
Raya tahu bahwa berhubungan badan dengan cara dipaksa itu sangat menyakitkan, sehingga ia memutuskan untuk melakukannya dengan sukarela. Jika Raya melayani Karan dengan kerelaan hati, mungkin pria itu tidak akan bersikap kasar padanya di atas ranjang. Minimal tidak mengunakan tali atau dasi untuk mengikat kedua tangannya. Raya ingin pergulatan ranjang mereka dalam keadaan bebas. Dengan begitu mungkin ia bisa sedikit menikmatinya.
Walaupun siang tadi Karan sudah menyampaikan pesan bahwa ia akan pulang larut malam, Raya tetap menunggunya. Dengan memakai gaun malam yang tipis Raya menunggu di dalam kamarnya sambil menonton televisi. Apa lagi memangnya yang diinginkan Karan dari dirinya selain berhubungan badan? Menurut Raya, satu-satunya alasan mengapa Karan tetap berada di rumah hampir tiga hari ini hanya karena pelampiasan kebutuhan biologisnya. Karan ingin berhubungan badan dengan Raya.
Ya, setidaknya Raya harus merasa tenang akan itu. Bahwa Karan tidak suka pergi menemui wanita lain untuk melepaskan hasrat seksualnya. Setidaknya ketika mereka sudah menikah Raya tidak pernah mendengar berita-berita miring atau gosip-gosip aneh tentang suaminya yang bermain gila dengan wanita lain. Padahal Raya tahu, tidak sedikit wanita yang menyukai Karan. Mereka bahkan rela menyodorkan tubuhnya dan menjadi wanita penghangat ranjang kendati mereka tahu kalau Karan sudah menikah.
“Pak Karan tidak pernah membawa wanita ke rumah ini selain para pekerja, Bu. Anda adalah wanita pertama yang masuk ke rumah ini,” celetuk Anna tadi, ketika sedang menyiapkan makan malam untuk Raya.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Raya tidak percaya. Sebelum menikah, Raya beberapa kali mendengar isu kedekatan Karan dengan wanita lain. Keluarganya saja menyebutkan bahwa Karan sempat menjalani beberapa kencan buta. Bahkan, Raya ingat kencan ganda mereka di mana Karan membawa aktris terkenal bernama Sekar. Apakah semua wanita itu tidak pernah dibawa ke rumah besar ini?
“Masa iya Bi? Bukannya Karan dulu punya tunangan ya?” tanya Raya dengan sangat penasaran.
“Tunangan? Saya tidak pernah dengar Bapak punya tunangan, Bu. Karena Bapak sangat sibuk bekerja.”
“Kalau begitu, wanita lain? Apa Karan tidak pernah menunjukkan foto wanita kepada Bibi? Mungkin sebagai calon nyonya rumah ini?”
“Ah kalau itu ada Bu. Saya pernah melihat foto seorang gadis di kamar Bapak. Kalau tidak salah itu foto—”
Anna tidak melanjutkan ucapannya karena tersadar akan sesuatu. Benar, foto yang selalu ia lihat menempel di dinding kamar Karan ketika sedang membersihkan tempat itu sangat familier di matanya. Seorang gadis berpakaian seragam sekolah yang ada di gambar itu tidak lain adalah wanita yang saat ini sedang duduk di meja makan. Itu adalah foto Raya. Meskipun terlihat sedikit berbeda karena perbedaan usia, namun kecantikan Raya baik di foto itu maupun yang sekarang ia lihat sama sekali tidak berubah.
“Foto gadis? Siapa?” Raya mengernyitkan keningnya. Hatinya sedikit merasa tidak tenang saat mendengar bahwa Karan sempat menyimpan foto seorang gadis di dalam kamarnya. Apakah gadis itu adalah masa lalu Karan? Atau mungkin suaminya menyimpan kelainan seksual lain yang belum diketahui Raya? Misalkan dengan menyukai anak-anak perempuan di bawah umur?
Anna tidak yakin apakah ia boleh menceritakan tentang foto itu atau tidak. Sebab, seminggu sebelum menikah, Karan sudah melepaskan foto Raya dari dalam kamar yang sekarang digantikan dengan foto pernikahan mereka. Itu artinya, Karan tidak ingin Raya melihat gambar itu. Atau Karan tidak mau menunjukkan bahwa ia sudah sangat lama menunggu Raya menjadi istrinya.
Semakin Anna tidak menjelaskan padanya, semakin Raya merasa penasaran. Ia menuntut penjelasan pada sang asisten rumah tangga dengan melemparkan pandangan tajamnya. “Kenapa tidak bisa mengatakannya padaku?”
