
Meskipun sudah dibantah, Raya tetap mengatakan bahwa tidak ada pasangan seperti itu di panti asuhan. Raya saja tidak mengingat bahwa dirinya pingsan, sudah pasti Raya tidak tahu apa yang terjadi. Karan memastikan bahwa istrinya sedang berhalusinasi. Agar tidak membuat keributan, Karan pun memutuskan membawa Raya pulang. Selain karena insiden barusan, Karan juga mengantisipasi kedatangan para reporter secara tiba-tiba di sana. Padahal mereka sudah mengusir wartawan agar tidak mendekat. Tapi seperti yang diketahui bersama popularitas Raya begitu tinggi. Masyarakat sangat bersemangat untuk mengetahui kehidupan Raya sehari-hari.
Akhirnya setelah berpamitan dengan seluruh penghuni panti asuhan, Raya dan Karan beserta rombongannya bergegas untuk kembali ke rumah. Mereka menaiki mobil dan melintasi sepanjang jalan Asoka. Hingga Ian memasuki sebuah tempat pengisian bahan bakar. Ini kesalahannya karena tidak memeriksa persediaan bahan bakar mobil yang membuat mau tidak mau mereka harus menepi lagi. Karan ingin memarahi Ian, tetapi Raya mencegahnya. Kepalanya masih terasa sakit dan pertengkaran kedua orang itu akan membuat rasa sakit di kepalanya semakin parah. Alhasil, Karan pun hanya bisa memberikan satu komentar negatif kepada Ian.
“Karan, apa kau pernah tinggal di sini?” celetuk Raya tiba-tiba. Entah mengapa Raya berpikir ada sesuatu antara Karan dan tempat ini. Kepedulian Karan terhadap lingkungan di sekitar jalan Asoka bukanlah sebuah kepedulian hanya untuk mendapatkan citra baik dari masyarakat. Karan sudah melakukan kegiatan amal tersebut sejak delapan tahun lalu, artinya Karan belumlah mendirikan perusahaan jam tangan bernama KR Watch, atau menjadi direktur utama Reviano Group. Suaminya itu masih melanjutkan pendidikannya di New York. Jadi, butuh sebuah alasan yang membuat Karan akhirnya datang ke sana, setidaknya tahu daerah itu.
Karan yang sejak tadi sibuk bekerja dengan laptopnya, mendadak berhenti bergerak. Ia terperangah, kemudian menengok ke arah sang istri. “Tidak, kenapa kau berpikiran seperti itu?” sahutnya sembari mematikan laptopnya agar fokus berbicara dengan sang istri.
“Tidak, aku hanya penasaran dari mana kau tahu tentang panti asuhan itu. Apa kau tahu dari Papa?” Karan dan ayahnya pernah ke sana bersama-sama. Jadi, mungkin saja laki-laki itu tahu dari ayahnya.
“Ya, Papa pernah ke tempat ini. Aku tahu dari Papa,” tukas Karan. Ia tidak berbohong sama sekali. Ayahnya memang pernah ke tempat itu sebelumnya dan mengalami sebuah peristiwa yang cukup mengerikan di sana. Laki-laki pemilik salah satu perusahaan besar di Indonesia itu pernah hampir saja kehilangan nyawa oleh peristiwa perampokan brutal. Untung saja nyawanya masih bisa diselamatkan. Sejak saat itu, bersama dengan Karan mereka pelan-pelan mengubah kampung kumuh yang penuh dengan tindakan kriminal itu menjadi tempat yang layak dihuni seperti sekarang.
Raya mengangguk-anggukkan kepalanya, merasa yakin suaminya tidak berbohong sama sekali. Ia pun mengalihkan pandangannya menuju ke sebuah jalanan kecil yang ada di seberang tempat mereka berada. Jalanan itu menuju ke sebuah sungai, Di sekitarnya ditumbuhi bunga-bunga cantik yang begitu terurus. Raya yakin anggaran perawatan alam yang ia baca dari laporan tentang panti asuhan itu bukan hanya untuk merawat tanaman di sekitar panti, melainkan sampai ke tempat-tempat seperti itu. Pantas yayasan menggelontorkan dana yang begitu banyak. Hasilnya sangat memuaskan seperti ini.
