Lies

Lies
Jangan Temui Raya



Karan akhirnya sampai di depan rumah sakit ibu dan anak di daerah X. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ian, Raya memang ada di sana. Bahkan bukan hanya Karan dan Ian saja yang menyadari hal tersebut. Para wartawan juga tahu mengenai hal tersebut. Hal ini karena di depan pintu gerbang rumah sakit, terdapat banyak sekali orang yang memaksa untuk masuk. Mereka bukanlah masyarakat yang ingin memeriksakan diri, melainkan sekumpulan awak media yang ingin meliput keberadaan Raya. Untung saja selain karena Ian yang telah menyiapkan anggotanya untuk berjaga di sana, pihak keamanan rumah sakit juga sangat bagus.


Hasilnya, tidak ada satu pun wartawan yang bisa menembus pihak keamanan rumah sakit dan menerobos masuk. Mereka hanya berdiri sepanjang hari di depan gerbang sambil menunggu akan ada orang yang mau diwawancarai oleh mereka sebagai bahan untuk berita mereka hari ini. Sayangnya mereka hanya menunggu sesuatu yang sia-sia karena tidak ada satu pun orang yang mau menerima permintaan wawancara mereka. Akibatnya, mereka hanya melaporkan hal-hal yang tidak penting. Yang lebih parahnya mereka tidak segan-segan membuat spekulasi tentang Raya dan menyimpulkan keadaan wanita itu dari hasil pengamatan minim mereka. Tanpa wawancara maupun berkonsultasi pada dokter. Mereka dengan seenaknya mengabarkan keadaan Raya pada masyarakat.


Barulah saat mobil Karan melintas para wartawan semakin menggila. Mereka mengerubungi mobil Karan yang membuat mobil itu terhenti di depan pintu gerbang. Karena tidak bisa masuk, mobil itu pun memutar balik dan memilih meninggalkan rumah sakit ibu dan anak tersebut. Namun, hanya sang sopir dan mobil itu saja yang pergi meninggalkan gedung rumah sakit sementara Karan sudah turun sejak lama. Tepatnya ketika mobil itu diam-diam masuk melalui pintu belakang rumah sakit. Melalui jalur khusus yang biasanya digunakan hanya oleh para dokter rumah sakit saja.


Karan melakukan hal itu untuk menghindari wartawan. Ia sengaja menyuruh sopirnya membawa mobilnya ke gerbang depan sebagai bentuk pancingan. Saat masyarakat terpancing perhatiannya karena kehadiran mobil itu, Karan diam-diam masuk gedung rumah sakit dan berjalan ke ruangan tempat Raya dirawat. Kabarnya kondisi Raya belum pulih benar. Itulah sebabnya ia dirawat di dalam rumah sakit itu sepanjang hari.


“Tidak, kau tidak boleh masuk,” cetus seseorang saat Karan hendak membuka pintu ruang rawat Raya. Suara itu begitu familiar di telinga Karan sehigga ia benar-benar menghentikan kegiatannya untuk berpaling ke belakang. Ternyata benar, orang itu adalah bibi Raya. Wanita yang mengurus Raya sejak remaja dan telah dianggap sebagai ibu oleh Raya.


Sebelumnya Karan bertanya-tanya siapa orang yang merawat Raya selama ini, tetapi rupanya orang itu tidak lain adalah bibi sang istri sendiri. Karan tidak marah dengan kenyataan itu. Ia malah merasa bersyukur ada orang lain yang mau menjaga dan merawat istrinya. Sesuatu yang harusnya dikerjakan oleh Karan sebagai suaminya. Akan tetapi, Karan merasa cukup kesal dengan perbuatan sang bibi. Wanita itu berpura-pura tidak tahu apa-apa meskipun sudah ditanya berkali-kali. Karena seandainya Karan tahu lebih cepat, ia bisa segera mendatangi istrinya.


Sejak awal kecurigaan Karan terhadap sang bibi sudah muncul. Sama seperti kecurigaannya kepada mantan manajer sang istri. Mengapa mereka terlihat baik-baik saja saat Raya menghilang? Mengapa mereka dapat dengan mudahnya beraktivitas seperti biasa padahal Karan begitu menderita karena sangat kesulitan? Terlebih saat manajer sang super model itu dengan gampangnya memutuskan kontrak kerja sama dengan Raya sekaligus menegaskan kepada orang-orang bahwa ia tidak mau disangkutpautkan dengan Raya, dengan menjadi manajer model lain.


