Lies

Lies
Perubahan yang Tidak Terduga



Malam harinya sebelum Karan membawa Raya ke rumah. Awalnya Karan ingin menghabiskan malam di kamar hotel sambil memeluk tubuh sang istri. Hanya saja Ian datang pada waktu yang tidak terduga. Karan memang memintanya datang untuk membawa pakaian Raya, tetapi ia tidak menyangka akan datang secepat ini.


“Ini Pak, saya bawa baju Ibu Raya,” kata asisten pribadi Karan itu sembari menyerahkan sebuah tas kepada Karan. Baju itu adalah baju yang dipesan Karan beberapa jam yang lalu, saat Raya melihat-lihat brosurnya di dalam majalah. Berkat mata-mata yang selalu memantau Raya itulah Karan bisa tahu dengan tepa tapa yang disukai oleh sang istri.


“Oke,” balas Karan. Melihat Ian tidak kunjung pergi dari tempatnya, Karan pun bertanya, “Kenapa? Apa ada yang ingin kau sampaikan?”


“Em, begini Pak. Sebenarnya ada masalah di kantor. Desain kita yang harusnya kita gunakan untuk produk baru sudah digunakan oleh perusahaan lain. Sepertinya ada pengkhianat di dalam perusahaan kita, Pak.”


Karan begitu marah, tapi ia tetap bisa mengendalikan emosinya. Ya, Karan lebih sanggup menahan pengkhianatan karyawannya ketimbang pengkhianatan yang Raya lakukan. Sebab, karyawan bisa dengan mudah Karan ganti dengan yang baru, tetapi ia tidak akan pernah bisa menggantikan sosok Raya di dalam hidupnya.


“Baiklah, siapkan rapat besok pagi. Tetapi sebelum rapat, kita harus sudah menangkap siapa pelakunya.” Karan berpikir lagi. Ini sudah pukul dua dini hari, mungkin sebaiknya ia segera mengantar Raya pulang. “Oh ya Ian, siapkan mobil. Aku harus mengantar istriku pulang.”


Dengan patuh Ian mengangguk. “Baik Pak. Saya akan menyiapkan mobil di depan lobi.”


Karan bergegas pergi usai menutup pintu. Ia menghampiri Raya, mengganti pakaian sang istri dengan teliti, lalu membawa wanita itu menuju ke lobi tempat Ian sudah menunggu. Saat Ian membuka pintu mobil bagian belakang, Karan teringat sesuatu. “Apa kau sudah membersihkan asbak dari dalam?”


Ian terbelalak, tidak menyangka Karan akan memperhatikan hal seperti itu. Bukankah Karan selalu tidak peduli seberapa menumpuknya punting rokok di dalam asbak mobilnya? Pria itu malah dengan sengaja menunjukkan bahwa ia adalah perokok berat pada Raya agar wanita itu membencinya. Mengapa tiba-tiba Karang begitu peduli?


“Ian, apa kau tidak mendengarku?” tanya Karan lagi.


“Ah, iya Pak.” Ian tersentak, menarik lagi kesadarannya agar bisa berkomunikasi dengan baik. “Saya sudah membersihkannya Pak. Anda tenang saja,” sambungnya. Untung saja ia tadi sempat membuang isi asbak rokok itu sebelum datang ke hotel.


Namun, Karan masih belum mau masuk ke dalam mobil. Rupanya masih ada yang mengganjal di dalam hatinya. “Apa kau sudah menyimpan rokokku?”


Kalau menyimpan rokok tidak Ian lakukan. Ia tidak mau mendapat omelan lagi karena sudah menyentuh benda itu dari tempatnya. “Belum Pak,” sahut Ian.


“Cepat sembunyikan. Jangan sampai istriku melihatnya.”


“Baik Pak.”


Setelah Ian melakukan semua yang disuruhnya, barulah Karan membawa Raya yang masih terlelap ke dalam mobil. Ia bernapas lega karena tidak menemukan tanda-tanda aroma asap rokok di dalam mobil. Ian benar-benar asisten yang luar biasa. Pria itu akan selalu memastikan udara dalam mobil selalu bersih sekalipun Karan sering merokok di dalam.


