
Karan dan Raya sampai di tempat penginapan mereka. Begitu sampai, alih-alih memperbaiki barang bawaan atau sekadar membersihkan diri, Karan justru membawa Raya ke kamar mereka. Ia menyuruh orang-orang di sana untuk pergi, termasuk para pelayan dan pengawal yang ada di sana. Karan juga memastikan agar tidak ada satu pun yang bisa masuk ke kamarnya dengan mengunci pintu kamar rapat-rapat. Kemudian, Karan menghampiri Raya yang sedang memandangnya dengan heran. Seolah-olah bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan oleh laki-laki itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya wanita itu terkejut, ia merinding melihat mata Karan yang menatapnya dengan lekat bak seekor elang yang tengah memanndangi buruannya. Pelan-pelan, Raya melangkah mundur, berusaha untuk tidak tertangkap Karan. Namun, usahanya sia-sia. Karan dengan sigap langsung menangkapnya dan membawa tubuh wanita itu dalam pelukannya.
“Kau mau ke mana, Sayang?” ujar Karan yang semakin merapatkan tubuh Raya padanya. “Mau melarikan diri dariku?”
Raya menggelengkan kepalanya, tapi ia berusaha untuk mencari cela dari sang suami. Ia ingin melarikan diri. “Ti-tidak, aku tidak mau melakukan itu,” tukasnya sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya. Itu selalu dilakukan oleh wnaita itu ketika ia gugup. Merasa tidak bisa berujar dengan benar.
“Benarkah? Lalu, kenapa kau gugup?” Karan mengecup pipi kiri Raya dengan gemas, lalu mengecup pipi kanannya secara bergantian. “Kau sangat lucu jika berbohong padaku seperti ini, Sayang, Aku tidak bisa menahan diri sama sekali. Kau tahu, kau tidak bisa berbohong dariku, Sayang. Karena kau akan selalu gugup jika berbohong.” Itulah yang Karan perhatikan dari istrinya belakangan ini. Wanita itu akan bersikap gugup tiap kali berbohong darinya. Sekarang, Raya tidak pandai menyembunyikan sesuatu. Sangat kontras dengan apa yang selalu wanita itu lakukan di masa lalu ketika ia dengan begitu lihainya menyembunyikan masalah di balik senyuman manisnya.
Raya tahu ia pasti ketahuan jika berbohong dari Karan, tapi ia tidak menyangka akan ketahuan secepat ini. “Apa yang mau kau kakukan, Karan?”
“Melanjutkan apa yang sudah tertunda sebelumnya. Sayang, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku benar-benar ingin menyentuhmu sekarang,” ucapnya sembari menyentuh bibir Raya. Ia membawa pipi itu mendekatinya, lalu menempelkan bibirnya ke atas bibir itu. Karan memberi sentuhan selembut mungkin pada bibir Raya. Ia mencium bibir bawah Raya sambil sesekali menggigitnya. Pria itu memang tidak menolak, namun tidak membalas juga.
Raya yang masih tidak merespons membuat Karan menekan bibirnya, sehingga pelan-pelan Raya mulai membuka sedikit bibirnya dan pria itu langsung memanggut bibir itu sepenuhnya. Karan memainkan temponya dan memberikan kesempatan untuk bernapas setiap kali bibir mereka terpisah. Karan menelisik sorot mata Raya. Ia pernah melihat sorot ketakutan wanita itu beberapa waktu lalu, ketika mereka baru menikah. Namun sekarang, sorotan itu tidak ada lagi dan berganti dengan sorot mata hangat yang menginginkannya.
Sial, tatapan mata Raya membuat Karan semakin menginginkannya. Ia menginginkan Raya takluk di bawahnya dan memohon untuk dipuaskan. Karan benar-benar ingin mendominasi Raya, tubuhnya, hidupnya, dan segala tentang wanita itu. Dengan cepat Karan merapatkan bibirnya ke bibir Raya lagi dan menggigit bibir bawah sang istri agar terbuka. Begitu bibir itu sudah terbuka sepenuhnya, Karan pun mulai melesakkan lidahnya ke dalam. Bergerak liar di sana sambil mengeksplorasi apa yang ada di dalam mulut sang istri.
Meskipun bibirnya bergerak, tapi tangannya tidak tinggal diam. Tangannya yang tadinya berada di pipi Raya mulai bergerak turun ke leher semakin rendah hingga ke dada milik wanita itu. Karan menyeringai ketika tubuh Raya bereaksi atas gerakannya, terlebih saat jari-jarinya mulai bergerak di kedua area itu. Pelan, lalu cepat. Gerakan yang tak terduga itu sampai membuat Raya melenguh dan kehabisan napas.