“Itu bukan kapasitas saya, Bu. Kalau Anda ingin tahu, Anda bisa bertanya pada Bapak. Saya rasa Bapak akan menjawab pertanyaan Ibu.” Anna memilih langkah aman dengan menyeret Karan dalam masalah ini. Dengan begitu Raya tidak akan menyudutkannya karena mereka sama-sama takut kepada Karan.
Raya menghela napas panjang. “Bibi licik. Tiba-tiba bawa-bawa Karan. Bibi membuatku semakin penasaran saja,” gerutu Raya tidak terima. Ini seperti ia hendak mendapatkan sesuatu, tapi dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Sangat menyebalkan. Sayangnya lawan bicara Raya saat ini adalah Anna, asisten rumah tangga yang usainya jauh di atas wanita itu. Jika tidak, Raya akan terus bersikeras mencari tahu.
“Saya memang tidak bisa menceritakan tentang itu kepada Ibu, tapi Ibu tenang saja. Selama saya bekerja untuk keluarga Reviano dan Pak Karan, saya tidak pernah melihat Bapak membawa wanita ke rumah, di rumah orang tua Bapak pun tidak. Bahkan beliau tidak pernah memperkenalkan satu wanita pun kepada Nyonya Reviano. Artinya, Anda adalah orang pertama.”
Yang dikatakan Anna ada benarnya. Seandainya Karan memperkenalkan seorang wanita kepada keluarganya, sudah pasti Ibu Karan tidak akan menjodohkannya, dan cerita lucu tentang sesi kencan buta itu pun tidak akan pernah terjadi. Tetapi pertanyaannya sekarang, siapa Sekar? Mengapa saat itu Karan membawa dan memperkenalkannya sebagai kekasih?
Begitulah pembicaraan tentang foto gadis di dalam kamar Karan terhenti dengan Raya masih menyimpan rasa penasaran yang besar. Raya memang ingin bertanya pada Karan tentang foto itu, tapi ia belum sanggup mendengar jawaban yang diberikan suaminya. Bagaimana jika gadis itu adalah cinta pertama yang tidak bisa dilupakan Karan? Apakah Raya bisa menerimanya? Memang Raya tidak mengharapkan cinta dalam kehidupan pernikahannya. Tetapi Karan adalah suaminya, pria yang akan mendampinginya sampai ajal menjemput. Sanggupkah Raya mendengar kenyataan tersebut?
Belum lagi jika Karan mengajukan pertanyaan yang sama kepadanya. Tentang siapa saja mantan kekasih Raya sebelumnya dan mengapa Raya memutuskan untuk menjalin hubungan dengan mereka. Raya tidak bisa membuka aib masa lalunya, terutama pikiran piciknya untuk memanfaatkan laki-laki demi popularitas.
Pada akhirnya, dengan segudang tanda tanya dan rasa penasaran yang besar, Raya tertidur di kamarnya. Ia baru bangun saat matahari sudah terbit. Ia pun tersentak dan menyentuh pakaiannya dengan cepat. Semua masih utuh, bahkan cara tidur Raya pun masih sama. Ia tetap dalam posisi menyamping sambil memeluk bantal guling, sementara sebelah tangannya memegang ponsel. Itu artinya tidak ada orang yang masuk, termasuk Karan.
Raya beranjak dari ranjang dan mengambil kain untuk menutupi gaun malamnya yang seksi. Segera ia bergegas ke kamar yang ada di sebelah kamarnya untuk memeriksa keberadaan sang suami. Apakah pria itu tidak pulang semalaman?
Ternyata tidak. Karan sempat pulang tadi malam. Itu terbukti di mana lantai kamar mandi yang masih lembap. Belum lagi pakaian kotor Karan yang ada di keranjang. Sepertinya pria itu pergi lagi sebelum Raya terbangun. Tentu bukan pergi ke luar kota atau ke luar negeri seperti sebelumnya karena koper pria itu masih ada di dalam lemari. Namun, itu malah menimbulkan pertanyaan besar untuk Raya. Mengapa Karan pergi begitu saja tanpa menyentuhnya?
Tidak, Raya bukanlah wanita yang haus akan belaian hingga meminta Karan untuk selalu menyentuhnya. Tetapi Raya benar-benar kebingungan. Jika Karan memang tidak ingin berhubungan badan dengannya. Mengapa laki-laki itu tetap pulang ke rumah? Mungkinkah Karan benar-benar sudah memperbaiki sikapnya dengan berusaha tetap pulang? Atau mungkin pria tersebut sedang menyiapkan cara baru untuk menyiksa Raya?