
Raya tidak tahu apa maksud perkataan Karan sampai keesokan paginya. Rupanya pria itu punya sebuah rencana yang tidak disangka-sangka oleh Raya. Bulan madu. Agenda ini memang sempat menjadi perbincangan mereka beberapa waktu lalu, mungkin sebelum keadaan rumah tangga mereka kacau pasca kejadian rumor antara ia dan Reagan. Raya tidak memperkirakan Karan akan membuat agenda bulan madu mereka secepat ini. Apalagi Raya baru saja mendapatkan jabatan sebagai seorang direktur di yayasan perusahaan. Karan pun terlihat begitu sibuk. Dari yang wanita itu dengar, Karan harus melakukan banyak rapat dengan para pemegang saham. Ditambah ini sudah pertengahan tahun yang biasanya sebagai perusahaan besar, mereka harus menyiapkan evaluasi per semester atau enam bulan.
Sekarang, mereka harus pergi ke luar negeri. Karan mengajaknya ke Milan. Katanya laki-laki itu punya urusan bisnis dengan seseorang di pusat ekonomi dan keuangan Italia itu. Raya ingin percaya, tapi keraguan menyelinap di hatinya. Pasalnya dalam kepergiannya kali ini, Ian tidak ikut serta. Karan beralasan Ian akan menyusul mereka setelah sang asisten menyelesaikan beberapa hal di kantor. Karan justru membawa Ruben bersama mereka, sang wakil direktur yayasan perusahaan. Tidak tahu apa maksudnya, tetapi Raya tidak mau ikut campur. Ia hanya ingin mencari cara untuk membatalkan bulan madu mereka.
“Jangan sekarang Karan, kita bisa bulan madu nanti,” cetus Raya sambil mencegah sang suami mengemasi barang-barangnya. Catat itu, Karan tidak sedang membereskan barang-barang pribadinya, melainkan mengemasi barang-barang milik Raya. Memang bukan barang-barang krusial karena Karan hanya memilih gaun dan dres Raya setelah mencocokkan dengan setelan jasnya. Mungkin pria itu ingin mereka tampil serasi, setidaknya dilihat dari pemilihan warnanya.
“Kenapa tidak sekarang, Sayang? Kau belum sibuk dan aku juga kebetulan ada urusan di sana. Bukankah kau ingin bulan madu? Apa kau sudah lupa keinginan itu?” ungkap Karan dengan tangan yang sibuk memasangkan pakaian Raya dengan pakaiannya sendiri. Karan sedikit kesulitan memilihnya. Bukan karena pakaian Raya tidak layak karena Karan selalu memberikan pakaian terbaik untuk istrinya. Tetapi Karan bingung mana pakaian yang tidak cocok untuk Raya. Pasalnya, Karan tidak ingin istrinya itu tampil sangat cantik di luar negeri. Di dalam negeri saja Karan sulit menghentikan liarnya mata lelaki apalagi di luar negeri. Jangan salah, wanita Asia dipandang sangat cantik oleh para bule. Itulah mengapa beberapa dari mereka lebih memilih menikahi wanita Asia ketimbang wanita Eropa.
Raya tahu kebingungan Karan, dan ia mencoba menghentikan suaminya dengan menyentuh tangannya. “Iya, tapi tidak secepat ini. Aku bahkan tidak berpikir kita harus berbulan madu di Milan.”
“Kenapa dengan Milan? Kau tidak menyukainya? Haruskah kita memilih kota lain? Mungkin negara lain?” Karan tampak tidak keberatan sama sekali seandainya rute perjalanan mereka diubah. Pria itu hanya memerintahkan pilot pribadinya untuk mengubah rute mereka. Ya, Karan tidak menggunakan pesawat komersial. Ia memilih menggunakan pesawat pribadinya agar membuat Raya merasa nyaman. Hanya untuk Raya karena Karan tidak peduli apa pun kecuali sang istri.
Sang super model itu mengerjap, merasa kesal dengan pembicaraan yang alot ini. “Tidak, bukannya aku tidak suka Milan, aku menyukainya. Kau tahu Italia ... negara itu adalah negara yang indah. Berbulan madu di sana adalah pilihan yang bagus. Tapi aku pikir waktunya tidak tepat. Aku saja tidak tahu harus pergi ke mana di Milan. Kita perlu merencanakan bulan madu kita dengan baik, Karan." Raya mencoba menjelaskan kepada sang suami. Ia tidak yakin itu berhasil, tetapi ia hanya bisa berharap.
“Kenapa kita butuh rencana, hm? Kita hanya perlu mengelilingi kota itu. Oh ya, Ian juga sudah menyiapkan beberapa tempat untuk kita kunjungi. Nanti aku suruh dia mengirim lokasinya ke ponselmu agar kau bisa melihat-lihat.” Karan menyentuh kedua tangan Raya dan mengelusnya dengan lembut. Sementara kedua netra cokelat Karan memandangi wajah elok sang istri dengan dalam. “Jadi Sayang, kau tidak perlu khawatir. Aku janji tidak akan bekerja di sana. Mungkin hanya melakukan pertemuan kecil yang menyita waktu dua jam. Lalu semua waktuku adalah milikmu. Aku hanya akan menemanimu ke mana pun kau mau.”
