Lies

Lies
Pesan Mengejutkan



Raya memimpin acaranya dengan sangat baik. Karena mayoritas yang datang adalah warga negara asing—bukan warga negara Indonesia maupun Italia—maka Raya menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasinya. Lamanya wanita itu tinggal di New York membuatnya begitu fasih berbahasa Inggris dengan logat orang-orang dari negara Paman Sam itu. Sejak awal Raya memang pandai berbahasa Inggris, tapi kali ini ia terdengar seperti penduduk New York. Karan yang juga lama tinggal di kota itu pun sampai sedikit terkejut karena mendengar logat sang mantan istri yang begitu mirip dengan rekannya dulu.


Bukan hanya logat dan bahasa Raya yang berkembang pesat. Cara wanita itu berinteraksi dengan para penggemarnya pun berbeda. Ia terlihat sangat dewasa ketika menghadapi para penggermar yang melakukan hal-hal aneh selama acara berlangsung. Misalnya saat ada kesempatan bicara secara tatapan muka satu per satu dengan para penggemar, salah satu dari mereka sempat melakukan hal nekat dengan hampir memeluk Raya. Bukannya mengusir secara kasar orang itu atau memberikan apa yang diminta oleh sang penggemar, Raya justru menolaknya dengan cara halus.


Awalnya ia langsung menghindar dengan cepat, kemudian menggantikannya dengan menyalami penggemarnya itu. Ia mengatakan bahwa itulah aturan yang berlaku dalam acara itu dan mereka semua harus mengikuti aturan tersebut. Yang membuat sang penggemar dibuat tidak berdaya adalah karena Raya mengatakannya sambil menunjukkan senyuman manis di bibirnya. Itu tidak hanya menyelesaikan masalah, tetapi juga mengundang simpati dari penggemar lain yang ada di tempat itu.


Satu per satu Raya melayani penggemarnya di acara itu. Ia berbicara dengan mereka dan saling berbagi kata-kata yang mendukung satu sama lain. Awalnya semua berjalan lancar karena Raya bisa berbicara tanpa canggung sama sekali dengan mereka. Akan tetapi, ada seseorang yang membuatnya tidak bisa berkata-kata. Wanita itu terdiam saat sang penggemar diminta meninggalkan kursi menuju ke tempatnya berada. Pulpen yang tadinya ada di tangan Raya pun terjatuh seketika bersamaan dengan matanya yang terbelalak.


Karan Reviano, nama sang penggemar. Sejak awal mendengar nama itu disebutkan oleh panitia, Raya sudah tersentak, tapi ia masih berbaik sangka dengan menganggap bahwa orang yang akan mendatanginya itu bukanlah Karan Reviano yang dikenalnya selama ini. Raya berharap ada orang lain yang memiliki nama itu. Sayangnya harapan Raya langsung pupus begitu sosok itu beranjak dari tempat duduknya. Caranya berpakaian dan berjalan masih sama dengan yang dilihatnya lima tahun lagi, yang membuat Raya yakin pria itu adalah sang mantan suami.


Dengan langkah penuh keyakinan Karan mendekati Raya. Ia tidak berjalan tangan kosong, di tangannya ada sesuatu, semacam majalah dengan wajah Raya sebagai foto sampul depannya. Karan membawa benda itu sampai di depan Raya. “Halo Ibu Raya, tolong tanda tangan di sini,” tukas Karan pada sang mantan istri.


Raya yang sejak tadi terpaku mendadak tersentak mendengar ucapan Karan. Akhirya ia sadar di mana ia berada sekarang dan mulai memperbaiki raut wajahnya. “Oh, baiklah,” cetusnya sembari mengambil majalah yang dibawa oleh Karan. Majalah itu adalah majalah Raya tujuh tahun lalu. Majalah terbitan salah satu perusahaan penerbitan asal Indonesia saat Raya masih menjadi model terkenal. Dari mana Karan mendapatkan majalah itu di kota ini? Tidak mungkin ‘kan pria itu membawanya dari Indonesia? Dan juga bagaimana Karan bisa sampai di tempat ini? Bagaiaman pria itu bisa mengetahui acara ini?


