
Setelah melalui perdebatan untuk menunda kepergian, akhirnya Raya dan Karan tetap pergi ke Milan sesuai dengan jadwal. Pagi itu mereka berangkat dari rumah mewah mereka dengan diiringi oleh beberapa wartawan. Kali ini Raya tidak perlu mencari tahu siapa yang mengajak para wartawan itu. Jawabannya adalah Karan. Suaminya itu sengaja memanggil mereka di depan rumahnya agar para pemburu berita itu tahu agenda kepergiannya bersama Raya. Dengan begitu media massa dan media sosial akan heboh memberitakan keberangkatan mereka.
Ini memang sempat menjadi tanda tanya bagi Raya. Mengapa aktivitasnya selalu menjadi santapan empuk para awak media? Tidak hanya dirinya, tapi semua orang yang mereka anggap artis. Misalnya seorang artis yang cukup terkenal pergi ke pasar tradisional mendadak menjadi headline beberapa portal media online. Padahal tidak ada yang istimewa dengan itu. Bahkan mungkin sebelum menjadi artis, ia malah lebih sering pergi ke pasar.
Yang lebih konyolnya Raya pernah melihat salah satu seniornya di dunia model sempat menjadi topik pembahasan para media hanya karena ia tertangkap kamera paparazzi sedang mengangkat galon air mineral dari mobil ke dalam rumah. Entah karena ia adalah perempuan atau karena ia yang harusnya punya uang banyak bisa menyewa orang untuk menurunkan galon itu. Namun kalau dilihat dari kehidupan nyata, ada ratusan juta perempuan Indonesia yang bisa melakukan pekerjaan yang lebih berat dari itu, yang jika ditelusuri, mereka pasti sanggup hanya sekadar mengangkat galon air mineral.
Sekarang Raya pun merasakannya. Ia pergi ke luar negeri bersama dengan suaminya. Dalam rangka berbulan madu pula. Memangnya ada yang spesial dari itu? Sepertinya jika memiliki uang lebih, banyak juga masyarakat Indonesia yang bepergian ke luar negeri, malah para pengusaha kaya itu sering bolak-balik liburan di negeri orang. Lagi pula, Raya pergi bersama suaminya sendiri, bukan suami orang. Seandainya ia ketahuan sedang jalan-jalan dengan lelaki yang bukan suaminya, barulah itu pantas menjadi pembicaraan masyarakat luas.
“Karan, kenapa kau memanggil media? Seharusnya mereka tidak perlu mengikuti kita,” ujar Raya ketika ia dan sang suami berhasil masuk ke dalam mobil guna berangkat ke bandara. Akibat perbuatan suaminya itu, mereka terhalang belasan wartawan yang menghadang jalan mereka. Beruntung Karan menyewa beberapa pengawal untuk melindungi mereka. Pengawal itu pun sampai harus mengikuti mobil mereka agar memastikan para wartawan tidak berbuat nekat.
Karan yang sejak tadi sibuk memeriksa beberapa dokumen—ya, pria itu masih sempat-sempatnya bekerja dalam liburan bulan madunya sendiri, menoleh dan menanggapi ucapan Raya. “Aku tidak memanggil media, Sayang. Aku hanya mengeluarkan pernyataan resmi kalau kita akan berlibur ke luar negeri. Itu pun ke media perusahaan kita. Bukan ke media secara luas.”
“Iya, tapi mereka bekerja sama, Karan. Mereka itu saling menghubungi satu sama lain untuk mendapatkan berita. Kenapa kita tidak pergi diam-diam saja?”
Menurut Raya, memberi tahu media massa atau tidak sebenarnya tidak berpengaruh besar padanya. Masalahnya Raya tidak suka keributan. Setiap kunjungan ke luar negeri dalam urusan pekerjaan saja Raya meminta stafnya tidak membocorkan ke media. Apalagi sampai penggemarnya tahu jadwal keberangkatannya. Pasti bandara akan penuh. Bukan untuk melakukan perjalanan udara, melainkan hanya untuk menemui dirinya. Itu sangat mengganggu kegiatan Raya dan juga mengganggu kegiatan orang-orang yang ada di bandara. Belum lagi jika penggemar-penggemar Raya itu disusupi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab hingga menimbulkan kericuhan di dalam bandara. Hasilnya wajah dan citra Rayalah yang lagi-lagi akan tercoreng di mata publik.
“Kenapa kita harus pergi diam-diam?” Sang suami balik bertanya. “Memangnya ada yang salah dengan kepergian kita? Aku adalah suamimu, Raya. Apa aku dilarang pergi bersamamu?”
Dengan cepat Raya menggelengkan kepalanya. “Tidak Karan, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian seperti ini.”
“Tidak masalah jika kau menjadi pusat perhatian, Sayang. Itu adalah profesimu sebagai seorang model yang disukai oleh banyak orang. Tidak ada yang salah dengan itu. Dan masalah para wartawan yang mengikuti kita, kau tidak perlu khawatir, pengawal-pengawal yang kusewa pasti bisa menjaga kita dengan baik.”
