
“Aku bilang, ayo kita putus. Katanya kau kesulitan mengurusku, bukan? Jadi, ayo kita selesaikan masalah ini. Kita putus saja agar kau tidak merasa kesulitan lagi.”
Karan mencoba bernapas normal, mencoba untuk mencerna apa yang baru saja diutarakan oleh kekasihnya itu. Putus bukan kata yang ingin Karan dengarkan dari Raya. Tidak sama sekali. Mereka memang baru berpacaran. Mungkin baru beberapa bulan dan belum sampai menginjak satu tahun. Selama menjalani hubungan tidak ada masalah besar yang terjadi di antara mereka. Raya terlihat baik-baik saja bersamanya. Begitu pula ia bersama gadis itu. Malah, Karan merasa sangat senang menghabiskan waktu bersama Raya. Meskipun ia lelah mencari uang demi Raya, tapi Karan tidak merasa keberatan sama sekali. Ia cukup bahagia karena merasa sangat dibutuhkan oleh sang kekasih.
Begitu pun dengan Raya. Selama pengamatannya, tidak pernah sekali pun mereka bertengkar hebat hingga membuat gadis itu marah besar. Paling mentok Karan hanya mengomeli Raya karena ia lupa membawa atribut sekolah. Tapi mereka tidak pernah punya masalah yang berarti. Beberapa kali Karan memang suka menggoda Raya, mungkin sedikit mengejek pacaranya itu ketika ia tidak lulus ujian dan harus melalui proses remedial. Namun Karan tidak akan meninggalkan Raya sendirian. Ia selalu membantu gadis itu sampai lulus dan menemaninya kala proses remedial berlangsung. Raya pun tampak senang dan bahagia. Jadi, di mana salahnya?
Karan meletakkan salepnya ke atas beton jembatan itu, lalu ia mengamit tangan Raya. “Kau bercanda ‘kan?” Itu harapan terbesar Karan. Ia berharap Raya hanya bercanda mengucapkan kalimat perpisahan itu. Meskipun Karan tidak menyukai perpisahan menjadi bahan lelucon, tapi sebuah lelucon lebih baik dari kenyataan. Jika Raya mengatakan bahwa ia hanya melemparkan sebuah candaan untuk membalas keluh kesahnya barusan, maka Karan akan melupakan ketidaksukaannya terhadap candaan tersebut. Ia akan menerimanya dengan senang hati, bahkan tertawa bersama Raya.
Sayangnya jawaban Raya jauh dari harapannya. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Dengan wajah serius ia kembali mengutarakn keinginannya untuk berpisah dengan Karan. “Aku tidak bercanda sama sekali. Aku serius. Aku ingin kita berpisah sekarang.”
Tangan Karan menggenggam erat tangan kekasihnya. “Sudah hentikan candaanmu ini, Raya. Ini benar-benar tidak lucu sama sekali.” Sekarang rasa takut menyusup di dalam diri Karan. Bahkan, jantungnya sudah berdebar-bedar sambil berharap bahwa semua yang ia dengar hari ini tidaklah benar.
Akan tetapi, untuk kesekian kalinya, Raya memupuskan harapan Karan. Gadis itu justru menegaskan lagi perkataannya. “Ini tidak lucu karena aku tidak bercanda sama sekali. Aku memang ingin berpisah denganmu.”
Kali ini Karanlah yang menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, tapi yang jelas ia tidak bisa menerima ini begitu saja. “Tidak bisa. Aku tidak bisa melepaskanmu. Memangnya apa alasannya? Apa salahku?” tanya Karan heran. Ia sudah melakukan banyak hal untuk Raya, meluangkan waktu dan mencurahkan tenagannya dalam hubungan mereka. Karan juga tidak pernah berselingkuh dari Raya. Ia telah menetapkan hatinya pada gadis itu dan tidak akan berpaling pada yang lainnya. Perlu diingat, Karan cukup terkenal di sekolah.
Prestasinya di bidang akademik begitu mengagumkan begitu pula di luar akademik. Siapa siswi di sekolah itu yang tidak terpincut dengan pesona itu? Belum lagi Karan memiliki wajah rupawan yang bisa memikat hati para murid perempuan. Tetapi Karan sama sekali tidak tertarik pada mereka. Karan dengan penuh percaya diri sering memperkenalkan Raya sebagai kekasihnya. Ia tidak peduli jika orang-orang di sekitarnya menggunjingnya karena memilih Raya hanya karena parasnya yang cantik. Pemuda itu malah bersyukur bisa mendapatkan gadis tercantik seperti Raya di sekolahnya.
Jadi sekali lagi, di mana letak kesalahannya? Karan berpikir keras untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu.
“Kau tidak salah. Sama sekali tidak salah. Aku hanya merasa muak dengan hubungan kita. Aku ingin berpisah denganmu.”
