
Kendati ingin menolak, Raya tetap harus menerima takdirnya sebagai seorang direktur yayasan sosial Reviano Group. Berkat itulah Raya harus bekerja meskipun ia bekerja bersama dengan sang suami. Karan sudah merencanakan ini. Ia sengaja membuat Raya menjadi direktur agar mereka bisa bekerja dalam lingkup yang sama. Sama-sama bekerja di kantor dan di ruangan yang sama pula. Hari ini Karan memang lebih memilih bekerja di kantor pusat alih-alih menempati ruangan CEO di perusahaan pribadinya. Tujuannya hanya satu, agar ia dapat mengantar sang istri ke sana. Karena kedatangan Karan dan Raya itulah seisi kantor menjadi heboh.
Karan jarang berada di sana. Mungkin hanya sekali sebulan, itu pun jika terjadi masalah besar. Dan untuk ukuran perusahaan sebesar Reviano Group, masalah besar jarang sekali terjadi. Sejak ditangani oleh sang ayah sampai sekarang diolah oleh Karan, perusahaan tersebut memiliki sistem yang sangat bagus. Mungkin hanya ada satu masalah yang beberapa kali terjadi di dalam perusahaan, yakni penyelewengan dana dan penyalahgunaan kekuasaan. Perusahaan juga pernah beberapa kali mengalami kebocoran data karena adanya pengkhianat yang menyusup ke dalam perusahaan. Namun sejak Karan mengambil alih, dengan menerapkan sistem bisnis dari beberapa perusahaan ternama di New York, akhirnya masalah-masalah itu dapat tertangani dengan baik.
“Ini kantor yayasan kita, Sayang. Kau akan bekerja di sini,” tukas Karan seraya membuka pintu sebuah ruangan yang terletak di lantai 25, satu lantai di bawah ruangan Karan. Sebenarnya yayasan sosialnya tidak bekerja di gedung utama, melainkan di gedung lainnya. Tetapi karena Raya adalah direkturnya sekarang, Karan tidak mau wanita itu berada jauh darinya. Susah payah ia mencari ide agar selalu bersama Raya, bagaimana mungkin ia menyuruh sang istri untuk menjauh? Alhasil, Karan pun mendepak kantor direktur pemasaran yang awalnya menempati ruangan itu.
Raya pun melangkah masuk. Namanya adalah yayasan sosial yang seharusnya menunjukkan sebuah kesederhanaan. Tetapi yang Raya lihat saat ini jauh berbeda. Ruangan itu begitu mewah. Sangat berlebihan untuk kantor sebuah yayasan. Terlebih ruangan direktur yang berada di sudut lantai itu. Ketika Raya membukanya, ia seperti berada di ruang kerja Karan di rumah mereka. Semua perabotan yang tersedia merupakan kualitas terbaik meskipun tetap terlihat minimalis.
“Bagaimana Sayang? Apa kau suka? Kalau kau tidak suka, aku bisa menyuruh Ian menggantinya secepat mungkin,” tanya Karan yang merasa penasaran dengan mimik wajah Raya. Wanita itu tampak terkejut di awal, kemudian secara tiba-tiba muncul sebuah kerutan di dahinya. Raya pun tanpa sadar menghela napas panjang seolah-olah sedang menyimpan sebuah keresahan. Di mata Karan, mungkin saja Raya tidak suka dengan isi kantornya sekarang. Dan Karan akan mengubah ruangan itu secepatnya. Bahkan seandainya Raya meminta untuk menggunakan ruangan direktur utama, Karan akan dengan mudah memberikannya pada Raya.
“Tidak, tidak. Ini sudah cukup Karan. Sudah lebih dari cukup. Aku tidak butuh yang lainnya,” tukas Raya menolak. Ia cukup canggung berada di sana. Pertama karena jabatan barunya yang begitu berat. Kedua dari tatapan para karyawan yang ada di ruangan itu. Raya sungguh terbebani dengan tatapan itu, namun ia bisa memakluminya. Rasanya tidak adil memang melihat ketimpangan ini. Hanya karena status Raya merupakan istri dari pemimpin perusahaan, Raya langsung ditunjuk menjadi direktur yayasan. Sementara para karyawan itu harus bekerja keras untuk mempertahankan posisi dan pekerjaan mereka dari orang-orang baru yang direkrut perusahaan setiap tahun. Suka atau tidak, inilah kenyataan hidup. Selain kerja keras, dibutuhkan juga relasi untuk mempertahankan posisi masing-masing.
