Lies

Lies
Pesan Singkat Mencurigakan



Untung saja semuanya berlangsung normal meskipun di awal Raya sempat kebingungan perihal kisah sang ayah. Raya cukup profesional untuk melanjutkan pekerjaannya. Memang benar ia tidak mengenal orang tuanya, terutama sang ayah, tetapi Raya masih bisa menggambarkan bagaimana kerindungan terhadap sosok ayahnya. Wanita itu mencari tahu sendiri dengan melakukan riset sederhana. Pertama, ia menonton televisi dan membaca beberapa artikel. Cukup memberikan sedikit gambaran tapi tidak sepenuhnya membantu. Raya akhirnya mengandalkan pengalaman orang lain, ia pun bertanya kepada suaminya.


“Hubunganku dengan Papa?” Karan mengernyit aneh. Ia tidak habis pikir mengapa sang istri mendadak bertanya perihal hubungannya dengan sang ayah. “Kenapa tiba-tiba kau bertanya itu?” tanyanya sembari berjalan menghampiri Raya yang sedang berada di atas ranjang. Malam ini Karan memutuskan untuk tidur bersama istrinya. Walaupun mereka tidak melakukan hubungan suami-istri karena kesehatan Raya sedang tidak membaik, tetapi Karan tetap memutuskan untuk tidur bersama sang istri. Menjaga wanita itu dan berada di sisinya adalah keinginan terbesar Karan. Sayangnya ia harus tidur di kamar yang terpisah beberapa kali demi menjaga diri. Pasalnya, Karan selalu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyerang Raya.


Raya meletakkan ponselnya di atas nakas untuk menyambut suaminya. Ia bergerak mendekatkan diri saat Karan sudah berada di sampingnya. Belakangan ini Raya sangat suka berdekatan dengan Karan. Ini sungguh aneh mengingat hubungan mereka tidak seromantis itu kendati mereka sudah mulai membuka diri satu sama lain. “Kau ingat iklan parfum yang akan aku kerjakan? Aku mendapatkan peran sebagai seorang anak yang merindukan ayahku, tapi anehnya aku tidak bisa melakukan itu.”


Karan membuka kedua tangannya dan membiarkan Raya menyelinap masuk ke dalam pelukannya. Sikap Raya yang manja sama sekali tidak mengganggu Karan. Justru Karan sangat suka Raya bersikap seperti ini. Rasanya seperti Karan selalu dibutuhkan oleh sang istri. “Tentu saja kau tidak tahu bagaimana rasanya,” celetuk Karan tanpa sadar. Pria itu hanya fokus terhadap aroma segar yang menyeruak dari tubuh Raya sehingga tidak menghiraukan apa yang keluar dari mulutnya.


“Ya?” Raya tersentak, merasa terkejut dengan pernyataan yang baru saja dilontarkan suaminya. “Apa maksudmu?”


“Apa?” Karan justru merasa bingung, kemudian ia tersadar akan kesalahannya. Cepat-cepat ia meralat ucapannya. “Maksudku, kau hanya tinggal bersama dengan bibimu. Wajar kalau kau tidak ingat dengan sosok ayahmu.” Karan mengembuskan napas setelah alasan yang masuk akal baru saja ia ucapkan kepada Raya. Padahal yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. Hubungan Raya dan sang ayah memang sangat buruk. Lebih bisa dikatakan sebagai pelaku dan korban. Di sini Rayalah yang menjadi korban dari kelakuan kasar sang ayah. Jika sudah begitu, wajar jika Raya tidak ingat sama sekali. Sekalipun ingat, Karan akan memilih agar sang istri melupakan kenangan buruk itu selamanya.


“Iya, itulah sebabnya aku sedang mencari cara. Kau sangat dekat dengan orang tuamu, bukan? Bisakah kau menceritakan hal itu?”


