Lies

Lies
Sisi Karan yang Lucu



Raya menggigit bibirnya yang bergetar. Karan memang pantang menyerah untuk membuatnya tidak nyaman. Setelah perbuatannya beberapa menit yang lalu, sekarang pria itu bersikap seolah-olah sebagai pria yang paling mencintai Raya, istrinya. Apakah ini bisa dikatakan sebagai cinta? Padahal Karan menghina Raya dan memperlakukan istrinya itu layaknya seorang wanita penghibur yang disewanya. Apakah seperti itu Karan mengungkapkan rasa cintanya?


Tangan Raya mengepal kencang saat bibir Karan menempel di keningnya. Harusnya ia bahagia karena ini pilihannya sendiri. Raya tidak mungkin lupa bagaimana ia setuju menikahi Karan. Bahkan ketika sang bibi menyuruhnya berpikir ulang, Raya malah memuji-muji Karan setinggi langit. Wanita itu suka sekali menceritakan bagaimana sosok Karan yang lemah lembut dan baik hati. Juga kesuksesan sang CEO mendirikan bisnisnya sendiri yang terlepas dari aliansi nama besar keluarga Reviano.


“Karan, ayo kita makan. Jangan buat aku malu di depan Mama dan Papa,” tukas Raya pada akhirnya sambil melepaskan tangan Karan dari tubuhnya.


Kendati merasa kesal, Karan mengikuti kemauan Raya. “Baiklah, ayo kita makan. Jangan biarkan makanan yang sudah disiapkan menjadi dingin.”


Semua orang setuju dengan kata-kata Karan. Raya meminta Anna menyiapkan makan malam yang tadinya dibuat khusus hanya untuknya dan Karan. Untung saja sang ibu mertua membawa makanan tambahan ke rumah itu. Jika tidak, Raya akan merasa malu karena tidak bisa memberikan jamuan yang sepantasnya kepada mertuanya.


Hingga puncak acaranya pun dimulai. Raya keluar dari dapur dengan membawa sebuah kue ulang tahun di tangannya, lengkap dengan lilin dengan angka 30, usia Karan saat ini. Yang anehnya, Karan terkejut melihat kue itu, entah karena terharu atau karena ia sama sekali tidak menyangka Raya akan tetap memberikannya kue ulang tahun. Yang pasti Karan tidak mungkin tidak tahu bahwa Raya sudah menyiapkan kue itu untuknya. Pria itu punya banyak mata-mata di rumah ini. Karan hanya tidak yakin Raya akan melanjutkan rencananya atau tidak setelah apa yang ia lakukan di dalam kamar.


“Selamat ulang tahun Suamiku. Semoga kau dapat menjadi orang yang lebih baik lagi,” ungkap Raya dengan tulus. Dalam hatinya Raya memang berharap sesuatu pada Karan. Bukan cinta atau kasih sayang, tapi belas kasihan. Raya ingin Karan memperlakukannya sedikit lebih baik, setidaknya menghormatinya sebagai seorang istri dengan memberikan sedikit kebebasan padanya.


Karan tersenyum lembut, mengerti apa arti di balik ucapan Raya. Ia pun mendekap istrinya itu dengan hangat. “Terima kasih Sayang, aku mencintaimu,” akunya.


Kemudian, Karan meniup lilin itu dengan semangat, memotong-motong kue menjadi tiga bagian dan menyuapi istri dan orang tuanya. Karan menunjukkan seberapa baiknya ia memperlakukan Raya di depan ibu dan ayahnya. Pria itu sampai melakukan sedikit hal konyol pada Raya. Ia mengoleskan krim putih ke pipi sang istri seraya tertawa. Tawa yang tampak begitu tulus di mata orang tuanya sehingga mereka tidak akan pernah mengetahui siapa Karan sebenarnya.


Acara potong kue sudah selesai. Raya pikir orang tua Karan akan segera pulang. Nyatanya ia salah. Ibu dan ayah Karan malah berencana menginap semalam di rumah ini sebelum mereka pergi besok subuh ke bandara. Memang jarak rumah Karan jauh lebih dekat ke bandara dibandingkan dengan rumah mereka. Jadi, mereka pun memutuskan untuk menginap.


“Nak, apa yang ingin kau ketahui tentang Karan?” Ibu Karan memulai perbincangan dengan Raya di ruang keluarga. Sambil meminum minuman ringan dan makanan pencuci mulut, keluarga Karan menikmati malam dengan bersantai di ruang keluarga. Selagi Karan sibuk berdiskusi dengan ayahnya, sang ibu sedang berusaha mengobrol dengan menantu barunya itu.


Raya mengalihkan pandangannya dari televisi dan menatap ibu Karan. “Apa ya?” Wanita itu benar-benar bingung akan mengajukan pertanyaan seperti apa kepada sang ibu mertua. Seandainya ini terjadi sebulan yang lalu saat mereka belum menikah dan Raya masih menyukai Karan, mungkin ia akan tertarik mengetahui masa lalu pria itu. Tetapi sekarang tidak lagi. Hatinya sudah tertutup pada informasi apa pun tentang sang suami.


“Hey, jangan bilang Karan sudah menceritakan segalanya padamu!”


Ucapan ibu Karan membuat Raya tersenyum kikuk. Sebaliknya, Karan malah tidak pernah bercerita apa pun padanya. Dalam artian pengetahuan Raya tentang Karan nol besar. “Tidak seperti itu Ma.”