“Eumm...” Raya membuka matanya, menahan sesuatu yang hendak meledak dari dalam dirinya. Suaranya tersekat, ia tidak bisa mengatakan apa-apa kecuai suara-suara aneh yang membuat Karan semakin senang.
“Aku ... aku tidak tahu,” sahut Raya.
Karan melepaskan tangannya sebentar. Alih-alih memberikan kelonggaran pada Raya, Karan malah mengangkat tubuh Raya dengan sangat mudah. Membawa sang super model ke atas ranjang dan menidurkannya dengan perlahan, seolah-olah tidak ingin tubuh sang istri lecet di atas Kasur empuk itu. Kemudian, ia menyusul Ryaa dengan berada di atas wanita itu sambil kedua tangannya masing-masing berada di samping Raya sebagai penyangga berat tubuh wanita itu.
“Karan, tunggu!” Raya mencegah Karan ketika pria itu mau menciumnya lagi. “Aku mau mandi,” katanya dengan tangan kanannya yang berada di bibir Karan.
Karan mengamit tangan Raya dan menjilatnya hingga wanita itu menjauhkan tanggannya spontan. “Kenapa harus mandi? Aku menyukai aromamu sekarang, Sayang. Sangat menggoda,” bisiknya terang-terangan. Laki-laki itu mencium kening, pipi, hidung, dagu hingga terakhir mengecup bibir Raya singkat. “Aku sudah memeriksanya dengan pelan-pelan. Tidak ada yang salah, Sayang. Jadi, kau tidak perlu buru-buru mandi.”
“Iya, tapi aku mau mandi. Aku merasa gerah,” ujar Raya lagi, merasa tak mau kalah dengan Karan. Ia memang ingin mandi karena merasa begitu gerah pagi ini belum mandi. Berbeda dengan Karan yang sudah tampil sempurna karena pria itu sudah mandi di rumah koleganya sebelum datang ke sini. Benar-benar pria yang curang. Sebenarnya siapa yang berprofesi model sebenarnya? Raya atau Karan. Raya saja belum mandi dan masih memakai dresnya yang ia kenakan saat makan malam. Sementara Karan terlihat begitu tampan dan rapi.
“Sayang, nanti saja. Nanti kau juga berkeringat.” Karan tampaknya tidak terpengaruh dengan apa yang Raya katakan. Baginya keinginannya yang sudah menggebu-gebu jauh lebih penting daripada mandi. Lagi pula bagi Karan, Raya tidak ada kekurangan sama sekali. Wanita itu malah tercium harum yang membuat Karan semakin mabuk. “Sayang, tolong. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi.”
Hasrat itu sudah melanda Karan begitu hebat. Suara laki-laki itu terdengar bergetar dan pelan, lebih berat dan dalam dari biasanya. Untuk meyakinkan istrinya tentang kebutuhannya yang sudah tidak terbendung itu, Karan pun mengamit tangan Raya dan membawanya ke celananya. Wanita itu pun sontak terbelalak ketika telapak tangannya menyentuh permukaan celana bagian depan Karan yang menonjol. Sepertinya pria itu benar-benar jujur.
Raya memejamkan matanya sebentar. Ia merasa ragu, tapi ia juga tidak akan bisa membiarkan suaminya meringis seperti cacing kepanasan karena keinginan terdalamnya tidak dituntaskan. Akhirnya Raya membiarkan dirinya didorong reaksi tubuhnya sendiri. Pelan-pelan ia mengaitkan tangannya di leher Karan. Ia menarik pria itu mendekat padanya dan menempelkan bibirnya. Ciuman itu dipimpin oleh Raya itulah sebabnya temponya sangat pelan karena Raya lebih suka memberikan ciuman kecil seperti kecupan. Namun, ia juga cukup mahir memainkan lidahnya hingga membuat Karan senang.
Ketika bibir mereka terlepas, Karan pun bergegas melakukan apa yang tidak bisa ia lakukan sebelumnya. Dengan gesit Karan menurunkan dres Raya hingga bagian atas tubuh sang super model terpampang jelas. Karan pun menurunkan bibirnya dan menyentuh bagian yang terekspose itu sesuka hatinya. Bermain-main dengan liar hingga membuat Raya menyebut namanya di dalam embusan napasnya yang tersengal. Ini terlalu panas, terlalu seksi. Karan mengamati wajah Raya, menyimpan saat-saat menyenangkan itu di dalam memorinya. Untuk mengingatkan bahwa hanya Raya yang bisa memberikannya kesenangan seperti ini. Dan hanya dirinya saja yang bisa memuaskan wanita itu. Tidak ada yang lain.
“Ssst, tenang Sayang! Ini baru sentuhan pertamaku, masih banyak yang belum aku berikan padamu,” ungkap pria itu yang menjanjikan kesenangan yang lebih lagi.