
Kesadaran Karan seolah-olah hilang seketika. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya ia baru saja mendengarkan hal yang paling mengejutkan seumur hidupnya. Saking terkejutnya, ia bahkan nyaris kehilangan keseimbangan tubuh. Hanya karena memegang dinding bangunan itu saja Karan bisa menopang tubuhnya agar tidak ambruk. Jika ia tidak menggunakan tangannya untuk bertahan, lututnya pasti sudah bertubrukan dengan lantai marmer yang dingin.
Karan mengatur napas, berusaha untuk tetap tenang di saat pikirannya sedang dipenuhi hal-hal aneh. Apakah ini mimpi? Ya, pasti ia masih berada di alam mimpi. Obat tidur yang ia konsumsi hari ini memiliki dosis yang cukup tinggi apalagi ia meminum beberapa butir. Pasti saat ini ia masih ada di bawah kendali obat tidur sehingga ia bisa berhalusinasi hingga separah ini. Pertama, ia berhalusinasi berada di dekat Raya, bahkan menaiki mobil bersama dengan sang mantan istri. Padahal sudah jelas Raya punya kehidupannya sendiri. Wanita itu sudah punya Edgar, pria yang bisa ia andalkan lebih dari Karan. Tidak mungkin Raya ada di sampingnya, di samping pria yang sudah menyakiti wanita itu berkali-kali.
Kedua, dan ini yang paling parah, Karan mendengar sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Luca adalah putranya. Anak laki-laki yang selama beberapa hari ini mengganggu hidupnya adalah anak kandungnya. Apakah itu masuk akal? Tentu saja Karan tidak bisa memercayainya. Raya sendiri yang bilang bayi mereka telah meninggal dunia lima tahun lalu. Karan membuat wanita itu mengalami keguguran karena perbuatannya. Bagaimana mungkin bayi yang sudah lenyap dari rahim ibunya itu mendadak menjadi seorang bocah laki-laki berusia empat tahun?
“Apa? Kau bilang apa tadi?” Karan menatap sang mantan istri. Tatapannya dilingkupi rasa tidak percaya sama sekali. Jika ia memang tidak terpengaruh obat tidur, pasti Rayalah yang sedang berbohong sekarang. Di antara keduanya pasti ada yang bisa menjadi alasan kejadian yang membingungkan hari ini.
Raya menyentuh tangan Karan. Wanita itu berbicara pelan-pelan agar bisa didengarkan dengan jelas oleh sang mantan suami. “Aku bilang Luca adalah anak kita. Dia adalah putramu,” ulang Raya. Saat Karan ingin mengungkapkan rasa tidak percayanya dengan berteriak, dengan cepat Raya menarik tangannya menjauhi ruang kelas. Anak-anak masih belajar. Tidak baik mengganggu mereka. Lagi pula, tidak hanya mereka berdua saja yang ada di sana. Meskipun menggunakan bahasa Indonesia yang tidak dimengerti oleh orang tua murid lainnya, tetap saja suara mereka cukup berisik hingga akhirnya Raya membawa Karan ke taman di depan kelas.
“Tunggu Raya, tunggu dulu!” cegat Karan saat Raya ingin membawanya melangkah lebih jauh dari ruang kelas. “Kau harus menjelaskan apa yang baru saja kau ucapkan padaku barusan!” tuntut pria itu. Selama lima tahun Karan hidup dengan penyesalan begitu besar karena mengira bayinya telah meninggal dunia. Namun sekarang secara ajaib, Karan menjadi ayah dari seorang anak laki-laki. Sudah jelas Raya berutang penjelasan yang sangat banyak kepadanya.
“Ya, aku akan menjelaskannya. Tapi tidak di sini. Setidaknya kita harus mencari tempat untuk duduk. Tolong jangan buat keributan di sekolah Luca,” pinta Raya. Setelah meyakinkan Karan, Raya pun menarik tangan pria itu dan membawa ke sebuah kursi panjang. “Ayo duduk,” tukasnya lagi sembari mengajak sang mantan suami duduk di kursi besi tersebut.
Karan tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia mengikuti apa yang dikatakan Raya dengan patuh. Ketika sang super model menyuruhnya untuk duduk, Karan pun mengikutinya. Ia duduk di samping Raya tanpa mengeluh sama sekali.
“Sekarang kita sudah ada di sini.” Karan menoleh ke kanan dan ke kiri, mengamati keadaan sekitar karena ia mengerti maksud Raya mengajaknya ke taman sekolah itu. Agar pembicaraan penting mereka ini tidak mengganggu orang-orang yang ada di sana. “Tidak ada siapa-siapa lagi di dekat kita jadi kau sudah bisa bicara dengan leluasa.”
Bukannya langsung menjawab, Raya malah terdiam, tampak sedang memikirkan sesuatu. “Aku bingung dari mana harus memulainya.” Maksudnya ia tidak tahu bagaimana cara menceritakan semua kejadian yang terjadi padanya selama lima tahun ini. Ia harus memulai cerita itu dari mana, dan apa yang pertama kali harus ia sampaikan. Pasalnya ada terlalu banyak kejadian penting yang telah Raya lewati yang ingin ia ceritakan pada sang mantan suami. Dan itu semua berkaitan dengan Luca.
