
Bagaimana Raya bisa tahu tentang itu? Tentang wanita yang datang ke ruangannya? Padahal wanita itu sudah pergi sebelum Raya datang. Mungkin sekarang ia telah meninggalkan gedung perusahaan. Tetapi Raya bisa tahu tentang hal itu. Apa mereka berpapasan di jalan? Seandainya itu terjadi, tidak ada yang aneh karena siapa saja bisa berpapasan dengan Raya. Tidak ada jaminan Raya bisa tahu bahwa Karan bertemu dengan wanita itu. Ini sungguh aneh. Meskipun sudah terdesak, Karan tidak akan mungkin buka suara. Ia tidak ingin Raya mengetahuinya karena akan berpengaruh buruk bagi kesehatan sang istri.
“Siapa yang kau maksud, Sayang? Tidak ada yang datang ke sini.” Karan berbohong kepada istrinya. Sengaja karena ia tidak mau Raya terluka. Hanya ini satu-satunya cara untuk menyimpan masa lalu mereka. Jika Raya tahu perihal wanita itu, maka Raya akan menyelidiki masa lalu Karan. Pada tahap itu, apa pun yang dilakukan Karan untuk mencegah sang istri akan sia-sia karena wanita itu akan tahu tentang peristiwa gelap yang terjadi 12 tahun lalu. Memori kelam masa itu akan membuat Raya tertekan batin.
“Wanita yang usianya beberapa tahun lebih tua darimu. Wanita yang menghubungimu tadi malam. Apa kau masih tidak ingin menceritakannya padaku?” tanya Raya sembari menatap Karan dengan nanar. Ia benar-benar tidak percaya suaminya malah memilih untuk berbohong padanya alih-alih berbicara jujur. Memangnya apa masalahnya jika Karan mengungkapkan jati diri wanita itu? Raya akan berusaha sekuat mungkin untuk menerima kedudukan wanita itu di dalam kehidupan masa lalu Karan. Sekalipun wanita itu adalah mantan kekasih Karan.
Ya, Raya menduga seperti itu. Dari ekspresi Karan, ditambah cara pria itu berusaha menutup-nutupi kehadiran wanita itu, Raya memprediksi bahwa wanita tersebut adalah kekasih Karan. Meskipun bukan kekasih, mungkin saja mereka punya hubungan khusus. Karan tidak akan pernah mengizinkan wanita lain mengusik kehidupan mereka. Selama ini hanya Raya saja yang membuat Karan marah karena selalu berdekatan dengan pria lain. Karan bahkan sampai menganggapnya berselingkuh dengan Reagan. Sementara di sisi Karan, tidak ada terjadi hal yang sama. Ini pertama kalinya Karan menyembunyikan identitas seorang wanita darinya. Bukankah wajar bagi Raya yang notabene seorang istri merasa cemburu sama seperti Karan yang selalu cemburu setiap ia berdekatan dengan pria asing?
“Kau bicara apa, Sayang? Tidak ada wanita mana pun ke sini. Sungguh! Dan masalah telepon semalam ... itu hanya telepon iseng. Orang itu secara acak menghubungi siapa saja yang ingin dia ganggu malam ini. Tidak ada hal yang penting.” Karan sekeras mungkin menjelaskannya pada Raya, berusaha agar Raya tidak lagi merasa curiga padanya. Tidak disangka Raya tahu mengenai telepon semalam padahal ia yakin wanita itu sedang terlelap dalam tidurnya. Sepertinya Raya tidak sengaja terbangun karena suara umpatannya dan mendengar siapa yang meneleponnya tadi malam.
Raya sama sekali tidak mengerti alasan Karan masih bersikeras bersikap seperti ini. Akhirnya kesabaran Raya pun habis. “Jadi sampai akhir pun kau tetap menyembunyikan wanita itu? Siapa dia, Karan? Hanya itu saja yang ingin aku tanyakan. Bukankah jawabannya sangat sederhana? Kau hanya tinggal menjelaskannya saja padaku.” Raya begitu sensitif dengan hal ini. Emosinya seperti baru saja meledak. Kepalanya terasa sakit. Tidak hanya kepala, bahkan hatinya terasa sangat perih saat ini. Seandainya Karan masih saja enggan membuka suara, niscaya air mata yang sekarang tergenang di pelupuk mata Raya akan rebas begitu saja, jatuh membasahi kedua pipinya. Raya yakin ia akan segera menangis sebentar lagi.
