Lies

Lies
Kesalahan Besar



Raya bergidik saat baju mandinya pelan-pelan naik ke atas, memperlihatkan pahanya yang mulus. Karan berada di atasnya, mengecupi dan menggigit lembut daun telinga Raya, mengisap leher wanita itu lalu membiarkan tangannya menjelajah di atas tubuh sintal itu.


“Kau tidak memberontak lagi, Sayang? Sekarang kau sudah pasrah menerima nasibmu di tanganku?” bisik Karan di telinga istrinya. Dengan menggunakan satu tangan Karan mengangkat tubuhnya dari tubuh Raya agar bisa melihat wajah istrinya lebih dekat. Rambut panjang yang basah ditambah handuk kimono yang terbuka membuat sekujur tubuh Karan berdesir. Pria itu bahkan perlu menjilat bibirnya yang mendadak terasa kering.


“Aku tahu. Ini salahku. Maafkan aku, Karan. Aku mohon. Kita lakukan dengan cara yang biasa ya? Aku tidak akan lari darimu. Aku janji.” Raya memohon-mohon, sebab ia sudah tidak sanggup menerima perlakukan kasar Karan. Tangannya yang terikat mulai terasa sakit, dan rasa sakit itu semakin menjadi-jadi tiap ia bergerak. Masalahnya, meskipun Raya mencoba untuk tidak bergerak, tubuhnya tidak akan bisa diam saat Karan menyentuhnya. Memberikan rangsangan stimulus yang mendebarkan bagi Raya.


Astaga, Raya menangis! Bahkan Karan belum memulai apa pun tetapi istrinya itu sudah berderai air mata. Di satu sisi, Karan merasa senang. Seperti inilah yang ia inginkan dalam rencana balas dendamnya. Membuat sang super model menangis dalam kekuasaannya. Apalagi wajah Raya yang basah karena air dari rambutnya dan terkena air mata terlihat sangat seksi. Begitu menggairahkan hingga mengirimkan sentakan sensual ke tubuh Karan.


Raya begitu menggiurkan, dan Karan sangat menginginkannya. Inti miliknya sudah menegang, berontak keras kepadanya agar cepat dikeluarkan dari tempatnya. Dan ketika kaki-kaki jenjang Raya tak sengaja menyentuh miliknya, Karan akan mengerang kencang. Mengumpat sambil menyebutkan betapa ia mencintai Raya.


“Jangan menangis Sayang. Atau kau akan membuatku semakin ingin menyiksamu,” ungkap Karan jujur. Semakin Raya menangis, iblis di dalam hati Karan akan semakin bahagia. Sebaiknya Raya bertahan saja dan tidak melakukan apa-apa selayaknya patung. Karena Karan tidak akan mau berhubungan badan dengan wanita yang begitu pasrah sekalipun wanita yang ada bersamanya adalah Raya. Kalau itu dilakukannya, itu seperti meniduri mayat atau boneka. Sama sekali tidak memuaskan.


Lidah Karan menjulur, mulai menjilat sudut-sudut mata Raya untuk menyeka air yang jatuh dari sana. Yang tidak ia sadari adalah sesuatu yang muncul dalam hatinya. Seperti rasa kekecewaan. Sebenarnya kepada siapa Karan kecewa? Dan apa penyebabnya? Apakah karena ia membuat Raya menangis? Jadi, ia kecewa pada dirinya sendiri?


Karan tertawa dilingkupi setengah kemarahan dan setengah bergairah. Tapi ia tidak akan pernah menyerah. Sekarang bukan saatnya ia bersikap melankolis. Raya ada di dalam dekapannya. Sudah seharusnya Karan menuntaskan apa yang sudah ia mulai. Ini juga bentuk hukuman pada Raya agar wanita itu tidak berpikiran macam-macam dengan laki-laki lain.


Tangan Karan dengan lihai membuka handuk kimono Raya. Pria itu berdecak kagum melihat pemandangan yang ada di bawahnya. Bukan pertama kali Karan melihat tubuh seorang wanita tanpa busana, bahkan ini juga bukan pertama kalinya Karan mendapati istrinya tidak berpakaian. Hanya saja Karan tetap merasa senang melihatnya. Ia menggeram kasar untuk mencoba menetralkan desiran cepat di dalam darahnya.


Ketika Karan membuka celananya, Raya dalam upayanya untuk melepaskan ikatan dasi yang membelenggu tangannya. Ia tahu itu percuma, tapi setidaknya ia harus melakukan sesuatu daripada hanya sekadar pasrah menerima segalanya. Meskipun sebentar, meskipun hanya sedikit saja, Raya berharap ia bisa melarikan diri dari Karan malam ini.


“Percuma Sayang, ikatan dasiku lebih kuat dari tulang-tulangmu yang kecil itu. Jadi, kalau kau masih berusaha melepaskannya, aku rasa tanganmulah yang akan patah.” Karan melontarkan ucapan itu dengan santainya. Tanpa rasa bersalah ataupun iba sama sekali seolah-olah melukai Raya adalah hal biasa. Karan juga seperti tidak masalah seandainya Raya kehilangan tangannya. Selama Raya masih ada di sisinya, seperti apa pun bentuk Raya, Karan akan selalu menerima wanita itu.


