Lies

Lies
Kehidupan yang Baru



Lima Tahun Kemudian


Lima tahun sudah berlalu sejak Karan bercerai dengan Raya. Ia tidak pernah bertemu dengan wanita itu selama lima tahun ini seolah-olah Raya memang sengaja bersembunyi darinya dan enggan bertemu dengannya sama sekali. Pertemuan terakhir mereka terjadi ketika Raya dirawat di rumah sakit, di mana Karan memberikan pelukan terakhir padanya. Setelah itu, bahkan dalam persidangan, Raya tidak hadir sama sekali. Hanya pengacaranya saja yang diutus oleh wanita itu. Karena tidak ada keberatan dari pihak Karan, maka persidangan tetap berlangsung yang malah dihadiri langsung oleh Karan.


Tidak pernah sekali pun Karan absen dalam sidang itu. Ia masih berharap, meskipun hanya sekecil kemungkinannya, agar Raya mau datang ke persidangan dan membatalkan perceraian mereka. Sayangnya sampai hakim mengetuk palu, Raya sama sekali tidak pernah menampilkan batang hidungnya. Mereka pun akhirnya resmi bercerai tanpa tuntutan apa pun. Karan tidak meminta sesuatu dari Raya, begitu pun sebaliknya. Tidak ada satu pun yang wanita itu inginkan dari Karan. Raya bahkan menolak semua niatan baik Karan yang ingin memberikan biaya hidup padanya. Wanita itu beralasan bahwa ia tidak sedang memeras Karan meskipun awal pernikahan mereka memang diawali dengan niatan yang tidak baik.


Raya pergi dari sisi Karan. Tidak hanya itu, Raya juga pergi ke luar negeri. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Karan tidak mencari tahu keberadaan Raya dengan cara yang salah. Ia juga tidak menempatkan beberapa orang di sisi Raya untuk memantau keberadaan wanita itu. Karan mendapatkan informasinya dari bibi Raya. Katanya Raya akan pergi ke New York untuk sementara waktu. Pengobatan di sana cukup bagus dan juga Raya akan bisa mengembalikan kariernya di sana karena di luar negeri, kemampuan lebih diutamakan. Jadi, seburuk apa pun masa lalu seseorang, jika ia bisa bekerja dengan baik, maka tidak akan menjadi masalah.


Karan sebenarnya bisa mencari Raya dengan mudah. Kekayaannya sudah bertambah dan semakin bertambah. Saat ini ia sudah berkecimpung di dunia perbankan dan mengembangkan berbagai sayap perusahaan hingga ke bagian pariwisata. Dengan banyaknya keuntungan yang didapatkan Karan, ia pun menjadi pengusaha muda terkaya di Indonesia. Bahkan perusahaannya menjadi salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara. Dalam hitungan jam saja, Karan akan bisa dengan cepat mendapatkan dengan rinci di mana keberadaan sang mantan istri.


Sayangnya, Karan tidak memakai hal itu. Ia sudah berjanji pada Raya untuk memberikan wanita itu jarak dan ruang yang dibutuhkannya. Karan tidak mau keberadaannya justru membuat kondisi Raya semakin buruk. Mereka sudah menderita. Jika Karan tidak bisa meniti hidupnya dengan baik, lebih baik Raya yang menjalani hidupnya dengan bahagia. Sejak kecil wanita itu sudah tersiksa oleh ayahnya. Saat menikah, ia pun tersiksa oleh Karan. Setidaknya sekarang, sudah waktunya Raya bahagia.


Beginilah Karan menjalani harinya tanpa Raya. Dulu ia memang tidak terlalu peduli dengan citra di media. Artinya Karan tidak sering meladeni permintaan untuk wawancara. Menurutnya itu sangat tidak penting dan buang-buang waktunya yang sangat berharga. Ketimbang wawancara, Karan lebih suka meladeni wartawan dengan cara melakukan sebuah aksi yang terpuji. Misalnya saat yayasannya memberikan bantuan, ia akan mengundang banyak sekali wartawan untuk meliputnya. Dengan begitu tanpa berbicara apa pun para awak media itu akan melakukan apa yang diinginkannya, yaitu citra baik di depan publik.


Seperti yang terjadi hari ini. Karan menyempatkan diri untuk melakukan wawancara dengan sebuah majalah cetak yang nantinya foto Karan akan menjadi sampul halaman produksi majalah mereka yang baru. Menyusul penghargaan yang Karan dapatkan dari luar negeri, ada banyak yang mau mendapatkan wawancara dengan Karan. Sayangnya pria itu hanya mengizinkan satu saja yang mendapatkan wawancara ekslusif darinya bulan ini. Pasalnya, ia harus segera pergi ke Milan. Ada pekerjaan penting yang harus ia lakukan di sana.


“Ada satu pertanyaan lagi Pak. Ini pertanyaan yang sering kami dapatkan di beberapa media sosial kami. Ada banyak yang penasaran dengan kehidupan pribadi Anda. Apakah saya boleh menanyakannya?” tukas sang jurnalis dalam wawancara itu. Karena wawancara dilakukan di kantor Karan, ia menjadi ragu mengungkapkan pertanyaan itu secara langsung. Akhirnya ia pun bertanya pada sang CEO.


