Lies

Lies
Bersemu Merah



Dissociative fugue adalah sebuah penyakit yang berkaitan dengan psikologi. Sebuah penyakit yang ditandai dengan hilangnya identitas diri. Semacam amnesia yang disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang berat atau semacam trauma yang besar. Ya itu wajar saja mengingat apa yang terjadi 12 tahun lalu. Tidak akan ada orang yang mau mengingat pengalaman buruk itu, bahkan Karan juga tidak. Pengalaman itu begitu mengerikan. Malam penuh darah yang tidak bisa dihindari. Jadi itulah yang membuat Raya tidak lagi mengingat masa lalunya. Terlebih sebelum malam itu. Mungkin peristiwa saat itu adalah titik terakhir ingatan Raya. Karena terlalu berat, wanita itu pun mengubah identitasnya sendiri dan berusaha untuk melupakannya. Cara agar ia tidak terluka terlalu dalam.


Tapi, apakah itu adil untuk Karan? Sementara ia mengalami hal mengerikan setelah kejadian itu, mendapatkan penganiayaan yang lebih berat dan trauma yang sangat besar, tetapi Raya malah melupakan dengan begitu mudah. Karan sudah mencoba banyak cara untuk melupakannya. Ia memeriksa kesehatan mentalnya ke berbagai macam dokter dan psikolog, tapi tidak ada satu pun yang bisa menyembuhkan sakitnya dari kenangan itu. Tidak hanya menyembuhkan, sekadar membuatnya lupa saja tidak. Entah tidak terhitung berapa ratus butir obat sudah masuk ke dalam tubuh Karan. Sayangnya semua sia-sia. Pria itu masih saja mengalami hari buruk karena kenangan masa lalunya.


Ketika Karan mengalihkan pikirannya untuk membalas dendam pada Raya, pada saat itulah Karan baru bisa sedikit berpaling dari masa lalunya. Sedikit bisa menjalani hidupnya dengan baik. Mungkin karena ia sudah punya tujuan yang pasti, yakni mendapatkan Raya, membalaskan rasa sakit hatinya dan membuat wanita itu mengalami hal yang sama dengannya. Setiap langkah Karan selalu bertumpu pada Raya, otaknya selalu memikirkan cara untuk segera menyeret wanita itu ke rumahnya sebagai istri. Dan karan menemukannya. Baginya, Raya benar-benar penghancur sekaligus penyelamat hidupnya. Entah apakah pertemuannya dengan sang super model adalah hal yang harus ia sesali atau syukuri. Karan sama sekali tidak tahu.


Karan menutup laptopnya dan berjalan menuju Raya yang sedang tertidur. Karan duduk di pinggir ranjang, tepat di samping sang istri. Ia mengamit tangan Raya, mengamati tangan halus yang lemah lembut itu. Dulu, Karan tidak tahu ada banyak hal yang Raya sembunyikan darinya. Selama mereka berkenalan hingga memutuskan untuk menjadi pasangan kekasih, Karan tidak tahu bahwa Raya selalu menderita. Di balik pakaian sekolah putih abu-abunya, atau kemeja hitam dan celana jeans biru yang digukanan gadis itu setiap bekerja di akhir pekan, ternyata ada banyak luka lebam. Tidak terhitung jumlahnya. Mungkin ada puluhan, bahkan ratusan jika luka-luka yang sudah sembuh pun dihitung.


Dan selama itu, Raya menyimpannya dengan sangat baik. Terlampau baik hingga gadis itu tidak pernah menjerit kesakitan meskipun tubuhnya tidak baik. Meskipun ada luka yang berdarah di sana bahkan akan terasa perih saat keringat membanjiri tubuhnya. Di depan Karan, Raya malah menampilkan senyuman terbaiknya. Selalu mengatakan bahwa hidupnya tidak ada masalah dan bersikap positif. Sekalipun ia mengalami kesulitan ekonomi hingga mengancam sekolahnya, Raya tetap tidak pantang menyerah. Sesuatu yang selalu membuat Karan jatuh hati padanya.


“Aku sangat mencintaimu, Raya. Sejak pertama kita bertemu hingga sekarang. Tetapi Raya, aku lebih rela kau kehilangan kenangan masa lalu kita daripada kenangan itu membuatmu tersiksa. Tidak masalah jika kau hanya mengenalku sebagai Karan Reviano, suamimu. Tidak apa-apa meskipun kau tidak mengenalku yang sebenarnya. Karena kau hidupku, Sayang. Tidak akan ada yang bisa mengubah kenyataan itu,” bisik Karan di samping Raya. Pria itu mengelus puncak kepala Raya dengan lembut. Berharap gerakan sederhananya bisa mengantarkan sang istri ke mimpi yang indah, menggantikan mimpi buruk yang selama ini menghantuinya.