“Bukankah itu indah? Kau menyukainya?” tanya Karan ketika ia menyadari ke mana arah penglihatan istrinya. Raya sedang melihat penataan tanaman di kampung itu dan ia tampak menyukainya. Tidak sia-sia Karan mengajak Raya ke tempat ini karena istrinya itu terlihat begitu antusias. “Kami mendatangkan orang-orang ahli tanaman untuk melakukan riset tanaman apa saja yang tumbuh di sekitar jalanan itu. Hasilnya sangat bagus. Penduduk sekitar juga merawat tamanan itu dengan baik setelah kami memberikan arahan yang tepat.”
Sebenarnya tidak ada orang yang tidak patuh aturan jika lingkungan mereka patuh terhadap hukum dan punya kesadaran yang tinggi. Kampung di sekitar jalan Asoka contohnya. Meskipun miskin dan kumuh bahkan sering dikatakan sebagai kampung yang diisi orang-orang jahat, tetapi Karan dan sang ayah bisa mengubahnya. Sulit memang, tetapi mereka bisa melakukannya dalam waktu enam bulan saja. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh penguasa setempat. Itulah alasan kuat mengapa keluarga Reviano diagung-agungkan layaknya penguasa di daerah itu.
Yang menjadi pertanyaan besar bagi Raya adalah mengapa Karan begitu peduli terhadap kampung ini? Ini sangat aneh. “Kenapa kau sampai memperhatikan bunga-bunga itu? Jika ingin berbuat baik, bukankah cukup dengan memperbaiki panti asuhan saja?” cetus Raya bertanya. Mengingat bahwa tujuan Karan hanya untuk pencitraan, sepertinya perusahaan tidak perlu sampai memperhatikan hal-hal yang sebenarnya tidak cukup krusial bagi masyarakat. Taman, bunga dan sungai hanyalah faktor estetik yang tidak mempengaruhi kebutuhan pokok penduduk.
“Iya, tujuan aku dan Papa memang untuk memperbaiki panti asuhan. Tetapi Sayang, kita tidak bisa memperbaiki panti asuhan jika lingkungannya tidak pantas untuk ditinggali. Kau pikir bagaimana ratusan anak di sana bisa hidup dengan baik jika di sekitar sering terjadi perbuatan tidak baik? Untuk membuat panti asuhan itu baik ditinggali maka kita perlu memperbaiki sekitar panti asuhan juga, termasuk memberikan pendidikan kepada penduduk kampung ini. Dan salah satu pendidikan pentingnya adalah dengan menjaga lingkungan mereka agar tetap indah.”
Itu bukanlah alasan utama Karan. Ya, memang ia dan sang ayah ingin tercipta lingkungan kondusif di sekitar panti asuhan. Akan tetapi, mereka tidak perlu bertindak sejauh itu sampai memperbaiki jalan-jalan agar terlihat indah. Karan punya alasan lain. Alasan itu adalah karena jalanan di sana merupakan tempat-tempat bersejarah baginya. Di sana ia menghabiskan beberapa saat dengan kekasih remajanya yang saat ini sudah menjadi istrinya, Raya. Perempuan itu pernah terluka karena tersandung botol minuman keras yang diletakkan secara sembarangan oleh beberapa pemuda yang mabuk. Ia kesal dan mengatakan akan mengubah daerah itu menjadi lebih baik seandainya ia punya banyak uang.
“Suatu hari nanti aku akan mengubah tempat ini menjadi tempat yang indah. Jalanan di sekitar ini bukan lagi jalanan yang dipenuhi sampah plastik atau botol-botol minuman keras, tetapi bunga-bunga yang indah dipandang mata.”
Begitulah yang Raya katakan sewaktu ia masih muda. Kata-kata yang Karan yakini telah ia lupakan sepenuhnya. Untuk itulah Karan mengambil alih janji Raya. Pada akhirnya Karanlah yang mengubah seluruh kampung di jalan Asoka menjadi tempat yang indah dipandang mata, persis seperti keinginan Raya dulu. Karan selalu ingat untuk datang ke sana, sementara Raya tidak pernah menginjakkan kakinya ke tempat itu lagi sejak 12 tahun lalu. Tidak hanya melupakan janjinya kepada daerah kumuh itu, Raya juga telah melupakan seluruh janjinya kepada Karan, termasuk janji untuk tidak meninggalkannya.
“Karan!” panggil Raya secara tiba-tiba.
Raya mendekati suaminya dan melayangkan sebuah kecupan singkat di pipi Karan. “Terima kasih,” celetuk Raya.
