Lies

Lies
Karena Kau Tidak Suka



Segalanya berubah. Benar-benar berubah. Kali ini bukan sekadar basa-basi atau perubahan biasa. Situasi Raya dan Karan tampak tidak seperti biasanya. Mereka mengurung diri seharian. Sejak pagi hingga menjelang sore hari. Tidak ada satu pun yang keluar kamar bahkan tidak ada yang mau beranjak dari ranjang jika tidak untuk ke toilet atau untuk menyantap makanan. Mereka ibarat orang-orang sakit yang dilarang keluar kamar oleh dokter.


Lantas, apa yang dilakukan kedua orang itu? Bersantai. Raya jelas hanya tidur-tiduran di ranjang sambil menonton televisi atau bermain ponsel. Sedangkan Karan lebih banyak menghabiskan waktu di sofa sambil membaca beberapa buku yang dulu sering dibacanya. Ini benar-benar waktu berlibur. Mereka seperti pengantin baru yang sedang berbulan madu.


Benar. Bulan madu. Mereka memang belum pernah berbulan madu sebelumnya karena Karan tidak berpikir bahwa melakukan hal itu diperlukan. Pernikahan ini hanyalah permainan untuknya. Jadi, bulan madu hanyalah liburan yang membuang-buang waktunya. Terlebih Karan sangat gila dalam bekerja. Baginya waktu adalah uang, dan berbulan madu adalah tindakan memboroskan uang dengan cara yang tidak tepat.


Tetapi Karan berubah pikiran. Rasanya berbulan madu bukanlah pilihan yang buruk. Apalagi mengingat hubungannya dengan Raya sudah semakin baik. Karan ingin mengajak Raya ke suatu tempat yang disukai wanita itu, lalu menghabiskan beberapa waktu di sana. Memang tidak bisa terlalu lama karena pekerjaan Karan yang menumpuk, tetapi Karan bisa bolos dari pekerjaannya sekitar satu minggu. Tentu setelah ia mengatakannya kepada sang ayah sebagai Presidir perusahaan keluarganya.


“Apa kita perlu pergi berbulan madu?” tanya Karan pada sang istri. Tangannya memang masih memegang buku, tetapi matanya kini beralih pada sang istri yang tengah sibuk menonton sebuah film.


Raya terdiam sejenak. Ia merasa bingung, tapi mencoba untuk mencernanya. Lalu ia mengecilkan suara televisi. “Ya? Apa yang kau katakan tadi?”


“Bulan madu Sayang. Apakah kau mau bulan madu?” Karan mengulangi kalimatnya.


“Ke mana?”


Karan menaruh bukunya di atas meja, berjalan ke arah ranjang dan duduk di samping sang istri. “Ke mana saja yang kau inginkan. Kau ingat apa yang kita bicarakan dulu? Pergi keluar negeri bukan untuk pekerjaan, tetapi murni untuk berlibur.”


Itu bukan rencana yang buruk, tapi cukup mengejutkan bagi Raya. Tidak pernah sekali pun Karan mengutarakan niatan berbulan madu padanya. Setelah mereka menikah dan menghabiskan malam panas bersama, Karan langsung pergi bekerja keesokan harinya. Kemudian pria itu pergi ke luar negeri atau ke luar kota beberapa kali. Jangankan untuk pergi berlibur, menghabiskan waktu di rumah saja rasanya sangat sulit.


“Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?”


Karan menanggapi, “Aku bisa minta Papa untuk menangani perusahaan sementara. Aku yakin Papa tidak akan keberatan.”


“Itu perusahaan keluarga. Bagaimana dengan KR Watch?”


“Kau tenang saja. Aku masih bisa mengurusnya sebelum kita pergi. Mungkin aku harus meninggalkan Ian agar dia yang mengelola untuk sementara.” Meskipun Karan sudah mengatakan solusinya, namun sang istri masih terdiam. Wanita itu seolah enggan pergi dengannya. “Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa. Aku hanya mengusulkan apa yang sedang aku pikirkan.”


Memang itu hanya sekadar usulan, tetapi Karan menyelipkan harapan di sana. Dan ketika Raya terlihat tidak terima dengan usulannya, Karan menjadi kecewa. Rasa kecewa itu kemudian berubah menjadi kemarahan. Mungkin karena darah dominan yang mendidih di dalam tubuh Karan sehingga ia secara tidak sengaja mengepalkan sebelah tangannya.


Sayangnya Raya tidak memperhatikan hal itu. Pikirannya justru terfokus pada apa yang Karan katakan. Andai saja tidak ada yang mengganjal di pikirannya, sudah pasti Raya akan dengan cepat menyetujui usulan Karan.


“Bukan itu. Aku mau pergi bulan madu bersamamu, tapi aku tidak bisa sekarang. Aku ingin melakukan sesuatu.” Raya akhirnya berkata jujur.


“Apa yang ingin kau lakukan?”


“Bekerja. Kalau kau tidak keberatan, aku ingin kembali bekerja. Mungkin sebagai juri acara kontes Putri Kecantikan Indonesia 2023. Kau tahu, aku pernah menjadi peserta dan aku ingin menjadi juri di sana.”