****


Raya terbangun dan merasakan tubuhnya tubuhnya bergetar. Tempat tidurnya juga tidak terasa nyaman meskipun tetap hangat. Di mana ia berada? Bukannya baru saja ia berada di ruang tamu rumah kolega Karan? Saat itu Raya ingat meminta suaminya untuk membawanya ke kamar. Mungkin sekarang ia berada di kamar. Tapi, mengapa bergetar? Apakah sedang ada gempa dahsyat? Raya membelalakkan matanya dengan cepat. Ia tidak mau mati sekarang. Tidak masalah kalau ia mati karena takdir, tapi ia tidak mau mati konyol tanpa mencoba menyelamatkan diri.


Begitu matanya terbuka, ia terkejut melihat wajah Karan yang berada di atasnya. Langsung menyapanya dengan sebuah senyuman manis dan sapaan singkat khas laki-laki itu. “Selamat pagi, Sayang. Apakah aku membangunkanmu?” celetuknya dengan wajah yang sangat cerah. Secerah sinar matahari yang tembus dari kaca yang ada di samping Karan. Tunggu dulu, mengapa ada kaca sedekat itu? Raya pun melihat sekelilingnya. Ternyata mereka sedang berada di dalam mobil.


“Ke penginapan kita, Sayang. Kita harus tetap melanjutkan bulan madu kita.” Karan sengaja membawa Raya keluar dari rumah koleganya. Ia tidak mau Raya mengalami hal buruk di sana. Kehadiran Mike dan masalah yang dialami oleh pemuda itu akan mengingatkan Raya pada masa lalunya. Karan tidak mau terjadi hal yang tidak ia inginkan di sana. Lagi pula, kerja sama Karan dan sang kolega sudah terjalin dengan baik. Seandainya pula tidak berjalan, Karan rela melepaskan tawaran transaksi bernilai ratusan miliar rupiah itu demi Raya. Karan bisa mencari banyak kolega bisnis, tapi ia tidak bisa mendapatkan pengganti Raya di antara miliaran penduduk di muka bumi ini. Raya adalah satu-satunya untuk seorang Karan Reviano.


“Bagaimana kerja samamu?” Raya mencoba untuk memosisikan dirinya duduk di samping Karan. Tentu saja dengan bantuan dari sang suami karena cara Raya bergerak begitu memprihatinkan, terlihat seolah-olah akan roboh kapan saja.


Karan menyentuh kepala Raya dan mengelusnya pelan. “Jangan khawatir Sayang. Suamimu ini seorang CEO yang handal. Satu kerja sama seperti ini tidak akan lolos begitu saja.”


Raya mengangguk untuk mengakui kemampuan Karan dalam berbisnis. “Ya, kau memang hebat.” Raya tidak tahu ke mana Karan akan membawanya pergi. Tetapi saat melihat sebuah bangunan mewah dan megah menyambut mereka, Raya pun tahu bahwa penginapan yang dimaksud Karan adalah penginapan yang pernah ditempati Raya dulu saat ia berada di Milan untuk pemotretan. Tidak hanya sekali, mungkin sudah tiga kali Raya menginap di sana. “Wah, kau benar-benar membawaku ke sini! Kau tahu, aku pernah menginap di sini tiga kali,” kata Raya menyombongkan diri. Tanpa tahu bahwa informasi sepele seperti itu akan diketahui oleh Karan dari kumpulan informasi yang ada di laptopnya tentang sang super model.


“Ya, aku tahu.”


Raya mengernyit dan mengalihkan perhatiannya dari jendela ke arah Karan. “Kau tahu? Bagaimana kau bisa tahu?”


“Ya aku tahu apa saja tentangmu, Sayang. Luar dan dalam, bahkan beserta ukurannya,” celetuk Karan yang sontak membuat pipi Raya bersemu merah. Wanita itu cepat-cepat melihat sopir mereka. Untung saja sang sopir terlihat tidak peduli sama sekali. Mungkin karena sang sopir orang Italia yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Itu harus disyukuti Raya, kalau tidak, ia akan sangat malu. Bibir Karan memang tidak bisa dibiarkan terbuka begitu saja. Pria itu bisa mengatakan hal-hal yang lebih frontal dari ini.