
Karan terperangah mendengarnya. Di tempat seluas itu Karan mengira ia sedang berada di tempat yang begitu kecil dan sempit hingga semua mata seakan sedang memandang ke arahnya. Karan merasa seolah-olah sedang menjadi pusat perhatian yang tentu saja memberikan rasa penekanan yang begitu besar padanya. Ia tidak menyangka. Bagaimana mungkin ia tahu Raya akan mengatakan kalimat sepenting itu saat mereka hendak menjemput putra mereka? Apalagi sekarang mereka sedang berdiri di tengah-tengah antara taman menuju ke tempat parkir. Jika merujuk ke sesuatu yang romantis, jelas sekali ini bukan hal yang romantis. Melamar seseorang di tempat parkir bukanlah sesuatu yang baik untuk dilakukan.
Yang paling penting adalah pernyataan itu terlalu mendadak. Menggambarkan bahwa Raya membuatnya sangat terburu-buru. Wanita itu seperti sedang dikejar-kejar sesuatu sehingga ia perlu melakukannya sekarang agar semuanya kembali normal, termasuk mengajak Karan untuk berhubungan kembali dengannya. Raya seolah-olah berpikir bahwa Karan akan menghilang seandainya ia tidak bergerak cepat. Seolah-olah akan ada wanita yang merebut sang mantan suami dalam waktu dekat.
Wanita yang menginginkan Karan memang banyak walaupun usia Karan Reviano secara administrasi sudah 35 tahun. Sekalipun suatu saat nanti Karan mengumumkan Luca sebagai anak kandungnya dan bagian dari keluarga Reviano, Karan rasa itu tidak akan mengurangi keinginan mereka untuk mendekatinya. Sayangnya Karan tidak berpikiran hal yang sama. Pria itu selalu teguh pada komitmennya untuk mencintai Raya. Baginya tidak ada seorang wanita pun yang pantas mendampinginya selain sang mantan istri. Jadi, Raya tidak perlu melakukan ini. Raya tidak perlu terburu-buru dengan semuanya.
Sepertinya apa yang dipikirkan Karan tidak sampai ke Raya. Alih-alih menghentikan apa yang dilakukannya sekarang, ia justru melanjutkan keinginannya tersebut. “Apa kau terkejut? Oh, ya, kau pasti terkejut karena aku mengatakannya secara mendadak. Tapi aku serius Karan. Aku benar-benar ingin kembali denganmu. Aku ingin kita rujuk. Kalau perlu, kita bisa melakukan acara pernikahan di sini. Itu tidak akan lama. Aku akan meminta bantuan Edgar untuk mengurus segalanya. Kau hanya tinggal—”
“Raya!” Karan menghentikan ucapan Raya dengan sekali berbicara. Saat Raya sudah sepenuhnya menghentikan perkataannya itu barulah Karan menyambung kalimatnya. “Hentikan semua ini ya? Jangan mengatakan hal seperti tadi lagi sekarang.” Maksudnya hal itu adalah hal yang sangat penting bagi mereka. Pernikahan bukanlah hal yang mudah yang bisa diungkapkan di tempat terbuka seperti ini. Mereka butuh tempat privat agar pembicaraannya bisa diterima dengan baik. Terlebih mereka pernah mengalami kegagalan membangun rumah tangga sekali karena tindakan gegabah mereka yang buru-buru mengadakan acara pernikahan.
Akan tetapi, maksud baik Karan tampaknya disalahartikan oleh Raya. “Kenapa? Apa kau tidak mau bersama denganku lagi? Kau tidak mau menikah denganku?”
Napas Karan terasa sesak mendengar penuturan sang mantan istri. Ia mengamit tangan wanita itu dan menggenggamnya. “Raya, itu tidak mungkin. Kau tahu perasaanku kepadamu. Tentu saja aku ingin kita kembali lagi seperti dulu. Aku mau menikahimu. Tapi Raya, kita harus membicarakan ini dengan baik di tempat yang baik juga. Lagi pula, apakah kau menikah denganku lagi karena kau benar-benar mencintaiku atau semuanya ini hanya karena Luca? Kau harus memikirkannya pelan-pelan.”
