
Tidak hanya di jalan, Karan juga menggantarkan Raya sampai masuk di dalam penginapan mereka. Pria itu bahkan mendudukkan istrinya di sofa dengan sangat hati-hati, berharap Raya tidak terluka lagi. Luka yang Karan buat di kaki Raya sudah cukup melukai wanita itu, jangan sampai ada luka yang lain. Usai memastikan sang istri duduk dengan sempurna di sofa, Karan bergegas mengambil sesuatu di laci bawah televisi di ruang tamu itu. Bukan hanya sekali saja Karan menginap di tempat itu, ia sudah paham lokasi benda-benda yang ada di sana dengan baik. “Jangan bergerak Sayang, biar aku mengobati lukamu,” cetus Karan ketika melihat Raya hendak berdiri dari tempatnya.
Raya mengamati apa yang dilakukan oleh suaminya. Ternyata pria itu sedang mengambil kotak P3K. Saat mendapatkan benda tersebut, Karan bergegas menghampiri Raya. Ia kembali berjongkok di depan wanita itu. Pertama yang dilakukan Karan adalah mengamit kaki Raya dan meletakkannya di atas pahanya. Kemudian, Karan membuka kotak P3K, mengambil sebuah obat pereda rasa sakit dari sana dan mengolesinya di kaki Raya. Wanita itu meringis yang membuat Karan tersentak. “Apakah sangat sakit?”
Rasanya memang sakit, tapi Raya tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Ia memilih untuk menahannya agar tidak membuat Karan khawatir. Pasalnya, wajah Karan terlihat begitu sedih, pria itu jelas sekali terlihat kecewa. “Tidak, hanya sedikit perih,” tukas Raya menjawab. Di bibirnya terulas sebuah senyuman manis agar menunjukkan kepada sang suami bahwa ia benar-benar baik-baik saja. Luka di kakinya bukanlah masalah besar yang harus disikapi dengan berlebihan.
“Maafkan aku. Aku benar-benar merasa bersalah,” kata Karan lagi. Pria itu tulus meminta maaf. Juga tulus dalam mengobati luka Raya. Baginya, kaki-kaki indah Raya adalah hal berharga yang seharusnya tidak terluka seperti ini. Wanita itu sudah banyak terluka di masa lalu. Bukannya mengobati luka lama Raya, Karan malah menambahkannya dengan luka baru. “Setelah ini aku akan mendengarkanmu.” Karan mengatakannya dengan bersungguh-sungguh. Mendengarkan perkataan istrinya adalah hal yang baik untuknya.
Bosan mendengar perkataan maaf terus-menerus dari sang suami, Raya pun melakukan satu hal yang mengejutkan, bukan hanya untuk Karan bahkan dirinya sendiri saja merasa terkejut. Ini bukan saat yang tepat untuk melakukan ini, tetapi Raya tetap melakukannya. Entah apa yang merasuk Raya saat ini, tetapi wanita itu dengan penuh keberanian mencium Karan. Tidak di bibir, melainkan di leher pria itu. Raya memberikan sebuah kecupan keras hingga meninggalkan jejak merah di sana.
“Sa-sayang?” Karan terbelalak. Bibirnya terbuka dan pria itu mematung sepenuhnya. Merasa bahwa apa yang ia rasakan sebelumnya hanyalah sebuah khayalan. Raya tidak akan mungkin melakukan hal seberani ini dan dalam keadaan yang seperti ini pula. Namun, Karan baru menyadari bahwa apa yang ia rasakan hari ini benar-benar nyata begitu Raya menarik kepala dari lehernya. Dari wajah sang istri, Karan dapat melihat rona merah menyala. Wanita itu sepertinya sedang tersipu malu pada tindakannya sendiri.
“Ah, itu ... aku hanya ingin membuatmu berhenti meminta maaf padaku. Aku bosan mendengarnya. Aku mau kau tidak lagi membahas tentang lukaku.” Raya berkata-kata dengan suara yang cukup nyaring, tetapi wajahnya tidak memandang ke arah Karan, melainkan ke sisi lain. Ia masih terlalu malu harus bertatapan mata dengan sang suami. Wanita itu saja tidak tahu mengapa ia sampai mencium leher Karan. Kepalanya seolah-olah bergerak mendekati tubuh Karan. Awalnya ia memang ingin mencium bibir sang suami, tetapi di tengah jalan, ia menemukan sasaran yang lebih menggoda, yakni leher pria itu.