Pikiran Karan sekarang bercabang. Awalnya ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama sang istri lebih lama. Itulah mengapa ia mengusulkan opsi untuk berbulan madu. Tidak disangka justru Raya meminta izin untuk menjadi juri di kontes kecantikan itu. Seandainya Raya meminta pekerjaan lain, Karan akan mengizinkannya. Masalahnya, jika Raya menjadi juri, wanita itu akan sangat sibuk. Atau yang paling buruk, Raya akan beberapa kali menginap di tempat pelatihan sehingga Karan akan kehilangan waktu bersama istrinya.


“Tidak. Kau boleh mengambil pekerjaan apa pun, tapi tidak menjadi juri,” tekan Karan melarang.


“Raya, cukup! Kau sangat tahu aku tidak suka dibantah. Sebaiknya kita hentikan obrolan kita di sini. Dan sebaiknya kau tidak lagi membahas tentang menjadi juri di ajang itu.”


Karan beranjak dari ranjang. Bukan hanya pergi dari tempat tidur itu, Karan pun meninggalkan kamar Raya menuju ke kamarnya. Pria itu terlihat marah sekali sampai-sampai matanya memerah. Raya pernah melihat Karan yang sedang marah. Ini terjadi ketika Karan menuduhnya berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.


*****


Percakapan tentang menjadi juri itu berhenti tanpa jalan keluar dan Raya mencoba untuk bernegosiasi dengan sang suami keesokan harinya. Ia kembali meminta izin, bukan sebagai juri tetapi sebagai model video klip sebuah band terkenal Indonesia. Karena syutingnya berada di kawasan Jabodetabek dan hanya memakan waktu tiga hari, Karan pun mengizinkannya.


“Raya, berhenti! Biar aku saja yang mengantarmu,” celetuk Karan saat melihat Raya hendak naik ke mobil manajernya. Raya memang sering bepergian bersama dengan sang manajer dan mobil itu adalah akomodasi dari agensi yang menaungi Raya.


Raya mengurungkan niatannya masuk ke dalam mobil. Ia menghadap ke arah suaminya. “Tapi, bukankah kau akan pergi bekerja?” ujarnya sambil memandangi tampilan Karan. Pria itu terlihat begitu rapi dengan setelan jas berwarna abu-abu gelap. Tampak tampan dan seksi terlebih dengan rambut yang ia sisir rapi ke belakang.


“Mengantarmu tidak akan memakan banyak waktu.” Karan segera menimpali ucapannya saat Raya menatapnya dengan curiga. “Aku hanya ingin mengantarmu. Sungguh! Aku janji tidak akan turun dari mobil jika kau merasa tidak nyaman.”


Mengingat bagaimana pertemuan Karan dengan rekan kerjanya tempo lalu pasti membuat Raya merasa tidak nyaman. Tapi Karan sudah berjanji untuk tidak menganggunya. Sebaiknya Raya memberikan Karan kesempatan mengingat betapa kerasnya pria itu berusaha mengizinkannya bekerja. Anggap saja ini bentuk apresiasi dan rasa terima kasihnya pada sang suami.


“Baiklah,” ucap Raya pasrah. Ia bernapas panjang sebelum berbicara kepada manajernya. “Kak, aku akan pergi dengan Karan. Kakak pergi saja duluan.” Kemudian, Raya melangkah masuk ke mobil suaminya di mana Ian sudah menunggu di sana.


“Selamat pagi, Bu,” sapa Ian yang duduk di kursi kemudi.


“Selamat pagi,” balas Raya. Matanya mengedar, memandangi sekeliling mobil.


“Apa yang kau cari, Sayang?” tanya Karan yang baru masuk ke dalam mobil. Ia duduk di samping Raya ketika wanita itu terlihat seperti sedang mencari sesuatu.


“Rokok. Aku mencari rokokmu.”


Mata Karan terbelalak. Ia menatap tempatnya biasa menaruh asbak, rokok dan pemantik, namun tidak ada. Karan melirik ke arah Ian dan tersenyum. Sepertinya asistennya itu sudah melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan menyingkirkan ketiga benda itu dari dalam mobil.


“Tidak ada Raya. Kau tidak akan menemukannya,” balas Karan.


“Kenapa kau sembunyikan?”


“Bukan aku sembunyikan. Tapi aku sedang berusaha berhenti merokok,” ungkapnya jujur kendati ia beberapa kali mengalami kesulitan. Karan begitu sombong mengatakan bahwa ia bisa terlepas dari produk tembakau itu dengan mudah. Nyatanya baru satu hari Karan tidak menghisap satu batang saja, bibirnya sudah merasa kebas. Karan seperti telah kehilangan sesuatu.


“Kenapa kau berhenti merokok?” tanya Raya lagi. Rokok seperti kebutuhan primer bagi Karan. Raya sudah melihat benda itu ada di mana-mana selama ia tinggal di rumah mereka. Setidaknya ada tiga tempat di mana Karan sering meletakkan rokoknya. Di ruang keluarga, di kamar tidur dan di dalam mobil. Setiap ada kesempatan menemukannya, Raya akan membuangnya atau memberikannya kepada tukang kebun yang bekerja di rumahnya. Ia tidak suka ada asap yang mengepul di dekatnya, tapi Karan malah semakin sering merokok di dalam rumah.


“Karena kau tidak suka aku merokok,” tukas Karan yang tentu saja begitu mengejutkan istrinya.