
Semuanya berjalan begitu cepat sehingga Raya tidak ingat apa pun yang terjadi. Yang ia tahu ketika sudah sadar, tiba-tiba tangannya sudah dipenuhi dengan cairan berwarna merah. Aroma amis mulai bermunculan dan sang ayah telah terperenyak di sudut dapur. Saat itu sang ayah belum sepenuhnya meninggal. Mata nanarnya memandang ke arah Raya dengan tangan memegang perutnya. Yang paling aneh adalah bibirnya yang tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya saat itu. Apakah ia sedang memikirkan bagaimana sang anak begitu jahat kepadanya hingga menusuk perut ayahnya sendiri. Atau memikirkan bahwa sebentar lagi ia akan menyusul istri tercintanya itu.
Tidak ada yang tahu pasti apa yang ada di dalam benak laki-laki tersebut. Tetapi tak lama setelah itu, napasnya mulai tidak beraturan. Darah masih mengalir deras, namun tidak ada pergerakan yang berarti dari sang ayah. Lambat laun, tangan yang sedari tadi berada di perut perlahan turun. Semakin lama ia semakin kehilangan tenaga hanya sekadar untuk bernapas. Hingga akhirnya, ia pun mengembuskan napas terakhirnya disaksikan secara langsung oleh Raya. Putri satu-satunya itu memandangi kematiannya dengan wajah dibanjiri oleh tangisan. Wajah yang sangat mirip dengan mendiang istrinya.
Setengah jam setelah kejadian itu, Farraz pun datang. Namun, semuanya sudah terlambat. Sang ayah sudah meninggal dunia dan Raya hanya bisa bisa menatap kosong ke arahnya dengan tangan yang masih memegang pisau. Saat mendengar suara Farraz di depan pintu, Raya tersadar, ia begitu ketakutan dengan situasinya sekarang. Ia takut akan ada orang yang mengetahui perbuatan kejinya kepada ayahnya sendiri. Ia takut masuk penjara. Itulah sebabnya ia bergerak dari tempatnya, berusaha ke belakang dan membiarkan barang-barang sekitarnya ikut bergerak hingga punggungnya menabrak tembok. Di sanalah Raya duduk. Kaki-kakinya sudah lemas dan tubuhnya pun tidak bisa bergerak sama sekali. Raya sudah pasrah atas apa yang terjadi.
Akan tetapi, Farraz datang. Pemuda itu memerintahkan Raya untuk membersihkan diri. Pakaiannya dan segala hal yang bisa ia masukkan ke dalam tas, dikemasnya untuk dibawa oleh Raya. Melalui salah satu pengurus panti asuhan, Raya pun dibawa ke rumah bibi gadis itu, sementara Farraz memperbaiki apa yang terjadi di sana. Mencoba untuk melimpahkan perbuatan sang kekasih pada dirinya hingga ia menjadi tersangka tunggal dalam aksi ini.
Pertama, menghilangkan sidik jari Raya dan menggantikannya dengan sidik jarinya. Lalu, menghapus tanda-tanda yang menunjukkan Raya ada pada hari itu. Begini yang dipikirkan Farraz untuk membuat alibi Raya menjadi sempurna. Sebuah surat sudah ia siapkan agar diberikan Raya kepada sang bibi. Isinya supaya bibi Raya itu mau memberikan keterangan palsu kepada polisi dengan mengatakan bahwa Raya sudah ada di rumahnya sejak gadis itu sakit dua hari yang lalu. Beruntung ada klinik di dekat rumah bibinya yang bisa diajak kerja sama. Ditambah di sekitar sana belum dilengkapi dengan CCTV sehingga keterangan itu dapat dipercaya oleh polisi.
Masalah yang paling utama dalam kasus ini adalah para tetangga Raya. Mereka adalah orang-orang yang terdekat dan sering berinteraksi dengan gadis itu. Akan tetapi, serupa dengan tujuan Farraz, mendadak mereka memberikan keterangan palsu sekaligus mencuci tangan terhadap peristiwa yang terjadi. Dengan mengikuti alur yang dibuat oleh Farraz, maka yang terjadi adalah pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja oleh orang lain. Namun jika mereka mengatakan kebenarannya, maka mereka akan disalahkan karena telah membiarkan penganiayaan terjadi tetapi tidak melakukan tindakan apa pun. Mereka bisa dituntut dengan pasal kelalaian yang menyebabkan luka bahkan kematian.
Alhasil, Farraz pun dibawa ke kantor polisi. Para petugas di sana meminta keterangan Farraz dengan berbagai cara, mulai dari cara yang baik sampai dengan cara-cara kasar yang terbilang sangat brutal. Yang paling tidak masuk akal adalah ketika Farraz disuruh untuk menandatangani surat pernyataan bahwa ia adalah pelaku dari pembunuhan berencana. Padahal bukan itu yang terjadi sebenarnya. Farraz juga tidak mengatakan bahwa ia sudah merencanakan niatannya untuk menyakiti ayah Raya. Ia hanya datang ke sana karena marah.
“Laki-laki itu mencuri uang yang saya kumpulkan dan saya kuburkan di taman dekat dengan panti asuahan tempat saya tinggal. Saya melihatnya sendiri sehingga saya mengikutinya sampai ke rumah. Saya bertanya padanya tentang uang itu tetapi dia malah mengancam saya dengan pisau. Kami pun bertengkar hingga kejadian itu terjadi.”
