
“Kejahatan? Bagaimana mungkin kau mengatakan hal seperti itu kepada suamimu? Kau menuduhku melakukan kejahatan?” Emosi yang awalnya disimpan dengan baik oleh Karan pelan-pelan meledak begitu saja. Karan tidak mengerti sama sekali alasan Raya menyudutkannya seperti itu. Melakukan kejahatan? Konyol sekali. Karan tidak akan melakukan apa pun yang tidak ada kaitannya dengan Raya. Seandainya Karan melakukan tindakan kriminal, sudah pasti itu ada kaitannya dengan Raya. Karan juga bisa berhubungan dengan polisi karena wanita itu. Tidak adil jika Raya menyudutkannya seperti ini. Karan merasa marah dan sangat kesal.
“Lalu apa? Kau benar-benar sudah melakukan kejahatan, bukan?” Raya kembali mencecar Karan. Kali ini Raya bahkan tidak segan-segan menyudutkan suaminya dengan fakta yang baru didapatkannya beberapa saat yang lalu. Fakta yang ia dapatkan dari Varen. Mungkin inilah saatnya untuk menyudahi kepura-puraan Karan.
“Kejahatan apa? Aku tidak melakukan apa-apa,” elak Karan karena pria itu belum mengetahui konteks dari pembicaraan Raya. Ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh istrinya itu. Karena selama ini, Karan berpikir melakukannya dengan benar. Bukan baik, tetapi setidaknya ia sudah memastikan semuanya bersih.
“Kau menjebak Varen, bukan? Kau membuat dia dan Cindy bertemu di dalam kamar hotel. Kau juga yang menukar alamat pengiriman sepatu waktu itu. Aku sudah melihat semua buktinya jadi percuma kalau kau mengelak sekarang.”
Karan sangat terkejut mendengar penuturan Raya. Bagaimana mungkin Raya bisa mengetahui hal itu? Dari mana wanita itu mendengar semuanya? Rasanya Karan sudah menutup semua mulut saksi mata yang ada di sekitar tempat kejadian. Karyawan toko sepatu itu pun sudah mendapatkan bayaran yang fantastis agar tidak membuka suara tentang peristriwa itu kepada siapa pun. Lalu, bagaimana bisa Raya mendapatkan informasi ini? Tidak mungkin Raya hanya mengarang-ngarangnya saja. Raya bukanlah tipe wanita yang asal berbicara tanpa keyakinan yang penuh. Dan keyakinan wanita itu biasanya disertai oleh bukti yang kuat.
“Bagaimana kau bisa tahu tentang itu semua?” cetus Karan. Ia tidak akan berpura-pura mengelak lagi. Percuma saja ia bersandiwara dan menampilkan wajah polos tak berdosa. Raya tidak akan pernah percaya padanya. Lebih baik Karan mengaku saja supaya semuanya tidak berjalan lebih buruk dari yang ia duga.
Raya terkekeh, kemudian ia menyeringai. Entah apa yang ditertawakan oleh sang super model. Mungkin menertawakan ucapan sang suami atau mungkin saja menertawakan kebodohannya yang jelas-jelas memercayai pria seperti Karan. “Sekarang kau mengakuinya? Kau tidak mau mengelak lagi seperti biasa?”
“Ya benar. Aku melakukan semua yang kau tuduhkan itu. Aku yang merancang semuanya, mulai dari kasus sepatu itu sampai skandal di hotel mereka. Tapi, kalau bedebah itu memang mencintaimu, dia tidak akan pernah menemui wanita lain. Dia tidak akan pernah memedulikan wanita lain melebihi dirimu. Nyatanya dia memang memilih wanita itu daripada kau, Raya. Itulah yang membuat rencanaku berjalan mulus,” kata Karan masih saja membela perbuatannya.
Karena menurutnya, sehebat dan selicik apa pun Karan membuat rencana, jika Varen memang tipe pria yang setia dan benar-benar mencintai Raya, ia tidak akan terjebak dalam rencana Karan. Varen pasti bisa mempertahankan pertunangan mereka dan berlanjut ke pernikahan. Sayangnya, hal itu tidak terjadi. Bukti bahwa Varen tidak terlalu menaruh perasaannya pada Raya. Berbeda dengan Karan yang akan melakukan segala hal untuk Raya. Karan tidak peduli apa pun di sekitarnya. Meskipun ada ribuan wanita seperti Cindy, Karan tidak akan goyah. Perasaannya terhadap Raya sangat besar dan tidak akan bisa diusik oleh hal-hal seperti itu. Hanya saja Karan tidak punya kesabaran yang besar. Terlebih rasa posesifnya terhadap Raya begitu tinggi hingga ia sering kali menjadi berlebihan kepada sang istri.
Melihat Raya yang diam membuat Karan begitu penasaran tentang siapa yang mengatakan kebenaran itu kepada Raya. Ia mengajukan pertanyaan pada wanita itu. “Jadi, siapa yang memberi tahumu? Siapa orang yang membocorkan rencanaku? Dari mana kau tahu semuanya?”