“Baguslah kalau begitu.” Karan terlihat puas dengan jawaban Raya. Ia mendekat ke meja dan menekan sebuah tombol di atas telepon. “Bisa kau datang ke ruangan direktur sekarang?” tutur Karan kepada seseorang. Tak lama kemudian, seorang laki-laki mengetuk pintu ruangan dan Karan mempersilakannya masuk.
“Sayang, ini Ruben. Dia adalah wakil direktur yayasan. Dia akan membantumu agar kau tidak merasa kesulitan,” ujar Karan menjelaskan.
Raya mengulurkan tangannya dan sang wakil direktur membalas jabatan tangan itu. “Raya Drisana, mohon bantuannya Pak Ruben,” tukasnya dengan sopan.
Ruben tersenyum singkat sebelum membenahi kacamatanya. “Baik Bu. Selamat atas jabatan baru Anda.”
Ruben tampak baik di mata Raya. Tidak ada gelagat aneh yang Raya lihat dari tampilan Ruben. Selayaknya seorang gila kerja, Ruben terlihat begitu serius. Kacamatanya cukup tebal, tapi tidak bisa menyembunyikan ketampanannya. Ya, laki-laki itu memang tampan. Apalagi tubuhnya juga cukup tinggi. Meskipun tidak sesempurna paras Karan, setidaknya Ruben adalah tipe laki-laki yang cocok untuk dijadikan pasangan hidup.
“Kau boleh kembali ke mejamu, Ruben,” cetus Karan yang menghentikan Raya mengamati wajah Ruben. Tangannya bergerak untuk merangkul Raya secara spontan. Karan tidak menyadarinya, tetapi rasa posesifnya terhadap Raya membuat tubuhnya bereaksi setiap menyaksikan interaksi antara Raya dengan laki-laki lain. Ia cemburu meskipun seharusnya kecemburuan itu sangat tidak diperlukan. Pasalnya Ruben sudah lama bekerja dengannya. Pria itu begitu setia sama seperti Ian. Jadi, tidak mungkin Ruben akan bertindak macam-macam terhadap Raya, terlebih di daerah kekuasaan Karan sendiri.
“Baik Pak.” Tanpa protes sama sekali Ruben hanya keluar dari ruangan itu.
Karan merasa bingung dengan ucapan istrinya. “Ya? Berhenti apa Sayang?”
“Berhenti untuk melakukan ini.” Raya mengamit tangan Karan dan menghempaskannya. Lalu, ia melangkah mundur untuk menjauhi suaminya. “Itu yang pertama. Yang kedua, bisakah kita berbicara formal? Ini di kantor. Jabatanmu lebih tinggi dariku. Jadi, tolong pisahkan urusan pribadi dengan urusan perusahaan.”
“Kalau yang itu tidak bisa, Sayang. Aku tidak bisa menganggap istriku sendiri sebagai karyawan. Kau adalah istriku, artinya semua yang aku miliki adalah milikmu, termasuk perusahaan ini.”
Raya melemparkan tatapan tajamnya pada Karan. “Karan, tolong! Kalau kau tidak bisa, maka aku yang akan berbicara formal padamu. Setidaknya selama kita di kantor. Aku tidak ingin menimbulkan banyak gosip di tempat kerja.”
Kening Karan mengernyit. “Gosip? Siapa yang berani bergosip tentangmu, hm? Kalau aku menemukannya, apalagi dia adalah orang di perusahaan ini, aku yakin dia akan berumur pendek.”