Seandainya masa lalu itu terbongkar, bukan hanya Karan saja yang rugi, wanita itu pun akan kehilangan segalanya, termasuk pekerjaan dan kehormatannya. Bahkan yang lebih parahnya, suami dan anak-anaknya akan meninggalkannya dan ia akan mendekam di balik jeruji besi, tempat yang seharusnya diisi oleh para penjahat yang ia tangkap dengan tangannya. Wanita yang sangat menjunjung profesinya sebagai seorang polisi itu tidak akan mau citra baiknya tercoreng.
Karan pun sama, ia tidak akan bisa citranya tercoreng. Saat ini kehidupannya sudah sangat berubah. Ia adalah anak konglomerat Reviano yang terpandang. Ia punya orang tua yang sangat menyayanginya. Apalagi sekarang ia sudah memiliki Raya Drisana, istrinya. Padahal Karan hanya korban dari masa lalu yang mengerikan itu, padahal ia tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi mengapa ia harus menerima semua ini? Pertama, ia harus menderita trauma selama bertahun-tahun akibat peristiwa itu hingga harus mendapatkan perawatan medis. Kedua, saat ia sudah meniti hidupnya ke arah yang lebih baik justru wanita pemberi mimpi buruk itu muncul kembali. Karan juga tidak tahu bagaimana cara wanita itu tahu identitasnya dan mengapa ia hanya mendatangi Karan saja. Ini tidak adil bagi Karan. Sangat tidak adil.
“Percaya padamu? Kenapa aku harus percaya padamu? Dulu, kau selalu menekanku, bahkan mengurungku setiap ada pria yang berdekatan denganku. Pria yang bahkan tidak punya hubungan apa-apa denganku. Aku sudah mengatakannya padamu berkali-kali bahwa mereka tidak ada hubungannya denganku. Bahwa aku tidak akan pernah menghianatimu. Tapi, pernahkah percaya padaku? Pernahkah sekai saja kau mendengarkanku sebagai istrimu? Kau tidak pernah melakukan itu, Karan. Kau tidak pernah mau percaya denganku dan hanya melihat semuanya dari sudut pandangmu saja. Jika aku melakukannya sekarang, aku hanya mengulang apa yang pernah kau lakukan padaku di masa lalu.”
“Jadi, kau ingin balas dendam padaku? Raya, dengarkan aku. Waktu itu aku salah ... ya, aku mengaku salah karena sudah berbuat kasar padamu. Aku salah telah mengurungmu dan menjadikanmu seperti tawanan. Tapi apa aku punya pilihan saat itu? Kau kabur dari rumah saat aku memberikanmu izin keluar rumah. Kau ingin melarikan diri dariku. Padahal kau tahu aku sangat mencintaimu, Raya. Aku tidak bisa membiarkanmu menghilang dari hidupku. Karena itulah aku takut. Aku takut pria-pria itu mendekatimu untuk membawamu pergi dariku.”
Sekalipun Karan berbicara jujur—dan itulah yang didengar ia sekarang— Raya tetap tidak ingin menyerah. Ia muak dengan sikap posesif Karan dan semua pengekangan yang pernah pria itu lakukan padanya. Ia mulai tidak percaya bahwa pernikahan mereka akan membawa akhir yang bahagia. Ia tidak yakin Karan adalah pria yang ia cintai sampai mati, pria yang pantas sebagai pendampingnya hingga ajal menjemput. Keyakinan itu semakin besar pada detik itu, ketika ia mendengar betapa egoisnya sang suami. “Aku lelah Karan. Sepertinya ini tidak bisa diperbaiki lagi karena aku sama sekali tidak tahu harus memperbaikinya dari mana. Aku rasa aku butuh waktu dan ruang. Aku butuh untuk berpikir tentang hubungan kita lebih dalam lagi. Bisakah aku meminta waktu padamu?”