Lies

Lies
Mengutukmu



Gerakan itu terus dilakukan Raya, memukuli Karan hingga ia menghabiskan semua tenaganya. Tapi apalah daya seorang Raya saat berhadapan dengan tubuh keras milik Karan. Seberapa sering pun Raya memukulnya atau bagaimana pun cara Raya memukul tubuhnya, sang suami tidak akan merasa kesakitan. Pria itu punya ketahanan tubuh yang bagus. Entah kapan ia membentuk postur tubuhnya, yang pasti Raya tahu seberapa bagusnya tubuh sang suami.


“Apa kau sudah puas, Sayang? Kau membuatku basah,” komentar Karan begitu melihat Raya sudah tidak lagi memukuli dadanya. Baju Karan memang basah, bukan karena keringat tapi karena cipratan dari ujung-ujung rambut cokelat kehitam-hitaman yang lurus milik Raya, yang membasahi baju Karan seperti cipratan hujan.


“Kau ... apa sebenarnya maumu, hah?”


“Apa mauku?” Karan mendengus sembari tertawa. Ia menahan kedua tangan istrinya dengan satu tangan, lalu tangan yang lain sibuk membuka kancing-kancing kemejanya sendiri. “Kau tahu apa yang aku inginkan, Sayang. Kau selalu tahu tentang itu.”


“Tidak. Aku tidak tahu. Sama sekali tidak tahu.” Sambil menghindar dengan gerakan cepat, Raya duduk di atas ranjang. Dadanya turun naik karena emosi. Ia masih tidak habis pikir dengan apa yang Karan lakukan. Hanya karena cemburu, pria itu menghancurkan pekerjaan orang lain, terlebih pekerjaan teman seperjuangan Raya. Di mana Raya menaruh wajahnya ketika berhadapan dengan rekan satu agensinya itu?


Karan masih melepaskan kemejanya tetapi matanya terus terarah pada tubuh Raya. Karan sangat menikmati pemandangan itu, juga bagian atas tubuh Raya yang dilihatnya sepintas lalu sebelum wanita itu berhenti memukulinya. Bagaimanapun, pikiran Karan tidak akan bisa lepas dari kebutuhan biologisnya, apalagi saat melihat tubuh istrinya yang seolah dirancang untuk membuat Karan tergoda agar menghabiskan waktu dengan menjelajahi lekuk-lekuk yang ada di sana.


“Kau seharusnya tidak menyentuh teman-temanku, Karan. Mereka tidak bersalah sama sekali,” tukas Raya sedih. Teman-teman yang dimaksudkan Karan bukan hanya rekan kerja yang baru saja kariernya hancur dibuat Karan, tetapi juga sang manajer yang mendapatkan ancaman dari pria itu. Sejak menikah, rasanya Raya seperti terputus dengan dunia luar, dengan teman-temannya dan pekerjaannya. Ia seperti dibuat terkurung oleh Karan bak seekor burung yang dikurung di dalam sangkar dan hanya boleh dilihat oleh tuannya saja.


Sorotan dingin di mata Karan kembali dilihat Raya, yang membuat tubuhnya gemetar tanpa sebab. “Kau yang membuatku seperti ini, Sayang. Kau yang membuatku melakukan hal-hal nekat. Seandainya kau tidak membantahku, mereka juga tidak akan terluka.”


Ada nyala api amarah dalam diri Raya yang membuat tubuhnya berhenti gemetar. Sambil membalas pandangan dingin sang suami dengan sorotan mata penuh kemarahan, Raya mendesak lagi, “Sebenarnya apa maumu?”


“Menyiksamu.” Karan bergumam sangat kecil yang tidak bisa terdengar oleh telinga Raya. Begitu kata itu terucap, ada sengatan kecil yang tidak mengenakan menyerang hatinya. “Aku ingin kau mendengarkanku dan menurutiku. Itu saja. Dan setiap pemberontakanmu akan ada akibatnya, Sayang. Kau akan melihat orang-orangmu terluka karenamu.” Karan menekankan kalimatnya dengan sengaja dan puas saat melihat Raya bergidik ngeri mendengarnya.


“Berengsek! Kau pria berengsek yang kunikahi!” umpat Raya sambil menarik napas keras. “Kenapa aku bisa terjerat olehmu, berengsek?”


Apakah Raya baru saja mengumpatinya? Sialan, sepertinya itu memang benar. Entah sejak kapan Raya suka mengumpat, tapi wanita itu tidak pernah mengutuknya seperti ini. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir seksi itu. Lalu, mengapa Raya mengumpatnya? Dari mana sang istri mendapatkan keberanian itu?