Karan melirik arloji yang ada di tangannya. Masih ada waktu sepuluh menit sebelum waktu keberangkatannya ke bandara. Artinya masih ada waktu bagi Karan untuk melakukan wawancara ini. “Ya, tidak masalah. Tapi karena saya sebentar lagi harus ke bandara, saya pikir mungkin hanya akan menjawab satu pertanyaan saja.” Karan tidak mempermasalahkan pertanyaan jenis apa pun yang ditanyakan sang jurnalis. Selama hidup dengan Raya dulu, ia sudah sering dilempari pertanyaan yang bersifat personal. Masalahnya bagi pria itu adalah waktunya. Karan benar-benar punya jadwal yang padat.


Wajah sang jurnalis terlihat sangat ceria. Ia pun mengajukan pertanyaan yang sudah lama ingin ditanyakan oleh banyak jurnalis kepada Karan Beruntung ia akan mendapatkan jawabannya. “Anda adalah pengusaha yang sukses, Pak Karan, tapi apakah Anda sudah punya pasangan sekarang?”


“Pasangan ya?” Karan bergumam sebentar. Kemudian, ia dengan penuh percaya diri mengangkat punggung tangan kanannya dan menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di sana. “Apakah ini sudah cukup menjawab pertanyaan Anda?” katanya sambil tersenyum.


“Tidak apa-apa. Sepertinya semuanya sudah selesai. Jadi, apakah saya boleh pergi sekarang? Kalau Anda membutuhkan sesuatu, silakan hubungi sekretaris saya.”


Karan melenggang pergi dari tempat itu, ruang rapat yang dijadikan sebagai ruangan untuk wawancara. Sudah pasti para awak media itu mendapatkan apa yang diinginkannya. Foto ekslusif Karan dengan memakan cincin di jari manisnya akan menjadi hal yang diperbincangkan oleh masyarakat. Pasalnya selama ini Karan tidak menunjukkan tanda-tanda apa pun tentang kehidupan asmaranya. Berbeda dengan masa lalunya di mana Karan selalu digosipkan dekat dengan beberapa wanita, kali ini Karan benar-benar menjaga dirinya agar tidak terlibat dengan hal-hal yang menyulitkan. Termasuk wanita yang menurutnya merupakan salah satu hal yang sulit ditaklukan oleh Karan.


Ian yang melihat Karan bersiap-siap keluar gedung perusahaan langsung mengejar Karan. Ia membukakan pintu mobil untuk sang CEO. “Kita berangkat sekarang, Pak?”


Mata Karan tertuju pada dokumen-dokumen yang ada tangannya. Ia harus segera memeriksa berkas perjanjian kerja sama itu sebelum bertemu dengan kliennya di Milan. Pria itu tidak berniat berlama-lama di negeri asal pizza itu. Jika ia sudah mendapatkan persetujuan dengan sang klien, maka ia akan pulang ke Indonesia. Kalau perlu di hari yang sama. Pekerjaannya sangat menumpuk. Terlalu lama di luar negeri akan membuatnya kerepotan nanti.


“Pak, saya pikir mereka akan menggila karena Anda menunjukkan cincin Anda secara terang-terangan.”


Ian memberikan komentarnya mengenai wawancara yang sudah dilewati oleh Karan. Hubungan mereka memang sempat renggang karena Karan menggila setelah perceraiannya dengan Raya. Ian pun menjadi orang yang selalu disalahkan. Karena tidak kuat, Ian sempat mengajukan pengunduran diri. Karan yang saat itu sadar akan kehilangan orang yang berharga di sisinya pun akhirnya meluluhkan hatinya. Ia mendatangi Ian secara pribadi dan meminta maaf.


Manik mata Karan terangkat, ia memandangi Ian sambil mengendurkan dasi di kerahnya. “Mereka sangat berlebihan. Mereka saja yang tidak menyadarinya padahal aku tidak pernah melepaskan cincin ini sedetik pun.”


Cincin yang melingkar indah di jari manis Karan adalah cincin pernikahannya dengan Raya. Cincin yang tidak pernah ia lepas dalam keadaan apa pun. Meskipun cincin itu sempat kebesaran karena berat badan Karan yang menurun drastis di awal perceraian mereka, kemudian Karan memperbaiki postur tubuhnya agar tetap proporsional. Sehingga cincin itu akan selalu pas di tangannya.


Bagi orang-orang terdekat yang ada di sekitarnya tahu bahwa itu merupakan cincin pernikahan sang CEO dengan mantan istrinya. Namun tidak bagi orang lain, termasuk para wartawan. Mereka hanya memperhatikan cincin pernikahan yang mewah dan mahal yang melingkar di jari Raya dan berbondong-bondong mencari informasi tentang benda itu. Sayangnya, tidak ada yang terlalu peduli dengan cincin pernikahan Karan yang terlihat sangat klasik dan sederhana itu. Mereka mengabaikannya sehingga pemberitaan mengenai cincin Karan pun tidak pernah menjadi sorotan media. Itu menguntungkan bagi Karan karena ia masih bisa memakainya hingga sekarang.


“Tapi Pak, apakah Anda benar-benar tidak akan melepaskan cincin pernikahan Anda?” tanya Ian penasaran.


Karan menggeleng dengan tegas. “Tidak, Ian. Aku hidup hanya sekali, jadi aku akan menikah sekali saja. Dan bagiku, tidak ada satu pun wanita yang bisa menggantikan Raya sebagai seorang istri. Aku hanya bisa menganggap Raya yang pantas.” Itu keyakinan yang terus terpupuk di hati Karan. Pria itu tidak akan menikah dengan orang lain karena cintanya terlalu besar kepada sang mantan istri. Jika ia tidak bisa mempertahankan Raya di sisinya, maka tidak ada satu wanita pun yang boleh menggantikan Raya.