
Mommy!”
Satu kata yang terngiang-ngiang di dalam benak Karan. Pria itu tersentak, terkejut mendengar panggilan yang disematkan Luca kepada Raya. Apakah Luca adalah putra dari Raya? Kapan wanita itu memiliki anak? Karan tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka lebar seperti matanya yang juga terbelalak. Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana keterkejutan Karan saat ini. Baru saja ia memikirkan kemungkinan bahwa Raya sudah memiliki pria lain di sisinya. Hanya kemungkinan sambil berharap itu tidak akan pernah terjadi. Tetapi apa yang terjadi setelahnya? Beberapa detik kemudian ketakutan Karan berubah menjadi kenyataan. Tidak hanya memiliki pria di sisinya, bahkan Raya sudah memiliki seorang anak.
Anak yang selalu mengganggu Karan selama beberapa hari belakangan, anak dari Edgar, rekan bisnisnya. Mungkinkah ini terjadi? Bagaimana mungkin Raya dan Edgar memiliki seorang anak seperti Luca? Karan ingin mengabaikan pikiran negatifnya tentang hubungan kedua orang itu. Namun ketika hendak mencobanya, pria itu kembali terkejut setelah melihat seseorang muncul dari arah belakangnya, tempat di mana Luca mendadak muncul barusan.
“Luca! Jangan berlari seperti itu! Kau tahu betapa susahnya Daddy mengejarmu, ha? Ini, pakai dulu topimu! Daddy tidak mau kau demam lagi karena terkena sinar matahari secara langsung!” Edgar langsung menggerutu ketika berada di dekat Luca dan Raya. Ia memakaikan sebuah topi putih di kelapa putranya sambil terus menasihati sang putra yang melarikan diri darinya. Pria itu bahkan tidak peduli dengan keringat yang membanjiri keningnya. Saat Luca turun dari mobil dan lepas dari pengawasannya, ia terus mengejar bocah itu.
Raya menatap iba ke arah Edgar. “Apa dia melarikan diri lagi?” tanyanya yang langsung dijawab dengan sebuah anggukan kepala dari pria itu. Arah pandangan Raya berpindah ke sang putra yang tengah menaiki kursi yang ada di sampingnya. Karena kedua kakinya pendek dan keberadaan tas sekolahnya yang mengganggu, Luca pun kesulitan duduk di kursinya. Ia harus dibantu oleh Edgar agar bisa duduk dengan baik. Meskipun marah kepada kelakuan nakal bocah itu, Edgar tidak pernah mengabaikan Luca sama sekali. Itulah yang membuat Luca begitu menyanyangi ayahnya tersebut.
“Maaf, aku hanya ingin cepat-cepat ketemu Mommy,” uja Luca saat matanya melihat sorotan mata tajam Raya. Ia tahu persis bagaimana ekspresi sang ibu ketika marah, jadi sebelum semakin meledak, Luca memilih untuk meminta maaf terlebih dahulu.
“Mommy tahu kau merindukan Mommy. Tapi jangan begitu Sayang. Lihatlah Daddy! Kau tidak kasihan pada Daddy? Daddy sampai berkeringat seperti itu demi mengejarmu. Lagi pula, kau juga akan bertemu dengan Mommy di rumah. Kenapa harus berlarian seperti tadi? Bagaimana kalau kau jatuh atau menabrak orang? Mommy tidak mau lihat kau terluka, Sayang.” Raya memberikan nasihat panjangnya kepada sang putra. Tangannya yang halus itu membelai puncak kepala Luca dengan lembut, menunjukkan seberapa besar kasih sayang wanita itu kepada sang putra hingga membuat anaknya itu pun luluh.
Sambil menundukkan kepalanya, Luca berbicara lagi, “Maafkan aku, Mommy. Aku tidak akan melakukan ini lagi. Aku hanya sangat senang karena Mommy sudah selesai bekerja. Kata Aunty Maude, Mommy akan pergi lagi ke luar kota setelah ini. Aku hanya takut tidak bisa bertemu dengan Mommy.”
Kali ini malah Raya yang terenyuh mendengar penuturan Luca. Mungkin karena terlalu lama meninggalkan bocah itu sehingga ia berpikiran tidak akan melihatnya lagi di waktu dekat. Ini murni salah Raya. Hanya karena pekerjaannya yang banyak membuatnya harus meninggalkan Luca berkali-kali. Padahal Raya tidak menginginkan hal ini. Kalau boleh, ia ingin mengajak Luca ikut bersamanya. Sayangnya Edgar tidak menyetujui hal tersebut. Luca butuh bersosialisasi dengan teman-temannya di sekolah. Selain itu, Raya juga tidak bisa memantau Luca jika membawanya bekerja. Lebih baik Luca tinggal bersama dengan Edgar dan keluarganya yang selalu punya banyak waktu untuk meladeni kenakalan bocah itu.
Raya memeluk Luca dengan erat. “Baiklah, kali ini akan Mommy maafkan. Tapi jangan diulangi lagi,” pesan Raya.
Luca menganggukkan kepalanya. Tidak hanya pada Raya, ia pun meminta maaf kepada sang ayah. “Daddy, maafkan aku. Aku janji tidak akan membuat Daddy kelelahan seperti tadi,” ungkapnya tulus.
Tentu saja Edgar tidak bisa mengabaikan ketulusan putranya. Ia menyentuh kepala Luca dan mengelusnya dengan lembut. “Daddy tahu kau sangat bersemangat ingin bertemu Mommy, tapi Daddy hanya tidak mau kau terluka.” Pria itu melepaskan tangannya dan memandang ke arah lain. Ia tersentak melihat Karan ada di kursi sedang memandangi mereka. Sejak kapan Karan di sana? Apakah sejak tadi? Karena fokus mengejar Luca, Edgar tidak memperhatikan sekitarnya, termasuk tidak menyadari kehadiran Karan di sana. “Loh, Pak Karan ada di sini?” celetuknya bingung.