“Kalau kau tidak bisa menjawabnya dengan mudah, aku akan membantumu.” Karan mengambil alih percakapan. Ia tahu Raya sedang mengalami kesulitan sehingga ia ingin membantunya. Hal ini juga berguna bagi dirinya sendiri agar ia bisa mendapatkan informasi yang selama ini ia pertanyakan di dalam benaknya. “Apa Luca benar-benar putraku?”
Raya mengangguk. “Ya, dia anakmu.”
“Kau yakin dia anakku? Dia bukan anak dari pria lain?” Mengingat bagaimana Luca dan Edgar begitu dekat satu sama lain tidak mungkin membuat Karan tidak menaruh curiga. Mereka terlalu akrab untuk dikatakan tidak punya hubungan sama sekali. Bahkan, Karan bisa melihat dengan jelas kasih sayang yang Edgar berikan kepada Luca, begitu pun sebaliknya.
Karan tersentak. Ia buru-buru mengklarifikasi ucapannya. “Aku tidak bermaksud mengatakan itu, Raya. Aku hanya tidak percaya Luca benar-benar anakku.”
“Lalu dia anak siapa, Karan? Usia Luca sekarang empat tahun, lebih tepatnya empat tahun delapan bulan. Hanya tinggal empat bulan lagi dia berulang tahun kelima. Bagaimana mungkin aku hamil anak dari pria lain sementara saat itu aku masih berstatus sebagai istrimu?”
“Tunggu dulu Raya! Kalau Luca benar-benar anakku, berarti saat itu kau ....” Karan memandang kedua bola mata Raya dengan sorotan yang tajam. Di kedua netranya tersimpan rasa marah yang begitu besar kepada wanita di depannya itu. “Apa itu artinya saat itu kau tidak keguguran?”
Raya menganggukkan kepalanya. “Ya, saat itu aku tidak keguguran.”
“Kau berbohong padaku?”
“Aku tidak sepenuhnya membohongimu, Karan,” bantah Raya dengan cepat. “Saat itu aku memang mengalami pendarahan, tapi tidak sampai keguguran. Luca masih bisa diselamatkan oleh tim dokter rumah sakit.”
Raya menceritakan peristiwa itu dengan sangat rinci. Di hari ia mengalami pendarahan hebat dan nyaris kehilangan bayinya, Raya menangis putus asa. Ia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya bersama dengan bayi itu jika saja sang bayi benar-benar lenyap dari kandungannya. Masa lalu yang bangkit dari ingatannya begitu mengerikan baginya. Terlebih saat ia tahu bahwa ia adalah orang yang memasukkan Karan ke balik jeruji besi. Ia melakukan perbuatan yang tidak memaafkan karena sudah menghilangkan nyawa ayahnya sendiri, ditambah ia juga sudah membuat suaminya yang tidak bersalah harus menanggung semua kesalahannya. Raya benar-benar terguncang dengan segala kenyataan itu.
Kemudian, entah bagaimana caranya, secara ajaib bayi yang ada di dalam rahim Raya masih bisa terselamatkan. Itu memberikan sebuah kelegaan yang besar. Memberi sebuah kekuatan bagi Raya untuk menjalani hidup. Ia telah menghilangkan satu nyawa dengan tangannya sendiri, ia tidak mau lagi kehilangan nyawa yang lainnya. Raya pun memutuskan untuk tetap bertahan.
Saat keadaan tubuhnya sudah lebih baik, Raya kembali mendapatkan fakta mencengangkan tentang Karan Reviano. Ia tahu pria itu berganti nama dari Farraz menjadi Karan Reviano, satu-satunya putra konglomerat Reviano. Fakta yang Raya dapatkan adalah bukti-bukti yang disampaikan oleh Varen dan Reagan tentang apa yang suaminya itu lakukan selama ini kepadanya. Bahwa Karan telah merencanakan banyak hal untuk mencelakai orang lain. Raya tidak tahu apa yang membuat Karan begitu terobsesi kepadanya, tetapi sang bibi akhirnya menjelaskan sesuatu yang masuk akal di telinga Raya.
“Karan tidak mencintaimu, Raya. Dia terobsesi padamu karena rasa benci dan dendamnya. Dia telah mengalami banyak penderitaan di masa lalu, dan dia menyalahkanmu atas semua penderitaan itu. Kalian tidak bisa terus bersama. Karena kalau kalian tetap memaksa hidup bersama dalam keadaan seperti ini, rasa benci dan dendam Karan akan menghancurkan kalian. Tante tahu kau sangat mencintainya, tapi kau harus melepaskannya agar dia bisa menyembuhkan kebencian dan kemarahannya padamu. Hanya itulah satu-satunya cara agar kalian bisa hidup dengan baik.”
Awalnya Raya tidak ingin bercerai dengan Karan. Rasa cintanya terlalu besar pada pria itu hingga ia rela melakukan apa saja demi sang suami. Lagi pula, sudah sewajarnya Karan marah padanya. Pria itu sudah menanggung kesalahan yang seharusnya ditimpakan padanya. Raya yakin waktu bisa menyembuhkan Karan. Dan selama ia berada di sisinya, pria itu akan melupakan kemarahan dan kebenciannya. Sayangnya, harapan itu benar-benar pupus karena Karan melakukan banyak hal yang justru menunjukkan bahwa dendam pria itu terhadapnya masih sangat besar. Alhasil, Raya pun mengirimkan surat cerai ke tangan Karan.