Begitu Raya membuka media sosialnya, ada ratusan ribu komentar memenuhi satu unggahan fotonya. Ralat, maksudnya foto yang tadi diunggah oleh suaminya. Karan masih sempat memperbarui status Raya dengan berbagai aktivitas keberangkatan menuju ke bandara, seolah-olah ingin mempertegas bahwa Raya benar-benar antusias dalam melakukan perjalanan ini.
Raya berpindah dari media sosialnya ke portal media online. Hasilnya begitu mengejutkan. Sangat berbanding terbalik dengan respons yang Raya dapatkan dari media sosialnya yang rata-rata masyarakat mendukung bulan madunya bersama sang suami. Yang disoroti di beberapa portal media itu bukanlah alasan atau bagaimana proses kepergian Raya dan Karan. Melainkan kendaraan yang digunakan oleh Raya dalam kepergiannya kali ini. Pesawat pribadi milik keluarga Reviano menjadi pembahasan utama dan itu dikait-kaitkan dengan status Raya sebagai direktur yayasan perusahaan. Mereka beranggapan tidak seharusnya seorang yang berkecimpung di dunia sosial yang harusnya membantu orang-orang susah, malah memamerkan harta kekayaan seperti itu.
“Lihat ini!” seru Raya sambil menunjukkan layar ponselnya kepada sang suami. “Para wartawan itu tidak selalu memberikan pemberitaan yang baik, Karan. Justru sebaliknya. Mereka suka mencari-cari kesalahan seseorang agar mendapatkan sebuah berita.” Raya berusaha menjelaskan kepada sang suami bahwa wartawan tidak selalu berpihak pada mereka. Wartawan-wartawan itu juga butuh uang. Mereka digaji untuk menulis sebuah berita yang akan dilemparkan kepada publik. Terlepas apakah berita itu benar atau salah, atau mungkin hanya opini yang mereka giring menjadi fakta dan menimbulkan kegaduhan, mereka tidak peduli. Asalkan ada berita, maka gaji mereka pun aman.
Karan melihat ponsel Raya sekilas, lalu ia tersenyum pada sang istri. “Aku tahu, itulah sebabnya kau berhenti untuk membaca berita yang mereka buat, Sayang.” Tangan Karan bergerak untuk menurunkan ponsel milik Raya, dan pria itu pun melanjutkan ucapannya. “Biarkan saja mereka membuat spekulasi yang menyudutkan seperti itu karena memang bukan begitu faktanya. Kau tidak menggunakan uang yayasan untuk melakukan perjalanan ini. Lagi pula, sekalipun kau menggunakan uang yayasan, itu tidak ada kaitannya dengan masyarakat umum. Kita tidak menggunakan donatur dalam yayasan kita karena semua pendapatan murni datang dari Reviano Group. Jadi, tidak ada alasan mereka mengait-ngaitkan pekerjaanmu dengan liburan ini.”
Pria itu membeberkan faktanya. Ketimbang mencari celah dari seorang artis, lebih baik para wartawan itu mengikuti langkah penguasa-penguasa daerah atau pusat. Pasti mereka mendapatkan hal yang jauh lebih mencengangkan lagi. Masalahnya, walaupun menemukan keburukan para penguasa, wartawan itu tidak akan berani menuliskan satu kata pun di portal media mereka. Posisi mereka akan terancam. Dan yang lebih parahnya, nyawa mereka bisa melayang. Itulah sebabnya mereka mengalihkan sasaran mereka ke selebritas. Sebab para artis sangat mudah diekspos kehidupannya. Belum lagi artis-artis itu tidak memiliki kuasa apa pun kendati mereka memiliki uang dan penggemar yang sangat banyak jumlahnya.
Meskipun sudah diperingati, Raya tetap ngotot membaca portal berita di ponselnya. Kali ini ia sengaja menghindari artikel-artikel yang membahas tentang dirinya. Raya mencari berita lain yang sedang trending hari itu. Ternyata ada artis lain yang sedang menjadi perbincangan juga, yakni Reagan. Rupanya laki-laki itu berhasil menjadi peran utama dalam sebuah film yang bekerja sama dengan pihak luar negeri. Raya tersenyum. Inilah yang harus diperbincangkan oleh masyarakat dan diliput media secara besar-besaran. Prestasi seorang artis, bukan melulu menyoroti perkara kehidupan pribadinya setiap hari.
Perasaan hati Raya sudah membaik, tetapi Karan justru sebaliknya. Ia heran mendapati senyuman tipis yang terbit di bibir istrinya. Rasa penasarannya pun meninggi dan lantas bertanya kepada wanita itu. “Kenapa kau tersenyum, Sayang? Apa ada berita yang baik?”
Raya yang takut membuat suaminya cemburu buru-buru menutup ponselnya tepat sebelum Karan sempat melihatnya. Wanita itu pun berdalih. “Tidak ada apa-apa,” katanya sambil memaksa sebuah senyum muncul di wajahnya.
Gelagat yang sangat mencurigakan, pikir Karan. Tidak mungkin Raya tersenyum setelah sebelumnya wanita itu mengeluh tentang pemberitaan yang diterbitkan oleh wartawan. Pasti ada sesuatu yang ditutupi oleh Raya dan itu membuat Karan kesal. Memangnya apa salahnya menceritakan hal itu kepadanya? Apakah Karan tidak cukup berharga untuk tahu apa yang membuat istrinya itu tersenyum barusan?