
Tidak ada satu pun yang Raya mengerti dari perkataan Karan, terutama alasan mengapa laki-laki itu menikahinya. Seingat Raya, tidak ada yang salah dengan pertemuan mereka. Semuanya berjalan lancar. Hanya saja, Raya tidak tahu sama sekali mengenai latar belakang suaminya. Raya tidak tahu bagaimana Karan dibesarkan.
Dan juga ucapan Karan terdengar sangat mengerikan. Suara dalam bercampur nada kesal yang mengalun di telinga Raya seolah tengah memperingatkannya tentang sosok Karan yang berbahaya. “Ba-baiklah, aku mengerti,” kata Raya berbohong, padahal ia sama sekali tidak mengerti apa yang Karan maksudkan. Pria itu masih belum menjawab pertanyaannya.
Latar belakang keluarga, wajah yang begitu rupawan, popularitas, aura elegan yang melekat setiap kali ia melangkah dan tentu saja kekayaan. Dengan semua itu Karan bisa mencapai apa saja yang bisa ia capai dan mendapatkan semua keinginannya. Tetapi, mengapa Karan memilih menikahi seorang super model seperti Raya?
“Baguslah kalau kau mengerti. Kau memang wanita pintar, Raya. Karena itulah aku jatuh hati padamu,” tukas Karan sembari menyeringai.
Dari pantulan cermin itu Raya tampak gemetar hingga tidak sadar sampai menggigit bibir bawahnya. Menatap wajah Karan yang berhias senyuman mengerikan itu rasanya seperti menatap seorang penjahat yang baru saja membunuh seseorang. Berbahaya, dan tanpa belas kasihan. Lebih parahnya lagi tidak mungkin dihindari oleh Raya. Sekarang sang super model menyadari satu hal, pria yang sedang memeluknya ini memang pria kejam yang tak punya belas kasihan maupun perasaan.
Karan mengelipkan tangannya lagi di pangkal paha Raya. Cepat lalu lambat, Karan begitu menikmati tangannya bermain-main di sana sementara bibirnya sibuk mengecupi pundak Raya. Karan mempertahankan gerakannya hingga tak lama berselang ia berhasil membuat tubuhnya gemetar karena mencapai pelepasannya.
Benar bukan apa yang ia katakan tadi? Raya menginginkannya, mendambakan tubuhnya sama seperti dirinya. Sekarang yang harus Karan lakukan hanyalah melancarkan aksinya agar balas dendamnya bisa terus berlangsung.
Sambil menggigit bahu Raya dengan kencang, Karan menarik tangannya dari paha Raya. Alih-alih membawa istrinya ke atas tempat tidur, pria itu malah melepaskan dasi yang mengikat kedua tangan wanita itu. Wajahnya masih berhias senyuman khasnya, sebuah senyum dingin yang mematikan.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau mau menontonku mandi atau kau suka aku mengikat bagian tubuhmu yang lain?” kata Karan. Ucapan sinisnya memberikan sengatan yang begitu besar pada Raya hingga wanita itu meringis. “Ternyata kau menyukai yang seperti ini. Persis seperti wanita murahan lainnya.”
Kesadaran Raya kembali pulih. Benar, apa yang dilakukannya ini? Mengapa ia masih berdiri mematung di depan cermin padahal tangannya sudah terlepas? Bukankah ia ingin melarikan diri? Ini adalah kesempatan terbaiknya untuk keluar dari kamar Karan.
Sayangnya Raya tidak bisa. Pasca pelepasan singkat itu tubuhnya masih gemetar. Kakinya juga terasa lemas. Jika Karan tidak berada di belakangnya dan menopangnya, pasti Raya sudah terperenyak sekarang. Jangankan berjalan keluar, sekadar menggerakkan tubuhnya saja Raya sudah tidak sanggup. Saat ini tubuhnya benar-benar sudah tak berdaya.
“Kau sangat membosankan,” tukas Karan sembari meninggalkan Raya begitu saja dan membiarkan istrinya terjatuh ke atas lantai. Karan bahkan tidak peduli ketika ia melihat air mata yang jatuh membasahi kedua pipi Raya, dan berlalu ke toilet untuk membersihkan diri.
