Lies

Lies
Apa Pernikahanmu Membahagiakan?



Percakapan tentang masa lalu berhenti sampai di situ. Baik Karan maupun Raya sama -sama tidak mau melanjutkan lagi perbincangan tentang hal itu. Mereka menyelesaikan makan siang dan memilih untuk pergi ke butik. Karan dan Raya mendatangi butik terbaik yang ada di ibu kota. Butik mewah yang berisi ratusan pakaian karya desainer terkemuka negara ini. Karena acara yang dilaksanakan oleh bibinya adalah acara amal yang menuntut kesederhanaan, Raya harus mengenakan pakaian yang sederhana pula. Masalahnya, Karan tidak mau istrinya memakai pakaian sederhana apa pun alasannya. Meskipun itu demi pencitraan yang juga menguntungkan dirinya. Karan akan memilih pakaian dengan corak sederhana untuk Raya tetapi tetap dengan kualitas terbaik.


Itulah sebabnya Karan memilih sebuah dres putih dengan tali-tali mengikat di bagian atasnya. Dres polos yang menonjolkan kecantikan Raya. Seandainya tidak melihat kapan tahun lahir Raya, sudah pasti orang akan mengira Raya adalah seorang gadis kecil yang masih berusia belasan akhir. Itu bukan pernyataan yang berlebihan karena pada dasarnya Raya memang terlihat awet muda. Ditambah dengan dres putih itu, sang super model benar-benar masih cocok disebut sebagai gadis remaja.


“Cantik sekali, kau terlihat memesona, Sayang,” ucap Karan saat Raya keluar dengan menggunakan dres itu. Dari sofa tempat duduknya Karan merasa terpesona. Istrinya itu memang cantik, tidak akan ada wanita yang bisa mengalahkan kecantikan Raya. Kecantikan yang selalu membuat Karan menjadi pria yang kejam karena selalu ingin memonopoli wanita itu. Sekarang saja Karan ingin mengurung Raya di dalam rumahnya dan tidak mau menunjukkan kepada dunia luar bahwa istrinya sangat cantik mengenakan dres itu.


Raya pun tersenyum. “Terima kasih. Sepertinya kita beli ini saja,” ungkapnya puas karena sudah mengenakan beberapa pakaian tetapi tidak mendapatkan hasil positif dari Karan. Untung saja Raya menemukan dres putih ini dan Karan tampak menyukainya, kalau tidak, Raya pasti sudah sangat frustrasi karena tidak menemukan dres yang cocok. Tentu saja cocok menurut suaminya, bukan menurutnya secara pribadi.


“Ya, kita akan membelinya.” Karan menyetujui ucapan sang istri, tapi ia belum selesai bicara. Pria itu menoleh ke manajer butik yang berdiri tepat di sampingnya. “Saya juga akan membeli semua pakaian yang sudah dicoba oleh istri saya.” Bagaimana mungkin Karan membiarkan baju yang sudah digunakan sang istri digunakan lagi oleh orang lain? Membayangkannya saja tidak sudi. Jika tidak membelinya, mungkin Karan lebih memilih membakar pakaian-pakaian itu agar tidak ada satu pun yang mengenakannya lagi selain Raya.


Kedua mata cokelat Raya terbelalak. “Apa? Kenapa? Ini saja sudah cukup Karan. Tidak perlu membeli yang lain.” Pasalnya pakaian Raya sudah sangat banyak di lemari kamarnya. Jika membeli lebih banyak lagi, Raya yakin baju-baju itu akan menumpuk di dalam lemari. Bahkan seandainya Raya mengenakan satu pakaian baru per hari, mungkin butuh waktu satu setengah tahun agar ia bisa memakai pakaian yang sama. Ini bentuk pemborosan yang sulit diterima oleh sang super model.


“Sayang, kau tidak perlu khawatir. Kalau lemarimu tidak cukup, kita bisa gunakan kamar kosong di rumah sebagai tempat menyimpan pakaianmu. Jadi, kita akan membelinya, ya?” Karan memang bertanya, tapi nada suara dan sorotannya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa pria itu tengah meminta sebuah persetujuan dari istrinya. Ia hanya memberikan informasi, sekadar memberi tahu kalau setuju atau tidak istrinya itu, ia tidak peduli. Pria tersebut akan tetap membeli semua pakaian yang telah dicoba oleh sang istri.


Akhirnya Raya hanya bisa mengangguk pasrah sambil tersenyum. “Baiklah, ayo kita beli.” Tidak ada yang bisa Raya lakukan. Toh, semua pakaian yang dibeli menggunakan uang Karan. Pria itu tidak akan jatuh miskin kendati mengeluarkan uang sejumlah ratusan juta rupiah sehari. Jadi, untuk apa Raya memikirkannya dengan susah payah? Lagi pula, ia ingin menjaga citranya sebagai seorang super model. Di luar butik ada banyak wartawan dunia hiburan yang mengikuti aktivitas berbelanja mereka. Tidak ada yang mengundang para wartawan itu, tetapi mereka datang dengan sendirinya. Mungkin karena informasi yang Karan bagikan di media sosial milik Raya.


Benar, media sosial dan ponsel Raya ada dalam kendali Karan. Pria itu yang memegangnya sekarang. Sesekali memang Raya boleh mengambil ponselnya dan menggunakan media sosialnya untuk mengunggah hal-hal lain. Tetapi tidak sebanyak apa yang Karan lakukan. Publik benar-benar tertipu oleh pasangan itu karena menganggap Raya sedang memamerkan kebahagiaan pernikahannya bersama sang suami padahal yang melakukan hal itu adalah Karan sendiri.


