Lies

Lies
Ingatan yang Terbuka



Arah tatapan Raya itu mengundang perhatian Karan. Ia terkejut saat melihat sang istri yang hanya fokus mengamati satu titik saja selama beberapa saat. Karan pun lekas mengikuti arah pandangan itu dan ia melihat hal yang sama dengan apa yang dilihat oleh sang istri. Ternyata Raya sedang memperhatikan tanda merah yang ada di pergelangan tangan Mike. Tanpa penjelasan yang lebih, Karan tahu tanda apa itu. Ia pernah menerima tanda yang sama ketika masih remaja. Tanda yang dibuat oleh beberapa orang, salah satunya wanita yang berusaha keras untuk ia lupakan karena tak ingin wanita itu muncul di kepalanya. Wanita yang membuat ia trauma begitu berat.


Karan tidak ingin Raya melihat pergelangan itu lebih lama karena ia takut akan menimbulkan kecurigaan sang pemilik rumah. Akhirnya Karan mengambil alih dengan bertanya pada Mike mewakili Raya. “Apakah kau benar-benar tertarik pada matematika? Kebetulan istriku juga menyukai matematika,” cetus Karan. Raya tidak sepenuhnya suka matematika, setidaknya dulu. Saat remaja, wanita itu terlihat membenci pelajaran yang berhubungan dengan hitung-hitungan itu.


Mike terlihat tertarik dengan ucapan Karan. Ia mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Raya. “Benarkah Nyonya?”


Raya merasa ragu menjawabnya. Memang benar ia menjadi siswa teladan di sekolah sewaktu SMA, tapi bukan berarti ia benar-benar menyukai matematika. Pelajaran itu seperti punya sesuatu yang tidak bisa diabaikan oleh Raya. Sesuatu yang sangat berharga hingga ia selalu menaruh perhatian lebih ketika mengerjakan soal-soal tentang matematika. Itulah mengapa ia bisa lulus SMA dengan nilai yang cukup memuaskan.


“Ya, sedikit baik dalam pelajaran matematika, tapi aku tidak yakin sebaik dirimu,” tukas Raya dengan jujur. Tentu saja Mike akan lebih baik darinya karena laki-laki itu sampai menempuh pendidikan tinggi di bidang matematika. Sudah pasti ia memiliki nilai yang bagus. “Kau pasti sangat menyukai matematika, bukan? Itu keren sekali. Tidak banyak orang yang bisa menyukai pelajaran sesulit itu,” puji Raya dengan sengaja agar memberikan pelajaran kepada ayah dan ibu Mike. Setidaknya agar kedua orang itu tidak merendahkan anak mereka sendiri hanya karena Mike tidak sesuai dengan keinginan mereka.


Mike pun tersenyum senang. “Terima kasih Nyonya.” Wajah yang tadinya dilingkupi kesedihan kini berubah menjadi riang. Mike suka dipuji orang lain. Mungkin karena kedua orang tuanya tidak suka memujinya. Alih-alih memuji, mereka malah membuat sang anak merasa berkecil hati hingga tidak bisa merasa nyaman sepanjang acara makan malam tersebut. Setidaknya dengan mendengar satu pujian itu, Mike pun merasa tenang.


Sayangnya pujian yang dilontarkan Raya tidak memberikan dampak baik bagi orang tua Mike. Mereka malah bertambah kesal hingga mengalihkan perhatian semua orang dengan memuji anak paling sulung mereka. Karena kakak Mike merupakan anak dari istri pertama yang begitu dicintai oleh sang kepala keluarga, tidak heran ia mendapatkan pujian yang begitu melimpah. Tidak hanya prestasinya di dunia bisnis, prestasi di dunia olahraga yang tidak ada kaitannya sama sekali pun tak luput dari pujian sang ayah.


Dan sekali lagi, Raya mengamati Mike yang kini menundukkan kepalanya. Tangan anak itu selalu gemetar hingga ia tidak sengaja menjatuhkan sendoknya. Sontak seluruh ruangan pun terkejut. Sang ayah angkat suara, “Apa yang kau lakukan ini, Mike? Kenapa kau membuat keributan di depan tamu yang berharga?” Pria tua itu menghardik putranya dengan suara yang keras hingga membuat Mike begitu tertekan hingga tanpa sadar mengatakan, “Ampun Ayah! Ampun! Ini tidak akan terjadi lagi. Ini salah saya, ampun!”