Meskipun Raya mengucapkan itu dengan lantang, tetapi Karan mendengar nada getir dari ucapan itu. Sepertinya Raya terlihat terpaksa melakukannya. Tetapi mengapa? Siapa yang memaksa Raya melakukan itu? Semakin dipikirkan membuat Karan semakin tidak mengerti. Hubungan mereka baik-baik saja dan orang-orang di sekitar mereka tidak ada yang menghalangi sama sekali.
Ah, tidak. Beberapa kali memang ada yang mencoba memisahkan mereka dengan menjadi orang ketiga di antara mereka. Termasuk beberapa orang yang ada di tim basket Karan dulu. Ada dua anggota yang merupakan kakak tingkat Karan mengutarakan dengan lantang ketertarikannya pada Raya. Dengan berani ia mengatakan pada Karan keinginannya merebut Raya. Namun Karan berhasil menyelesaikannya dengan melakukan pertarungan sengit bola basket dengan mereka. Karan sama sekali tidak bermaksud menjadikan Raya sebagai bahan taruhan, tetapi ia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Alhasil, Karan memenangkan pertandingan dan berhasil mempertahankan hubungannya dari gangguan kedua seniornya itu.
Karan tidak tahu apakah Raya juga mengalami hal yang sama dengannya karena mereka berada di kelas yang berbeda. Tetapi ada satu waktu Karan tanpa sengaja mendengar pertengkaran Raya dengan beberapa murid perempuan di dekat toilet saat Karan hendak ke sana. Mereka melabrak Raya dan memaki gadis itu karena menganggapnya berani bersikap sombong dengan statusnya sebagai kekasih Karan. Dari percakapan yang Karan dengar itu, ia bisa menyimpulkan bahwa para gadis itu cemburu pada Raya karena Raya berhasil menjadikan Karan sebagai kekasihnya.
Saat itu Karan merasa khawatir. Ia ingin membantu Raya, tetapi dengan cepat ia mengurungkan niatannya usai mendengar penurutan gadis itu. Raya dengan sikap yang sangat berani tidak menampik semua ucapan teman-temannya. Gadis itu malah menyombongkan dirinya dan mengakui bahwa status sebagai kekasih Karan sangat menguntungkannya. Di ujung perdebatan itu Raya melemparkan sebuah tantangan kepada mereka. Jika salah satu dari mereka bisa merebut Karan, maka ia akan meninggalkan Karan dengan sukarela. Tentu saja tantangan itu tidak berani dilakukan oleh mereka. Sebab mereka tahu, sampai kapan pun Karan tidak akan tertarik berhubungan dengan gadis selain Raya Drisana.
“Ini sangat konyol Raya. Aku tidak bisa menerimanya sama sekali.” Karan berdiri dari tempat duduknya karena merasa sangat marah.
“Tunggu, dengarkan aku dulu. Ini yang terbaik untuk kita, terutama untukmu,” sambung Raya.
“Omong kosong! Kau sangat egois. Apakah ini tujuanmu sebenarnya? Kau ingin mempermainkanku? Katakan, apakah kau menyukai laki-laki lain?”
Raya ikut berdiri. Ia menggeleng dengan tegas. “Tidak, aku tidak menyukai laki-laki lain, sungguh! Aku hanya ingin kita mengakhiri hubungan kita dengan baik-baik karena ini benar-benar demi kebaikanmu.”
Emosi Karan semakin meninggi. “Persetan dengan kebaikanku, Raya! Bagaimana aku bisa baik setelah putus denganmu? Aku tidak bisa menerima ini. Sebutkan alasan yang masuk akal jika kau ingin mengakhiri hubungan kita. Kalau kau tidak menemukannya, maka jangan harap kau bisa putus dariku,” ancam Karan. Dengan perasaan marah dan kecewa Karan meninggalkan Raya. Pemuda itu bahkan pergi setelah menendang sebuah batu kerikil yang ada di sekitarnya. Mungkin untuk meluapkan emosinya.
Tadi siang sebelum pulang sekolah, Raya dipanggil oleh kepala sekolah. Raya sempat berpikiran macam-macam saat namanya disebutkan untuk masuk ke kantor guru. Padahal hari itu, pertama kali dalam sejarah Raya memakai seragam lengkapnya. Ia tidak lupa satu pun atribut sekolah. Dasi dan topi ia pakai dengan lengkap. Raya pun datang ke sekolah tepat waktu. Ia bahkan ikut upacara bendera yang diadakan setiap hari senin dengan tenang, tanpa menimbulkan keributan seperti biasanya. PR dan tugas sekolah telah diselesaikan Raya dengan baik sehingga hari itu Raya yakin tidak akan mendapatkan masalah apa pun.
Namun pada kenyataannya Raya dipanggil oleh kepala sekolah. Karena sudah berurusan dengan pimpinan sekolah, Raya tidak bisa melarikan diri. Perasaan takut menghinggapinya. Ia takut dikeluarkan dari sekolah karena kenakalannya selama ini. Bukan karena Raya begitu mencintai sekolahnya. Hanya saja Raya sudah membayar lunas uang sekolah hingga satu tahun. Biayanya sangat tidak murah bagi Raya. Jika dikeluarkan, maka Raya harus mencari sekolah baru dan mengulang membayar biaya SPP dari awal lagi. Itu sangat merugikan dan memberatkan Raya.
