Ada beberapa orang sempat mengatakannya, terutama orang-orang di sekitar Karan. Entah itu benar-benar fakta atau Karan hanya bersandiwara lagi sebagai seorang suami yang begitu mencintai istrinya.
Lagi-lagi Karan harus memegang tangan Raya, itu saat sang istri naik ke mobil mewah milik koleganya. Ternyata tidak hanya disambut secara langsung, pasangan itu pun dipaksa untuk naik ke mobil limusin milik sang kolega. Mungkin ini sebagai bentuk harga diri sebagai tuan rumah sekaligus ajang untuk memamerkan kekayaan miliknya. Masalahnya, Karan dan Raya dalam keadaan yang tidak baik pasca pertengkaran hebat mereka di pesawat. Namun sekarang, untuk waktu yang lama mereka harus berpura-pura tidak punya masalah sama sekali.
“Bagaimana perjalanan Anda? Apakah ada kendala? Maaf karena menyambut dengan begitu sederhana. Seharusnya saya menyiapkan kendaraan yang lebih baik agar bisa membuat istri Anda beristirahat dengan tenang,” kata sang kolega merenda, yang pada ujungnya untuk meninggikan dirinya kembali.
Karan sudah biasa menghadapi orang-orang yang punya kebiasaan memerkan harta seperti laki-laki tua itu. Ia pun hanya tersenyum sambil berkata, “Tidak masalah Tuan. Istri saya beristirahat dengan baik karena pesawat pribadi milik keluarga kami mempunyai fasilitas yang sangat baik,” balas Karan menyombongkan diri. Begitulah caranya menghardik orang-orang sombong dari negara lain. Tidak perlu muluk-muluk, hanya tunjukkan saja kartu as yang tidak dimiliki oleh lawan. Dengan begitu ia akan menohok lawan secara langsung.
“Hahaha! Anda benar. Tidak mungkin pengusaha sehebat Anda membiarkan istri cantik Anda kelelahan di perjalanan.”
Karan mengangguk-angguk setuju. “Benar, karena ini bulan madu kami yang pertama. Akan ada banyak hal melelahkan lain yang harus kami kerjakan,” tukasnya sembari membawa punggung tangan Raya yang sejak tadi berada di genggamannya ke bibirnya. Pria itu mengecup tangan Raya dengan mesra hingga membuat kedua pipi sang super model bersemu merah.
“Ya ampun, saya sangat iri dengan pasangan yang baru menikah. Terlihat begitu harmonis dan mesra. Anda benar-benar membuat saya ingin cepat-cepat tiba di rumah, Tuan Reviano.”
Seulas seringai muncul di bibir Karan. “Ya, Tuan. Saya juga tidak sabar untuk menghabiskan lebih banyak waktu di kota Milan yang indah ini. Kebetulan, istri saya inilah yang menentukan destinasi liburan kami. Anda tahulah, kita sebagai suami hanya bisa menurut saja.”
Laki-laki tua yang duduk di seberang Karan dan Raya mengangguk-angguk, merasa sependapat dengan Karan. “Anda benar, Tuan. Kita suami hanya bisa diam karena para istrilah yang mengatur. Karena kalau kita melawan, mereka akan menendang kita keluar kamar. Dan akhirnya kita harus menghabiskan malam di atas sofa. Benar-benar menyedihkan. Hahaha!”
Itu lelucon yang payah sekali, sama sekali tidak lucu bagi Karan. Tetapi demi kerja sama yang akan terjalin di antara mereka, mau tidak mau ia ikut tertawa. Sebab, Karan tidak pernah merasakan apa yang diceritakan oleh laki-laki tua tersebut. Raya memang pernah menolak berhubungan dengannya, tetapi Karan tidak akan terlihat seperti pria menyedihkan seperti yang diceritakan barusan.