
Meskipun sudah tahu di mana kira-kira lokasi keberadaan Raya, tetapi mencarinya tidak semudah apa yang diperkirakan. Ada puluhan rumah sakit besar dan ratusan rumah sakit kecil di sekitar ibu kota. Mengunjungi rumah sakit satu per satu akan memakan cukup banyak waktu kendati Ian telah mengerahkan lebih banyak orang untuk melakukan pencarian. Seandainya ada petunjuk lagi, walaupun hanya sebuah petunjuk kecil, mungkin Ian dan orang-orang suruhannya bisa menemukan Raya jauh lebih cepat.
Sayangnya hingga hari kedua pencarian di rumah sakit, tidak ada tanda-tanda keberadaan Raya. Padahal hampir semua bagian unit gawat darurat dan instalasi gawat darurat di beberapa rumah sakit sudah dikunjungi. Mereka bertanya pada para perawat tentang pasien bernama Raya Drisana. Akan tetapi, tidak ada satu rumah sakit pun yang mengaku sedang merawat pasien tersebut.
Meskipun sangat sulit, Karan tetap melakukan pencarian. Ia sama sekali tidak patah semangat karena punya harapan yang tinggi bahwa ia akan menemukan istrinya. Sama tingginya dengan firasat yang dirasakan oleh Ian. Kendati kedua perasaan orang itu belum tentu tepat karena hingga saat ini, sosok Raya masih belum ditemukan sama sekali. Kabar wanita itu pun bak lenyap ditelan bumi. Bahkan, untuk membuat Raya selalu muncul dalam pemberitaan media massa, Karan sengaja melakukan sedikit ulah agar menarik perhatian. Ia secara terang-terangan pergi bersama dengan beberapa artis yang bekerja sama dalam rumah produksinya.
Saat kepergok wartawan, dengan mudahnya Karan membantah dengan mengungkapkan bahwa artis itu hanyalah seorang artis yang akan bekerja sama dengan film atau sinetron yang sedang diproduksi oleh cabang perusahaannya. Selain untuk membuat pemberitaan Raya selalu naik, hal itu juga dilakukan untuk membuat rumah produksi Karan semakin dikenal. Karena prinsip di industri hiburan, terutama industri hiburan di Indonesia mengatakan bahwa semakin banyak seorang artis membuat skandal, maka artis itu akan semakin terkenal dan diundang oleh beberapa stasiun televisi. Karan hanya mengikuti cara-cara umum yang lumrah digunakan para artis ibu kota tersebut, meskipun cara-cara itu adalah cara instan dan tidak menggambarkan dirinya sama sekali, serta melukai ideologi yang ia yakini.
Tetapi, memangnya apa gunanya sebuah ideologi? Bagi sebagian besar masyarakat sepertinya ideologi tidak terlalu penting. Begitu pula para pelaku industri kreatif. Yang mereka lakukan hanyalah untuk mendapatkan uang demi tujuan hidup di masa depan, yaitu hidup dengan berlimang harta tanpa bekerja. Hal itulah yang membuat kejahatan sekarang semakin aneh dan mengerikan bahkan sampai di luar nalar. Segal acara baik cara instan maupun melalui proses, cara baik ataupun cara-cara buruk yang bisa menyakiti orang lain digunakan demi tujuan hidup mereka tersebut
Pencarian besar-besaran sudah dilakukan dan media massa pun selalu mengabarkan hubungan Karan dan Raya yang semakin buruk. Akan tetapi, sampai siang hari ini, Karan belum juga mendapatkan kabar apa pun. Ian yang seharusnya bekerja di kantor, sekarang lebih sering di luar kantor demi melakukan pencarian terhadap Raya. Alhasil, Karan pun harus melakukan segalanya sendirian. Ia yang biasanya hanya menandatangani beberapa dokumen yang telah diperiksa dengan teliti oleh Ian, sekarang harus melakukannya dari awal. Hanya sekretarisnya saja yang membantu Karan.