“Memangnya kenapa kalau ini demi Luca? Luca itu putra kita, tentu aku memikirkan kebaikannya.”
“Ya, itu pasti. Tapi Raya, aku tidak mau kita menikah lagi hanya demi Luca karena dengan atau tanpa menikah, tidak ada satu pun orang yang bisa memisahkan aku dengan putraku. Aku akan bertanggung jawab padanya. Padamu juga. Luca akan tetap menjadi anakku satu-satunya meskipun kita tidak menikah.” Ucapan Karan itu membuat Raya tersentak bukan main. Wanita itu bahkan sampai menangis mendengarnya. Dengan cepat Karan menghapus air mata wanita itu.
“Jangan menangis Raya. Ini benar-benar bukan seperti yang kau pikirkan. Aku bersedia menikah denganmu kapan saja bahkan di tempat ini juga tidak masalah. Tapi aku menikahimu murni karena rasa cintaku padamu, bukan hanya karena kehadiran Luca. Kita sudah pernah menikah dan bercerai. Raya. Kita butuh alasan yang sangat kuat untuk pernikahan kita nanti supaya apa yang terjadi di masa lalu tidak terulang kembali. Kau tidak mau berpisah lagi denganku dua kali ‘kan? Jadi aku mohon pikirkan hal ini pelan-pelan dan dengan pikiran yang jernih. Sampai saat itu terjadi, aku akan selalu menemanimu,” ujar Karan menyambung ucapannya.
Raya memang merasa kecewa, tapi ada sesuatu yang membuatnya merasa lega. Benar apa yang dikatakan Karan. Pernikahan bukanlah suatu permainan. Ia tidak bisa melakukan hal yang sama seperti di masa lalu ketika ia memutuskan ingin menikah hanya demi sebuah popularitas. Bahkan saat itu Raya tidak masalah menikah dengan siapa pun selama pria itu punya kekuasaan dan kekayaan. Dengan alasan yang sama pulalah Raya memutuskan menerima lamaran Karan dan menikahi pria itu tepat seminggu saat ia memutuskan membatalkan pernikahannya dengan Varen. Karena alasan pernikahan selemah itulah yang membuat mereka tidak bisa mempertahankan pernikahan mereka.
“Iya, aku mengerti. Aku akan memikirkannya lagi,” tutur Raya pada akhirnya.
Karan tersenyum. Ia mengusap tangan Raya dengan lembut. “Aku senang kau mengerti, Raya. Sekarang kita juga masih punya tugas yang sangat berat, yaitu menjelaskan posisiku kepada Luca. Tidak mungkin kita menikah lagi tanpa memberi tahu Luca kebenarannya ‘kan? Kau tahu aku pria yang posesif. Aku tidak mau Luca menganggap orang lain sebagai ayah kandungnya padahal aku masih hidup.”
“Sekarang, ayo kita susul Luca. Jangan biarkan dia menunggu lama karena aku rasa dia akan marah besar pada kita.” Karan mengajak sang mantan istri. Tanpa melepaskan genggaman tangannya, pria itu membawa Raya ke tempat Luca berada. Namun saat benar-benar berada di dekat Luca, Karan melepaskan tangannya dari tangan Luca. Selama ini Luca berpikir Raya dan Edgar adalah orang tua kandungnya. Anak itu tidak akan bisa menerima dengan mudah saat melihat pria asing berada di tengah-tengah keluarga kecilnya. “Apa kau tidak bisa menemukan mobil Paman?” tanya Karan kepada Luca yang terlihat kebingungan di tempat parkir.
Luca terkejut, ia segera membalik badannya ke arah Raya dan Karan. “Iya, aku tidak tahu yang mana mobil Paman.”