Jawabannya hanya satu. Mereka tahu keberadaan Raya. Mereka tahu dengan jelas kondisi wanita itu dan di mana ia berada. Itulah yang menjadi salah satu petunjuk yang didapatkan oleh Ian untuk menemukan Raya. Laki-laki itu mengubah subjek pencarian mereka dari yang awalnya Raya Drisana menjadi bibi sang model. Mereka menyelidiki kartu kredit dan kartu ATM sang bibi dan menemukan bahwa wanita paruh baya itu pernah melakukan transaksi di sebuah rumah sakit ibu dan anak. Berkat hal itulah Ian bisa menemukan di mana Raya berada.


“Tante, izinkan saya masuk untuk melihat Raya,” kata Karan meminta izin. Sebagai seorang suami, Karan harus menghormati bibi dari istrinya itu. Karena biar bagaimanapun, hanya wanita itulah satu-satunya orang yang menjadi keluarga Raya. Tidak sopan rasanya jika Karan mengabaikan wanita paruh baya itu sekalipun ia punya hak untuk menjenguk sang istri. Lagi pula, sang bibi adalah wali Raya, terutama dalam keadaan seperti ini di mana Raya sedang sakit, ditambah proses perceraian mereka. Memang Karan belum menandatangani surat persetujuan itu. Tetapi jika Raya tetap bersikukuh mengajukannya ke pengadilan, sekalipun tanpa persetujuan suaminya, gugatan perceraian akan tetap berlangsung di pengadilan.


Dan ketika proses itu berjalan, status Karan dan Raya bukan lagi suami-istri secara agama. Meskipun di mata hukum pernikahan mereka masih dalam kategori pernikahan yang sah. Karan harus merasa bersyukur karena Raya masih ingin menyelesaikan masalah mereka tanpa melanjutkan gugatan perceraian. Sepertinya wanita itu ingin semuanya berjalan baik-baik saja meskipun ia tidak bisa memprediksikan bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Bagi Raya, sekalipun harus bercerai, ia harap perceraian itu adalah sebuah perpisahan yang tidak menimbulkan konflik berkelanjutan.


“Untuk apa? Apa untuk menyakiti Raya lagi?” kata sang bibi dengan geram. Ia tidak menyangka Karan yang dikenalnya melalui perkenalan singkat itu adalah pria yang begitu berengsek. Pria yang dengan teganya menyakiti hati Raya dan membuat wanita itu begitu tersiksa. Memang benar ia ingin melihat keponakannya menikah dengan orang kaya dengan maksud agar Raya tidak lagi perlu bekerja keras untuk mendapatkan uang. Selama ini Raya sudah sangat menderita. Sudah saatnya ia hidup sesuai dengan keinginannya sendiri.


Akan tetapi, apa yang terjadi pada Raya setelah menikah? Menikahi suami yang kaya raya dan tampan rupanya tidak mampu menjamin kehidupan Raya akan bahagia. Justru yang terjadi sebaliknya. Wanita itu tertekan dalam pernikahannya. Suami yang seharusnya mencintai dan menyayanginya dengan tulus malah terobsesi dengannya. Malah membuat rumah mereka menjadi ladang untuk menghukum Raya tanpa alasan yang jelas. Hidup Raya terkekang. Jangankan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Hanya sekadar berkerja saja Raya tidak boleh.


“Tidak Tante. Saya tidak akan pernah menyakiti Raya,” ungkap Karan mencoba meyakinkan bibi Raya. Akan tetapi, ia malah mendapatkan respons yang begitu buruk dari wanita itu. Karan ditatapnya dengan tajam seolah-olah tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulutnya. Tidak pernah menyakiti tapi baru beberapa hari yang lalu membeberkan sebuah kabar bohong tentang Raya yang berselingkuh. Kabar itu bukan dibuat oleh para paparazzi yang selama ini mengikuti Raya, tetapi oleh Karan sendiri yang notabene adalah suami Raya. “Ah, maksud saya, saya telah menyakiti Raya. Dan saya ingin meminta maaf. Jadi tolong Tante, tolong izinkan saya menemui istri saya.”


