Lies

Lies
Tidak Membutuhkanku



Begitu membaca bagian itu Ian langsung keluar dari mobilnya. Sekarang ia tahu apa yang membuat Karan seperti itu, bagaimana Karan diperlakukan dulu dan apa yang terjadi kepadanya. Meskipun apa yang Ian bayangkan di dalam kepalanya itu belum tentu benar, akan tetapi setidaknya begitulah gambaran besar yang bisa ia dapatkan setelah membaca surel tersebut. Pantas saja Karan tidak suka pada wanita. Pantas ia hanya mengejar-ngejar Raya selama belasan tahun hingga detik ini. Pantas pria itu selalu mengatakan bahwa Raya adalah obat penyembuhnya dari rasa sakit.


Semuanya itu benar. Karan tidak melebih-lebihkan hanya karena tidak ingin berpisah dari Raya. Bagi Karan, Raya merupakan kehidupannya. Pria itu bahkan sampai rela menyerahkan diri untuk menggantikan Raya di saat ia masih punya pilihan untuk melarikan diri. Saat berpisah pun Karan tetap tidak bisa dekat dengan wanita lain kecuali sang mantan istri. Ia merasa jijik, dan alasan dari rasa jijiknya itu pun sekarang sudah diketahui oleh Ian. Semuanya ada kaitannya dengan kejadian hampir dua dekade lalu. Kejadian yang masih menyimpan trauma yang begitu besar pada Karan.


Ian melangkah cepat. Andai saja suasana di dalam hotel itu tidak dipenuhi oleh banyak orang, ia akan memilih berlari menuju kamar tempat Karan menginap. Perubahan raut wajah Karan sejak masuk ke mobil dan bagaimana reaksi tubuh pria itu sudah menunjukkan segalanya. Traumanya sedang kumat. Ian tidak boleh membiarkannya sendirian karena akan berakibat fatal. Bisa-bisa sang CEO akan kehilangan akal sehatnya hingga melakukan sesuatu yang membahayakan. Dan Ian akan berusaha sebisa mungkin mencegahnya.


Karan itu pria yang sulit untuk ditaklukkan, pria yang punya segudang masalah terhadap tingkah lakunya. Ian merasakannya dengan jelas karena ia adalah orang yang bekerja sangat dekat dengan Karan. Bisa dikatakan Ian adalah satu-satunya orang yang menemani keseharian Karan karena mayoritas hari-hari pria itu hanya dihabiskan di dalam kantor. Meskipun terkesan dingin dan cuek, Karan tetaplah orang yang peduli pada orang lain.


Terbukti ketika Ian menikah dengan kekasih pujaannya. Karan tidak hanya datang untuk memberikan ucapan selamat dan memberikan hadiah dalam bentuk uang. Karan juga mengizinkan Ian mengambil cuti selama sebulan padahal saat itu perusahaan sedang dilanda masalah. Alih-alih mencegah sang asisten, Karan malah menasihati Ian agar memperlakukan istrinya dengan baik karena Karan tidak mau Ian mengalami apa yang ia alami selama ini. Hidup dalam penyesalan yang tiada usai.


Sambil berjalan menuju lantai kamar Karan, Ian berusaha menghubungi pria itu. Beberapa kali pun ia mencoba, tetap saja panggilannya tidak diangkat. Itu membuat Ian begitu cemas. Sebenarnya apa yang terjadi pada Karan hingga pria itu terlihat begitu kacau? Padahal Karan baru saja bertemu dengan Raya. Apakah terjadi sesuatu di antara mereka? Mungkinkah hubungan mereka semakin rumit setelah pertemuan hari ini?


“Pak, ini saya, Ian. Tolong buka pintunya sebentar Pak!” Ian berbicara sembari menggedor pintu kamar Karan. Di sisi lain, tangannya terus saja bergerak, mencari kontak Raya yang sekiranya bisa ia hubungi. Nomor sang mantan majikan sudah berubah dari nomornya lima tahun lalu. Wajar saja karena Raya tidak lagi tinggal di Indonesia. Aneh kalau wanita itu masih tetap menggunakannya.


Jadi, Ian pun menghubungi manajer Raya yang baru. Manajer yang menemani Raya selama lima tahun ini. Untung saja sebelumnya Ian sudah mencari informasi dasar tentang Raya, terutama alamat kantor manajemen dan nomor telepon sang manajer. Karan memang tidak memintanya, tapi Ian yakin informasi yang kumpulkan ini kelak akan berguna baginya. Dan keyakinan Ian pun benar.


“Pak, kalau Anda tidak segera membuka pintu, saya akan membukanya dengan paksa,” tukas Ian lagi. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Ian pun memutuskan menghubungi manajer Raya.


Butuh waktu sekitar satu menit agar sang manajer mengangkat panggilan telepon Ian. Begitu terdengar suara sahutan dari seberang, Ian pun memperkenalkan dirinya secara singkat. “Nama saya Ian, asisten pribadi Karan Reviano dari perusahaan Reviano Group Indonesia. Apakah saya bisa bicara dengan Ibu Raya Drisana?”