Itulah yang membuat Raya keberatan. Keterlibatan Ian. Terlepas bahwa Ian adalah asisten pribadi Karan yang notabene orang yang penting bagi hidup sang suami, tetapi ini adalah bulan madu ia dan Karan. Untuk apa Karan melibatkan Ian? Bukankah tujuan bulan madu untuk merekatkan pasangan suami-istri? Lantas mengapa melibatkan pihak ketiga yang tidak ada kaitannya sama sekali. Bulan madu di benak Raya begitu berbeda. Yang ia inginkan adalah bulan madu di mana ia dan Karan menentukan tempat singgah mereka bersama-sama. Tidak, Raya tidak menginginkan kehidupan rumah tangga yang romantis karena ia sadar pernikahan mereka dimulai bukan karena cinta. Tetapi setidaknya, mereka bisa akrab satu sama lain sebagai partner hidup yang saling mengenal dan melengkapi.
“Karan, bisakah kita tidak melibatkan Ian? Maksudku, ini bulan madu kita. Seharusnya kitalah yang memilih lokasinya,” tukas Raya, berharap Karan mempertimbangkan untuk menunda bulan madu mereka. Sebab mereka tidak akan sebentar berada di Milan. Karan mecanangkan liburan bulan madu mereka menghabiskan waktu sepuluh sampai lima belas hari. Itu waktu yang cukup lama bagi Raya, terlebih ia baru saja ingin memulai lagi kariernya sebagai model.
Karan tampak tidak senang dengan ucapan Raya. “Aku ‘kan sudah bilang padamu, Raya. Kau yang menentukan tempatnya. Ian hanya merekomendasikannya, bukan ikut campur bulan madu kita. Sudahlah, aku tidak mau mendengar alasan apa pun lagi. Kita akan berangkat malam ini. Terserah kau suka atau tidak, tapi kau tidak boleh menundanya lagi,” tekan sang CEO. Saat laki-laki itu sudah menyebut nama istrinya secara langsung, artinya Karan menutup diri dari negosiasi. Ia tidak ingin mendengar bantahan apa pun lagi.
Embusan napas terdengar dari mulut Raya. Ia kesal, namun tidak bisa menolak. Akhirnya, ia hanya bisa mengalah. “Baiklah, kita akan pergi. Tapi jangan malam hari. Setidaknya besok pagi saja karena ada sesuatu yang harus aku lakukan malam ini.”
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Karan penasaran.
“Aku sudah telanjur membuat janji dengan manajerku tentang pekerjaan. Kami tidak bisa berdiskusi kalau kita sudah berangkat ke Milan. Jadi tolong, kita berangkat besok saja ya?”
Pria itu menangkap manik mata Raya yang mengiba. Akhirnya, ia pun luluh dengan keinginan sang istri. “Baiklah, kita berangkat besok. Tapi Sayang, kau tidak boleh bertemu dengan manajermu di luar rumah. Ajak dia ke sini dan bicarakan pekerjaan kalian di rumah kita. Apa kau mengerti?”
Raya mengangguk tanpa melontarkan protes apa pun karena ia sudah memperkirakan hal ini sebelumnya. Biarlah pertemuan mereka berada di rumah. Di mana pun mereka bertemu, itu bukan masalah bagi Raya karena ada sesuatu yang harus sang manajer bawa kepadanya dalam pertemuan nanti malam.
Ika, manajer Raya itu datang di jam yang sudah mereka janjikan. Ia bertemu dengan Karan terlebih dulu di ruang keluarga, pria itu sedang mengobrol dengan Ian. Setelah mendapatkan izin, ia melangkah ke lantai atas, tempat Raya berada.
Setiap malam memang selalu begitu. Setelah menghabiskan makan malam bersama, Raya akan segera kembali ke kamarnya. Bukan karena Karan yang menyuruhnya. Tanpa laki-laki itu pun Raya lebih suka berada di kamar. Setidaknya di dalam ruangan itu ia bisa bernapas dengan normal dan melakukan segala sesuatu tanpa diawasi oleh orang-orang yang dipekerjakan Karan. Tidak hanya Ian, Anna dan semua orang yang ada di rumah itu adalah orang suruhan Karan. Pekerjaan mereka tidak hanya membereskan, membersihkan dan menyiapkan kebutuhan rumah, tetapi juga mengawasi Raya. Malah itu menjadi pekerjaan pokok mereka. Agar Raya tidak kabur seperti sebelumnya dan memantau apa saja yang Raya lakukan seharian penuh di dalam rumah.
Sementara di dalam kamar Raya bisa sedikit bebas. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam kamarnya tanpa izin darinya. Karan juga sudah mengingatkan hal itu. Sang CEO pun tidak ingin ada pelayan yang dengan lancangnya masuk ke kamar Raya tanpa sepengetahuan sang empunya kamar. Itulah mengapa Raya sangat suka berada di kamar. Mungkin tempat adalah tempat terbaik di rumah itu.
