
Karan tidak serta merta membiarkan Dona pergi begitu saja dari hadapannya. Apalagi membiarkan wanita itu melarikan diri ke luar negeri. Dona adalah penghancur hidup Karan, harus ada balasan kepada wanita itu agar tidak ada korban seperti Karan lagi di masa depan. Meskipun sangat terlambat karena sudah banyak korban yang menderita seperti yang Karan alami. Tetapi setidaknya, Karan bisa membantu para korban itu untuk membalas dendam meskipun balas dendam ini tidak akan mampu menghapuskan luka yang telah digoreskan oleh Dona. Setidaknya ketika mendengar Dona telah mendapatkan hukumannya, para korban itu akan mampu melangkah dengan baik.
Karena tidak banyak orang seberuntung Karan yang memiliki Raya di sisinya. Pasti ada banyak orang yang masih menyimpan luka itu di dalam hati dan pikiran mereka. Karan pun yang sudah mampu berkembang sejauh ini masih dibayang-bayangi masa lalunya, terutama trauma atas apa yang telah dilakukan oleh wanita itu.
Yang Karan lakukan adalah menghubungi salah satu koleganya di kantor kepolisian pusat. Karan menceritakan tentang niatan Dona yang ingin melarikan diri ke luar negeri. Dengan harapan pihak keamanan negara bisa langsung berkonsultasi dengan pihak imigrasi untuk mencekal Dona. Sebab saat Dona sudah berada di luar negeri, meskipun sudah melibatkan interpol untuk melakukan pencarian, akan sulit bagi polisi untuk menemukannya. Ini berhubungan dengan hukum masing-masing negara yang tidak bisa dicampuri oleh polisi di sini.
Setelah menghubungi polisi, Karan pun mencoba mencari tahu keberadaan Raya. Ia tidak ingin terlalu lama berpisah. Toh, tidak ada alasan lagi bagi Karan untuk menjauhkan Raya dari dirinya. Ia mulai bertanya pada Ian, satu-satunya orang yang masih berhubungan dengan Raya. Ah, ralat. Bukan kepada Raya, melainkan pada majaner Raya, Ika. Selama ini secara diam-diam Ian menghubungi manajer Raya, bertanya bagaimana kondisi Raya dan keberadaan sang super model. Ian tahu, cepat atau lambat, ia akan menjadi sumber yang ditanyai oleh Karan. Seperti yang terjadi hari ini.
“Di mana istriku?” tanya Karan begitu duduk di kursi kerjanya. Ia masih tinggal di hotel kemarin karena tidak mau membiarkan Dona membuntutinya. Tidak ada yang tahu apa yang hendak dilakukan wanita gila itu. Bisa saja wanita itu tidak benar-benar ke luar negeri tetapi berada di sekitar Karan. Sungguh menjijikkan membayangkan Dona tahu di mana Karan tinggal sebenarnya. Dona pasti tidak akan hanya mengganggunya, tetapi juga Raya. Mengingat hal itu sudah membuat Karan begitu kesal hingga ia memilih untuk menginap di hotel.
“Ibu Raya sedang ada di rumah manajernya, Pak. Beliau akan bekerja nanti siang, jam 1. Mungkin setelah makan siang,” jelas Ian. Untuk inilah Ian bersikeras berhubungan dengan Ika. Mengemis pada wanita itu agar memberi tahu perihal keberadaan Raya dan kondisinya. Untung saja manajer Raya itu begitu memahami kondisinya. Ia pun selalu memberikan informasi tentang sang super model, termasuk jadwal pekerjaannya karena hal itulah yang akan Karan tanyakan pada Ian.
“Apakah istriku masih syuting iklan parfum itu?” Terakhir kali hanya itulah pekerjaan yang Karan tahu yang sedang dikerjakan oleh Raya. Mengingat syuting itu berada di tempat yang sulit, bisa saja jadwal syutingnya memakan waktu jauh lebih lama dari sebelumnya. Terlebih cuaca di sekitar ibu kota sedang tidak menentu. Hujan yang datang tiba-tiba bisa menghancurkan kegiatan syuting mereka.
Ian mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan Karan. “Iya, Pak.”
“Kalau begitu, kosongkan waktuku setelah jam satu siang. Aku akan mengunjungi istriku sendiri.” Begitu titah Karan hari itu yang ditutup dengan anggukan kepala lagi dari Ian. Sang asisten tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti perkataan Karan.
*****
“Mbak yakin akan melanjutkan syuting hari ini? Syuting hari ini bisa ditunda kalau Mbak mau,” tukas Ika yang terlihat khawatir melihat kondisi Raya. Sejak pagi wanita itu sudah tidak bersemangat. Wajahnya pucat dan tubuhnya lemas. Yang terparah, Raya tidak bisa menyantap makanan apa-apa sekarang. Ia selalu memuntahkan makanan apa saja yang menghampiri mulutnya. Terlebih makanan yang punya aroma menyengat. Satu-satunya sumber nutrisi bagi Raya hanyalah jus buah yang dipesankan sangat banyak oleh Ika. Hanya dengan buah-buah itulah Raya bisa menghadapi satu hari itu dengan tenang, tanpa menimbulkan keributan apa pun di lokasi syuting. Bahkan, Raya bisa menyelesaikan sesi pertamanya dengan mulus.
