Lies

Lies
Harus Berbaikan



Bisnis hari itu berjalan dengan sukses. Karan mampu mendapatkan beberapa kontrak dengan nilai yang fantastis. Tidak ada yang mengganggu acara pertemuan itu karena pada dasarnya Karan adalah negosiator yang ulung. Ia dapat memengaruhi orang lain dengan mudah, salah satu alasan mengapa bisnisnya begitu berkembang.


“Terima kasih atas kerja samanya, kalau boleh saya izin keluar terlebih dulu.” Karan mengakhiri pembicaraannya dengan beberapa orang yang ada di sana. Karan melangkah keluar restoran tersebut sambil mencari tempat untuk merokok. Memang tidak separah dahulu, tapi Karan tetap beberapa kali merokok untuk menenangkan pikiran, khususnya saat di mana ia teringat tentang Raya dan anak mereka. Rasa bersalahnya memberi tekanan batin yang begitu besar sehingga tidak ada yang bisa menenangkannya selain produk dari tembakau tersebut.


Karan menemukannya. Salah satu ruang kecil yang dikelilingi oleh kaca. Ruangan yang disediakan khusus untuk perokok. Di tempat itu, Karan merogoh saku celanannya, mengambil bungkus rokoknya dan juga alat pemantiknya. Saat sudah menaruh ujung rokok di bibirnya, Karan tersentak. Di luar ruangan kaca itu ada seorang anak yang terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti sedang mencari sesuatu. Karan akan mengabaikannya jika ia tidak kenal dengan anak itu. Tetapi ternyata, anak itu adalah Luca, putra dari Edgar, rekan bisnisnya. Mau diabaikan pun tidak bisa karena Karan sudah terlanjur mengenalnya.


Pria itu akhirnya bergerak dari tempatnya. Ia membuang terlebih dulu rokok yang sempat menempel di bibirnya, lalu keluar dari ruangan itu. “Luca!” panggil Karan untuk mengalihkan pandangan sang bocah ke arahnya. Ia mendekati anak berusia empat tahun itu dan menyentuh kepalanya. “Kenapa kau ada di sini? Di mana Mommy-mu?” tanya Karan. Karena Edgar kemungkinan besar masih berada di dalam ruangan bersama dengan para investor yang lain, jadi Karan mencari ibu dari sang anak.


“Mommy sedang bekerja, Paman. Aku tidak boleh menelepon Mommy sekarang,” tukas Luca menjelaskan.


Karan merendahkan dirinya dan berjongkok di depan Luca. “Jadi, apa kau sendirian?”


“Iya, aku juga tidak mau mengganggu Daddy, jadi aku jalan-jalan sendirian.”


Embusan napas kasar terdengar dari mulut Karan. Ia mengamati sekelilingnya, tapi tidak ada orang yang terlihat sedang mencari Luca. Ia bisa saja mengantarkan Luca langsung ke tempat di mana Edgar berada, tetapi ia ingin meminta pendapat pada bocah itu terlebih dahulu. “Kau mau Paman antarkan ke tempat Daddy atau mau Paman temani jalan-jalan?”


“Paman tidak sibuk?” Luca bertanya lagi, namun matanya menatap Karan dengan berbinar seolah-olah berharap Karan akan memberikan jawaban yang diinginkannya.


Bibir Karan tersenyum. “Tidak, Paman sedang tidak sibuk sekarang. Jadi, kau mau pilih yang mana?”


Sambil memegang tali tas kecilnya, bibir Luca bergerak, “Kedua. Aku mau jalan-jalan.”


“Oke!” Karan mengujurkan salah satu tangannya ke arah Luca yang langsung digenggam oleh bocah itu. Sayangnya baru beberapa meter melangkah, Luca nyaris terjatuh karena tidak bisa mengimbangi langkah Karan yang lebar. Maklum selama ini Karan selalu berjalan dengan terburu-buru. Waktu adalah uang baginya. Tidak ada saat di mana ia bisa melangkah pelan ketika sedang berada di luar rumah. Apalagi Karan tidak pernah menemani seorang anak kecil berjalan-jalan secara intens. Ia memang sering berkunjung ke panti asuhan, tetapi tidak terlalu sering berinteraksi lebih lama dengan anak-anak di bawah usia 10 tahun. Jadi, Karan benar-benar minim berinteraksi dengan anak-anak sehingga terasa begitu canggung saat berhadapan dengan Luca.


Menyadari kesalahan itu, Karan berhenti bergerak. Ia membungkuk dan menggendong Luca. “Pegangan yang erat supaya kau tidak terjatuh lagi,” ungkapnya pada sang anak.