Itulah yang Farraz sampaikan pada polisi dalam keterangannya. Barang buktinya pun ditemukan. Ada sejumlah uang disaku baju ayah Raya. Uang yang sempat diselipkan oleh Farraz. Bahkan, sidik jarinya dan korban ada di sana karena Farraz yang membuat sidik jari itu. Kesaksian para penagih utang menguatkan pernyataan Farraz. Ya, memang benar ayah Raya berutang pada mereka dan laki-laki itu berjanji akan melunasinya segera dengan cara apa pun.
Tentu saja mereka tidak menyebutkan bahwa cara melunasi yang disebutkan oleh laki-laki itu adalah dengan menjual putrinya sendiri. Sebab, mereka tidak mau bisnis illegal mereka tercium oleh para penegak hukum. Akan runyam kalau hal-hal kotor yang mereka lakukan sampai diselidiki pihak berwenang. Lebih baik mereka mengikuti apa yang diperintahkan oleh atasan mereka, yakni dengan memberikan keterangan palsu.
Peristiwa pembunuhan memang beberapa kali terjadi di sekitar Jalan Asoka. Ada beberapa kampung di sekitar jalan itu yang mayoritasnya dihuni oleh penduduk miskin. Namanya saja sebagai kampung-kampung kriminal, sudah pasti segala kejahatan ada di sana. Namun, peristiwa yang dialami Farraz ini terbilang unik hingga menyita perhatian publik. Pasalnya, Farraz adalah siswa yang begitu berprestasi di bidang akademik. Namanya santer terdengar di masyarakat karena telah memenangkan beberapa kejuaraan yang melibatkan kemampuan otak.
*****
Di tempat lain, Raya mendapatkan perawatan intens hingga dibawa ke rumah sakit oleh sang bibi. Mendadak demam tinggi menyerangnya hingga Raya kejang-kejang. Untunglah gadis itu bisa diselamatkan dan kondisinya kembali normal setelah satu minggu mendapatkan perawatan di rumah sakit. Namun, begitu tersadara, Raya menjadi orang yang linglung. Ia tidak tahu apa pun dan tidak mengingat kejadian yang terjadi padanya. Awalnya dokter mengira Raya kehilangan ingatan karena demam yang menimpanya. Akan tetapi, usai melakukan pemeriksaan lebih lanjut, akhirnya mereka menyimpulkan bahwa Raya kehilangan memori dalam otaknya akibat trauma yang begitu besar.
“Namaku Raya Drisana, umur 16 tahun dan tinggal di perumahan Y.”
Begitu Raya memperkenalkan diri kepada orang-orang. Ia tidak ingat di mana ia tinggal sebelumnya dan hanya mengingat alamat sang bibi yang baru ditempati selama beberapa hari. Raya bahkan membuat identitas baru untuknya sebagai orang yang sudah tumbuh dan besar di pusat ibu kota. Sebagai anak yang begitu pintar dalam akademik dan membenci olahraga. Raya membentuk dirinya yang bertolak belakang dengan jati dirinya yang asli. Ia bahkan mengatakan bahwa ayah dan ibunya sudah meninggal karena penyakit sejak ia masih berusia lima tahun, di mana kejadian sesungguhnya adalah hanya sang ibu yang meninggal saat itu.
“Keponakan Anda mengalami Dissociative Fugue, Bu. Itulah sebabnya dia berusaha membentuk identitas baru di dalam otaknya untuk menutupi masa lalunya yang menyakitkan,” kata dokter menjelaskan kondisi Raya pada sang bibi.
Semuanya pada diri Raya sangat berbeda yang tentu saja membuat bibi Raya merasa bingung. Namun di sisi lain, wanita itu juga merasa bersyukur. Setidaknya ia masih bisa menyelamatkan Raya dari masa lalunya yang kelam. Mungkin dengan kejadian lupa ingatan ini, Raya tidak akan menderita lagi. Mungkin dengan identitas yang dibentuk oleh alam bawah sadarnya, Raya bisa menjadi orang yang ia inginkan. Menjadi gadis yang memikirkan dirinya sendiri tanpa dilingkupi oleh tekanan batin yang dibuat oleh sang ayah. Raya dapat melakukan apa yang ia mau lakukan dan bereksplorasi atas apa yang tidak pernah ia lakukan.
Raya yang baru memancarkan aura yang begitu berbeda dari dirinya di masa lalu. Sebuah aura yang membuatnya bisa tumbuh dan berkembang menjadi orang yang lebih baik. Tugas sang bibi pun terbilang sangat mudah dengan identitas yang Raya bentuk sendiri itu. Ia tidak perlu mendidik Raya secara akademik karena sepertinya, gadis itu bisa menerapkan apa yang diajarkan Farraz dengan begitu baik. Bahkan hasilnya di luar ekspektasi sang bibi karena Raya dapat menjadi siswi berprestasi meskipun sekarang bersekolah di sekolah unggulan.
Hal yang paling bermasalah dalam diri Raya adalah saat gadis itu menolak kenyataan bahwa ia pernah tinggal di lingkungan yang miskin sehingga ekonominya sangat terbelakang. Raya membentuk jati dirinya sebagai seorang gadis yang tumbuh besar di keluarga yang berada—memori yang ia dapatkan sewaktu masih bersama ibunya. Untuk itulah sang bibi mendidik Raya dengan keras dan menyusupi pikiran Raya dengan sebuah ajaran bahwa Raya tidak boleh menjadi wanita miskin. Bahwa Raya harus melakukan apa saja untuk menjadi orang kaya yang terpandang dan memiliki status yang tinggi.
Itu tidak hanya demi kehidupan Raya agar menjadi lebih baik lagi, tetapi juga untuk membantu wanita itu supaya tidak lagi teringat akan masa lalunya yang buruk.