“Mohon maaf, Ibu Raya sedang bersama dengan keluarganya dan tidak ingin diganggu. Kalau ada yang ingin disampaikan, Anda bisa mengatakannya pada saya,” tukas sang manajer. Wanita itu pasti salah mengira tujuan Ian menghubunginya. Ia pikir Ian mencari Raya untuk menawari kontrak kerja sama. Maklum saja Raya adalah seorang model. Walaupun tidak terlalu terkenal seperti dulu, ia tetaplah model yang dicari beberapa perusahaan untuk diajak kerja sama. Terlebih saat ini status Raya sudah menjadi seorang ibu. Wanita itu bisa menarik pasar ibu-ibu yang sekarang sedang masif digunakan banyak produk.


Ian segera membantah. “Tidak, saya tidak ingin berbicara tentang bisnis. Eum, maksud saya, saya ingin berbicara secara pribadi dengan Ibu Raya. Ini tentang keselamatan Karan Reviano, mantan suami beliau.” Pria itu mencoba untuk menjelaskannya meskipun terdengar sangat aneh. Tidak ada kewajiban bagi Raya untuk memedulikan Karan lagi. Status mereka bukanlah pasangan suami-istri. Namun, Ian tidak punya pilihan kecuali meminta bantuan dari sang super model.


Keheningan dari ujung panggilan membuat Ian panik. “Hallo! Apakah Anda mendengarkan saya?” tanyanya sambil menjauhkan ponselnya dari telinganya, mencari tahu apakah panggilannya masih tersambung.


“Ya, saya mengerti. Mohon tunggu sebentar!” jawab manajer Raya itu pada akhirnya.


Ian menunggu sembari mencoba mengetuk lagi pintu kamar Karan. Sebenarnya ia tidak bisa melakukan ini terlalu lama karena akan mengganggu penghungi sekitar. Jadi, Ian harus segera membuat Karan membuka pintu sebelum penghuni lain menghardiknya.


“Hallo, ini saya Raya,” ujar seseorang dari ujung panggilan telepon Ian.


Belum selesai Ian berbicara, Karan sudah membuka pintu kamarnya. Tampilan pria itu begitu memprihatinkan. Matanya memerah, wajahnya semakin pucat dan keringat membanjiri tubuhnya. Yang paling mengejutkan adalah saat terlihat beberapa goresan kuku di leher Karan yang sebelumnya tidak ada. Apakah Karan yang melakukannya sendiri? Mungkinkah pria itu mulai menyakiti dirinya lagi?


“Hallo Ian, apa yang kau katakan tadi?” Suara lembut Raya terdengar lagi yang menghentakkan Ian.


Ketika Ian ingin menjawab Raya, Karan berbicara terlebih dulu. Dengan mata nanarnya, pria itu mengancam sang asisten. “Matikan teleponnya sekarang jika kau ingin masuk. Tapi kalau tidak, aku tidak akan membiarkan kau menemuiku lagi,” tukasnya dengan nada penekanan di bibirnya yang bergetar.


Ian tidak punya pilihan lain. Tujuannya adalah untuk memastikan keselamatan Karan. Sekarang ia harus membuat pria itu tenang terlebih dulu dengan berada di dekatnya. Setelah itu, ia bisa memikirkan cara lain.


“Ah, tidak Bu. Tidak apa-apa. Sekarang sudah baik. Maaf sudah mengganggu Anda, selamat sore,” ujar Ian. Kemudian tanpa penjelasan lebih lanjut, pria itu mematikan panggilannya. “Anda tidak apa-apa, Pak?” tanya Ian kepada Karan.


Karan melangkah masuk sambil berbicara, “Tenanglah, aku tidak berniat mati sekarang.” Ia bergerak ke meja untuk mengambil air mineral yang ada di dalam gelas.


Ian mengikuti langkah Karan. Selain dasi dan jas Karan yang tercecer di atas lantai, tidak ada yang aneh dari kamar itu. Semuanya tampak normal. “Syukurlah kalau begitu.”


“Kenapa kau menghubungi Raya?” lontar Karan dengan nada penuh selidik.


“Maaf Pak, tapi saya tadi benar-benar mengkhawatirkan kondisi Anda.”


“Apakah harus menghubungi Raya?”


“Ya?” Ian terkejut mendengarnya.


Karan menghela napas panjang usai meneguk segelas air mineral itu secara langsung. “Lain kali jangan menghubungi Raya lagi apa pun yang terjadi. Walaupun kau melihatku terkapar dan nyaris mati, jangan ganggu Raya.”


Ternyata benar, ada sesuatu yang terjadi antara Karan dan Raya hari ini. Sebelum pertemuan mereka, Karan tampak begitu ceria dan bersemangat. Pria itu bahkan ingin melakukan banyak hal untuk mempersiapkan pertemuan mereka. Namun setelah pertemuan, bukannya bahagia, Karan justru menampilkan wajah penuh kesedihan seperti sekarang.


“Tapi Ibu Raya adalah obat penyembuh luka Anda, Pak. Anda membutuhkan beliau.” Ian mencoba mengingatkan Karan tentang pentingnya Raya dalam hidup pria itu.


“Ya, dia memang segalanya bagiku dan aku sangat membutuhkannya. Tapi, Raya tidak membutuhkanku, Ian. Wanita itu tidak lagi memerlukan aku di sisinya.” Wajah bingung Ian dapat dimengerti Karan. Sama sepertinya, Ian pun pasti masih menganggap Raya belum memiliki pasangan. Padahal kenyataannya, bukan hanya pasangan, Raya malah sudah memiliki seorang anak dengan pasangannya itu. “Raya sudah menikah dan punya seorang anak. Jadi, Raya tidak membutuhkanku lagi di hidupnya.”