Karan tidak langsung menjawab dan memilih untuk membuang wajah. Jujur, ia juga tidak terlalu ingat bagaimana hubungannya dengan orang tuanya dulu. Ia hanya ingat hubungan dengan orang tuanya sekarang. Mungkin saja sepenggal cerita ini bisa membantu sang istri. “Papa itu orangnya sangat baik, jadi aku hidup dengan merasakan kasih sayang dari Papa. Apalagi saat aku kuliah dulu. Sesibuk apa pun, Papa selalu mengunjungiku dengan membawa beberapa makanan khas dari Indonesia. Papa ...”


Karan menceritakan banyak hal tentang sang ayah dan hubungan mereka yang terbilang cukup baik. Hanya saja, Karan hanya menceritakan hubungan masa lalu ketika Karan berada di bangku kuliah. Pria itu tidak menceritakan masa kecilnya, bahkan masa SMA-nya saja tidak seolah-olah kenangan Karan hanya berawal dari masa kuliahnya saja. Hanya ada satu alasan yang Raya pikirkan. Mungkin saja karena Karan menderita penyakit yang membuatnya harus mendekam di dalam rumah sakit sepanjang hari. Dengan suasana yang penuh dengan tekanan seperti itu, walaupun orang tuanya selalu ada menemaninya, Karan akan tetap merasa kesepian. Ia tidak bisa bermain bersama teman-temannya dan hanya berjibaku dengan obat-obatan dan perawatan medis.


“Bagus sekali. Aku suka dengan kedekatanmu dan Papa,” tukas Raya di ujung kalimat Karan. Itu ungkapan jujur karena Raya memang sangat suka mendengarnya. Sekilas, ia bisa membayangkan kedekatan suaminya dengan sang ayah mertua. Kendati tidak bisa terlalu jelas, setidaknya Raya bisa merasakan sedikit kehangatannya. “Kira-kira, kalau nanti kita punya anak, kau akan menjadi ayah seperti apa?” Raya bertanya sebuah pertanyaan yang menyimpang dan itu membuat Karan terkejut.


“Apa? Ayah?” ulang Karan. “Aku ... aku tidak tahu,” jawabnya jujur. Pria itu memang tidak tahu ayah yang seperti apa dirinya kelak seandainya punya anak dengan sang istri. Keluarga Reviano memang merawat dan menjaganya dengan sangat baik. Karan bersyukur mendapatkan keluarga seperti itu. Terlebih ayahnya yang selalu membantunya dan membimbingnya. Bahkan sekarang, sang ayah dengan berani menyerahkan posisi sebagai puncak pimpinan tertinggi perusahaan kepadanya. Masalahnya itu belum cukup memberikan gambaran kepada Karan. Pria itu masih ragu untuk punya anak.


Entah itu hanya sekadar basa basi ataupun kenyataan, tetapi Karan senang mendengarnya. Ia suka saat Raya memuji dirinya dan meletakkan keyakinan pada sosoknya. “Ya, aku rasa aku tidak akan buruk menjadi seorang ayah. Aku juga yakin kau akan menjadi seorang ibu yang baik, Raya. Karena kau adalah istriku,” ungkapnya. Untuk ucapan ini Karan yakinkan bahwa ia tidak sedang basa basi. Raya memang sosok wanita yang pantas menjadi seorang ibu. Itu terbukti di mana Raya sangat dekat dengan anak-anak di panti asuhan. Baik itu sewaktu Raya masih remaja ataupun dewasa. Raya tampak tidak canggung sama sekali ketika berinteraksi dengan anak-anak.


“Jadi, apakah kau ingin punya anak?” Raya bertanya karena merasa penasaran. Kedua matanya memandang parah rupawan sang suami yang sedang menegang. Pria itu tampak begitu ragu untuk menjawab, sepertinya ia tidak terlalu suka dengan usulan itu. “Maksudku nanti, tidak sekarang. Misalnya nanti ketika kita sudah siap, apakah kau mau punya anak?” kata Raya meralat ucapannya.