“Apakah itu penting sekarang? Apa bedanya ketika kau tahu siapa orang memberiku informasi? Apa itu bisa mengubah kenyataan kalau kau sudah menjebak Varen?”
Raya mengernyit, tidak mengerti bagaimana mungkin Karan masih bisa mengatakan hal seperti itu sementara masalah yang sebenarnya ada pada dirinya sendiri. Karan seharusnya menebus kesalahannya dan meminta maaf pada Varen. Atau setidaknya menyesali perbuatannya meskipun sedikit. Tetapi apa yang Raya lihat ini? Raya tidak mengerti mengapa ia bisa mengenal Karan. Mengapa ia bisa menikahi pria seperti Karan, dan bagaimana mereka bisa berakhir seperti ini. Setiap kali mereka ingin menyelesaikan pertengkaran, selalu saja ada masalah baru yang lebih besar dari sebelumnya. Di mana salahnya hubungan mereka? Mengapa tidak ada satu pun hal yang benar dalam pernikahan mereka ini?
“Kau masih diam, Sayang? Kau tidak mau memberi tahuku? Ya, tidak masalah. Aku akan mencari tahunya sendiri.” Karan menatap Ian yang sedang menyetir. Ia tahu pria itu mendengar semuanya dengan jelas. Sudah pasti sang asisten tahu apa yang harus ia lakukan. “Ian, cari tahu siapa yang mendekati istriku belakangan ini. Kau harus memberikan laporannya dalam waktu setengah jam.”
Itu ancaman yang tidak hanya Karan tujukan pada Ian, melainkan kepada Raya juga. Ia ingin memberikan kesempatan kepada Raya untuk berbicara padanya, agar wanita itu mau mengungkapkan siapa yang membocorkan masalah ini. Jika Raya angkat suara, Karan akan memikirkan hukuman apa yang diberikannya kepada sang istri. Mungkin hukuman itu bisa ia peringan. Karan hanya ingin memberikan satu kesempatan terakhir bagi Raya agar bisa menarik kepercayaan darinya lagi.
Sampai akhir pun Raya enggan buka suara. Ia tetap bungkam dan tidak membicarakan apa pun. Untung saja Ian bisa mencari informasinya dengan cepat. Begitu mereka tiba di rumah, Ian segera menghubungi orang yang ditugaskan Karan untuk mengikuti Raya. Jika sebelumnya orang itu ditugaskan sebagai mata-mata, maka sekarang Karan menugaskan orang itu sebagai pelindung Raya. Tidak disangka orang itu malah kembali bertugas sebagai mata-mata dadakan hari ini. Dari orang itulah Karan tahu bahwa orang yang mengajak Raya bertemu adalah Varen. Sudah pasti pria itu yang membeberkan semuanya kepada Raya.
Dari informasi itu Karan mendatangi kamar Raya, tempat di mana sang istri berada sekarang. Raya begitu ahli melarikan diri. Hanya dalam hitungan detik ia sudah menghilang dari pandangan Karan. Itulah yang membuat Karan begitu khawatir kehilangan Raya. Istrinya pernah meninggalkannya 12 tahun lalu, kemudian melarikan diri ketika mereka baru menikah. Tidak ada jaminan Raya tidak akan melakukan hal yang sama di kemudian hari.
“Raya, buka pintunya!” seru Karan dari luar. Ia sudah mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada tanggapan dari Raya. Akhirnya ia pun bersuara dengan keras yang disertai dengan ancaman. “Raya Drisana, kalau kau tidak segera membuka pintu ini dalam hitungan tiga, aku akan membukanya dengan caraku sendiri!”
Berhasil. Ancaman Karan kali ini berhasil membuat Raya membuka pintu kamarnya. Wajah wanita itu terlihat pucat, Karan merasa begitu khawatir. Namun, saat Raya melontarkan satu kalimat, rasa khawatir Karan menguap begitu saja. “Bisakah kau berhenti mengganguku?” Begitu kata super model itu kepada suaminya sendiri.
“Kau berhubungan dengan Varen lagi?” celetuk Karan dengan emosi.
Raya memutar bola matanya jengah. “Ya, aku melakukan itu. Aku bertemu dengannya dan sekarang aku bekerja menjadi salah satu model untuk mengiklankan produk perusahaannya. Dialah yang memberi tahuku semua rencana busukmu di masa lalu. Apa kau puas? Kau ingin menghukumku? Ya sudah, aku akan sukarela mengurung diriku sendiri di dalam kamar. Jadi, berhentilah menggangguku. Kalau kau melakukan itu, aku jamin kau tidak akan pernah bertemu denganku lagi.”
Kali ini Rayalah yang mengancam Karan. Wanita yang biasanya lemah, kali ini memberanikan diri untuk menentang suaminya sendiri. Setelah melihat Karan yang tampak tidak mau mendebatnya lagi, Raya pun segera menutup pintu kamarnya. Ia menguncinya dan berdiri menyender di pintu sambil matanya memandang beberapa benda kecil yang ada di atas nakasnya. Benda-benda yang baru saja ia gunakan untuk memeriksa sesuatu.