
Malam itu terus berlanjut kendati jam sudah menunjukkan tengah malam. Penyebabnya karena cerita kencan Karan yang dibocorkan oleh ibunya sendiri. Kencan ketiga jauh lebih unik lagi. Saat mengajak teman kencannya ke mal untuk makan siang, terjadi sesuatu yang menarik. Mereka terjebak di lift yang padat oleh pengunjung. Dan sewaktu pintu terbuka, Karan buru-buru keluar. Nahasnya, ia lupa sedang bersama dengan wanita ke sana. Alhasil, Karan melanjutkan makan siang sementara wanita itu terjebak di dalam belasan orang di lift.
“Kau tahu, Nak. Wanita itu sampai marah-marah pada Mama karena Karan meninggalkannya di lift,” celoteh sang ibu kepada menantunya. Ia mencubit lengan Karan hingga terdengar ringisan dari anaknya itu. “Anak ini benar-benar kejam memperlakukan wanita. Mama sampai frustrasi melihatnya. Mama khawatir dia tidak akan menikah.”
“Astaga, Ma. Kenapa Mama khawatir begitu? Aku ‘kan sudah sering bilang kalau akau akan menikah cepat atau lambat,” timpal Karan.
“Iya, cepat atau lambatnya itu kapan? Siapa yang tidak khawatir saat anak laki-lakinya yang hampir berusia 30 tahun tapi masih tidak punya pasangan. Untung saja Raya mau menikah denganmu.”
Pemandangan itu benar-benar aneh di mata Raya. Bagaimana Karan bisa berbeda 180 derajat dari biasanya? Karan tampak begitu akrab bersama ibunya, bahkan sampai bercanda gurau seperti itu. Raya tidak mengerti mengapa suaminya terlihat berbeda jika bersamanya? Yang mana sisi Karan yang asli sebenarnya?
“Raya kenapa? Apa kau bosan? Sudah mau tidur?” Ibu Karan akhirnya berhenti bercanda dengan putranya ketika melihat wajah Raya yang tertunduk. Ia merasa sedikit bersalah karena lupa bahwa Raya ada di sana. Tidak seharusnya ia berbicara terlalu banyak pada anak dan menantunya padahal mereka adalah pengantin baru. Ia benar-benar mertua yang tidak peka.
Raya menggelengkan kepalanya. “Tidak Ma. Aku benar-benar tidak bosan. Tapi, aku justru merasa sedikit penasaran tentang masa lalu Karan. Sebenarnya Karan waktu kecil sikapnya bagaimana, Ma? Apakah Karan anak yang lucu seperti yang Mama ceritakan tadi?”
Usai melontarkan pertanyaan itu, Raya menoleh ke arah Karan. Ia memang penasaran mengenai masa lalu Karan. Seandainya ia mendengar sedikit cerita tentang masa kecil laki-laki itu, mungkin saja ia bisa mendapatkan jawaban yang mana sebenarnya jati diri Karan.
Akan tetapi, Raya melihat sesuatu yang aneh terbit dari wajah Karan. Wajahnya kembali kaku. Sekarang lebih parah dari sebelumnya karena Karan sampai mengepalkan kedua tangannya dengan kencang seakan-akan ia sedang mencoba untuk menahan emosinya. Masalahnya pria itu marah pada siapa? Apakah masa lalu Karan begitu kelam hingga pria itu tidak mau membagikannya kepada siapa pun?
“Waktu kecil Karan anak yang pintar. Dia selalu juara satu di kelas. Dia juga anak yang penurut dan ramah. Dan sikapnya yang ketus pada wanita itu tidak ada sewaktu dia kecil. Yang Mama ingat malah anak-anak di kelasnya dulu selalu menyukainya, terutama teman-teman perempuannya. Karena Karan suka membagikan bekalnya. Dia rela tidak makan hanya demi teman-temannya,” ujar sang ibu antusias.
“Benarkah Ma?” Raya beralih pada suaminya. Keanehan kembali terjadi. Dibandingkan cerita sebelumnya yang notabene menjelek-jelekkannya, kali ini Karan tidak berniat berkomentar apa pun. Pria itu memilih bungkam padahal ia sedang dipuji oleh sang ibu. Malah ia tampak seperti tidak suka mendengar pujian tersebut.
“Iya, benar!” Ibu Karan memandang suaminya. “Karan sangat baik ‘kan waktu kecil, Pa? Dia juga sempat jatuh karena teman-temannya sewaktu masih di kelas 6 SD. Padahal waktu itu Karan sedang persiapan ujian nasional. Tapi karena membantu temannya, Karan sampai terluka parah. Dia harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu dan melewatkan ujian nasional di rumah sakit.”
Ayah Karan mengangguk untuk mengiyakan ucapan istrinya. Kemudian, ia berpindah tempat dan berdiri di depan sang istri. “Iya Ma. Mama benar. Tapi, jangan bercerita lagi. Ini sudah malam jadi kita harus tidur. Karan juga baru sampai di Jakarta. Dia butuh istirahat Ma. Sudah, jangan ganggu Karan dan Raya lagi,” tukasnya sambil menjulurkan tangan, bermaksud untuk mengajak istrinya beranjak dari ruang keluarga.
Apa yang dikatakan ayah Karan benar dan wanita paruh baya itu tidak bisa membantah. “Ya sudah. Raya, kita lanjutkan cerita tentang Karan dilain waktu saja. Sekarang, kau bawa saja suamimu ke kamar. Dia pasti sudah sangat lelah karena baru tiba di sini.”
Raya pun mematuhui ujaran sang ibu mertua. Wanita itu menyentuh tangan Karan, lalu ia bersuara, “Ayo kita pindah ke kamar. Aku juga sudah mengantuk.”