Ibu Karan berpindah tempat duduk. Kini ia duduk di samping Raya, di sofa yang sama dengan menantu dan putranya itu. “Jangan khawatir Nak. Mama akan menceritakan sesuatu yang menarik tentang Karan yang tidak pernah diketahui olehmu. Mama yakin Karan tidak akan pernah bercerita ini sebelumnya.”


Raya yang tadinya bersikap abai berubah tertarik saat ia tidak sengaja melihat Karan. Ekspresi yang tercetak di wajah suaminya tampak begitu kaku dan tubuhnya juga menegang. Sepertinya laki-laki itu merasa khawatir dengan apa yang hendak disampaikan ibunya.


“Sayang, jangan dengarkan Mama.” Cepat-cepat Karan memotong pembicaraan tepat sebelum ibunya buka suara, berusaha membujuk Raya. “Mama, ini ulang tahunku. Masa Mama mau menjelek-jelekkanku di depan istriku?” katanya melayangkan sebuah kepada sang ibu.


“Mama ‘kan belum bilang apa-apa, Karan. Dan kau tenang saja, kau anak Mama. Tidak mungkin Mama menjelek-jelekkanmu di depan istrimu,” sahut sang ibu dengan penuh keyakinan.


Karan masih tidak mau mengalah. “Tapi Ma—”


“Ssst! Kau diam saja, Karan!” Ibu Karan melihat ke arah suaminya dan meminta bantuan kepada laki-laki itu. “Pa, ajak Karan mengobrol lagi supaya aku bisa berbicara dengan menantuku.”


“Karan, sudah dengarkan saja cerita Mamamu. Papa yakin tidak akan ada kejelekanmu yang terungkap. Lagipula, tidak akan ada masalah jika keburukan laki-laki diketahui istrinya. Papa percaya Raya juga tidak akan masalah. Bukankah begitu Nak?” cetusnya yang melemparkan pertanyaan pada Raya.


Raya pun mengangguk. “Iya Karan. Tidak apa-apa jika Mama mau bercerita. Itu tidak akan mengubah apa pun pada hubungan kita. Aku yakin dengan perasaanku padamu,” tanggapnya. Tentu saja Raya yakin tidak akan ada yang berubah karena pada dasarnya tidak ada yang istimewa dengan hubungan mereka. Karan dan Raya hanya terikat dengan dua buku nikah yang terdaftar di kantor pencatatan sipil. Mereka hanya sepasang suami-istri di bawah hukum. Tidak secara emosional.


Karan pun tidak bisa berkutik dengan serangan dari ketiga orang itu. Akhirnya ia pun mengalah. “Baiklah,” gumamnya pasrah.


Dengan penuh semangat ibu Karan memulai ceritanya. Pertama ia bercerita tentang perjodohan yang dibuat olehnya sebelum Karan menikah. Ia sudah membuat tiga perjodohan, dan masing-masing kandas di awal perjalanan. Perjodohan pertama dengan putri seorang anggota DPR yang tidak berhasil karena wanita itu terlambat datang ke pertemuan. Karan yang kesal malah mengungkit pekerjaan ayah wanita itu dan menyudutkannya.


“Masa katanya kalau anaknya saja tidak bisa dididik disiplin dan tepat waktu, bagaimana ayahnya bisa mengurus rakyat Indonesia? Lucu sekali, bukan? Hahaha!” ujar ibu Karan sambil tertawa terbahak-bahak.


Uniknya cerita itu juga membuat semua orang di sana ikut tertawa. Bahkan Karan yang Raya lihat selalu beraut muka dingin, mendadak tertawa keras. Raya sampai dibuat takjub memandangnya.


“Mama!” geram Karan kemudian usai ia menyelesaikan tawanya. “Saat itu ‘kan aku benar-benar kesal karena wanita itu terlambat. Kalau tidak mengingat ibunya adalah teman Mama, mungkin aku sudah membatalkan pertemuan itu.”


“Kau dengar itu Raya? Dia memang tidak suka dengan wanita itu makanya dia bersikap sangat jahat,” komentar sang ibu. Lalu, wanita tua itu menceritakan kencan Karan yang kedua, di mana Karan langsung membawa teman kencannya ke klinik kecantikan saat pertemuan pertama mereka. “Karan bilang wajahnya bitnik-bintik merah, jadi dia bawa ke dokter. Padahal Nak, kau tahu beberapa tahun lalu sedang tren make up seperti itu, tapi Karan malah mengira dia terkena penyakit kulit.”


Kali ini pun seisi rumah tertawa kencang, dan lagi-lagi Karan melakukan pembelaan. “Habisnya wajah wanita itu terlihat begitu mengerikan. Aku sudah bertanya apa dia punya alergi, tapi dia jawab tidak. Jadi aku pikir dia terkena penyakit kulit karena tidak cocok dengan make up tebalnya itu.”


“Ya, ya, ya. Terserahmu saja.” Sang ibu tidak mau membantah sebab ia benar-benar ingin menyelesaikan ceritanya tentang kencan ketiga Karan. Tapi sebelum itu, ia memandang wajah Raya yang tertawa lepas. Ia merasa senang bisa membuat menantunya senang seperti itu. “Bagaimana Raya? Apa kau mau mendengar cerita kencan yang terakhir? Kau tidak bosan ‘kan?”


“Tidak Ma, ini benar-benar lucu. Aku sampai menangis karena sakit perut mendengarnya,” ungkap Raya jujur. Perutnya memang sakit karena terus-terusan tertawa mendengar cerita kencan Karan di masa lalu. Raya tidak pernah menyangka Karan seperti itu. Ia tidak pernah menduga bahwa suaminya yang kejam itu ternyata punya sisi manusiawi yang jenaka.