Ada banyak pertanyaan yang menghampiri benak Raya selagi wanita itu menandatangani majalah yang dibawa oleh Karan. Ada sekitar satu menit bagi setiap penggemar untuk berbicara kepada Raya. Dengan menandatangani majalah itu, Raya sudah menghabiskan waktu sekitar sepuluh detik. Masih ada 50 detik lagi untuk merek mengobrol. Karena masih memegang spidol, akhirnya Raya bertanya lagi, “Apakah ada nama yang ingin Anda cantumkan di bawah tanda tangan ini?”


Karan mengangguk. “Tolong tuliskan saja nama Anda,” jawabnya singkat. Setelah selesai melakukan itu, Karan mengambil majalahnya. Ia menatap Raya lagi sembari tersenyum kepada wanita itu. “Saya senang Anda terlihat baik, Ibu Raya. Maaf dan terima kasih sudah berbicara dengan saya. Semoga Anda selalu bahagia.”


Begitulah cara Karan bertemu dengan Raya. Ia membiarkan waktu yang tersisa sekitar 30 detik terbuang sia-sia begitu saja. Tujuannya sudah terwujud, ia bisa berbicara dengan Raya. Meskipun tidak secara gamblang, ia juga sudah meminta maaf kepada Raya sesuai dengan janjinya kepada Luca. Hanya itu saja yang bisa Karan lakukan sekarang karena ia tidak mau membuat Raya semakin tertekan bertemu dengannya. Sebab entah Raya menyadarinya atau tidak, tangan wanita itu gemetar saat menandatangani dan menuliskan nama di atas sampul majalah yang dibawa Karan. Sudah pasti Raya merasa gugup. Karan hanya tidak mau membuat Raya kesulitan.


Lagi pula, Karan benar-benar hanya ingin menyaksikan Raya karena ia percaya ini bukan pertemuan terakhir mereka. Pasti ada waktu suatu saat nanti di mana Karan bisa bertemu dengan Raya lagi. Terlebih Raya sekarang sudah mulai aktif di dunia model. Tidak sulit bagi Karan untuk bekerja sama dengan wanita itu.


Begitu Karan keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju ke tempat parkir, matanya tidak sengaja melihat sosok Maude. Wanita itu terlihat sedang frustrasi sambil menendang-nendang salah satu ban mobilnya. Sepertinya ban itu kempes sehingga Maude tampak begitu kesal. Karan tidak bisa mengabaikannya karena mobil itu terpakir tepat di depan mobilnya. Selainnya mau berpura-pura tidak melihatnya pun tidak mungkin. Akhirnya Karan pun mendekati Maude dan menanyakan permasalahan wanita itu.


“Mobil saya kempes padahal saya harus menjemput Luca di sekolah. Saya benar-benar bingung, Pak,” kata Maude memberikan penjelasan.


“Apa Anda sudah menghubungi bengkel?”


Maude menganggukkan kepalanya. “Iya, tapi mereka tidak bisa datang cepat. Mungkin sekitar 40 menit lagi. Tapi saya tidak bisa membiarkan Luca sendirian di sana. Apalagi Kakak saya belum pulang dari luar kota.”


“Kalau Anda tidak keberatan, apakah Anda mau saya antar ke sekolah Luca?” tawar Karan. Untung saja penerbangannya ke Indonesia dipesan besok pagi sehingga Karan masih ada waktu di tempat itu.


“Apa saya tidak mengganggu Anda, Pak?” Maude terlihat ragu. Walaupun menyukai Karan, ia tetap tidak mau mengganggu pria itu. Apalagi posisi Karan masih menjadi kolega bisnis kakaknya sehingga wanita itu harus menghormati Karan seperti sang kakak menghormati pria tersebut.


“Sama sekali tidak. Ayo, jangan buat Luca menunggu terlalu lama.”


“Terima kasih Pak.”