Raya terkejut bukan main. Apakah Karan pikir Raya adalah hama hingga pria itu begitu enggan berdekatan dengannya? Lagi pula, siapa yang mau berlama-lama bersama Karan? Raya juga sudah muak dengan suaminya itu. Kalau bukan karena orang tua Karan, Raya tidak akan pernah mau peduli dengan Karan dan berpura-pura menjalani hidup harmonis dengan laki-laki itu.
Kaki Raya bergerak lagi. Kali ini ia menuju ke kamarnya sendiri. Kamar megah dan besar dengan perabotan luar biasa mahal. Dibandingkan apa yang ada di kamar Karan, isi kamar Raya jauh lebih mewah. Raya sendiri tidak tahu mengapa Karan perabotan-perabotan mahal yang bahkan jarang digunakan olehnya di dalam kamar itu. Apakah ini semacam ancaman secara tidak langsung? Atau Karan hanya ingin mengejek Raya yang begitu matrialistis hingga memanfaatkan hubungannya dengan pria demi keuntungan pribadinya sendiri.
Raya tidak tahu yang mana jawabannya dan ia juga tidak mau ambil pusing. Yang bisa ia lakukan hanya menikmati fasilitas yang ada. Toh, hanya itulah yang dapat Raya syukuri sebagai istri Karan. Gelimang harta yang bahkan tidak bisa Raya tunjukkan di depan umum.
Beberapa saat kemudian, saat Raya hendak membaringkan badannya dan bersiap tidur, sebuah dering ponsel menyentakkannya. Ika—manajernya secara mendadak meneleponnya. Sontak saja Raya mengernyit. Pasalnya, Karan sudah memutus semua pekerjaan Raya. Pria itu juga melarang sang manajer berhubungan lagi dengan Raya. Tetapi mengapa sekarang Ika bisa menghubungi sang super model?
“Selamat malam Mbak Raya, ini saya Ika,” ucap Ika dari sambungan telepon. Ia memperkenalkan diri karena mengira bahwa Karan sudah menghapus nomornya dari ponsel Raya. Tapi ternyata apa yang disangkakan Ika itu salah karena Karan sama sekali tidak pernah menyentuh ponsel Raya. Pria itu membebaskan Raya melakukan apa saja di ponselnya itu asalkan tidak menimbulkan kegaduhan, terlebih merencanakan pelarian diri.
“Iya selamat malam. Ada apa Kak?” tanya Raya. Walaupun usia Ika di atas Raya dua tahun, tapi Raya tetap menggunakan bahasa santai kepada sang manajer. Ia juga sudah memperbolehkan Ika melakukan hal yang sama, sayangnya wanita itu tidak mau.
“Maaf mengganggu, Mbak. Saya hanya ingin menyampaikan kalau besok jam 11 Mbak ada jadwal pemotretan di supermarket J. Besok pagi saya akan ke rumah Mbak untuk membawa jadwal lengkapnya.”
Raya tersentak, merasa terkejut bukan main. “Pemotretan apa maksudmu, Kak?” tanyanya heran. Sudah lebih dari satu bulan Raya tidak bekerja. Ia sepenuhnya sudah tidak pernah melakukan pemotretan apa pun. Meskipun fotonya beredar di media, tetapi wartawan hanya menggunakan foto-foto lamanya yang sempat beredar di publik. Pasca pernikahan, tidak ada satu pun produk yang menghubungi Raya lagi.
“Pemotretan produk minuman isotonik, Mbak. Mbak akan menjadi model untuk pemasaran di supermarket.”
“Ha? Pemotretan? Kakak tidak salah? Tidak mungkin ada pemotretan karena aku tidak boleh bekerja lagi. Kakak lupa ucapan Karan waktu itu?” Raya kembali mengingatkan Ika tentang ancaman yang pernah Karan layangkan kepada mereka. Bahwa pria itu tidak akan segan-segan menghancurkan pekerjaan Ika jika sang manajer masih nekat memberikan pekerjaan pada Raya. Dan mereka tahu benar bahwa itu bukan hanya gertak sambal biasa. Karan mempunyai uang dan kuasa untuk mewujudkan ucapannya, apalagi usaha keluarga Karan bergerak di bidang media dan industri hiburan.
Alih-alih merasa takut, suara Ika justru terdengar begitu ceria. “Iya, saya ingat Mbak. Tapi Mbak Raya tidak perlu khawatir. Pak Karan sendiri yang mengizinkan Mbak untuk bekerja. Beliau bahkan menghubungi saya barusan.”
Raya benar-benar merasa bingung. Apa yang sebenarnya terjadi ini? Karan mengizinkannya bekerja? Mengapa? Jika dipikir-pikir sikap Karan memang aneh sejak tadi. Tepatnya saat pria itu mengetahui orang tuanya mengunjungi rumah mereka. Karan terlihat begitu kesal dan marah, itulah sebabnya Karan melampiaskannya pada Raya hingga nyaris melecehkan istrinya sendiri.
Namun, pria itu bersikap sangat ramah dan santai ketika berhadapan langsung dengan ayah dan ibunya. Air muka sang suami berubah lagi saat ibu Karan memulai membicarakan masa lalunya, seolah-olah Karan ingin menghancurkan masa lalunya itu. Seolah-olah masa lalunya diisi oleh aib yang membuatnya ingin menutup diri.
Jadi, apa yang diinginkan Karan dengan membiarkan Raya kembali bekerja? Bukannya tidak bisa memercayai apa yang terjadi, tapi Raya memang tidak bisa percaya dengan Karan. Terlebih setelah apa yang terjadi padanya. Janggal rasanya jika Karan tiba-tiba bersikap baik padanya. Ini tidak benar. Raya yakin Karan sedang merencanakan sesuatu. Rencana yang tidak bisa Raya pikirkan sama sekali.