
Rupanya apa yang disampaikan Raya belum selesai ia sampaikan. Masih banyak hal yang mau wanita itu katakan dalam video berdurasi sepuluh menit itu. Karan tidak bisa menontonnya dengan leluasa jika sekretarisnya ada di sana. Kehadiran wanita itu membuatnya tidak bisa lepas berekspresi. Padahal ia ingin menangis ataupun mengumpat. Walau sang sekretaris tahu apa yang terjadi dan Karan juga tidak menyimpan kepribadiannya di depan wanita itu, tetap saja ia hanyalah orang asing. Hanya kepada Raya saja Karan bisa berekspresi normal. Ia bisa menunjukkan apa dan bagaimana ia barus bertindak. Karan tidak mau ada orang lain yang mengetahuinya. Sekalipun itu Ian ataupun ayah dan ibunya. Karan ingin Raya menjadi satu-satunya orang yang bisa memahami dan mengerti jati dirinya.
“Aku sudah melihatnya. Bawa saja ponselmu dan pulanglah. Ini sudah waktunya pulang. Aku tidak mau dituduh sebagai atasan yang tidak membayar uang lembur karyawannya karena kau pulang terlambat,” ujar Karan pada sang sekretaris. Meskipun terkesan kasar, namun Karan tidaklah bermaksud jahat kepada wanita itu. Ia hanya ingin menyuruh karyawannya pulang tepat waktu. Atasan mana yang sangat peduli dengan jam pulang kerja bawahannya? Yang ada justru kebalikkannya. Para karyawan akan dituntut selalu ada di kantor meskipun itu sudah jam pulang kantor. Dengan dalih loyalitas. Bagi Karan, loyalitas tidak seperti itu. Dengan melakukan tugas sesuai arahan dan ketentuan dengan baik dan tidak melanggar ketentuan-ketentuan perusahaan sudah merupakan bagian dari loyalitas.
“Baik Pak. Apakah ada yang Anda butuhkan lagi?” tanya sang sektretaris usai mengambil ponselnya dari tangan Karan. Ia merasa iba pada atasannya itu padahal awalnya tidak seperti itu. Sama seperti yang lainnya, ia juga merasa kesal dan jengkel dengan Karan. Ditambah sikap pria itu di dalam kantor yang sangat menyebalkan. Laki-laki itu sendiri yang mengajak rebut sang istri hingga istrinya melayangkan surat cerai. Kemunculan Reagan dan Varen sangat mempengaruhi pendapatnya. Ia berpikir bahwa Karan adalah seorang yang terobsesi terhadap istrinya sendiri sampai bertindak begitu kejam dengan mengurung agar istrinya tidak bisa mengenal dunia luar. Mengekang sampai menyuruh agar wanita itu tidak lagi bekerja.
Tetapi setelah menonton apa yang baru saja muncul di dalam video yang beredar di internet itu, ia baru tahu bahwa Karan tidak sepenuhnya bersalah dalam kejadian ini. Oke, bisa saja Karan salah dan pria itu memang melakukan beberapa kesalahan kepada istrinya. Karena kalau tidak salah, tidak mungkin Raya pergi dari rumah dan tidak menjelaskan apa-apa. Mungkin Karan memang salah, namun kesalahannya tidak sebesar apa yang disangkakan orang-orang yang selama ini menyudutkannya. Raya sendiri yang telah mengonfirmasi bahwa suaminya tidak bersalah.
Itulah sebabnya sang sekretaris berubah pikiran. Ia tidak lagi mau menyudutkan Karan dan mulai bersimpati kepada pria itu. Di dalam sorotan matanya menyimpan iba setiap menatap Karan. Ia bahkan ingin sekali membantu atasannya itu sekalipun tidak mendapatkan bayaran. Ini murni hanya rasa kemanusiaannya.
Alih-alih menerima bantuan, Karan justru menolaknya dengan tegas. Karena bantuan sesungguhnya yang benar-benar membantu Karan adalah dengan kepergian wanita itu. Kesendiriannya sangat membantu Karan dalam berpikir jernih. Ia tidak akan terpengaruh oleh tekanan lingkungan sekitar. “Tidak, terima kasih. Kau boleh pulang sekarang,” ujar Karan lagi yang mengusir sekretarisnya secara halus. Berharap wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya kali ini.
Akhirnya, sang sekretaris pun mengerti. Ia menganggukkan kepalanya sambil berujar, “Baiklah Pak, saya akan pulang sekarang. Saya permisi, selamat malam Pak.” Wanita itu berpamitan dengan sopan sebelum keluar dari ruangan Karan. Namun, ia tetap melakukan tugasnya sebagai sekretaris, terutama tugas yang dititipkan oleh Ian kepadanya, yakni mengawasi kondisi Karan. Setelah memberikan laporan kepada Ian, wanita itu pun meninggalkan kantor dan pulang ke rumahnya.