Sementara Raya terperenyak di atas lantai yang dingin. Bibirnya bergetar dan air matanya mulai rebas. Rasanya seperti ada sebuah pisau yang mengiris hatinya. Meninggalkan rasa perih dan sakit yang luar biasanya. Raya menatap cermin di depannya yang menampilkan wajahnya yang kacau. Ia menggertakkan gigi, tangannya mulai mengepal, mencoba memaksa untuk menekan perasaannya.
Tidak ada yang pernah memperlakukan Raya sehina ini. Terutama laki-laki. Malah mereka adalah kaum yang memuja-muja Raya setinggi langit. Saat memenangkan kontes kecantikan, Raya mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat khususnya yang berjenis kelamin laki-laki. Mereka tidak hanya memberikan dukungan secara virtual, beberapa dari mereka bahkan ada yang sampai mengantarkan banyak hadiah ke stasiun televisi tempat acara kontes itu berlangsung.
Berengsek!
Raya meraih ranjang di sampingnya dan berdiri tegak. Pelan-pelan ia membenahi pakaiannya yang tampak sangat mengerikan akibat perbuatan Karan. Sudah cukup! Raya tidak mau terus-menerus bernasib sial seperti ini. Tidak peduli betapa berkuasanya Karan, tidak peduli betapa mengerikannya ancaman sang suami, Raya harus melarikan diri. Karan memang menakutkan, tapi ia hanya pria biasa. Pria kejam yang kaya raya dan penuh tekad, tapi tidak berhak berkuasa atas hidup Raya.
Raya bergegas keluar dari kamar Karan dan masuk ke kamarnya. Wanita itu mulai mengganti dres yang basah terkena air mata dan keringatnya dengan dres yang lain, yang tentu saja menutupi jejak-jejak kemerahan yang ditinggalkan Karan, terutama bekas gigitan besar di bahunya. Pakaian yang dikenakan Raya saat ini begitu tertutup. Dibandingkan merayakan ulang tahun seseorang, tampilan Raya terlihat lebih seperti akan menghadiri pemakaman seseorang. Mungkin itu pemakaman jati dirinya. Benar-benar seorang istri yang malang.
“Kau sudah datang, Nak? Di mana Karan?” tanya ibu mertua Raya menyambut kehadiran wanita itu di meja makan. Kendati melihat pakaian Raya yang berganti, namun ia tidak ingin banyak bertanya. Sebisa mungkin ia tidak mau mencampuri urusan personal Karan dengan istrinya.
Bibir Raya merekah dengan senyuman. Untung ia sempat memperbaiki riasan wajahnya sebelum bergabung di meja makan. Dengan begitu kedua orang tua Karan tidak akan pernah tahu apa yang terjadi. “Masih berganti pakaian, Ma. Mungkin sebentar lagi akan turun,” sahutnya.
Tidak ada percakapan yang terjadi. Raya hanya mengatur emosinya sedangkan ayah dan ibu Karan sibuk membicarakan sesuatu yang tidak dimengerti Raya. Obrolan tentang bisnis. Khas seperti orang-orang kaya pada umumnya.
“Apakah kalian lama menungguku?”
Suara dalam seorang laki-laki terdengar di meja makan. Raya mengangkat kepalanya dan melihat sosok sang suami yang terlihat begitu tampan dengan kemeja batiknya. Tatapan Raya terus mengikuti Karan yang melangkah ke sisinya.
“Ya ampun anakku tampan sekali,” puji ibu Karan. “Apa itu baju baru?”
Karan mengangguk. “Iya Ma. Raya yang membelikannya untukku sebagai kado ulang tahun,” ungkapnya sambil duduk di kursi yang ada di sebelah Raya.
Apa? Raya terbelalak. Ia menolak beradu tatapan saat Karan sedang mengarahkan pandangan kepadanya. Kado? Lucu sekali. Raya sama sekali tidak pernah menyiapkan Karan kado apa pun kecuali kue ulang tahun, yang kini disesali oleh Raya. Wanita itu menyesal karena sudah bersusah payah menyiapkan hadiah ulang tahun untuk laki-laki yang sudah menghinanya.
Sang ibu tersenyum senang melihat putranya yang begitu membanggakan istrinya. “Astaga kalian ini! Selalu saja membuat Mama dan Papa iri!” celetuknya.
Dengan penuh percaya diri Karan merengkuh bahu Raya dan melayangkan sebuah kecupan ringan di kening sang istri. “Mama dan Papa harus iri karena aku akan terus menunjukkan rasa cintaku kepada istriku,” ungkapnya penuh keyakinan.