“Mbak Raya, ini saya Ika. Boleh saya masuk?” seru sang manajer dari luar kamar. Ia mengetuk pintu itu terlebih dulu sambil menunggu respons dari dalam.
“Masuk saja Kak. Pintunya tidak dikunci,” balas Raya.
Begitu Ika masuk, Raya langsung meminta Ika untuk mengunci pintu kamarnya, kemudian duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu. “Bagaimana? Apa Karan bertanya-tanya sesuatu?” pungkasnya sembari mengamati tubuh Ika, berusaha mencari apakah ada tanda-tanda aneh yang ditempelkan sang suami kepada manajernya itu. Mungkin ini berlebihan. Mungkin Raya sudah terpengaruh film atau drama yang ia tonton selama dikurung di kamarnya dulu. Tetapi, Raya benar-benar tidak bisa percaya pada Karan seratus persen. Tingkah laki-laki itu begitu aneh, terutama saat mereka berada di jalan Asoka. Pasti ada sesuatu di tempat itu yang Raya tidak ketahui dan sedang ditutup-tutupi oleh Karan.
Karena itulah Raya ingin menyelidikinya. Ia tidak bisa melakukan hal itu sendiri karena pengawasan ketat yang Karan lakukan kepadanya. Pria itu juga membatasi gerak-geriknya setelah kembali dari jalan Asoka kemarin. Hari ini saja Raya dilarang bekerja padahal baru sehari ia menjabat sebagai direktur yayasan. Tidak ‘kah itu terbilang janggal? Mengingat Karanlah yang begitu antusias mempekerjakan Raya di kantor pusat hingga Karan harus rela memindahkan tempat kerjanya yang semula di perusahaan jam tangannya menjadi di kantor pusat Reviano Group. Semua hanya demi berdekatan dengan Raya.
Di sisi lain, Raya juga merasa ada yang aneh dengan jalan Asoka. Bibinya sudah menyakinkannya bahwa mereka tidak pernah tinggal di sana. Tetangga di sekitar rumah mereka dulu juga membuktikan hal itu, bahwa bibinya tidak pernah tinggal di sana. Namun, Raya selalu merasa ia punya ikatan kuat dengan daerah itu. Mungkin saja dulu orang tuanya pernah tinggal di sana. Atau mereka pernah membawa Raya berkunjung ke tempat itu. Yang pasti, Raya merasa sangat yakin bahwa kunjungannya bersama Karan kemarin bukanlah kunjungan perdana Raya di jalan Asoka.
“Pak Karan hanya melihat saya sekilas tadi. Beliau sibuk mengobrol dengan Ian,” timpal Ika.
Raya pun bernapas lega. “Syukurlah kalau begitu. Tapi Kakak bawa apa yang aku minta ‘kan?”
Ika mengangguk. “Iya, aku bawa.” Wanita itu mengeluarkan sebuah laptop dari tasnya. Ia menghidupkan laptop itu dan memberikannya kepada Raya. “Kenapa Mbak pinjam laptop saya? Bukankah di sini ada komputer? Mbak juga punya laptop dan ponsel sendiri.” Ini membingungkan karena Raya benar-benar dilengkapi fasilitas mewah oleh Karan. Seandainya pun Raya tidak menyukai benda-benda itu, hanya dengan hitungan detik Karan bisa membawakan yang baru yang sesuai dengan keinginan Raya.
“Aku tidak bisa menggunakannya. Karan bisa melacak apa saja yang aku cari di laptop atau ponselku. Aku tidak mau membuat keributan.” Raya memangku laptop Ika, laptop yang tentu saja sangat jadul dan murah dibandingkan miliknya. Hanya saja ada satu yang tidak bisa dilakukan oleh laptop canggih milik Raya, yaitu bebas dari pantauan suaminya sendiri. “Kakak juga sudah mencari apa yang aku minta ‘kan?”
Ika tidak bisa terlalu lama berada di rumah mereka atau Karan akan menaruh curiga pada wanita itu. Jadi sebelum datang kemari, Raya sudah meminta sang manajer untuk mencari data-data yang ia inginkan. Data-data tentang jalan Asoka. Raya ingin tahu alasan yang membuat Karan dan ayah mertuanya sampai begitu banyak membantu daerah itu. Cerita yang Karan berikan terdengar masuk akal, tetapi Raya tetap tidak puas. Suaminya itu terlalu misterius. Mungkin saja ia sedang menyembunyikan sesuatu ketika menceritakan tentang pengalaman sang ayah mertua.
“Ini Mbak,” tunjuk Ika. Ia mengamati wajah Raya yang begitu antusias. “Tapi, kenapa Mbak mencari tahu tentang kejadian apa saja di jalan Asoka? Ini benar-benar tidak berbahaya ‘kan Mbak? Atau jangan-jangan Anda ingin melarikan diri ke daerah ini?” celetuk Ika sembari membelalakkan matanya.