Lies

Lies
Karan dan Farraz



Kecanggungan tercipta di ruangan itu selama beberapa menit sampai Karan membuka suaranya usai membersihkan air mata yang turun dari kedua bola matanya. Dengan suaranya yang serak itu, Karan bertanya kepada sang istri. “Dari mana kau tahu tentang identitasku? Maksudku sejak kapan kau tahu kalau aku adalah Farraz?” Tidak mungkin Raya tahu begitu saja kalau tidak ada pemicunya. Mungkin ada orang lain yang memberi tahu wanita itu.


“Sebelum aku menjawabnya, bisakah aku tahu siapa Karan Reviano yang sebenarnya?” tanya Raya menanggapi ucapan Karan.


Embusan kasar terdengar dari arah seberang Raya. Tampaknya Karan terlihat berat menceritakan apa yang terjadi padanya di masa lalu. “Seperti yang kau tahu, dia adalah anak dari keluarga Reviano. Anak kandung Papa dan Mama. Tapi dia meninggal saat berusia 18 tahun, tepat setahun sebelum mereka menampungku,” jelas laki-laki itu.


Raya sedikit terkejut, namun ia melanjutkan pertanyaannya. “Jadi kau menggantikannya dan berpura-pura menjadi Karan Reviano yang asli?”


Karan mengangguk. “Ya, aku tidak punya pilihan. Papa menemukanku ... ah, lebih tepatnya memungutku setelah keluar dari penjara. Demi menggantikan posisi putranya yang sudah tewas karena tidak sanggup melawan penyakit. Juga demi Mama yang mengalami depresi panjang.”


“Tunggu dulu! Bagaimana bisa kau menggantikannya? Apakah wajah kalian mirip?”


Kepala Karan bergerak, pria itu menggeleng dengan tegas. “Tidak, sama sekali tidak mirip. Tetapi, siapa yang akan ragu dengan identitasku kecuali kami melakukan tes DNA? Karan Reviano yang asli hanyalah seorang pemuda sakit-sakitan yang kesehariannya berada di tempat tidur dengan dibantu oleh berbagai macam alat medis. Selama bertahun-tahun tidak ada banyak orang yang bisa melihatnya. Ruangannya dijaga ketat agar tetap steril. Hanya para dokter dan Papa dan Mama saja yang bisa keluar masuk kamarnya. Jadi, tidak ada yang tahu pasti bagaimana wajahnya. Media massa bahkan keluarga besar Reviano hanya melihat foto-foto masa kecilnya saat ia masih bisa berkeliaran di luar rumah.”


Itu juga yang pernah Karan takutkan dulu saat sang ayah memintanya mengubah identitas dan menggantikan putra semata wayangnya yang telah tewas. Karan takut ketahuan. Namun setelah satu minggu berpikir sambil memantau keadaan, akhirnya Karan sadar. Tidak ada satu pun orang yang tahu siapa dan bagaimana wajah Karan Reviano yang sesungguhnya. Dengan alasan itulah Karan menyetujui usulan sang ayah. Ia yang saat itu bernama Farraz berganti nama menjadi Karan Reviano dan dikirim ke New York untuk mengalami perawatan intensif atas luka-luka yang ia alami setelah bebas dari penjara. Sang ayah ingin memastikan putra barunya itu bebas dari penyakit dan luka apa pun sehingga bisa menggantikan dirinya kelak.


“Dan kau belum menjawab pertanyaanku, Raya. Sejak kapan kau tahu identitas asliku?” tanya Karan lagi.


“Aku tahu saat kita berada di rumahmu waktu itu. Kau ingat waktu kita menginap di rumah orang tuamu? Saat itu aku masuk ke dalam ruangan mainan dan barang-barang. Awalnya aku pikir itu milikmu. Tapi setelah aku melihatnya, aku pikir itu terlalu janggal. Apalagi saat melihat Mama yang sedih menatap barang-barang itu seolah-olah pemiliknya sudah tidak ada di dunia ini. Aku benar-benar curiga.”


Saat itu Raya melihat terlalu banyak barang yang disimpan oleh ibu Karan di sana. Katanya barang-barang itu memang milik Karan. Tetapi masalahnya, untuk seukuran orang kaya seperti keluarga Reviano terasa janggal jika barang-barang usang itu masih disimpan. Benar, Karan memang anak tunggal keluarga mereka. Menyimpan barang-barang masa kanak-kanak Karan juga tidak salah sebagai kenangan. Masalah barang-barang itu terlalu banyak. Terlebih seolah-olah Karan sendiri tidak pernah melihatnya sejak dewasa. Bukan karena malu melihat barang-barang masa kecilnya, tetapi lebih kepada enggan menyentuh mereka seakan barang-barang itu bukanlah miliknya.