Pasti dari model sialan itu! Seharusnya Karan tidak hanya menghancurkan karier laki-laki itu, tapi juga menghabisinya. Padahal baru satu hari Raya berada di luar pengawasannya. Baru sehari Raya kembali ke pekerjaannya, dan wanita itu sudah berani berbicara selancang ini. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi jika ia tetap membiarkan Raya bekerja. Mungkin wanita itu akan meninggalkannya seperti dulu.


Karan bergerak mendekati Raya, mengerahkan gelombang kemarahannya yang begitu besar hingga membuat matanya tampak mengerikan. Ia menunduk dan menatap sang istri yang tengah duduk di atas ranjang. Harus diakui bahwa Raya benar-benar berusaha menyimpan ketakutannya sekarang. Meskipun tubuh kecilnya itu terguncang, tetapi sorotan matanya tetap menyalak membalas tatapan Karan.


Raya tersentak seperti tersadar atas apa yang baru saja ia lakukan. “A-apa maksudmu?”


Tangan kanan Karan menyentuh dagu Raya sambil berbicara, “Padahal kau tahu aku sangat mencintaimu. Rasa cintaku ini memaksaku untuk tidak menyakitimu. Tapi Sayang, kesabaranku tidak sebesar itu. Kau sudah melewati batasanmu.” Belum sempat Raya menanggapi ucapannya, dengan gerakan cepat Karan menjatuhkan tubuh Raya di atas ranjang.


Perbuatan Karan itu menimbulkan sengatan nyeri pada Raya, khususnya di bagian kedua tangannya yang kini digenggam erat oleh Karan. “Ba-baiklah. Aku salah, Karan. Maafkan aku,” kata Raya terbata-bata.


Karan merendahkan wajahnya dan menggigit bahu Raya hingga membuat wanita itu memekik kesakitan. “Aku senang kau menyadari kesalahanmu, Sayang. Tapi ini sudah sangat terlambat. Aku tidak bisa menghentikan kemarahanku sekarang.”


“Aku benar-benar tidak mengerti apa sebenarnya salahku, Karan. Kenapa kau selalu memperlakukanku seperti ini?” Air mata turun membasahi sudut mata Raya, membuat Karan yang tengah mengecupi pipinya merasakan air mata itu.


Karan mengangkat wajahnya agar bisa melihat wajah Raya lebih leluasa. “Kesalahanmu ya? Ada banyak. Sangat banyak Raya. Aku bahkan tidak bisa menghitungnya satu per satu.”


Mulai dari meninggalkannya 12 tahun lalu, dan Raya pun melupakannya. Itu terbukti dari bagaimana cara Raya hidup selama ini. Tidak ada satu pun rasa menyesal yang terlihat dari wanita itu. Raya menjalani kehidupannya seolah-olah tidak ada yang terjadi pada masa lalunya. Sementara Karan harus berjuang antara hidup dan mati selama ini. Semua karena Raya, karena perbuatan wanita itu sehingga Karan harus menanggung akibatnya.


Selalu ingatan akan masa lalu membuat Karan gelisah. Keinginannya untuk membalaskan semua penderitaan 12 tahun lalu, membuat Karan gelap mata. Ia ingin menyiksa Raya dengan cara apa pun. Ia ingin membuat wanita itu menangis dan menjerit lebih keras seperti yang pernah dilalui Karan selama ini. Raya harus merasaka penderitaan itu agar Raya berhenti untuk memberontak darinya.


Karan beranjak dari tubuh Raya, tapi bukan untuk melepaskan wanita itu. Karan justru menarik kedua tangan Raya hingga ke bagian atas tempat tidur. Kemudian, dengan menggunakan dasi yang telah ia bawa dari rumah, Karan mengikat tangan Raya ke tiang bagian bawah tempat tidur.


Raya memberontak, berusaha melepaskan diri sambil menangis. “Kalau kau melakukan ini, aku akan berteriak, Karan. Cepat atau lambat orang-orang di sini akan mendengarnya. Dan kau akan tertangkap karena menyiksa istrimu sendiri.”


Bukannya merasa takut, Karan justru menyeringai. Pria itu pun mengelus pipi Raya dengan punggung tangannya. “Ancaman yang sangat manis, Sayang. Apa kau pikir suamimu ini datang tanpa persiapan, hm? Kalau kau mau, kau bisa berteriak sesukamu. Aku jamin tidak akan ada satu pun orang yang mengganggu kesenangan kita. Kau tahu kenapa? Karena aku sudah menyewa seluruh kamar yang ada di lantai ini.”


Ini kesalahan besar. Raya benar-benar sudah salah melangkah. Tidak seharusnya ia menyulut kemarahan Karan. Atau seharusnya ia tidak menerima tawaran menjadi juri acara televisi itu. Dengan begitu ia tidak akan melihat kegilaan Karan dan bagaimana pria itu meluapkan kemarahannya.