Raya bergidik ngeri. Ucapan Karan tentu bukan menjurus pada pekerjaan, tetapi sesuatu yang lebih ekstrem. Karan benar-benar ingin menyakiti orang lain, bahkan melenyapkannya. Sorotan kedua mata Karan sudah menjelaskannya. “Tidak, bukan begitu. Tapi ini demi kenyamananku. Tolong, biarkan aku berskiap selayaknya seorang karyawan. Mulai detik ini aku akan bersikap formal padamu.”
“Ya, terserah padamu, Sayang. Lakukan saja apa yang membuatmu senang, dan aku akan melakukan apa yang membuatku senang. Begitulah cara aku menjalani hidup.” Karan mendekati Raya dan memeluknya. Raya memang memberontak, tetapi tenaga Karan jauh lebih besar. Laki-laki itu baru menghentikan aksinya usai memberikan sebuah kecupan ringan di bibir dan pipi sang istri. Lalu, ia berjalan ke meja Raya. “Ini daftar semua kegiatan yayasan selama satu bulan ke depan. Dan ini adalah lembaga-lembaga yang selalu mendapatkan bantuan rutin dari yayasan kita,” kata Karan sembari memberikan dua dokumen yang ada di meja kepada Raya.
Raya mengambil kedua dokumen itu dan mulai membukanya satu per satu. “Ada 50 lembaga?” celetuk Raya tidak percaya. Ia pikir Karan hanya membuat sebuah yayasan untuk kebutuhan pencitraan belaka sehingga yayasan baru akan bekerja jika dibutuhkan saja. Membantu korban bencana alam misalnya. Atau bekerja sama dengan pemerintah agar selalu mendapatkan sorotan kamera. Paling mudah membantu orang-orang yang sempat terkenal di dunia maya. Tetapi Raya salah besar. Nyatanya Karan memang rutin memberikan bantuan kepada 50 lembaga itu. Setidaknya selama enam bulan sekali. Raya menjadi semakin bingung dengan sifat Karan sebenarnya. Apakah laki-laki ini benar-benar jahat seperti yang selama ini Raya saksikan di dalam rumah?
“Iya, 50 lembaga. Sebenarnya tahun lalu ada lebih dari itu, tapi karena tahun ini ada beberapa bencana alam, kami mengalokasikan dana untuk membantu para korban terlebih dahulu,” jelas sang CEO. “Bacalah dengan pelan-pelan Sayang. Hari ini hanya itu pekerjaan yang bisa kau lakukan. Kalau ada yang membingungkan, kau bisa bertanya padaku. Aku akan berada di sini seharian untuk membantumu.”
Raya memutar bola matanya jengah. Karan tidak benar-benar mau membantunya. Laki-laki itu hanya ingin ada di sana untuk mengganggunya. “Apakah Anda tidak memiliki pekerjaan, Pak?” tutur Raya dengan sopan sesuai dengan janjinya.
Seulas senyum muncul di bibir tebal Karan. Ia senang karena teringat bagaimana pertemuan mereka dulu di mana Raya berbicara sopan seperti sekarang. “Tidak, aku tidak ada pekerjaan. Lagi pula, sudah menjadi tanggung jawabku untuk memastikan direktur baru yayasan mengetahui apa tugas dan tanggung jawabnya.” Karan berbicara seolah-olah itu memang tugas dan kewajiban seorang pemimpin perusahaan. Padahal kenyataannya, selain Raya, Karan tidak pernah sama sekali turun tangan untuk mengawasi para direkturnya. Pria itu lebih suka menyuruh mereka menghadapnya jika memang itu diperlukan.
Tidak ada balasan dari Raya. Wanita itu membiarkan saja suaminya duduk di kursi miliknya, sedangkan ia duduk di kursi yang berlawanan. Raya membaca dengan teliti semua laporan itu sampai matanya terbelalak melihat sebuah panti asuhan yang menerima bantuan rutin dari yayasan. Panti asuhan yang berada di jalan Asoka, tempat yang sangat dikenali oleh Raya sebab di sekitar jalan itulah Raya menghabiskan masa kecilnya. Masa kecil yang samar-samar menghilang dari ingatannya.