“Eugh!” Raya melenguh, merasa tidak nyaman karena Ian tiba-tiba menginjak rem. Karan langsung mendekap sang istri sambil menenangkannya, lalu ia menyampaikan protes kepada sang asisten. “Apa kau tidak bisa menyetir lebih hati-hati?”


“Maaf Pak. Saya tidak tahu ada lubang di jalan.”


Ian tidak bisa disalahkan. Hari masih gelap dan lampu penerangan menuju ke rumah Karan tidak terlalu bagus. Ditambah beberapa ruas jalanan juga rusak. Padahal masyarakat sekitar sudah melayangkan protes ke pemerintah, baik pemerintah kota sampai ke pemerintah pusat. Namun, seberapa keras pun masyarakat bersuara, pemerintah seolah menulikan telinga. Padahal kalau mengingatkan rakyat untuk membayar pajak selalu rajin, tapi ketika rakyat meminta hak dari pajak yang mereka bayarkan, pemerintah akan pura-pura menjadi makhluk yang diciptakan tanpa alat pendengaran.


“Hati-hati, jangan sampai Raya terbangun,” tukas Karan memperingati.


Ian benar-benar dalam keadaan bingung sekarang. Pertama masalah rokok, kemudian masalah jalanan. Bukan rahasia umum bahwa Karan begitu terobsesi akan sosok Raya. Bahkan pria itu sudah menyiapkan pernikahan sebelum pertemuan mereka. Tapi setelah menikah, alih-alih menjadi pria yang dimabuk cinta, Karan malah mengabaikan Raya, membuat wanita itu seolah-olah tidak berharga di matanya. Karan juga sengaja jarang pulang ke rumah agar Raya merasa tidak berguna dan tidak diharapkan.


Jadi, apa gerangan yang terjadi sekarang? Mengapa Karan mendadak berubah seperti orang asing? Untuk apa Karan terlihat begitu peduli pada Raya setelah yang pria itu lakukan lebih dari sebulan ini? Ian tidak mengerti sama sekali. Dan ia juga tidak berhak ikut campur. Yang bisa Ian lakukan hanyalah menjalani tugas sesuai perintah sang atasan.


XXXXXX


“Istriku sedang tidur. Tunggu sampai dia bangun baru kau beri makanan padanya. Dan juga, suruh dia menghubungiku ketika dia sudah bangun.” Itulah yang Karan sampaikan pada Anna. Tentu tidak ada tendensi ancaman dalam kalimatnya, yang entah mengapa berubah drastis saat Anna menyampaikannya pada Raya beberapa jam kemudian.


Jika tidak ada masalah di perusahaan, Karan tidak akan pergi ke kantor pagi-pagi buta. Beruntungnya ia punya tim keamanan yang ahli sehingga dalam waktu kurang dari tiga jam saja, pergerakan pengkhianat perusahaannya sudah terlihat. Perusahaan Karan memang terbilang unik ketimbang perusahaan yang lain. Selain CCTV di tempat-tempat terlihat, perusahaan juga menempatkan kamera pemantau di tempat-tempat yang tidak bisa dicapai oleh CCTV, yang tentu saja tidak diketahui oleh para karyawannya. Hanya beberapa orang saja yang tahu perihal letak kamera itu, selain Karan dan Ian.


“Kalian pasti tahu apa yang terjadi pada perusahaan sekarang. Jadi, saya tidak mau basa basi lagi. Cepat berikan desain terbaru untuk produk kita bulan depan. Waktunya tidak banyak. Saya harap kita bisa memutuskannya pagi ini.”


Begitulah Karan memulai rapat daruratnya pagi itu. Tidak ada satu pun pegawai yang tidak stres dalam keadaan ini. Semua dalam tekanan karena dikejar-kejar waktu. Mereka juga marah dan memaki sang pengkhianat yang telah diringkus polisi itu. Andai saja kebocoran desain tidak terjadi, mereka tidak akan bekerja sekeras ini.