“Benar, kau sudah membuatku berhenti. Kau benar-benar sukses membuatku tidak bisa berkata-kata tadi, Sayang,” aku Karan sambil menyembunyikan senyumannya. Sebenarnya ia masih ingin menggoda Raya, tetapi wajah sang istri sudah sangat merah. Jika terus digoda, wanita itu akan marah padanya. Karan bangkit dari tempatnya dan mengembalikan kotak P3K ke tempatnya semula.
Saat Raya salah mengira bahwa Karan tidak akan membahas yang baru saja terjadi, pria itu malah menghampirinya, duduk di sebelahnya dan menarik tubuhnya. Karan mulai mencium bibir Raya dengan gemas. Pria itu mengunci pergerakan Raya hingga wanita itu tidak bisa melakukan perlawanan sama sekali. Baru saat Karan merenggangkan tubuh mereka untuk bernapas, Raya mengambil inisiatif untuk mendorong Karan, menjauhkan pria itu darinya. “Kenapa kau menciumku?” katanya memprotes tindakan sang suami.
“Kenapa? Karena aku menyukainya. Bagaimana denganmu? Kenapa kau mencium leherku?” balas Karan tidak mau kalah.
Karan menghentikan ucapan Raya dengan memberikan sebuah kecupan ringan di bibir wanita itu. “Tidak suka? Siapa yang bilang begitu? Aku suka. Kau bebas menciumku di seluruh tubuhku. Aku sangat menyukai saat bibirmu menyentuh kulitku, Sayang. Itu membuatku bergejolak,” ungkap Karan.
Mata Raya terbelalak mendengar pengakuan suaminya. Pria itu memang selalu begitu, selalu tidak sengan saat mengutarakan apa saja yang berhubungan dengan kebutuhan biologisnya. Karan akan menjadi pria yang bersemangat membicarakan soal hubungan ranjang. Raya sampai tidak habis pikir apa saja sebenarnya yang ada di kepala Karan selama ini. Apakah pria itu benar-benar tidak pernah menyentuh wanita lain saat mereka sudah menikah? Apakah Raya saja sudah cukup memuaskan seorang Karan Reviano yang memiliki gejolak sebesar itu? Raya sering kali mengkhawatirkan hal-hal remeh seperti itu. Hal yang seharusnya tidak ia pikirkan jika ia benar-benar percaya pada sang suami.
“Apa yang kau pikirkan, Sayang? Beraninya kau memikirkan hal lain saat sedang menciumku.” Karan menggeram ketika melihat Raya sedang memperhatikan hal lain. Wanita itu seperti sedang melamunkan sesuatu. Karan merasa cemburu pada isi pikiran Raya, seharusnya hanya dirinya sajalah yang menjadi pusat perhatian sang istri bukan hal lain yang tidak penting.
“Aku sedang memikirkan ...” Raya berhenti berbicara sejenak, berusaha mencari hal yang bisa ia jadikan alasan. “Ah, iya. Aku gerah. Aku sedang berpikir untuk mandi. Kau tahu ‘kan kita sudah berjalan jauh. Sekarang tubuhku penuh dengan keringat.”
Itu terdengar mencurigakan, tetapi Karan lebih suka memilih untuk mengikuti alur pembicaraan sang istri. “Aku tidak masalah dengan keringatmu, Sayang. Aku menyukainya. Lagi pula, aku juga berkeringat, tapi kau menciumku di sini. Bukankah ini tandanya kau juga tidak masalah dengan keringatku?” tanya Karan sambil mengamit telunjuk tangan Raya dan membawanya ke leher di mana bekas merah tercetak di sana.
Raya tersentak. Buru-buru ia menarik tangannya. “Iya, tapi aku mau mandi sekarang,” katanya tegas.
“Baiklah,” sahut Karan singkat. Alih-alih membiarkan Raya sendiri di sana untuk pergi ke kamar mandi, Karan malah melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan beberapa saat lalu. Pria itu menggendong Raya. Kali ini bukan di bagian belakang, tetapi di depan seperti yang selalu dilakukan laki-laki pada penganting wanitanya.
“Kyaaa! Apa yang kau lakukan?” jerit Raya kaget.
“Apa lagi memangnya? Ya tentu saja untuk memandikanmu,” jawabnya dengan santai sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda sang istri.