“Sudah? Ayo kita pulang,” celetuk Karan sambil menghampiri istrinya yang sudah berganti pakaian.


“Pulang?” tanya Raya bingung.


“Iya, pulang. Kenapa? Apa ada yang ingin kau beli lagi, hm?” Karan berbicara sambil memperbaiki letak rambut Raya yang sedikit berantakan. Sengaja karena ia ingin memamerkan kemesraan mereka kepadanya para karyawan butik yang sedang memegang ponsel dan mengarahkan kamera kepada mereka. Karan menduga tidak lama lagi media sosial akan rebut dengan hal ini. Karan yang memenangkan survei sebagai laki-laki yang ingin dinikahi pun semakin mematenkan eksistensinya di dunia hiburan. Sekalipun Karan bukanlah artis, tetapi nama sang pengusaha akan selalu diperbincangkan oleh masyarakat.


Karan memeluk Raya secara tiba-tiba. Ia merendahkan kepalanya hingga bibirnya nyaris menempel di telinga Raya. “Aku tidak mau kembali, Sayang. Ada yang harus aku lakukan. Ah, tidak. Maksudku, kita lakukan. Aku merindukanmu. Lebih tepatnya merindukan tubuhmu. Atau kau lebih suka kita melakukannya di sini? Aku tidak keberatan menyuruh Ian menutup butik ini dan menyeretmu ke kamar ganti.”


Karan berkata jujur karena sejak tadi, mungkin sejak Raya mengenakan dres merah dengan potongan paha yang tinggi hingga menunjukkan kaki jenjang Raya yang mulus, Karan sudah merasa gerah. Tangannya berkeringat dan jantungnya berdebar kencang. Sudah lama rasanya ia tidak menyentuh Raya. Ia merindukan tubuh istrinya itu. Sudah cukup kesabaran yang Karan tunjukkan beberapa hari ini. Bahkan semalam ia juga sangat bersabar dengan tidak menuntut Raya yang jelas-jelas menolaknya. Karan bosan memuaskan diri dengan air dingin, ditambah ia tidak suka wanita lain menyentuh tubuhnya. Jadi, ia membutuhkan Raya.


Percakapan itu terbilang sangat intim untuk didengar oleh orang lain. Itulah sebabnya Raya memutuskan untuk meletakkan tangannya di belakang lehar Karan dan membimbing telinga pria itu mendekat di bibirnya. “Bisakah kau berjanji tidak menyakitiku dan memberiku kebebasan besok seharian?” bisiknya. Raya butuh istirahat sebelum menghadiri acara amal bibi Karan karena ia tahu Karan tidak akan membiarkannya hari ini. Pria itu tidak akan membiarkannya keluar dari kamar sampai matahari terbit.


Karan menyeringai. “Sesuai keinginanmu, Sayang. Kau tenang saja, tidak ada dasi malam ini. Aku akan memanjakanmu di atas tempat tidur. Aku janji,” ungkap laki-laki itu penuh keyakinan.


Bibir merah muda Raya menyunggingkan sebuah senyuman. Tidak ada alasannya untuk menolak Karan. Ini berbeda dengan kejadian semalam. Setidaknya hari ini Karan meminta izin padanya, tidak langsung menyerangnya secara tiba-tiba dan memperlakukannya seperti wanita penghibur. Dengan sikap Karan yang sekarang Raya merasa mendapatkan harga dirinya sebagai seorang wanita sekaligus istri dari laki-laki ini.


“Baiklah, kita pulang saja sekarang,” tukas sang super model menyetujui.


Tentu saja Karan senang mendengar persetujuan sang istri. Usai membayar semua tagihan, mereka keluar dari butik. Dan tepat di depan pintu butik, para wartawan langsung menghadang mereka. Suara nyaring para awak media itu terlempar ke udara, mendengung seperti suara lebah di sekitar telinga Karan dan Raya. Andai para petugas keamanan butik tidak melindungi mereka, sudah pasti tubuh mereka sudah terdesak oleh belasan tubuh para wartawan.


“Mbak Raya sebentar saja. Satu pertanyaan saja, tolong!” Suara seorang wartawan laki-laki terdengar paling besar di antara suara para wartawan lainnya, yang tentu saja menyita perhatian Raya. Wanita itu pun berhenti melangkah dan menghadap ke wartawan itu. Karan yang ada di sebelah Raya juga mengikuti tindakan sang istri.


“Oke, satu pertanyaan saja. Apa yang ingin ditanyakan?” lontar Raya pada wartawan itu.


Dengan cepat semua wartawan mengalihkan perhatian mereka ke sang penanya yang sedang bersiap-siap mengajukan pertanyaan. Mereka tidak mau kehilangan momentum untuk merekam hal ini karena sangat sulit bagi mereka untuk menemui Raya. Pembatalan semua kontrak secara mendadak hingga membuat sang super model hilang dari media massa membuat rasa penasaran publik meningkat. Raya memang sangat aktif di media sosialnya, namun itu belum cukup memenuhi rasa ingin tahu masyarakat yang begitu besar pada kehidupan sang super model.


Begitu juga dengan sang wartawan yang diberikan kesempatan untuk bertanya itu. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan dan langsung melontarkan pertanyaan pribadi tentang kehidupan rumah tangga Raya. Pertanyaan yang selalu menjadi tanda tanya besar di kalangan masyarakat. “Mengapa Mbak Raya secara tiba-tiba tidak muncul di media massa dan membatalkan semua kontrak kerja sama dengan berbagai pihak? Apakah ini karena desakan suami Anda? Apakah suami Anda melarang Anda kembali ke dunia hiburan? Apa semua yang Mbak Raya unggah di media sosial itu benar kalau Mbak bahagia dengan pernikahan Anda?”