Itulah yang membuat Karan menjadi lebih sensitif dari biasanya. Ia tidak akan menoleransi bentuk kesalahan apa pun meski hanya kesalahan kecil saja. Hanya dalam waktu sekejap, ada lima orang karyawan sudah dipecat oleh sang CEO. Alasannya beragam namun dianggap Karan begitu krusial. Ada yang membuat dokumen yang salah. Ada pula karyawan yang bergosip di perusahaan. Bahkan alasan yang paling sederhana seperti tidak memberikan salam saat berpapasan dengan Karan pun turut dipecat tanpa boleh mengajukan keberatan sama sekali. Semua karyawan mendapatkan ketegangan maksimal selama beberapa hari ini. Situasi gedung pencakar langit itu seperti selalu dilingkupi oleh aura gelap yang membuat merinding.
Itulah yang membuat mereka berharap Raya Drisana dapat ditemukan secepatnya. Agar perusahaan kembali normal. Agar suasana hati Karan kembali seperti sedia kala. Dan agar tidak banyak lagi korban pemecatan sepihak dari Karan tanpa adanya pertimbangan apa pun. Sebab kalau terus-menerus berlanjut, dijamin akan banyak karyawan yang mengundurkan diri dari perusahaan Reviano Group. Mereka lebih memilih bekerja di perusahaan kecil dengan gaji yang jauh lebih sedikit ketimbang bekerja di perusahaan sebesar Reviano Group dengan gaji tinggi tetapi mereka mengalami tekanan batin terus-terusan.
Doa mereka pun terjawab saat secara tiba-tiba sebelum jam pulang kantor, dunia hiburan digemparkan dengan sebuah video. Video itu hanya berdurasi 10 menit tetapi sudah ditonton lebih dari lima juta kali hanya dalam waktu satu jam perilisannya di sebuah platform. Karena video itu, banyak yang memundurkan jam pulang kantornya. Mereka lebih memilih tinggal beberapa saat di kantor sambil menyaksikan informasi terbaru yang diperbaharui oleh media massa. Karena dalam waktu satu jam itu, hampir seluruh saluran televisi dan portal-portal berita tidak luput menyiarkan potongan video tersebut dan menjadikannya sebagai bahan pemberitaan.
Dunia media sosial juga tidak kalah heboh. Setelah potongan video itu tersebar di internet, pelan-pelan muncul unggahan-unggahan lainnya yang berisi foto dan cuplikan video lain. Unggahan-unggahan tersebut pun diserbu oleh warga net dan telah dilihat ribuan kali. Dalam sekejap, semua topik pembicaraan masyarakat tersedot karena video dan unggahan yang lain. Nama sang pemeran dalam video tersebut beredar dan menjadi trending topik di berbagai media. Sebuah nama yang sering muncul belakangan ini. Nama seorang model papan atas yang begitu terkenal akan kebaikan hatinya. Nama Raya Drisana.
Berbeda dari sebelumnya yang selalu menolak orang lain masuk ke dalam ruangan kerjanya, kali ini Karan membiarkan sekretarisnya itu masuk. “Masuklah,” ucap sang CEO. Ia malah tampak terkejut karena wanita itu belum juga pulang sekarang padahal Karan tidak mengintruksikannya untuk lembur. Sebab, Karan lebih suka bekerja sendirian. Kalaupun ada yang bisa membantunya, Karan harap orang itu adalah Ian, bukan sang sekretaris. “Kenapa kau belum pulang? Kalau masih ada pekerjaan lain, tinggalkan saja, dan selesaikan besok pagi.”
Sang sekretaris menggelengkan kepalanya ketika ia sudah berhadapan dengan Karan. “Tidak Pak. Ini bukan masalah pekerjaan. Tapi ada yang harus saya tunjukkan pada Anda,” cetus wanita itu. Ia mengambil ponselnya dan menunjukkan video berdurasi sepuluh menit itu kepada Karan.
Sama seperti orang lain yang melihat video itu, Karan pun ikut terkejut. Ia benar-benar tidak percaya bahwa orang yang ada di dalam video itu adalah Raya Drisana, orang yang ia cari-cari selama ini, istrinya yang kabur dari rumah. Setelah meninggalkannya dengan cara yang begitu kejam dan menghilang lebih dari satu bulan, Raya kembali menunjukkan dirinya. Tetapi dengan cara yang aneh. Melalui sebuah video.
