Lies

Lies
Kebenaran Dari Skandal



Raya tidak menyangka akan ada saat ia berbicara dengan mantan kekasihnya hari ini. Memang bukan hal tabu bagi seseorang untuk bertemu lagi dengan sang mantan kekasih meskipun perpisahaan mereka terbilang tidak baik. Raya juga pernah bertemu dengan kekasihnya yang lain di masa lalu. Beberapa kali malah kendati situasinya tidak secanggung ini. Terlebih perpisahaannya dengan Varen sangat tidak mengenakkan. Mereka berpisah karena sebuah skandal yang sampai saat ini masih terus diingat oleh Raya. Skandal yang akhirnya membuat Raya memilih menikahi Karan.


“Aku senang kau baik-baik saja,” tukas Varen membuka percakapan mereka. Saat ini kedua orang itu tengah duduk di sebuah kafe yang tidak jauh dari lokasi syuting. Dengan segelas minuman dingin di depan meja masing-masing, mereka pun mulai berbicara satu sama lain.


“Ya, aku juga senang kau terlihat sehat,” balas Raya dengan tulus. Biar bagaimanapun Varen adalah temannya. Jauh sebelum memutuskan untuk menjalani sebuah hubungan asmara dengan Varen, pria itu sudah menjadi rekan Raya di kampus. Pertemanan mereka tidak bisa dilupakan Raya begitu saja, sama seperti rasa sakit wanita itu karena pengkhianatan Varen.


Varen tampak memandangi Raya dengan intens sehingga wanita itu merasa risih. “Kenapa? Apa ada yang salah?” tanya Raya yang kaget mendapati tatapan Varen.


“Tidak, aku hanya tidak menyangka kita bisa bertemu lagi.”


Mungkin itu adalah kalimat basa-basi karena tidak mungkin Varen tidak menyangka pertemuan mereka dapat terjadi. Awal terpilihnya Raya menjadi bintang iklan dalam produk parfum ini adalah berkat usulan Varen. Dan sebagai pemilik perusahaan, tidak mungkin usulan itu ditolak oleh sang sutradara. Jika sudah seperti itu, kemungkinan pertemuan mereka akan sangat besar, kecuali Varen benar-benar sudah lepas tangan dari kepengurusan mengenai pemasaran, dan itu wajar saja mengingat Varen adalah seorang direktur perusahaan besar.


“Kau yang sudah memilihku dalam iklan ini. Aku seharusnya mengucapkan terima kasih padamu,” sahut Raya.


“Tidak perlu. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi aku benar-benar memilihmu berdasarkan kemampuanmu karena aku mengenalmu lebih lama dari model lainnya. Dan aku yakin kau pasti bisa melakukan pekerjaan ini dengan sangat baik.” Keyakinan Varen tidak salah. Selama beberapa tahun mengenal Raya, Varen secara tidak langsung mengikuti perkembangan karier wanita itu. Terlebih saat statusnya berubah menjadi kekasih yang membuatnya beberapa kali harus terlibat dalam pekerjaan Raya.


“Aku tahu, tapi tetap saja aku harus berterima kasih padamu.”


Raya sangat bersikeras ingin mengucapkan terima kasih. Kedua netra wanita itu menatap tajam ke arah Varen, menunjukkan seberapa besar keseriusannya pada ucapannya. Akhirnya, mau tidak mau Varen menerima ucapan terima kasih itu. “Baiklah, sama-sama,” ungkap pria itu canggung yang menimbulkan gelak tawa di antara keduanya. Ini lebih sulit dari mengajukan kerja sama dengan pengusaha-pengusaha luar negeri yang ternama. Berbicara dengan mantan pacar benar-benar hal terberat bagi Varen. Terutama karena Raya adalah wanita yang nyaris menjadi istrinya.