Tanpa menunggu lagi, setelah memasang alat pengaman pada miliknya, Karan menempelkan pinggulnya di pinggul Raya. Handuk kimono yang tidak terlepas sempurna dari tubuh Raya tidak mengganggu aktivitas Karan. Permukaan kulitnya merasakan kehangatan dari tubuh Raya. Saat ia bergerak, suara serak Raya mulai terdengar. Padahal istrinya sedang merintih, tetapi Karan menganggap suara itu seperti lantunan lagu indah di telinganya.


“Ssstt, tidak apa-apa Sayang. Ini hanya sebentar saja. Setelah ini kau tidak akan merasa sakit lagi. Aku berjanji padamu,” kata Karan sembari mengelus puncak kepala Raya sembari mengecupi pipi sang istri. Karan harus menurunkan intensitas gerakannya agar Raya bisa menyusaikan diri dengannya. Ini diperlukan untuk mengurangi rasa sakit Raya. Karan memang berniat membalas dendam, namun ia tidak berniat melakukannya saat tubuh mereka menyatu. Setidaknya dalam hubungan ini, Karan ingin Raya menikmatinya sebanyak yang pria itu rasakan.


“Sudah lebih baik, hm?” tanya Karan lagi sembari merosot turun sedikit. Ia perlu menyentuh bagian sensitif Raya agar bisa menyenangkan sang istri. Dan bagian itu terletak pada dadanya. Karan memanjakan bagian tersebut dengan lembut, secara bergantian dari mulut dan tangannya. Setelah tubuh Raya dirasa tidak menegang lagi, Karan melanjutkan aksinya.


“Karan, lepaskan tanganku. Aku mohon,” tukas Raya lagi masih mengais belas kasihan dari suaminya.


Sayangnya Karan seperti menulikan telinganya. Alih-alih menuruti permintaan Raya, Karan malah menekankan kaki di antara tubuh Raya dan menaikkan intensitas gerakan tubuhnya. Sesekali seringai tercetak di bibirnya karena ia sangat menyukai bagaimana mantan pemenang kontes kecantikan itu menggeliat-geliat karena putus asa.


Tenaga Raya terkuras habis. Tangannya masih terikat meskipun ia sudah meronta-rontak untuk melepaskan diri. Bahkan, Karan menambah rasa sakit di tangannya dengan sesekali mencengkram ikatannya hingga membuat air matanya mengucur deras. Yang paling dibenci Raya adalah ketika tubuhnya berkhianat padanya. Ia mengerang saat Karan melesak masuk dalam tubuhnya. Dan mendesahkan nama Karan dengan keras saat pria itu bergerak di atas tubuhnya. Karan membuatnya gila akan dua hal, yakni rasa sakit dan kenikmatan yang diberikan secara bersamaan.


Nadi yang berdenyut semakin kencang di leher Raya membuat Karan memperlambat temponya. Tubuh sang istri sangat rapuh, ia takut akan hancur begitu saja jika ia terlalu bersemangat. Ada kalanya ia harus bersabar supaya Raya tidak terlalu menderita. Supaya wanita itu tidak jatuh pingsan setelah pergulatan panas ini.


Saat tenaga Raya sudah dirasa pulih, Karan bergerak lebih cepat. Ia merasa otot-otot paha Raya menghimpitnya dengan kencang. Sepertinya istrinya akan mencapai puncaknya. Karan pun berusaha agar bisa meraih kenikmatan itu di saat yang bersamaan. Ia tidak ingin meninggalkan Raya atau merasa ditinggalkan dalam hal apa pun, termasuk saat mencapai puncak gairah mereka.


“Raya, istriku sayang, aku mencintaimu,” ungkap Karan di atas wajah Raya usai pelepasannya. Ia merasakan reaksi Raya. Napas istrinya yang lembut dan cepat menerpa bibirnya seperti kapas yang ringan. Karan mengecup bibir Raya, menggigitnya pelan, lalu menciumnya. Tidak ada yang Raya lakukan kecuali menangis.


Mungkin sekitar setengah jam Karan terbaring di atas ranjang sebelum ia tersadar. Karan bangun dan melihat tubuh istrinya yang cukup mengenaskan. Di sekujur tubuhnya dipenuhi jejak-jejak gairah Karan. Yang lebih mengerikan adalah Karan lupa melepaskan ikatan dasinya pada tangan Raya. Alhasil, kedua tangan itu mulai lecet dan memerah.


Dengan cepat Karan melepaskan dasinya. Kemudian, ia memindahkan tubuh Raya ke bak di kamar mandi. Pria itu melakukannya dengan sangat pelan dan berhati-hati agar tidak mengganggu tidur Raya. Ia ingin membersihkan tubuh Raya tanpa membangunkan wanita itu.


Saat membaringkannya ke dalam bak, Raya menggeliat. Bulir-bulir keringat berjatuhan dari keningnya dan tubuhnya tiba-tiba gemetar. Dalam keadaan mata terpejam, Raya pun bergumam, “Mama, tolong. Raya takut. Raya sangat takut, Ma. Raya sudah melakukan kesalahan besar. Raya takut.”