Setelah memastikan bahwa sekretarisnya tidak ada lagi di ruangan itu, Karan mengambil ponselnya. Mengetik di mesin pencarian di internet tentang video sang istri. Karan mengatur napas dan debaran jantungnya saat menemukan video itu. Sambil menekan tombol untuk memulai videonya lagi, Karan membuang napas panjang untuk terakhir kalinya. Ia harap ia tidak akan menangis setelah atau saat menonton video itu. Tapi sayangnya harapan itu hanya tinggal harapan. Sebab baru saja Karan mendengar suara Raya, tangisnya seperti akan pecah begitu saja. Matanya sudah memerah dan di sudut-sudut netra cokelatnya itu, sudah menggenang air mata yang siap jatuh kapan saja. Hanya tinggal menghitung detik sampai Karan menangis.
“Saya tahu masyarakat dan teman-teman media begitu penasaran tentang alasan mengapa saya memutuskan untuk menceraikan suami saya. Sekali lagi saya katakan, ini keputusan sepihak saya. Sejak awal hingga akhir. Saya tidak mengonsultasikannya terlebih dahulu kepada suami saya karena ini merupakan emosi sesaat saya. Memang benar saat itu terjadi pertengkaran besar antara saya dan suami saya. Dan saat itu, saya melakukan tindakan yang gegabah. Saya keluar dari rumah. Suami saya sudah mencegah saya, tetapi saya sendiri yang bersikeras untuk pergi. Alasan pertengkaran saya karena terjadi kesalahpahaman yang begitu besar di antara kami.”
Pada detik itu suara Raya mulai terdengar bergetar. Sama seperti Karan, wanita itu sepertinya pun sedang menahan air matanya agar tidak menetes. Karan dapat melihat mata Raya yang berkaca-kaca. Dan hal itu semakin jelas ketika Karan memperbesar tampilan layar ponselnya untuk melihat wajah Raya secara penuh. Tidak hanya mata Raya saja yang menarik perhatian Karan. Wajah dan bibir Raya juga tidak luput dari pengamatannya. Tidak, ini bukan soal pikiran mesum Karan setiap memandangi bibir sang istri. Setidaknya pada detik itu, kebutuhan biologisnya tidak mendesaknya karena terkalahkan dengan hatinya yang merasa sedih.
Karan melihat wajah Raya yang pucat. Benar, Raya memang memakai riasan wajah yang cukup untuk menutupi wajah pucat itu. Tetapi, ada hal-hal yang bisa dilihat Karan dengan jelas meskipun orang lain tidak bisa melihatnya. Saat menemukan itu keyakinan Karan semakin bertambah bahwa sepertinya Raya memang sedang sakit. Karan harus memerintahkan Ian mengidentifikasi keberadaan Raya melalui video tersebut. Pria itu pun kembali menghentikan videonya dan mengambil gagang telepon yang ada di atas mejanya. Ia memasukkan nomor ponsel Ian.
“Ya Pak?” jawab Ian dari ujung panggilan.
“Apa kau sudah melihat video istriku?” tanya Karan.
Ian menanggapi. “Iya Pak. Saya sudah melihatnya.”
“Saya rasa juga begitu Pak. Salah satu anak buah saya bilang kalau dia mengenali tempat yang menjadi latar Ibu Raya merekam video itu. Kami masih belum mengonfirmasikannya, tetapi dugaan awalnya Ibu Raya memang berada di salah satu rumah sakit besar di Jakarta, Pak.”
Ada sebuah kelegaan besar ketika Karan mendengar hal itu. Setidaknya ada petunjuk tentang keberadaan Raya. Sekecil apa pun itu tidaklah masalah karena itu sangat berharga dalam misi pencarian mereka. “Baiklah, lanjutkan saja kegiatanmu. Kabari aku jika kau sudah menemukan istriku.”
“Baik Pak. Anda tenang saja, saya yakin kami akan segera menemukan lokasi tempat Ibu Raya berada. Anda tidak perlu cemas akan hal itu,” ungkap Ian penuh percaya diri. Nada bicaranya begitu tegas, tidak seperti biasanya yang terkesan lembut dan santai.
Karan tidak pernah mendengar Ian begitu percaya diri dalam misinya sebesar rasa percaya dirinya saat ini. Dan Karan menaruh harapan besar kepada asisten pribadinya itu. Harapan agar istrinya dapat segera ditemukan. “Aku tahu. Terima kasih, Ian. Aku harap kita bisa menemukan Raya secepatnya.”