Raya yang sejak tadi memeluk putranya pun tersadar akan sesuatu. Ia lupa ada orang lain selain Edgar dan Luca di sana. Ia lupa tentang kehadiran Karan. Agar tidak menimbulkan keributan, akhirnya Raya bermaksud memperkenalkan mereka. “Em, Karan, ini putraku, namanya Wren Luca. Mungkin kau pernah bertemu dengannya karena Edgar selalu membawanya ketika aku pergi.” Raya memperkenalkan orang yang ada di sisinya dari skala prioritas di mana sang anak selalu menjadi yang terpenting di hidup Raya. Kemudian, Raya baru memperkenalkan Edgar. “Dan ini Edgar—”
Walaupun ingin marah karena anak itu sudah bersikap tidak sopan dengan memotong pembicaraan ibunya, Edgar tetap luluh memandangi mata berbinar bocah itu ketika menatapnya. Mata yang sama saat pertama kali ia melihatnya terlahir di dunia. Luca yang menangis kencang mendadak berhenti menangis ketika sedang menatap Edgar, yang membuat pria itu sangat menyayangi putra kecilnya tersebut. “Ya, Daddy ini Daddymu yang paling kau sayangi,” ujar Edgar membalas pengakuan sang anak. “Tapi Luca, tidak sopan memotong pembicaraan Mommy. Dengarkan dulu apa yang Mommy katakan baru kau bisa membalasnya.”
“Ah, iya. Maaf Mommy.” Luca menunjukkan penyesalannya. Anak itu memang selalu menunjukkan semangat yang tinggi terhadap sesuatu yang disukainya. Rasa ingin tahunya pun begitu besar hingga terkadang orang-orang akan kesulitan saat mendapatkan pertanyaan darinya. Tapi itu sangat bagus karena menunjukkan bahwa Luca tumbuh dan berkembang di lingkungan yang baik. Hanya saja masih banyak yang harus diajarkan kepada bocah tersebut.
“Tolong maafkan putraku, dia memang sedikit nakal, tapi dia bukanlah anak yang susah diatur.” Raya mencoba menjelaskan kepribadian putranya kepada Karan.
Walaupun hatinya terasa amat perih memandangi ketiga orang di depannya, Karan tetap menunjukkan seulas senyum di bibirnya saat bola matanya memandangi Luca. “Ya, kau benar. Luca memang anak yang baik dan cerdas.”
Raya sedikit terkejut mendengar penuturan Karan yang seolah-olah sangat dekat dengan Luca. Ia tahu Luca akan bertemu dengan Karan karena Edgar membawanya, tapi ia tidak tahu hubungan mereka akan seakrab itu dalam waktu yang sangat singkat. Raya pun memandangi Edgar untuk mendapatkan penjelasan dari pria itu.
“Kau ingat saat Luca menghilang dari lobi hotel? Pak Karanlah yang menemukannya di restoran. Anak ini memang sangat sering menyulitkan Pak Karan. Padahal malam itu kita mencarinya ke mana-mana,” tukas Edgar menjelaskan.
Penjelasan itu tidak hanya membuat Raya mengerti, tapi juga menguatkan keyakinan Karan bahwa malam itu ia memang melihat Raya. Matanya mungkin bisa salah, namun hatinya tidak. Karan selalu bisa membedakan Raya dengan wanita lain karena hanya Raya satu-satunya perempuan yang mampu membuat jantungnya berdebar kencang. Hatinya memang tidak pernah salah, hanya saja ia selalu punya waktu yang tidak tepat. Seperti saat ini di mana ia berada di tengah-tengah keluarga yang berbahagia. Ada perasaan iri dan kesal. Namun ada juga perasaan hangat yang menyelimuti Karan saat ini.
Suara dering yang datang dari ponsel Karan muncul tepat waktu. Karan memang ingin melarikan diri dari hadapan Edgar dan Raya saat ini juga. Karan berpikir ini bukan tempatnya. Raya, Edgar dan Luca tampak bahagia tanpanya. Seharusnya ia menghilang saja agar tidak menggangu kebahagiaan sang mantan istri.
Sayangnya ia tidak punya alasan yang tepat. Dan suara dering itu seakan menjadi penyelamat Karan dari situasi yang tidak mengenakkan ini. Berkat alasan pekerjaan lain, Karan memutuskan berpamitan dengan keluarga Raya dan meninggalkan tempat itu. Jika lebih lama ada di sana, maka air matanya akan rebas begitu saja. Dadanya akan mendadak sesak hingga membuat ia kesulitan bernapas. Sebelum semuanya terjadi, Karan lebih memilih untuk melarikan diri. Ia memakai panggilan Ian sebagai tameng untuk beranjak dari sana.
“Kita pergi sekarang. Kalau bisa, pesan tiket tercepat untuk pulang ke Jakarta. Aku benar-benar tidak bisa berada di sini terlalu lama,” ungkap Karan kepada Ian yang datang menjemputnya.
Karan terus memukul-mukul dadanya saat rasa sesak itu melandanya. Keringatnya mengucur deras dan tubuhnya mulai gemetar. Perlahan-lahan muncul sebuah suara yang selalu menghantui Karan selama ini. Suara yang membisikkannya dengan nada yang menjijikkan hingga membuat mual. “Aku sudah bilang, kau tidak akan pernah lepas dariku, Farraz. Tidak akan pernah!”