Karena suasana sudah cukup cair, Varen pun memulai inti pembicaraannya. Ia tidak mau membuang-buang waktu dengan mengganggu Raya. Apalagi wanita itu tadi terlihat tidak enak badan. Varen ini memberikan waktu istirahat yang lebih banyak kepada Raya. “Bagaimana dengan pernikahanmu? Apa kau bahagia bersama Karan, Raya?” tanya Varen yang tentu saja mengejutkan Raya. Varen sendiri terkejut kalimat itu dapat meluncur dengan mudahnya dari bibirnya. Padahal sejak tadi ia berusaha keras mencari kata-kata yang bagus untuk dikatakan. Kata-kata yang tidak menohok seperti barusan.


“Kenapa kau bertanya seperti itu padaku?” Raya balik bertanya. Sekiranya ia bisa mendapatkan jawaban alasan mengapa laki-laki tersebut begitu penasaran dengan kehidupan pernikahannya. Seandainya Raya tahu alasannya, ia akan cepat-cepat memperbaikinya agar kelak tidak ada lagi yang meragukan bahwa ia bahagia hidup bersama Karan.


“Tidak, aku hanya penasaran saja,” ungkap Varen. Sebenarnya ada yang ingin disampaikan Varen, tetapi ekspresi wajah Raya begitu tegang hingga Varen kesulitan berbicara.


“Benarkah?” Raya tampak tidak percaya, tetapi ia memilih pura-pura tidak peduli. Alhasil, Raya membalas ucapannya, “Aku baik-baik saja. Aku juga bahagia dengan pernikahanku. Kau tidak perlu khawatir.”


Meskipun awalnya tampak ragu, Varen akhirnya memberanikan diri untuk berbicara. “Aku tidak tahu apakah aku boleh mengatakan ini, tapi ada sesuatu yang ingin aku jelaskan padamu. Ini tentang perpisahan kita. Aku ingin meluruskan keadaannya.” Varen sudah menyimpan hal ini sejak lama dan tidak bisa mengungkapkannya kepada Raya. Ia berusaha mencari waktu yang pas untuk melakukannya, tetapi tidak menemukannya. Saat inilah ia bisa menemukannya sehingga ia harus mengatakan kebenarannya. Kebenaran tentang perpisahan mereka.


Raya bingung, tapi ia berusaha untuk berkonsentrasi agar bisa menyimak apa yang dikatakan oleh Varena. “Apa yang ingin kau luruskan?” celetuk wanita itu memberikan kesempatan. Sama sepertinya, Varen pasti punya sesuatu yang ingin ia katakan tentang masa lalu. Waktu itu mereka tidak bertemu secara langsung sehingga tidak ada kesempatan bagi Varen untuk membela diri.


“Kau tahu aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Cindy. Dia teman dekatku. Kalian pun sudah sering bertemu.” Varen mulai menjelaskan posisinya dengan mengatakan hubungannya dengan Cindy, wanita yang terlibat dengannya di dalam kamar hotel. Skandal yang menjadi masalah sangat besar hingga membuat Raya begitu marah hingga memutuskan pertunangan mereka tanpa mendengarkan penjelasan apa pun dari Varen. “Dan malam itu, aku benar-benar tidak tahu situasinya akan seperti itu. Kau mengenalku dengan baik, Raya. Kau tahu siapa aku. Tidak mungkin aku menduakanmu hanya demi Cindy. Sudah berkali-kali aku membuktikan bahwa kau lebih berharga darinya. Aku dijebak oleh seseorang. Aku sangat yakin itu.”


DEG!


Jantung Raya bergemuruh. Tanpa tahu apa yang hendak dikatakan oleh Varen, Raya sepertinya sudah bisa menebak apa yang akan pria itu utarakan. Entah mengapa Raya merasa hanya ada satu tujuan Varen mengungkapkan ini, yaitu pernikahannya. Raya seperti tahu siapa yang menjadi sasaran Varen.


“Kau dijebak? Siapa yang menjebakmu?” tanya Raya sembari meremas tangannya satu sama lain. Wanita itu merasa begitu cemas mendengarkan kalimat yang akan dikatakan Karan.


“Kau boleh tidak percaya padaku, Raya. Itu hakmu. Tapi aku hanya ingin bilang, suamimu, Karan Reviano adalah orang yang menjebakku. Dia tidak sebaik apa yang terlihat, Raya. Dia benar-benar pria manipulatif. Dia sengaja menjebakku dengan Cindy.”