Di tengah tekanan tinggi itulah sebuah ponsel berdering. Semua orang saling memandang satu sama lain untuk mencari tahu siapa orang yang berani menghidupkan dering ponsel saat sedang rapat genting seperti ini. Awalnya Karan juga tidak menyadarinya sama sekali. Namun, ketika Ian mengingatkannya, Karan baru sadar bahwa suara itu berasal dari ponselnya.


“Ha-halo.”


Raya berbicara gugup di ujung panggilan. Sontak Karan menyeringai. Tanpa melihat saja ia sudah tahu bagaimana ekspresi istrinya saat ini. Wanita itu pasti kesal diminta untuk menghubunginya. Namun karena tidak punya pilihan, akhirnya Raya pun menurutinya.


“Kau sudah bangun?” kata Karan yang sama sekali tidak menyangka akan bertanya seperti itu. Tidak hanya semua orang di dalam ruangan yang terkejut, Karan rasa Raya pun tersentak di sana saat mendengar ucapannya. Tidak ada kata Sayang atau Istriku dalam kalimat itu. Sepertinya Karan sedikit menyesali perbuatannya semalam hingga ia ingin bersikap wajar pada sang istri.


“Ya,” balas Raya singkat.


Karan menambahkan, “Anna sudah mengantarkan makan siang untukmu?” Tangan kanan Karan terangkat agar karyawan yang sedang presentasi di depannya berhenti berbicara sejenak.


“Ya, sudah.”


“Aku akan pulang larut malam. Jangan menungguku.”


Wanita itu terdiam beberapa saat, mungkin berpikiran ucapan Karan yang cukup aneh. Namun, ia pun menjawab, “Baiklah.”


“Oke, aku harus melanjutkan pekerjaanku. Habiskan makananmu dan istirahatlah yang cukup.” Karan menebak istrinya sedang makan dari suara benturan gigi yang samar-samar terdengar. Artinya wanita itu sedang mengunyah sesuatu. Ketika Karan melihat jam tangannya sudah menunjukkan waktu makan siang, ia pun menyimpulkan sang istri sedang melahap makan siangnya tepat setelah wanita itu bangun.


“Ya.”


Percakapan itu pun ditutup dengan jawaban singkat Raya. Karan mengembuskan napasnya pelan, kemudian ia letakkan lagi ponselnya. “Setelah presentasi ini selesai, kita istirahat 30 menit sebelum pengambilan keputusan,” ujar Karan kepada karyawannya.


Semua orang yang ada di ruangan itu pun menanggapi dengan serempak. “Iya Pak.”


Dari semua orang yang ada di sana, Ian adalah orang yang paling bingung dengan situasi Karan. Padahal sebelum ini, Karan adalah orang yang bersikeras akan terus mengadakan rapat sampai mereka mendapatkan hasil akhirnya, yakni desain produk yang baru. Tetapi dalam waktu sekejap, Karan pula yang mengubah keputusannya.


Mungkinkah karena Raya? Bisa saja karena Karan terlihat lebih santai setelah berbicara dengan wanita itu. Kerutan di kening pria itu sudah mulai mengendur, dan Ian juga secara sekilas melihat sebuah senyum tersungging di wajah Karan. Mungkin Karan sedang dalam tahap berubah menjadi pria yang lebih baik lagi. Pria yang ingin memperlakukan Raya selayaknya suami memperlakukan istrinya. Lebih bertindak seperti manusia.


Meskipun begitu, Ian tidak mau berharap terlalu banyak atas perubahan Karan. Menurutnya, Karan adalah sosok yang sulit diubah sikap dan perilakunya. Pria itu juga pandai berkamuflase dengan aktingnya yang melebihi artis layar lebar. Selain Ian, Raya dan orang-orang yang bekerja di rumah, tidak akan ada satu pun yang menyadari bahwa Karan sedang memasang topeng sebagai laki-laki baik yang dicintai oleh rakyat Indonesia.


Ian memang tidak tahu apa masalahnya, tapi ia yakin Karan masih menyimpan luka yang begitu terhadap Raya. Jika pria itu tidak menyelesaikan masa lalunya dengan baik, sulit bagi Ian untuk percaya bahwa Karan telah berubah.