Anehnya meskipun jarang berinteraksi dengan anak-anak, Karan tidak tampak mengerikan bagi Luca. Bocah itu terlihat bisa dekat dengan semua orang dan mudah bergaul. Awalnya proses perkenalan mereka memang terbilang sulit, tetapi setelah bertemu lagi, Luca malah terlihat nyaman bersama Karan.


“Jadi, kita akan jalan-jalan ke mana?” Karan bertanya lagi.


“Beli es krim,” jawab Luca dengan antusias.


“Kau tahu di mana tempatnya?”


Luca menganggung cepat. “Iya, aku sering ke sana bersama Daddy dan Mommy.”


Karan menghubungi Edgar sebanyak dua kali, namun tidak diangkat. Namun setelah menghubungi ketiga kalinya, barulah ayah dari Luca itu menjawab. “Hallo Pak, maaf mengganggu, saya hanya ingin bilang kalau Luca ada bersama dengan saya. Kalau Anda tidak keberatan, saya akan menemani Luca membeli es kirim.”


“Luca ada di sana? Bersama Anda?” Terdengar suara embusan napas panjang dari ujung panggilan. Seperti orang yang sedang panik akan sesuatu. Karan benar dengan tebakannya. Edgar akan panik saat putranya menghilang dari padangannya, sama seperti yang dirasakan oleh orang lain. Keputusan Karan menghubungi Edgar memang sangat tepat. Lalu, Edgar menyambung ucapannya. “Syukurlah. Saya sempat panik mencarinya ke mana-mana. Tidak apa-apa Pak. Saya minta tolong untuk menitip Luca sebentar bersama dengan Anda.”


“Iya Pak. Saya akan segera mengirimkan lokasi tempat kami membeli es krim pada Anda.”


Usai Karan memutuskan sambungan teleponnya, ia langsung mengajak Luca ke tempat favorit bocah itu. Mereka memesan dua es krim untuk makan di tempat. Karan meletakkan Luca di salah satu kursi yang ada di depannya sambil berbicara dengan bocah itu.


“Apa Paman sudah menikah?” Luca mendadak berbicara sambil menjilat es krimnya.


Karan mengangguk. “Ya, Paman sudah pernah menikah,” ucap pria itu jujur. Ia bisa membohongi banyak orang di dunia tentang pernikahannya, tetapi ia tidak akan bisa berbohong pada seorang bocah. Nyatanya Karan memang pernah menikah meskipun ia sudah bercerai sekarang.


“Kenapa Paman tidak bawa istri Paman ke sini?”


Jantung Karan bergemuruh. Hatinya mendadak teriris. “Karena kami sedang berpisah.”


“Kenapa? Apakah Paman bertengkar dengan istri Paman?”


Karan tersenyum kikuk. Biasanya ia tidak suka membicarakan hal-hal pribadi tentang pernikahannya, namun kepada Luca ia bisa sedikit terbuka. “Ya, kami banyak bertengkar.”


“Ini!” Luca mendadak memberikan sendok yang berisi es krim cokelatnya ke dekat bibir Karan.


Pria itu mengernyit bingung. “Kenapa kau memberikan es krimmu pada Paman?”


“Karena Paman terlihat sedih. Aku tidak tahu bagaimana cara menghibur Paman, tapi kalau Mommy menangis, Daddy sering memberi cokelat pada Mommy.”


Anak yang begitu polos dan lugu. Anak-anak yang hanya memikirkan dan melakukan apa saja yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya termasuk oleh orang tuanya. Sekali lagi suasana itu membuat Karan berandai-andai. Seandainya anaknya dengan Raya masih hidup, mungkin ia akan semanis Luca. Atau bahkan lebih manis mengingat betapa manisnya Raya dulu sewaktu remaja. Hal itu membuat Karan iri pada Edgar karena rekan kerjanya itu bisa mendapatkan seorang putra yang begitu pandai dan menggemaskan seperti Luca.


“Terima kasih, Paman merasa sangat terhibur karenamu,” tukas Karan tulus. Luca memang bocah yang ajaib. Dengan kata-kata sederhananya saja sudah membuat keadaan Karan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Apalagi Luca adalah satu-satunya orang yang bisa menyadari kepedihan yang ada di hati Karan. Kepedihan yang selalu disembunyikan pria itu dari orang lain.


Luca menarik bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman cerah. “Iya, sama-sama Paman. Aku harap Paman bisa cepat berbaikan dengan istri Paman. Karena Mommy bilang, kita tidak boleh terlalu lama bertengkar karena itu tidak baik. Kalau kita salah, kita harus cepat-cepat meminta maaf supaya tidak bertengkar lagi,” nasihat bocah itu yang membuat hati Karan terenyuh.