Usulan memiliki anak memang sempat tercetus di kepala Karan. Tapi tujuan Karan saat itu hanyalah untuk mengikat Raya. Istrinya tidak akan melarikan diri darinya jika mereka punya anak. Jika Karan melontarkan niatan piciknya itu kepada Raya, apakah wanita itu mau mendengarkannya? Salah-salah Raya malah marah padanya. Dosa-dosa yang Karan lakukan selama ini untuk mendapatkan Raya saja sudah tidak terampuni. Jika ditambahkan dengan keinginan busuk itu, mungkin Raya akan marah besar kepadanya.


“Aku ingin, tapi tidak sekarang. Bukankah sekarang aku dan kau saja sudah cukup? Aku rasa tidak perlu ada anak-anak di keluarga kecil kita,” ungkap Karan sembari memeluk tubuh Raya. Masa lalu tidak berpihak pada mereka. Terlalu banyak rahasia yang tidak boleh terungkap sekarang. Bagi Karan, kehadiran anak akan menjadi sumber masalah di dalam hubungannya dengan Raya. Terlebih saat rahasia yang berusaha ia tutup rapat-rapat terungkap. Masa lalu itu mungkin tidak hanya menyakiti mereka, tetapi anak itu juga akan menderita. Sebelum hal itu terjadi, Karan lebih memilih untuk tidak mempunyai anak saja.


Lain halnya dengan Raya. Ada rasa kecewa yang besar ketika suaminya mengucapkan hal itu. Sebelumnya Karan sama sekali tidak keberatan dengan kehadiran anak, tapi belakangan ini, pria itu berubah pikiran. Ia seperti enggan memiliki keturunan. Padahal Raya benar-benar ingin punya anak. Ia tidak peduli jika ia harus berhenti bekerja untuk mengurus anaknya kelak. Atau tidak lagi memiliki tubuh proporsional selayaknya seorang model seperti sekarang. Itu keinginan naluriahnya sebagai seorang perempuan. Tetapi, Raya juga enggan membantah perkataan suaminya. Sebab, menjadi orang tua tidak boleh hanya tanggung jawab satu pihak saja. Karan dan Raya harus sama-sama bertanggung jawab terhadap piihan mereka.


“Ya, aku rasa kehadiran anak tidak perlu sekarang,” ucap Raya dengan nada sedih.


Karan bukannya pria bodoh yang tidak tahu dengan nada sedih yang muncul dari ucapan Raya. Masalahnya, Karan benar-benar belum siap mempunyai anak sekarang. Mungkin nanti, saat ia sudah membereskan masa lalu mereka, keinginan mempunyai anak itu akan timbul dengan sendirinya di dalam hati Karan. Tapi yang pasti, hal itu mustahil terjadi dalam waktu dekat.


“Sekarang ayo kita tidur, Sayang. Besok kau harus pergi lokasi syuting, bukan? Kau harus banyak beristirahat.” Karan mengelus kepala Raya agar istrinya itu dapat memejamkan matanya. Ketika sudah memastikan Raya sudah terlelap, Karan memindahkan tubuh Raya ke posisi yang lebih nyaman untuk wanita itu, kemudian ia sendiri Bersiap untuk tidur.


Sayangnya baru satu menit Karan memejamkan mata, mendadak ponselnya berbunyi. Awalnya Karan enggan membuka mata, namun ia harus menghentikan orang yang mengirimkannya pesan singkat kepadanya berkali-kali. Dan begitu Karan mengambil ponsel dan membaca notifikasi beberapa pesan singkat yang masuk ke ponselnya, pria itu terbelalak bukan main. Orang yang mengirimkan pesan padanya ke nomor pribadinya itu bukanlah orang penting bagi Karan. Bukan keluarganya, keluarga sang istri ataupun Ian, sebab hanya mereka saja yang mempunyai nomor pribadi Karan. Tetapi seseorang dari masa lalu yang membuat sekujur tubuh Karan merinding.


“Berengsek! Bagaimana wanita sialan ini tahu nomor pribadiku?” umpat Karan yang tidak bisa menahan kekesalannya.