Raya pun menaruh curiga besar dengan bukti-bukti yang ia dapatkan itu. Kemudian, insiden pingsannya ia di rumah kolega Karan yang berada di Milan menambah bukti kuat itu. Samar-samar Raya mengingat wajah Farraz yang selama ini berusaha untuk ia lupakan. Wajah itu semakin jelas teringat ketika Raya hamil. Ia pun menyadari apa yang terjadi. Wajah suaminya begitu mirip dengan kekasih masa lalunya itu. Memang ada beberapa bagian yang berubah, utamanya di bagian dagu dan hidung. Namun selain kedua hal itu, Karan terlihat seperti Farraz, hanya Karan sekarang tampak lebih dewasa dengan postur tubuh yang proporsional.


Seiring berjalannya waktu, tidak hanya wajah Karan saja yang teringat, kenangan-kenangan yang belasan tahun Raya lupakan, pelan-pelan memenuhi kepalanya. Satu per satu muncul seperti sebuah video yang sedang di putar di layar ponselnya. Mulai dari awal perkenalan mereka sampai pada insiden pembunuhan tersebut. Tidak ada satu pun yang luput dari ingatan Raya. Wanita itu pun sudah sepenuhnya mengerti apa yang terjadi.


“Jadi sejak saat itu kau curiga tentang identitasku? Kenapa kau tidak menanyakan langsung kepadaku?” tanya Karan. Insiden itu sudah sangat lama. Artinya selama itu pulalah Raya menyembunyikan kecurigaannya di hadapan Karan. Dipikirkan bagaimana pun Karan merasa sangat kesal karena ia tidak menyangka sang istri justru tahu tentang masa lalunya tapi bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi pada mereka.


“Memangnya apa yang akan aku dapatkan setelah berbicara denganmu? Kau tidak akan pernah mengatakan apa-apa padaku, Karan. Kau akan terus menyembunyikan identittasmu sampai akhir. Jangan berbohong lagi sekarang karena aku sama sekali tidak akan percaya.”


Karan meneguk salivanya tanpa sadar. Ia merasa tertohok atas apa yang dikatakan oleh sang istri. Mungkin saja yang dikatakan Raya benar. Ah, tidak. Itu memang benar. Karan tidak akan pernah menceritakan apa yang terjadi di masa lalu apalagi membongkar identitasnya. Karena Karan tahu, Raya akan meninggalkannya begitu menyadari bahwa Karan yang sekarang bukanlah anak kandung dari keluarga Reviano. “Kalau aku mengatakannya, apa kau akan tetap bersamaku? Tidak ada jaminan kau akan terus mempertahankan pernikahan kita dan terus bersamaku jika aku bukanlah Karan Reviano, tetapi hanya seorang pria miskin yang berasal dari daerah kumuh yang dipenuhi oleh para penjahat yang miskin.”


Tidak ada suara apa pun yang terdengar di ruangan itu kecuali dari mesin penyejuk ruangan. Meskipun terdengar kasar, tapi apa yang dikatakan pria itu benar. Sejak awal tujuan pernikahan mereka memang tidak baik. Raya hanya membutuhkan nama besar dan kekayaan seorang Karan Reviano demi popularitasnya. Dan Karan membutuhkan seorang istri. Dengan hubungan yang tidak sehat seperti itu, maka tidak ada jaminan akan bertahan lama. Utamanya jika saat itu Karan mengungkapkan kebenarannya dan menunjukkan identitasnya yang sebenarnya. Raya tidak akan menjamin bisa bersama Karan lagi karena ia tahu Karan bukanlah anak kandung keluarga Reviano.


Setelah mengeluarkan napas panjangnya, Raya berbicara lagi kepada sang suami. “Ya, aku tahu. Itulah yang aku katakan padamu. Hubungan kita sudah salah dari awal. Jadi, tidak ada yang bisa diperbaiki.”


“Jadi, begitukah yang kau pikirkan tentangku? Ini juga bukan kesalahanku, Raya. Aku tidak mau melakukan semuanya, tetapi aku marah padamu dan pada masa lalu kita. Saat aku menderita dengan semua kenangan buruk yang terjadi 12 tahun yang lalu, kau malah melupakannya. Apakah itu adil untukku?”


Karan berkata jujur. Apa yang dialaminya saat di penjara begitu mengerikan dan terkesan tidak adil. Seandainya saat itu tidak ada warga kampung yang membantunya, Karan yang saat itu masuk ke bui berusia 16 tahun akan dipenjara lebih lama. Tidak dua tahun seperti yang ditempuh olehnya waktu itu. Bisa saja Karan dituntut 12 tahun penjara. Atau kalau terbukti melakukan pembunuhan berencana, maka hukuman Karan akan jauh lebih berat lagi.