“Kau tenang saja, saya tidak akan mengeluarkanmu dari sekolah,” tukas sang ibu kepala sekolah.
Ucapan itu membuat Raya bernapas lega. Ketakutannya selama ini tidak terbukti karena sang kepala sekolah tidak berniat mengeluarkannya dari sekolah. Jadi, apa alasannya datang ke kantor ini? Raya bertanya-tanya. Untung saja pertanyaan itu tidak lama bercokol di kepala Raya karean beberapa saat kemudian, gadis itu langsung mendapatkan jawabannya.
“Raya Drisana, apakah kau tahu kalau sekolah ini melarang para murid bekerja meskipun hanya pekerjaan paruh waktu?” Kepala sekolah yang usianya sekitar 50 tahun itu berbicara lagi.
Raya menganggukkan kepalanya. Itu sudah tertuang dalam aturan sekolah dan selalu diumumkan setiap bulan. Bahwa pihak sekolah akan menindak tegas siapa saja murid yang bekerja secara illegal. Disebut illegal karena usia mereka masih di bawah umur. Aturan itu senada dengan aturan yang dibuat oleh kementerian pendidikan yang melarang sekolah membiarkan anak-anak di bawah umur untuk bekerja. Dan Raya mengetahui aturan itu dengan jelas. “Saya tahu, Bu,” jawab Raya.
“Kau tahu aturan itu tapi kau melanggarnya. Kau bekerja di restoran yang ada di desa sebelah setiap sabtu dan minggu, bukan? Tidak usah mengelak karena saya sudah mendapatkan bukti nyatanya.”
Karena tidak bisa mengelak atau berbohong, maka Raya hanya bisa menganggukkan kepalanya lagi. “Iya Bu,” katanya mengaku.
“Kau tidak merasa bersalah sama sekali?”
Kali ini Raya menundukkan kepalanya. “Maaf Bu.”
“Bagus kalau kau tahu di mana kesalahanmu. Sekarang saya minta kau berhenti dari pekerjaanmu dan fokus pada pendidikanmu. Nilaimu saja masih berantakan tapi kau sudah sok bekerja. Mau jadi apa kau nanti di masa depan, ha?”
Kemarahan kepala sekolah itu masih bisa dimaklumi oleh Raya. Wanita tua itu sedang menegakkan aturan sekolah yang dilanggar oleh Raya. Tapi ia tidak terima dengan ucapan sang kepala sekolah. Sok katanya? Bagaimana mungkin Raya merasa sok hanya karena ia bekerja mencari uang? Memangnya Raya ingin bekerja? Tidak. Ia ingin hidup tenang dan menikmati hidup seperti yang dilakukan anak-anak orang kaya di luaran sana. Raya ingin fokus menempuh pendidikan seperti yang dikatakan sang ibu kepala sekolah tanpa merasa resah dengan biaya sekolahnya. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu. Raya hidup di bawah garis kemiskinan dan ia harus bekerja agar bisa hidup.
“Saya tidak sok, Bu. Tapi saya benar-benar butuh uang untuk bayar biaya sekolah,” sahut Raya jujur.
“Karena itulah kau memaksa pacarmu untuk bekerja? Supaya ada yang menemanimu, begitu?”
Raya tersentak. Ia tidak tahu Karan akan terseret-seret dengan permasalahannya. Dengan cepat ia membantah. “Tidak Bu. Saya tidak pernah memaksanya bekerja.”
“Jadi untuk apa dia bekerja? Kalau tidak karenamu dia tidak akan mungkin bekerja di minimarket itu.”
Ya, harus diakui Rayalah penyebab Karan bekerja. Hanya demi untuk melindunginya, Karan rela menghabiskan akhir pekan dengan bekerja di minimarket dekat dengan restorannya. Raya ingin menampik, tapi itu memang kenyataannya. “Tapi saya tidak pernah memaksanya, Bu. Itu keinginannya sendiri.”
Kepala sekolah sekaligus guru fisika Raya itu mendengus kesal. Ia pun mencondongkan tubuhnya ke dekat Raya dan berseru pada gadis itu. “Raya dengar, dia adalah aset sekolah ini. Tolong jangan dirusak. Saya tidak mau kau membawa pengaruh buruk padanya. Atau begini saja, kita mengadakan transaksi kecil. Kalau kau mengakhiri hubunganmu dengannya, saya akan menjamin uang sekolahmu di sekolah ini sampai kau lulus. Saya juga akan memberikan uang saku untukmu agar kau tidak perlu bekerja lagi di restoran itu. Saya yakin kau murid yang cerdas, Raya. Saya harap kau bisa memutuskan pilihan yang bijak.”