Karan membawa Maude ke mobilnya. Dengan Ian sebagai sopir yang mengendarai mobil itu, Karan dan Maude duduk di bangku belakang. Pada saat itulah Maude melihat cincin yang melingkar di jari tangan Karan. Sejak bertemu Karan beberapa waktu lalu ia memang penasaran dengan cincin itu, tapi ia tidak berani menanyakannya. Hubungan mereka belum sejauh itu sampai bertanya tentang hubungan asmara Karan. Memang ia sempat beberapa kali punya kesempatan untuk bertanya hal-hal pribadi kepada Karan, tapi hanya sebatas kegemaran dan kehidupan sehari-hari sang CEO saja. Itulah sebabnya sekarang ia akan memanfaatkan kesempatannya.


“Maaf Pak, saya tidak tahu apakah saya boleh menanyakan hal ini atau tidak, tapi saya benar-benar ingin bertanya pada Anda.” Maude membuka percakapan dengan melemparkan sebuah pertanyaan langsung.


Karan mengalihkan perhatiannya dari jalanan ke arah Maude. “Tidak apa-apa, Bu, tanyakan saja.”


Meskipun terlihat ragu-ragu pada akhirnya Maude pun tetap bisa menyampaikan isi pikirannya. “Apakah Anda sudah menikah?” Menyadari kalimat yang diucapkannya cukup frontal, Maude pun cepat-cepat menambahkannya. “Maksudnya saya melihat cincin pernikahan di jari Anda. Saya takut jika saya mengganggu Anda karena kejadian hari ini,” katanya memberikan penjelasan. Benar-benar penjelasan yang bagus karena Maude juga menyampaikannya dengan mengaitkan dengan apa yang terjadi pada mereka hari ini sehingga tidak terkesan seperti ia benar-benar ingin tahu tentang kehidupan asmara Karan.


“Ya, saya sudah menikah,” ungkap Karan seperti biasanya yang sengaja menghilangkan kata ‘pernah’ di tengah-tengah kalimatnya. “Tidak apa-apa. Saya hanya membantu adik dari kolega bisnis saya. Itu tidak akan menimbulkan masalah apa pun.” Pria itu mengatakannya sekaligus menegaskan posisi mereka bahwa sampai kapan pun Karan hanya akan memandang Maude sebagai adik dari Edgar. Sehingga apa pun yang wanita itu lakukan untuk mendekatinya tidak akan mengubah apa pun.


Maude tersenyum kikuk. Ia bukanlah wanita bodoh yang tidak mengerti maksud dari ucapan Karan. “Syukurlah kalau begitu. Saya hanya tidak ingin terjadi apa-apa setelah hari ini.”


“Anda tidak perlu khawatir, sudah sewajarnya saya membantu rekan kerja saya.”


Tepat saat itu, Karan mendapatkan sebuah pesan di ponselnya. Ia sedang tidak sedang menunggu pesan dari siapa pun sehingga ini membuatnya merasa bingung. Dan pria itu tersentak ketika ia melihat pesan yang dikirimkan oleh promotor acara jumpa penggemar Raya. Ternyata sang promotor menyampaikan bahwa kartu identitasnya tertinggal di meja pendaftaran. Yang membuat Karan merasa aneh adalah sang promotor menghubungi nomor pribadinya alih-alih menghubungi Ian atau nomor perusahaan yang Karan cantumkan dalam berkas pendaftaran. Dari mana mereka mengetahuinya? Apakah dari Raya?


Karan tidak bisa mengabaikan kenyataan itu, pasalnya ia memang tidak pernah mengganti nomor pribadinya selama 17 tahun ini. Artinya, sejak pertama kali memakai identitas sebagai Karan Reviano dan mendapatkan nomor ponsel pribadi dari sang ayah, Karan tetap menggunakan nomor itu sampai sekarang. Jadi, benarkah Raya memberi tahu promotor itu? Bisakah Karan berharap seperti itu?


Setelah sampai di depan gerbang sekolah Luca, Karan tidak keluar mobil dan menyampaikan sebuah pesan kepada Maude. “Maaf, saya ada urusan lagi dan tidak bisa mengantarkan Anda bertemu dengan Luca. Tolong sampaikan salam saya kepada anak itu,” katanya berpamitan karena ia ingin kembali ke galeri seni itu untuk mengambil kartu identitasnya sembari membuktikan bahwa tebakannya tidak salah.