Tidak ada jawaban dari Ian. Pria itu sepertinya terkejut mendengarkan ucapan terima kasih yang Karan lontarkan. Ucapan yang jarang ia dengar keluar dari bibir majikannya itu. Sepersekian detik kemudian, akhirnya Ian berbicara lagi, “Iya Pak. Saya akan bekerja keras untuk menembukan Ibu Raya,” janjinya dengan tulus.
Usai mendengar ucapan Ian, Karan mengembalikan gagang teleponnya dan kembali bersiap menonton kelanjutan video dari sang istri. Sama seperti sebelumnya, Karan mengatur napasnya terlebih dahulu barulah ia kembali menontonnya lagi. Dan pada detik itu, Raya menyampaikan hal yang sangat mengejutkan semua orang.
“Sebenarnya kesalahpahaman itu disebabkan oleh saya. Saya tidak meminta izin kepada suami saya untuk melakukan pekerjaan. Dan kebetulan saat itu saya harus bekerja di perusahaan Varen yang merupakan mantan kekasih saya. Tentu saja suami saya yang tahu itu merasa marah dan cemburu. Pertengkaran kami pun tidak terelakkan sehingga saya memutuskan untuk keluar rumah agar tidak terlalu lama bertengkar. Dan sekarang saya menyelesali keputusan saya itu.”
Di detik itu Raya menangis, yang membuat Karan pun ikut menangis. Mereka yang berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis, tidak mampu lagi menahan kesedihan itu. Di sela-sela tangisan tersebut, Raya melanjutkan penjelasannya. Sebuah penjelasan yang sangat mengejutkan Karan. Selama ini ia sudah menyembunyikannya begitu rapat dari Raya. Tapi entah bagaimana caranya, wanita itu justru mengetahuinya dan mengungkapkannya ke depan umum seperti ini.
“Mengenai tuduhan bahwa Karan melakukan tindakan berlebihan kepada saya bahkan beberapa orang menuduh suami saya terlalu mengekang saya, itu bukanlah tindakan obsesif, melainkan tindakan perlindungan. Saya mengidap penyakit dissociative fugue, atau kondisi gangguan jiwa yang membuat saya melupakan identitas asli saya dan membentuk identitas baru. Saya sendiri tidak tahu bahwa saya menderita penyakit seperti itu, dan baru mengetahuinya setelah saya menikah dengan suami saya. Saya tidak dikurung di dalam rumah ataupun kamar seperti tuduhan orang-orang, tetapi saya sendiri yang memilih untuk beristirahat di rumah karena takut emosi saya yang labil akan membuat orang-orang di sekitar saya kesulitan. Bahkan saat bulan madu kami, saya sempat pingsan dan suami saya merawat dengan baik.”
Yang dikatakan Raya itu bukanlah fakta sesungguhnya. Bukan pula murni hanya sebuah kebohongan. Raya sengaja menggabungkan fakta dan kebohongan di dalam satu cerita sehingga orang-orang yang tidak tahu kenyataan yang sebenarnya akan menganggap hal itu sebagai fakta yang sesungguhnya. Akan tetapi, bagi Karan yang benar-benar melewati waktu bersama Raya, tahu mana letak kebohongan Raya. Wanita itu benar-benar mengubah cerita yang seharusnya menempatkan Karan sebagai pelaku yang melukai Raya justru sekarang terlihat sebagai penyelamat dan pelindung Raya.
Raya melanjutkan lagi perkataannya. Ia menyampaikan inti dari video itu sekaligus penutup dari pernyataan sepanjang sepuluh menit tersebut. Sebelum mengatakan apa yang ingin ia sampaikan, Raya menghapus air matanya terlebih dulu dengan menggunakan beberapa lembar tisu yang diberikan oleh seseorang di belakang kamera. Ini sekaligus menunjukkan bahwa Raya tidak sendirian melakukan konferensi pers miliknya itu. Ada orang lain yang membantu Raya. Sayangnya karena terlalu singkat, Karan tidak bisa memastikan apakah orang itu wanita atau seorang pria.
"Yang ingin saya sampaikan adalah saya ingin meminta maaf kepada masyarakat karena membuat kehebohan sebesar ini. Dan saya juga meminta kepada masyarakat terutama para penggemar saya agar berhenti menghujat Karan, berhenti menyudutkan suami saya dengan spekulasi-spekulasi liar yang belum tentu benar. Saya sangat mencintai suami saya, tapi saya takut rasa cinta saya akan membuat dia terluka. Suami saya sudah berkorban begitu besar terhadap saya, sekarang, saya ingin berkorban untuknya. Jadi tolong, jangan sakiti suami saya lagi. Saya benar-benar ingin dia bahagia.”