Sang bibi tertawa pelan. Menertawakan pernyataan Karan yang dianggapnya terlihat seperti tidak tulus sama sekali. “Kau sampaikan saja padaku apa yang ingin kau katakan pada Raya. Lalu, aku akan menyampaikannya lagi kepada Raya. Dengan begitu, kau tidak perlu menemui keponakanku itu. Dia sakit dan menderita karenamu. Biarkan dia istirahat sebentar saja. Beri dia ketenangan agar kesehatannya bisa kembali pulih.”


“Kenapa harus melalui Tante jika saya bisa menyampaikannya secara langsung? Saya tahu, saya paham sekali Raya butuh istirahat. Tapi izinkan saya menemuinya. Mungkin setengah jam. Ah, kalau itu terlalu lama, berikan waktu lima belas menit. Tapi tolong biarkan saya bersama dengan istri saya sebentar.”


Walaupun Karan memohon-mohon padanya, bibi Raya tetap enggan untuk mengizinkannya. Bukan hanya karena ia tidak sudi melihat Karan lagi, tapi ini juga karena permintaan Raya sendiri. Sebelumnya, wanita itu sudah berpesan agar tidak memperbolehkan Karan mendekatinya. Ada waktunya ia akan membiarkan Karan berbicara dengannya, tapi tidak sekarang. Tidak dalam keadaan kacau seperti saat ini.


“Tidak bisa. Raya tetap tidak mau menemuimu.” Sang bibi tetap bersikeras melarang Karan untuk masuk.


Karan tidak punya pilihan lain. Ia pun melakukan sebuah aksi nekat dengan bersimpuh di depan kaki sang bibi. Memang keadaan rumah sakit hari itu cukup sepi. Tidak ada orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Namun, sekalipun ada orang yang melewati mereka, Karan tetap tidak peduli. Ia enggan berdiri sebelum sang bibi mengizinkannya bertemu dengan istrinya. “Tolonglah Tante, sekali saja. Setelah ini saya akan menyerahkan semua keputusan di tangan Raya. Saya tidak akan pernah mencampuri apa pun yang nantinya diputuskan oleh dia.”


Sang bibi berpikir keras, tetapi ia tidak menemukan alasan untuk membiarkan Karan menjenguk Raya. Justru ia menemukan alasan untuk mengusir pria itu dari tempat ini, bahkan bila perlu dari kehidupan Raya. “Baiklah, tapi sebelum itu, apakah kau mau berbincang denganku sebentar? Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu. Ini tentang Raya dan juga dirimu. Tentang masa lalu kalian.” Tepat seperti dugaan, Karan tampak kelimpungan saat ia menyebutkan kata masa lalu. Seorang pembohong sekalipun ia telah berbohong ratusan kali, akan ada saatnya kebohongannya terbongkar juga. Dan inilah saat yang tepat baginya untuk membongkar kebohongan yang disimpan rapat-rapat oleh pria itu. Dan oleh orang tuanya.


Karan sontak meneguk salivanya. Baru beberapa saat yang lalu ayahnya mengingatkan agar ia berhati-hati untuk menyinggung perihal kehidupan masa lalu mereka, tetapi sekarang ia sudah dihalang masalah itu juga. “Masa lalu? Masa lalu yang mana maksud Tante?” ungkap Karan sambil berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang maksud dan tujuan sang bibi.


“Jadi kau tidak tahu? Sayang sekali, padahal andai kau mau menjelaskan sedikit saja, mungkin aku akan memperbolehkanmu menemui Raya.”


Tawaran itu menggoda Karan. Tujuannya datang ke sana adalah untuk menemui Raya. Tidak ada salahnya ia mendengar apa yang ingin disampaikan oleh sang bibi. Mungkin saja masa lalu yang mereka maksudkan adalah masa lalu yang berbeda. “Tunggu Tante! Masa lalu apa yang ingin Tante ketahui?”


Sebelah bibir sang bibi terangkat. Wanita itu tersenyum puas. “Masa lalu tentang kau dan Raya di jalan Asoka. Tentang seorang pemuda yang bernama Farraz.”