Karan menatap video itu dengan nanar. Ada rasa marah dan kesal di matanya. Tetapi rasa rindu dan sedih pun tidak bisa Karan sembunyikan dari dirinya. Dengan balutan dress berwarna merah menyala dan polesan lipstik dengan warna senada, Raya mulai berbicara. Suara wanita itu dan cara bicaranya masih sama di mata Karan. Bahkan cara memandang Raya ke depan kamera tidak pernah berubah. Tenang, teduh tetapi tetap Anggun. Khas seorang model papan atas yang sudah sangat profesional berhadapan dengan kamera fotografer maupun kamera wartawan. Meskipun dalam keadaan duduk, Raya tampak begitu berpengalaman.Wanita itu masih dapat bergerak dengan bebas dan tampak luar biasa di dalam video.
“Selamat siang, mohon maaf karena sudah membuat keributan yang meresahkan masyarakat.” Ucapan pertama Raya dalam video itu. Meskipun ekspresi wajahnya terlihat tetapi tubuh wanita itu berkata lain. Karan menangkap gerakan di mana Raya meremas kedua tangannya satu sama lain, menunjukkan bahwa super model itu sedang dalam keadaan gugup. Kemudian, Raya melanjutkan ucapannya. “Saya tidak menyangka masalah pribadi saya dan suami saya akan menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Saya mohon maaf sebesar-besarnya,” tukas wanita itu sambil menundukkan kepalanya, tanda bahwa penyesalannya itu benar-benar tulus dan tanpa dibuat-buat.
“Di sini saya ingin menjelaskan sesuatu, bahwa perceraian saya dan Karan Reviano benar-benar murni karena kesalahan saya. Di awal pernikahan, saya telah berjanji kepada suami saya agar kami bisa saling terbuka. Karan sudah melakukan itu, tetapi saya tidak melakukannya. Suami saya selalu ingin yang terbaik untuk saya, sayangnya saya terlalu keras kepala karena mencintai industri hiburan. Karena itulah mulai terjadi beberapa kesalahpahaman di antara kami. Di sini saya ingin membantah dengan jelas apa yang dituduhkan rekan kerja saya, Reagan, dan mantan kekasih saya, Varen. Suami saya tidak pernah menyiksa saya atau mengurung saya seperti yang mereka sampaikan beberapa saat yang lalu. Tetapi saya juga mengucapkan terima kasih kepada mereka karena kepedulian mereka begitu tinggi hingga mereka salah paham terhadap apa yang suami saya lakukan kepada saya.”
Video itu terhenti, Karan menghentikannya sejenak. Ia sudah tidak bisa mengatur ekspresi wajahnya karena air matanya seakan nyaris terjatuh begitu saja. Karan begitu terharu mendengar penuturan Raya. Ini di luar dugaannya. Awalnya Karan pikir video itu khusus dibuat Raya untuk memulai perang dingin terhadapnya. Karan bahkan sudah menyiapkan hatinya untuk mendengar tuduhan apa yang akan disampaikan oleh Raya dan bagaimana cara menyerang balik wanita itu. Tetapi apa yang ia saksikan ini? Alih-alih menyudutkan Karan dengan membeberkan fakta kejahatan pria itu, Raya justru membelanya. Terlebih Raya secara jelas membantah tuduhan dari Reagan dan Varen yang terlebih dulu menyudutkan Karan.
Padahal Raya punya banyak kesempatan. Hanya mengucapkan satu kata saja dari bibirnya bahwa ia mengiyakan tuduhan tersebut, masyarakat Indonesia akan dengan mudahnya kembali mendukung Raya dan menyudutkan Karan. Semua penggemar Raya akan memberikan dukungan besar-besaran kepada wanita itu karena menganggapnya sebagai korban. Sayangnya, Raya tidak melakukan itu. Wanita yang punya kesempatan besar untuk menyampaikan keburukan suaminya itu sama sekali tidak berbicara tentang hal itu. Ia malah meminta maaf atas kesalahan yang sama sekali tidak dilakukan olehnya.
Kening Karan berkerut sementara matanya memerah. Dalam hatinya Karan terus bertanya-tanya, sebenarnya apa yang diinginkan oleh Raya? Mengapa wanita itu melakukan hal seperti ini? Dan yang paling utama, di mana wanita itu berada sekarang?