“Tidak perlu. Aku masih bisa menyelesaikan semua syutingku hari ini, Kak. Kakak tidak perlu khawatir. Semua akan berjalan sesuai dengan jadwal,” kata Raya memastikan.
“Syuting memang penting, tapi kesehatan Mbak harus lebih diutamakan. Bagaimana kalau nanti sakit Mbak semakin parah? Kalau Pak Karan sampai tahu, aku pasti akan jadi bulan-bulanannya.”
“Tapi Mbak—”
“Kak, sudah!” Raya menyergah sebelum Ika menyelesaikan ucapannya. Ia tahu manajernya itu begitu khawatir padanya, tetapi Raya bukan lagi anak kecil yang tidak tahu kondisi tubuhnya. Benar Raya merasa tidak enak badan. Tapi ia tidak akan secengeng itu sampai harus berhenti syuting sekarang. Terlebih syuting nanti terbilang tidak terlalu berat. Hanya satu adegan di dalam kamar. Jika Raya berkonsentrasi penuh, ia pasti bisa menyelesaikan syuting itu dengan cepat. “Aku baik-baik saja. Atau begini saja, biarkan aku menyelesaikan syutingku hari ini. Setelah itu aku akan pergi ke rumah sakit.”
Kedua bola mata Ika terbelalak. “Benar ya?” tanyanya karena Raya tidak pernah mau dibawa ke rumah sakit. Bukan hanya hari ini saja, Raya selalu enggan setiap diajak ke sana. Ia tidak suka melihat dokter ataupun aroma rumah sakit. Katanya itu selalu membuatnya sakit kepala. Jika tidak dipaksa atau menderita penyakit berat, Raya tidak akan pernah mengunjungi tempat itu.
Raya mengangguk cepat. “Iya, Kak,” janjinya. Karena Raya sendiri merasa aneh dengan tubuhnya, jadi memeriksakannya ke dokter bukanlah usulan yang buruk.
Dengan semangat Ika membantu Raya menyelesaikan syuting sambil memastikan wanita itu dalam keadaan baik-baik saja saat melakukan syuting. Jika terjadi sesuatu yang lebih buruk, Ika tidak akan segan-segan menghentikan syuting meskipun produser dan sutradara marah besar pada Raya bahkan sampai menuntut ganti rugi. Pasalnya, Raya mempunyai Karan. Pria kaya raya itu tidak akan pernah membiarkan istri tercintanya itu terluka.
Tetapi, kekhawatiran Ika tidak terbukti karena Raya bisa menyelesaikan syutingnya dengan baik. Dan sesuai janji, Ika pun mempersiapkan diri untuk membawa Raya ke rumah sakit pada awalnya. Ya, awalnya sebelum seorang pria muncul di hadapan Raya.
“Hallo Raya, apa kabar?” tukas pria itu.
Raya yang sedang hendak naik ke mobilnya, mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menemukan sosok Varen di sana. Dengan senyuman canggung, Raya membalas, “Oh ha-hallo ... aku baik. Bagaimana denganmu?” Wanita itu berbicara sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya. Meskipun sudah jarang bertemu, tetapi dulu Varen adalah orang yang cukup berarti bagi Raya. Tidak hanya sebagai teman, pria itu juga sempat berstatus sebagai calon suaminya. Mereka bahkan pernah menyelenggarakan acara pertunangan yang sangat mewah dan megah.
Varen mendekati Raya. “Bisakah kita bicara sebentar? Di mana saja yang membuatmu nyaman.”
“Sekarang?” sahut Raya yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Varen. “Tapi aku mau ....” Raya menghentikan ucapannya setelah mendapatkan sebuah tanda dari Ika bahwa ia bisa berbicara dengan Varen. Tetapi sang manajer tidak memberikannya banyak waktu. “Baiklah, tetapi hanya 15 menit saja karena aku sedang terburu-buru.”
Varen tersenyum. “Ya, 15 menit sudah cukup bagiku,” ungkapnya. Awalnya ia pikir ini hanya sebuah pertemuan yang tidak disengaja. Memang benar ia tahu bahwa Raya akan menjadi salah satu model dalam iklan perusahaan parfumnya. Ia sendiri yang memaksa untuk menggunakan Raya. Namun sebelum datang ke lokasi syuting, ia mendapatkan kabar bahwa Raya mengajukan izin syuting karena alasan kesehatan. Varen pikir syuting adegan wanita itu akan ditunda. Tidak disangka ia akan bertemu dengan Raya di sini. Pertemuan ini benar-benar pertemuan yang tidak disengaja tapi disukai oleh Varen.