Karan dan Raya tersentak mendengarnya. Itu hanya sebuah kesalahan kecil yang tidak terlalu bermasalah. Menjatuhkan sendok adalah hal biasa ketika seseorang berada di ruang makan. Tidak perlu sampai menimbulkan keributan seperti ini dan membuat Mike sampai memohon-mohon pengampunan. Dari sana Raya bisa menyimpulkan sesuatu bahwa Mike telah mendapatkan kekerasan dari keluarganya, entah itu kekerasan mental atau kekerasan fisik. Yang pasti bukti memar di tangan dan reaksi berlebihan pemuda itu sudah menjawab semuanya.


Yang anehnya, Raya merasa kepalanya begitu pusing. Ia seperti melihat sesuatu di depannya. Sebuah bayangan yang membuatnya gemetar ketakutan. Saking takutnya Raya secara tak sengaja menyentuh tangan Karan dan mencengkeramnya hingga erat. Raya benar-benar ketakutan sekarang.


“Sayang, ada apa?” tanya Karan panik. Pria itu sengaja menggunakan bahasa Indonesia agar orang-orang yang ada di sana tidak mengerti apa yang tengah mereka katakan. Karan memandangi wajah Raya yang memucat dan merasakan tangan wanita itu yang dingin. Sepertinya ada yang tidak beres pada Raya. “Kau tidak apa-apa?”


Karan mengangguk mengerti. Dengan cepat ia berdiri dan menyampaikan bentuk permintaan maafnya pada sang kolega. “Maafkan kami, Tuan dan Nyonya. Sepertinya istri saya sedang tidak enak badan. Kalau Anda tidak keberatan, bolehkah saya membawa istri saya kembali ke kamar?”


Kolega Karan yang tadinya sedang memandangi Mike, mengubah arah pandangannya ke Raya. Ia pun terkejut melihat wajah sang super model yang begitu pucat. “Istri Anda baik-baik saja? Perlukah saya panggilkan dokter?”


Cepat-cepat Raya menggeleng. “Tidak Tuan, saya hanya sedikit pusing. Mungkin saya butuh istirahat.”


“Kalau begitu baiklah. Semoga keadaan Nyonya lebih baik lagi. Maaf karena sudah memaksa Anda untuk makan malam dalam kondisi saat ini.”


Setelah mendapatkan izin, Karan dengan sigap menggendong Raya dan membawa sang istri ke kamar mereka. Namun dalam perjalanan, Raya meringis sambil menyembunyikan kepalanya di dada bidang Karan. Wanita itu berseru, “Tidak, jangan! Aku mohon maafkan aku. Ini salahku, ini benar-benar kesalahanku!” Raya terlihat tidak sadar saat mengucapkan kalimat panjangnya karena matanya terpejam sementara bibirnya bergerak.


Tak ingin ada orang yang mendengar ataupun melihat adegan itu, Karan semakin mempercepat langkahnya. “Tunggu Sayang. Sebentar lagi kita sampai,” cetus pria itu. Begitu sampai di kamar, buru-buru sang CEO menutup kamar mereka dan menguncinya, memastikan tidak ada orang yang bisa membuka tempat itu. Lalu, ia membawa Raya duduk di sofa. Karena sepertinya akan berbahaya jika Raya larut dalam tidurnya.


“Raya, buka matamu. Kita sudah ada di kamar sekarang,” kata Karan sambil mengelus kepala Raya, membantu wanita itu untuk membuka kedua matanya. Dan berhasil. Raya pun terbangun dari tidurnya.


Namun, bukannya kembali ke Raya yang biasanya, wanita itu malah bersikap aneh. Ia beranjak dari sofa, kemudian tanpa aba-aba bersimpuh di bawah kaki Karan. Sebuah gerakan yang tentu saja membuat Karan begitu terkejut. “Sayang, kenapa kau begini? Ayo bangun!” katanya.


Raya menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, wanita itu berbicara sambil memegang kaki Karan. “Ampuni aku, tolong ampuni aku. Tubuhku sakit sekali, tolong ampuni aku,” isak wanita itu.