Sontak kening Karan mengerut. Laki-laki itu jelas kebingungan. “Terima kasih? Kenapa kau berterima kasih padaku?” Kedua mata Karan memandang lekat Raya sambil berharap semoga saja wanita itu ingat siapa dirinya dan ucapan terima kasih itu karena Karan telah menggantikannya memenuhi janjinya. Namun sayang sekali, keinginan Karan harus pupus karena Raya sama sekali tidak ingat apa-apa. Sorotan mata cokelat Raya hanya menunjukkan rasa kagum dan bangga.
“Terima kasih karena kau telah membantu anak-anak di panti asuhan itu dan juga orang-orang di kampung ini. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku rasa aku harus mengucapkan terima kasih padamu.” Yang dilakukan Karan adalah perbuatan mulia. Sebagai seorang istri, Raya wajib mendukung dan mengapresiasi tindakan Karan. Dan kenyataan ini pulalah yang membuat pandangan Raya terhadap Karan sedikit berubah. Ternyata Karan Reviano tidak sepenuhnya jahat. Pria itu juga punya sisi manusiawi yang humanis. Mungkin Karan punya beberapa masalah dengan pengendalian emosinya, terutama tentang rasa posesif dan cemburunya.
Sama seperti Raya yang tidak bisa mengendalikan dirinya jika ia jatuh miskin. Hanya memikirkan hidup pas-pasan saja sudah membuatnya takut meskipun ia tidak menghabiskan uang terlalu banyak untuk memenuhi kehidupan glamornya. Raya hanya tidak bisa jika ia tidak bisa menghasilkan uang sendiri. Sebab sejak dulu, sang bibi selalu menanamkan pentingnya kerja keras agar ia tidak hidup susah. Raya memang tidak pernah hidup miskin bersama sang bibi. Namun entah mengapa ia selalu merasa bahwa ia punya pengalaman pahit hidup serba kekurangan seperti itu.
“Aku menerima rasa terima kasihmu. Tapi Sayang, kau tahu ‘kan kecupan saja tidak cukup untukku?” komentar Karan tidak terima dengan hanya diberikan sebuah kecupan ringan oleh sang istri.
Raya memutar bola matanya jengah. Bukan ini yang ia maksudkan saat mengecup sang suami. Ia hanya ingin memberikan apresiasi terhadap kinerja mulia laki-laki itu tanpa tendensi apa pun. Dan Raya lupa bahwa apa yang ia pikirkan belum tentu sama dengan apa yang Karan pikirkan. Terlebih laki-laki tersebut sangat suka sentuhan fisik. “Memangnya apa yang harus aku lakukan?” tanya Raya bingung. Ia sedikit menjauh saat Karan berusaha mendekapnya. “Kita sedang di luar, Karan. Jangan aneh-aneh!”
“Apa yang aneh? Kau saja bisa mengecup pipiku tanpa bisa aku protes. Kenapa aku tidak bisa menyentuhmu? Lagi pula Sayang, aku tidak akan melakukan apa-apa di sini, kecuali jika kau yang menginginkannya.”
“Tapi kenapa kau dekat-dekat begini?” Raya masih berusaha menjauh.
“Aku hanya ingin memelukmu. Kemarilah, aku janji tidak akan melakukan hal-hal yang tidak kau sukai,” ungkap sang CEO sambil merentangkan tangannya. Ia bahkan sempat menatap tajam ke arah Ian yang mencuri pandang lewat cermin yang ada di atas mobil. Seandainya Ian melakukan hal yang sama lagi, Karan berjanji akan menurunkan sang asisten di tempat itu saat ini juga. Dasar, benar-benar pengganggu menyebalkan!
Raya menatap dengan ragu. “Kau janji hanya pelukan saja?”
Karan menganggukkan kepalanya. “Iya Sayang, hanya pelukan. Apa kau tidak mau memeluk suamimu?”
Raya pun luluh. Ia mendekati Karan dan memeluk suaminya. Dalam pelukan itu ia mendengar bisikan Karan yang lembut di telinganya. “Kita tidak bisa melakukannya di sini, tapi aku tidak janji kita tidak bisa melakukannya di tempat lain, bukan?”
Tangan Raya bergerak, bermaksud ingin mendorong Karan namun gagal. “Aku harus bekerja besok, Karan. Kita tidak bisa melakukannya di rumah.”
Seulas seringai muncul di bibir Karan. “Siapa yang bilang di rumah, Sayang? Kita juga tidak bisa melakukannya di rumah, tapi di tempat lain. Mungkin di pesawat terdengar mengasyikkan.”