Karan mengeluarkan kunci kontaknya dan menekan sebuah tombol yang membuat mobilnya berbunyi. “Itu dia!” seru Karan.
“Oh iya itu!” seru Luca lagi. “Ayo Paman! Aku akan duduk di samping Paman untuk menemani Paman menyetir.”
“Wah, kau baik sekali. Terima kasih sudah mau menemani Paman,” balas Karan sembari menepuk puncak kepala Luca dengan penuh rasa sayang.
*****
Setelah makan siang itu, Raya mengajak Karan ke tempat tinggal mereka di Milan. Mereka tinggal di sebuah apartemen yang ada di pusat kota. Memang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman bagi mereka. Hanya tempat itulah yang dulunya bisa Raya bayar sewanya setiap bulan karena biayanya terbilang cukup terjangkau dengan kondisi Raya yang pas-pasan. Namun saat ia sudah kembali mendapatkan popularitasnya dan bisa membayar apartemen yang lebih baik, Raya tetap tidak ingin pindah dari sana. Ia sudah terlalu nyaman tinggal di sana, Luca juga merasakan hal yang sama. Sehingga mereka memutuskan akan selalu berada di sana selama tinggal di Milan.
Padahal Karan baru pertama kali berada di apartemen itu, tapi ia merasa seolah-olah sudah tinggal di sana selama bertahun-tahun. Ia familier dengan tempat itu dari cara Raya menata perabotan yang ada di sana. Raya punya kebiasaan yang unik, wanita itu selalu menyusun segala sesuatu berdasarkan ukurannya. Itulah sebabnya buku-buku yang ada di rak disusun bukan bersarkan urutan abjad seperti di perpustakaan, namun berdasarkan ukuran besar dan kecilnya ukuran buku tersebut. Hal yang sama dengan suasana rumah Karan sekarang karena pria itu tidak pernah memindahkan satu barang pun sejak Raya meninggalkan rumahnya.
Tidak hanya sekali Karan mengunjungi apartemen Raya. Setelah pulang ke Jakarta untuk mengurus semua pekerjaannya, Karan kembali lagi ke Milan bertemu dengan Raya dan Luca. Kali ini ia sudah mempersiapkan segalanya sehingga ia bisa berada di Milan jauh lebih lama dari sebelumnya.
Hingga tibalah saat di mana Karan dan Raya akan menjelaskan keadaan mereka yang sesungguhnya kepada Luca. Setelah memikirkannya secara matang, Raya akhirnya mengerti alasannya ingin menikah dengan Karan. Bukan hanya karena Luca, ia benar-benar ingin menikahi Karan lagi karena ia mencintai pria itu. Ia tidak bisa membiarkan Karan menghilang dari kehidupannya karena membayangkannya lagi membuatnya begitu menderita. Usai mengatakan hal itu kepada Karan, mereka pun memutuskan untuk menikah lagi. Tentunya setelah menjelaskannya pada putra mereka.
“Luca, sebenarnya Paman Karan adalah ayahmu. Ayah kandungmu.” Begitu Raya memulai ucapannya. Ternyata menyampaikan hal itu sangatlah sulit. Bahkan ia juga mengundang Edgar ke rumahnya agar membantunya menjelaskan kepada Luca. Namun saat kalimat itu baru keluar dari bibir Raya, raut wajah Luca langsung berubah. Ia terlihat tidak senang mendengarnya.
“Begini Sayang, Daddy memang ayahmu, tapi Daddy bukan ayah kandungmu. Paman Karan dan Mommy pernah menikah, lalu mereka berpisah sebentar. Kau tahu kalau Paman punya masalah dengan istrinya ‘kan? Mommy-lah istri dari Paman Karan.” Edgar mencoba membantu menjelaskan kepada Luca. Sayangnya bocah itu masih menunjukkan ketidaksukaannya. Pelan-pelan matanya memerah dan ia pun akhirnya menangis sedih.