Lies

Lies
Tanda Merah Di Tangan



Karan dan Raya hanyut dalam pergulatan yang mereka ciptakan sendiri. Di rumah orang lain, di negara orang, mereka berani saling menyentuh satu sama lain. Andai saja tidak ada yang mengetuk pintu kamar mereka, sudah pasti pergulatan panas itu akan berakhir di atas ranjang. Sayang sekali mereka harus berhenti. Karanlah yang menghentikannya. Pria itu paling tidak suka berhubungan badan dengan sang istri, tetapi mendapatkan gangguan. Di rumah mereka saja, ketika Karan dan Raya berada di lantai atas, tidak ada satu pun pelayan yang boleh menginjakkan kaki mereka di lantai dua. Sekalipun orang itu adalah Ian atau Anna. Karan tidak akan segan mengusir mereka dari rumahnya jika mereka melanggar ketentuan dasar itu.


“Tunggu sebentar Sayang, ada orang yang mengetuk pintu,” seru Karan saat ia mendengar istrinya mendengus kasar. Ia mengecup puncak kepala Raya setelah mengangkat tubuh sang istri dari tubuhnya dan mendudukkan wanita itu di pinggir ranjang. Kemudian, Karan memperbaiki pakaiannya dan berjalan ke arah pintu. Pria itu membuka pintu kamarnya, matanya terlihat tidak suka saat menyaksikan kepala pelayan berada di depan kamarnya. “Ada apa?” cetus Karan berusaha untuk bersikap normal kendati ia merasa kesal atas perbuatan sang pelayan yang mengganggu aktivitas mesranya dengan sang istri.


Tahu letak kesalahannya, sang kepala pelayan itu pun menundukkan kepalanya. Ia berujar kepada Karan. “Mohon maaf Tuan Reviano, saya hanya ingin menyampaikan bahwa makan malam akan siap 30 menit lagi.”


“Baiklah, saya mengerti. Terima kasih informasinya,” ungkap Karan. Tak lama kemudian, ia menutup pintu kamar mereka. Namun begitu berbalik, sang istri sudah tidak ada di tempatnya semula. Wanita itu sudah berdiri dan membawa koper miliknya ke samping ranjang. “Apa yang kau lakukan, Sayang?” Karan bertanya karena ia memang penasaran. Padahal tadi masih sempat terbesit di benaknya untuk melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda. Tetapi karena melihat Raya yang sudah sangat sibuk dengan aktivitasnya, Karan pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


“Bukankah tadi kepala pelayan yang datang? Dia bilang kita harus segera bersiap untuk makan malam ‘kan?” jawab Raya masih dengan aktivitasnya mencari-cari baju terbaik yang ada di dalam kopernya. Untung saja ia benar-benar memisahkan beberapa baju yang cukup layak digunakan di dalam kopernya itu. Kalau tidak, mungkin sekarang Raya tidak tahu bagaimana harus berpakaian. Jika bukan seorang super model, Raya tidak akan peduli dengan pemikiran orang lain. Masalahnya ia adalah seorang model terkenal. Pakaiannya selalu menjadi tolak ukur dari citranya sekarang.


“Iya, tapi kau tidak perlu mempersiapkan apa-apa, Sayang. Pakai saja yang paling sederhana. Mungkin itu yang terbaik.” Karan memberikan saran itu bukan tanpa alasan. Pasalnya ia yakin ini bukan makan malam biasa. Koleganya itu pasti juga mengajak anak-anak mereka makan bersama. Seandainya tidak ada laki-laki yang ikut, Karan akan tenang. Masalahnya selain sang pemilik rumah, ada juga dua orang anak laki-laki yang dimiliki oleh koleganya itu dari istri yang berbeda. Satu anak sulung berusia 23 tahun dari istri pertamanya yang sudah meninggal dunia. Dan satu lagi anak bungsu yang berusia 17 tahun dari istrinya yang sekarang. Karan tentu tidak mau istrinya dilirik oleh pria-pria itu. Terlebih mereka memiliki apa yang tidak dimiliki oleh Karan sekarang, yakni usia muda.


Raya mengerti maksud dari ucapan Karan. Ia pun menatap pria itu dengan tajam. “Kau tidak akan membuat masalah lagi ‘kan? Aku tidak mau kita bertengkar hanya karena masalah rasa cemburumu itu,” tuduh Raya dengan begitu tepat. Sudah cukup pertengkaran mereka di pesawat karena selain menguras emosi, Raya juga merasa sangat lelah karena terus-menerus beradu argumentasi dengan suaminya itu. Apalagi tujuan mereka jauh-jauh terbang ke Italia untuk berbulan madu, bukan malah untuk bertengkar seperti itu.


Karan menelan salivanya, merasa tertohok mendengar ucapan Raya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak, aku tidak berpikiran begitu. Aku sama sekali tidak akan membuat masalah denganmu,” tegasnya. Sama seperti Raya, Karan juga sebenarnya enggan bertengkar. Hanya saja rasa cemburu di hatinya jauh lebih besar dibandingkan dengan logikanya.


“Itu bagus. Kau harus menepati janjimu, Karan. Jangan memulainya lagi,” sambung Raya.


******


“Selamat malam, Tuan dan Nyonya Reviano,” sapa anak itu dengan menggunakan bahasa Inggris. Entah mengapa ia tidak menggunakan bahasa Italia padahal ia tahu nama belakang Karan. Itu artinya ia juga tahu Karan dan Raya bisa berbahasa Italia dengan lancar. Apa karena anak itu tinggal di luar negeri hingga ia tidak fasih dengan bahasa ibunya?


Dengan ramah Karan membalas, “Selamat malam. Siapa namamu?” tanya Karan dengan sopan dan menggunakan bahasa Inggris, menyesuaikan bahasa yang laki-laki itu gunakan. Karena perbedaan usia mereka cukup jauh, tidak ada salahnya Karan bertanya mengenai nama pemuda itu. Supaya mereka tidak canggung nanti di meja makan.


“Nama saya Mike, Tuan. Terima kasih sudah bertanya,” katanya. Ia pun membuka pintu ruang makan dan mempersilakan Raya dan Karan untuk masuk terlebih dahulu. “Silakan Tuan dan Nyonya,” tukas pemuda bernama Mike itu.


Karan dan Raya pun berjalan ke dalam. Di sana ia sudah disambut oleh keluarga sang kolega. Ternyata anak sulung keluarga itu sudah sampai duluan. Mungkin karena merupakan penerus keluarga sehingga ia harus berada di meja makan lebih cepat dari adiknya.


“Saya tidak tahu apakah ini sesuai dengan selera Anda, dan istri Anda, Tuan Reviano. Tapi koki keluarga kami sudah mempersiapkan yang terbaik,” tukas sang pemilik rumah. Sebelum mempersilakan tamunya untuk menyantap makanan, ia menjelaskan menu dan tema makan malam mereka hari ini. Ternyata ia memerintahkan koki keluarga menyiapkan makanan khas Italia khusus untuk tamunya itu. Yang tentu saja tidak hanya kelihatan enak, tetapi juga mewah. Setelah selesai, barulah mereka bisa makan.


Saat makan itulah Karan mulai mengangkat suara, bertanya tentang anak—anak sang kolega. Anak sulungnya sudah bekerja di perusahaan. Ia dipersiapkan sebagai penerus keluarga persis seperti apa yang Karan pikirkan tadi. Sementara sang adik baru hendak masuk kuliah. Meskipun usianya baru 17 tahun, tetapi ia sudah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Itu prestasi yang hebat. “Itu bagus, sepertinya putra bungsu Anda adalah anak jenius,” puji Karan.


“Ya, dia jenius. Tapi apa gunanya jika dia hanya menjadi ahli matematika seperti itu tanpa bisa membantu usaha keluarga?”


Celetukan kolega Karan itu tidak hanya membuat Karan terkejut bukan main. Raya pun yang awalnya hendak mengabaikan perbincangan mereka, ikut terbelalak. Seorang anak pandai matematika dan kuliah dengan waktu yang lebih cepat dari anak lainnya tapi dikatakan seperti itu oleh ayahnya sendiri? Ini tidak masuk akal. Raya melihat ke arah Mike dan anak bungsu keluarga itu tertunduk. Ia bahkan menghentikan gerakannya untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Wajar saja anak itu merasa rendah diri karena secara terang-terangan sang ayah merendahkannya di depan orang lain yang ia tidak kenal sama sekali.


Namun, ada yang mencuri perhatian Raya saat memandang Mike, terutama saat ia melihat pergelangan tangan pemuda itu saat memegang sendok. Raya seperti melihat tanda biru yang melingkar di kedua pergelangan tangan sang pemuda, seperti bekas ikatan tali yang begitu kuat. Sebenarnya, apa yang terjadi apa pemuda itu? Apakah pemuda itu mendapatkan penganiayaan? Ya, mungkin saja itu penganiayaan yang didapatkan sewaktu di kampus, semacam kenakalan remaja yang sudah melewati batas.